Ceria

Dulu saya pernah pakai mobil yang diberi nama Ceria. Keluaran Daihatsu. Kemarin ketika di perjalanan pak suami alias si Among melihat mobil Ceria, ia langsung bilang: yang di luar sih ceria, yang di dalemnya ewwh. Hehehehe. Memang ukuran mobil ini kecil lebih mini dari rata-rata city car.

Saya sebenarnya paling suka mobil ini. Ukurannya yang ga seberapa itu sangat menyenangkan untuk diajak nyelip-nyelip terutama jika di jalan tol sudah berbaris para truk seukuran transformer.  Pengemudi truk biasanya tidak berdaya jika mobil sekecil ceria yang memotong jalannya.  Tapi kalau sebesar Fortuner, biasanya dia juga bergaya-gaya memajukan truk-nya seakan ga rela.

Ukurannya yang mini mini maini mo itu juga sangat menyenangkan saat parkiran penuh lalu saya tinggal parkir di spasi yang tidak akan cukup untuk mobil besar. Petugas parkir juga ga akan melarang, karena toh tidak mengganggu jalannya lalulintas perparkiran.

Dulu saya ke kantor di daerah Kemang Jakarta Selatan selalu bawa mobil sendiri. Dari rumah di Bekasi Utara, saya harus menempuh kurang lebih 10km untuk sampai ke pintu tol. Dari pintu tol ke exit di Kuningan makan waktu kurang lebih satu jam. Lalu dari exit tol ke kantor kurang lebih 6 km melewati kemacetan akibat lampu lalu lintas yang menyala merah lebih lama daripada hijau. Satu setengah jam rata-rata saya habiskan di jalan raya pada pagi hari dan satu setengah jam pada sore hari untuk pulang ke rumah. Ceria sangat bersahabat, bisa nyelip bisa ngebut, tapi masih kuat diatas jalanan yang tidak rata.  Pada masa itu tol JORR belum jadi, masih dalam pembangunan.  Kadang setelah beberapa kilometer, pengendara dialihkan ke jalan-jalan kampung yang beraspal tidak rata sebelum kembali memasuki jalan tol yang masih dalam tahap finishing. Udah berasa-rasa off-road. Off road tapi mobilnya Ceria wkwkwkwkwk.

Teman-teman sekantor yang juga berdomisili sekitar Bekasi suka ikut nebeng, dan saya wanti-wanti. Maklum ya mobilnya cwimie jadi maklum juga kalau di jalan terguncang-guncang terus walau tidak sedahsyat guncangan bajaj. Dua sampai tiga orang teman suka nebeng dan selalu memasukkan ongkos setara biaya bis-nya ke kencleng. Lumayan untuk nambah isi bensin.

Suatu hari kami bertiga, bersama Among dan Kekel ke Bandung. Kekel masih kecil, mungkin masih lima tahun.  Saat itu Cipularang juga belum jadi, jadi rute ke Bandung harus melewati jalur Puncak yang berliku-liku dan naik turun pegunungan. Kekel awalnya masih sibuk sendiri: ciat ciat shah shuh heh hoh, dengan imajinasi dan permainannya, sibuk berguling ke kanan dan ke kiri di bangku belakang. Tapi setelah tikungan entah keberapa, dia komplain.  Among, perutku rasanya aneh. Hahahaha. Abis ga bisa diem sih.  Among menepi di sisi yang ada penjual jagung bakarnya.  Jadi seperti pepatah sekali merengkuh dayung mabuk darat teratasi dan kenyang jagung bakar.

Ceria itu bukan hanya kami gunakan Jakarta-Bandung bolak balik, tapi juga Jakarta-Pangandaran. Jalur-jalur tikungan tajam, tanjakan dan turunan semua bisa dilalui si Ceria tanpa masalah. Kadang AC nya kurang dingin kalau cuaca di luar panas terik. Wajar, karena memang dari pabriknya demikian disainnya. Irit di semua sisi.  Among menambahkan kipas untuk lebih mendinginkan AC, dan menambahkan karpet peredam panas di langit-langit mobil supaya kami lebih nyaman berkendara.

Waktu Among bilang mobilnya mau dijual, ditukar dengan tahun yang lebih baru (dan ukuran yang lebih besar), saya merasa paling kecewa. Kalau boleh Daihatsu keluarin terus edisi terbaru mobil jenis ini tiap tahun kemungkinan saya akan selalu jadi pelanggan setia cause I like it just too much hehehe.

Advertisements

Daun Sereh

Sosmed dua hari ini lagi rame akibat sebuah postingan yang dishare dan viral. Awalnya adalah curhatan seorang calon mempelai perempuan mengenai batalnya dia bersanding di pelaminan.  Di timeline nya dia menyertakan screen shoot dari belasan percakapan daring antara dia dengan calon mertua perempuannya.  Calon mertua perempuannya menyebut bahwa perhiasan emas yang digunakan si calon mempelai saat acara pertunangan tipis-tipis seperti seperti daun sereh. Dan baju yang dikenakan si calon mempelai di acara itu juga memalukan karena jenis pakaian yang sama sudah sebelas tahun yang lalu dibeli calon mertua sekedar untuk pakaian rumahnya.

Saya tidak kepingin mengomentari siapa pihak yang benar dan siapa yang salah.  Saya udah lumayan lama jadi orang batak.  Boleh saya bilang, yang namanya pertikaian akibat hal hal remeh temeh seperti pakaian dan perhiasan adalah hal yang sangat biasa diantar keluarga batak. Boleh saya sebut biasa pake banget. Banget pake bingit. Kalo ada yang baca ini mau marah silakan aja. Biasa banget, orang batak kalau ada masalah dan kekurangannya disebut langsung marah. Di blog saya ini aja ada ratusan komen yang tidak saya approve sekedar karena omongannya hanya menyebut penghuni ragunan, menyebut bahwa apa yang saya tulis tidak pernah terjadi, menyebut dirinya paling pintar soal adat, menyebut saya tidak tahu apa-apa soal dunia, melabel bahwa isi blog ini 90% komplain (situ acnielsen ya?) bahkan yang paling ga saya sukai adalah nasehat sok imut menyuruh saya berdamai dengan diri sendiri. Men, benar bahwa manusia saling mengoreksi, saling menasehati. Tapi yang bener dong! Serius dikit knapa. Plaaaakk.

Ini soal blog saya, masih juga orang gagal paham.  Postingan udah tahun 2008 masih dibahas sampe sekarang.  Apalagi karena ada urusan daun sereh jadi banyak lagi yang kirim komen ke blog ini. Ih. Blog ini blog saya sendiri.  Mau saya marah-marah ke langit sebenarnya apa masalahnya? Saya ga marah-marah depan umum, naik ke tiang sutet atau demo di depan gedung MPR.  Mencurahkan perasaan saya di blog saya sendiri dianggap sebagai penghinaan terhadap kebatakan seseorang itu menurut saya cenderung lebay dan kebangetan. Si calon mempelai itupun mau curhat di facebooknya silakan aja sebenarnya.  Mark Zukie yang punya platform ga melarang sama sekali.  Kita netizen ini yang lebay menshare ribuan kali dan mengkontribusi komentar-komentar yang belum tentu mencerahkan, boro-boro menyelesaikan persoalan si gadis.

Selalu kurang dan selalu tidak pernah hadir adalah unsur ini:  SEEK TO UNDERSTAND.

Seek to understand! Kalo cuma bisa menghakimi orang lain, ga usah sok-sok menasehati, apalagi menyebut nama-nama penghuni ragunan yang inosen itu. Memang banyak kok kegiatan adat batak yang menyimpang dari fungsi sebenarnya, yaitu merekatkan kekerabatan.  Baru sebulan yang lalu saya menikahkah keponakan saya yang tertua. Dalam acara pesta, sementara saya duduk-duduk manis ngobrol dengan pak suami, inang-inang entah darimana dan entah siapa membentak saya dari belakang saya: Kau ga boleh duduk di situ, cuma bapak-bapak di acara ini, perempuan di belakang *dan diulang-ulang sampe beberapa kali dengan nada semakin meninggi.  Nih ya, kalau memang mau mengoreksi kan bisa bilang baik-baik: Eda atau akang atau apapun dia mau sebut gw, acara nya sekarang hanya untuk bapak-bapak.  Duduklah di sini, di samping kami, nanti kalau sudah selesai kembali lagi.  Ituuu kalau mau ngoreksi ya? Intonasinya juga diatur yang sopan dan manis budi. Kalau main bentak itu namanya ngajak berantem.  Semua orang juga ngerti sopan santun dasar demikian.  Tapi kan ternyata memang ada orang-orang seperti itu.  Sebelum bentakan itu, saya tidak memperhatikan siapa mereka. Tapi setelah bentakan itu, saya jadi memperhatikan.  Sekali lagi kalau ada yang tersinggung silakan loh ya! Dalam observasi saya, kumpulan ibu-ibu tukang bentak itu sepanjang acara hanya cemberut saja, kacang atau lampet atau minuman yang beredar hanya menjadi bahan untuk dicela, bukan menjadi suatu kegembiraan pesta. Serius ini.  Muka mereka berkerut semua seolah-olah mereka bukan lagi pesta tapi lagi di kamp konsentrasi hitler. Lalu kalau saya menyebut kegiatan adat bukan lagi perekat kekerabatan, apakah saya salah? Mengeneralisasi? Ah coba berpikir baik-baik kalau masih sanggup.  Kalau saya menghadiri acara orang lain, mau saya kurang suka, sakit perut, engga enak badan, sedapat mungkin air muka saya atur supaya ceria.  Ini pesta men, pesta! Pesta kok bentak-bentak orang. Bentak-bentak orang kok doyan. Ish.

Jangankan soal pakaian dan perhiasan.  Songket dan gelang.  Urusan rasa kopi aja bisa jadi celaan kan? Hahahaha. Ah sudahlah. Ga usah kirim komen ke blog ini.

Asisten

Ada engga ya ibu rumah tangga ya tidak-pernah-komplain mengenai asisten rumah tangganya.  Dulu disebut pembantu rumah tangga, tapi kekinian kelihatannya kurang setuju dengan istilah pembantu maka digunakan lah istilah asisten rumah tangga atau ART.  Back to laptop. Ada ga ya ibu rumah tangga yang TIDAK PERNAH komplain mengenai asisten rumah tangganya?

Kalo pertanyaannya dibalik menjadi ada engga ya bapak rumah tangga yang tidak pernah komplain mengenai asisten rumah tangganya? Hahahaha. Saya yakin banyak. Di rumah saya aja ada satu *wink. Mau garis lipatan celana panjangnya ada empat hasil setrikaan si embak atau si empok, engga bakalan dia protes. Salah satu embak yang kerja di rumah sangat memanfaatkan hatinya yang baik luar biasa itu.  Setiap membersihkan kamar, seratus dua ratus ribu juga dibersihkan dari dompet.  Kesalahannya adalah, suatu hari dia membersihkan dompet saya. Ketauan deh.

Seorang gadis muda datang dari agen penyalur.  Saya sudah membayar uang muka kepada penyalur untuk memastikan kedatangan asisten baru, karena asisten yang lama sudah dipastikan tidak pulang lagi, paling tidak ke rumah saya.  Gadis muda ini adalah asisten paling unik yang pernah bekerja di rumah saya. Sejak kedatangannya hingga keberangkatannya yang makan waktu kurang lebih 4 bulan, dia hanya satu kali mencuci bajunya.  Itupun setelah saya tegur.  Setelah seminggu dua minggu saya baru menyadari bahwa di jemuran tidak satupun baju nya pernah tergantung.  Baik baju dalam maupun baju luar. Dan setelah seminggu dua minggu itu, kalau kami duduk bersama di depan televisi saya terganggu dengan bau badannya.  Pertanyaan pertama saya adalah: mbak udah mandi? Jawabnya, udah.  Kedua, bajunya udah diganti?  Jawabnya juga udah. Baru setelah saya merasa yakin tidak ada cucian saya tanya pertanyaan ketiga, engga pernah dicuci bajunya? Jawabnya. Engga.  Kenapa? Diam seribu bahasa.  Setengah jam kemudian dari arah tempat cuci terdengar suara air.  Si mbak mencuci seluruh isi tas-nya sekalian. Luarbiasa. Tapi saya sudah terlanjur bertekad menelepon penyalur untuk mencari penggantinya.

Seorang mbak yang kerja di rumah saya punya kebiasaan yang tidak higienis.  Saat itu anak saya masih balita dan suka ngompol.  Bolak-balik kain pel harus bekerja membersihkan bekas nya di lantai.  Suatu hari saya bilang: mbak, tadi sudah sempet bikin susu buat si adek?  Jawabannya: sudah bu, nih! Sambil tangannya yang barusan memeras air dari kain pel dengan confident menutup lubang di dot bayi dan mengocok botolnya dengan gerakan ringan. Gubrak.

Kalo seperti itu saya komplain ga? Disinilah susahnya. Komplain sering terasa duri. Seorang empok yang kerja pulang pergi di rumah saya tegur, mpok tolong debu hasil nyapu nya jangan dimasukin ke kolong mobil aja gitu, ditampung dengan serokan, buang ke tempat sampah.  Hasilnya? Teriakan hebat yang membuat saya seolah-olah sedang main sinetron.  Ibu ga seneng sama saya? Saya lihat ibu memang benci sama saya, setiap saya datang engga pernah ditegor. Maaaaaak.  Harus ditegor gimana sih? Lagian kalo dikasih tahu jangan masukin sampah ke kolong mobil harus dibalas dengan teriak gitu?

Seorang mbak lain yang juga kerja pulang pergi saya tegur: mbak, nyapu itu dari dalem ke luar, sampahnya ditampung dan dibuang ke tempat sampah.  Kalau nyapu bolak balik dari kanan ke kiri, lalu ke kanan lagi ya bakalan ga selesai-selesai berdebu terus. Dibalas dengan; Iyaaaaaaaaaaaa Ibuuuuuuuu, macam intonasi anak esempe yang diceramahin tiga jam bosen belum selesai-selesai. Lhah, saya pengen marah tapi akhirnya ga jadi. Mungkin memang dia berniat membuat drama juga seperti si empok sinetron, saya ogah terpancing.

Terus apakah saya boleh komplain? Saya pengen komplain karena mug-mug yang tadinya baik-baik aja sekarang mulutnya bopeng kanan kiri karena entah kesenggol apa saat dicuci.  Saya pengen komplain karena handphone saya selalu lepas dari chargernya setiap si embak nyapu entah gimana cara nyapunya.  Saya pengen komplain karena tupperware yang tadinya bagus dan baru, sekarang miring kanan kiri seperti didudukin kuda sebesar satu ton.  Dan banyak lagi hal-hal sepele di dalam rumah, seperti pengaturan kursi dan furniture yang sudah saya atur menurut kesukaan saya digeser menjadi seperti kesukaan dia.  Dan diatas itu semua teguran atau koreksian diabaikan seperti rambu-rambu jalan.

Berbahagialah jika ada ibu rumah tangga yang tidak pernah komplain. Ngiri saya. Beneran.

 

Why Travelling

Hari ini hujan sejak pagi. Padahal tadi malam saya susah tidur. Jam 1 pagi saya masih bolak balik ke toilet, dan jam 4.30 sudah dibangunkan suara azan. Sah lah rasa seperti zombie. Eh, zombie udah so yesterday ya? Yang kekinian adalah walkers ala ala the walking dead.
Sambil buka-buka sosmed saya kepikiran. Orang jaman sekarang keliatannya lebih suka jalan-jalan daripada orang jaman dulu? Eh, ini pendapat saya pribadi loh. Twitter dan Instagram biasanya punya sedikit tagline untuk memperkenalkan pemilik akun. Say si A. Saya A, hobi makan dan jalan-jalan. Heh? Hobi makan? Sekarang jadi udah sah aja ya, walaupun makan adalah kebutuhan untuk mempertahankan hidup. Yang lain lagi. Say si B, memperkenalkan diri dengan B, orang biasa, suka travelling dan tidur. Suka tidur? Bukannya tidur juga cara untuk survive mempertahankan kesehatan tubuh dan jiwa? Hahahahaha. Anyway. Sekarang hampir pasti tidak ada yang menuliskan hobi mengoleksi perangko lagi. Dan jutaan orang menuliskan hobinya travelling.
Beneran elu hobi travelling? Suer?
Mungkin berbeda untuk setiap orang dan saya yakin berbeda untuk setiap orang. Untuk saya pribadi travelling itu mencerahkan pikiran. Setiap hari melihat pemandangan yang sama, carport yang sama, pohon mangga yang sama, jalan raya yang sama, ada kejenuhan. Setiap hari mengerjakan rutinitas yang sama, bangun pagi, olahraga, menyiapkan keperluan ini itu atau ngantor, pulang, tidur dan repeat et al, pasti ada kejenuhan. Melihat pemandangan yang berbeda, sebuah pantai yang belum pernah dikunjungi atau jarang dikunjungi, melihat sebuah gunung yang belum pernah dikunjungi atau jarang dikunjungi menjadi sebuah alternatif untuk menjernihkan pikiran. Apalagi jika mengunjungi sebuah tempat yang benar-benar baru. Sebuah kebudayaan berbeda yang benar-benar belum pernah dikenal sebelumnya, itu pengalaman yang sangat menyenangkan. Itu sebabnya kalau pergi travelling, saya sedapat mungkin jalan kaki atau naik public transport. Melihat pemandangan yang baru, menyerap budaya lokal, membeli makanan dari pinggir jalan, mengalami gegar bahasa, menaklukkan rute-rute perjalanan adalah pengalaman yang saya sukai. Nyasar sedikit bukan masalah, apalagi kalau nyasar membawa ke tempat yang lebih cantik difoto. Saya bahagia banget dengan kamera digital yang bisa menjepret dan menyimpan ratusan foto bahkan memproduksi video. Itu kenang-kenangan yang sangat berharga dan bisa bolak-balik diputar dan diingat kembali. Cerita-cerita yang dapat saya tuliskan dari hasil perjalanan-perjalanan itu mencerahkan pikiran suntuk dan butek.
Nah, disini saya mulai ga ketemunya dengan generasi milenial. Eh, milenial kan ya? Hahahaha. Generasi yang menyebut hobinya adalah travelling padahal usianya baru 14 tahun. Semua perjalanan dipilih, dibiayai, disponsori dan diatur itinerary nya oleh orangtua nya. You just enjoying it. Ya udah pasti lah enjoyable, karena perjalanannya naik pesawat, tidur di hotel, ada tour yang mengantar ke tourist venue dll. Naik pesawat jaman sekarang walaupun budget plane, udah standar dan lumayan nyaman. Coba kalo perjalanannya naik bis atau kereta, tidur di hostel, dan kemana-mana ngeteng naik bus/mrt. Atau yang udah lebih dewasaan dikit, peserta weekend getaway, atau paket tour naik turun bis yang dijemput dari airport dan dianter ke airport, dipilihin resto tempat makannya dan hotel tempat nginepnya, tinggal bayar.
Suatu hari di Hanoi, temen-temen seperjalanan nanya, Lyn mau ikutan beli tiket kereta ke HCM? Hanoi-HCM naik kereta makan waktu sekitar 2 hari. Ngapain aja kita di kereta? Kalo jaman sekarang kemungkinan ada colokan yang bisa charging gadget 24 jam, jadi mau nonton, main game, chatting apapun masih bisa. Jaman waktu itu? Paling nonton TV, ngobrol, baca buku, main kartu atau tidur. Bayangin dua hari, kayak apa boringnya. Jadi saya memilih terbang domestik aja yang hanya makan waktu kurang dari 1 jam.
Dulu pernah saya naik kereta domestik, di tiket saya tertulis, arriving time 6.00 am. Jam 7 pagi kereta masih berjalan dan pemandangan kanan dan kiri masih pegunungan, bukan perkotaan. Apa saya nyasar? Engga. Memang kereta nya telat. Telatnya ampun-ampunan. Real arriving time nya 8.30am. Orang sana udah biasa jadi ga misuh-misuh lagi. Telat segitu banyak kan lumayan, mau tidur lagi juga udah ga bisa. Bener-bener bikin mati gaya.
Apakabar kalau tidurnya harus di berbagi kamar mandi dengan penyewa lainnya? Hostel jaman sekarang sudah sangat jauh lebih masuk akal dan family friendly. Handuk, sabun dan air minum disediakan. Bayangkan jaman tahun dimana belum ada hostel, jadi kalau menginap di fasilitas penduduk, yang WC nya di luar rumah, matrasnya tipis, banyak nyamuk nya, kesetnya basah dan berpasir, dan ada anjing yang setiap lima menit guk guk guk guk bawel. Hahahahaha. Biasanya orang travelling as simple as possible. Perhatiin aja backpakers bule, sampe sekarang seragamnya adalah celana pendek, kaus kutung, rambut cuma dikuwel-kuwel diiket karet gelang, cuma sunblock tanpa bedak. Bandingin sama gaya travelling bangsa kita yang rambut diblow (berarti harus bawa hair dryer dong), matching kaus/kemeja, jeans, jacket, cardingan, syal apalah. Tiga macam sepatu, tiga tas, tiga cengdem, harus pake eyeliner dan bulmatsu, supaya penampilan instagramnya keren. Berhenti di sebuah tempat paling penting adalah selfie nya. Berhenti di suatu tempat hanya sesaat demi foto-foto lalu langsung lanjut ke tempat lainnya. Dan yang paling addict, belanja oleh-oleh.
Beneran elu hobi travelling? Suer?
Ditanya nyobain makanan apa aja udah ga jaman sekarang. Hampir semua jenis resto dari seluruh dunia ada di Jakarta. Makanan di pinggir jalan bukan pilihan, selain takut engga halal juga engga udah ga penasaran dengan rasanya. Di PIK juga ada, wkwkwkwk. Ditanya ngobrol ama siapa juga udah ga iya lagi. Kan udah ada googlemaps, tinggal cari petunjuk mbah gugel aja, ga perlu tanya-tanya orang kanan kiri. Pertanyaannya cuma, udah pernah kesini. Udaaaaah. Bagus? Bagusssss. Dan selesai. Pulangnya bawa apa? Foto-foto? Engga juga ternyata. Karena ga hobi fotografi. Bawa oleh-oleh? Engga juga, semua mahal-mahal boooo. Pengalaman? Ya satu kata itu, udah pernah, titik. Lainnya? Magnet kulkas buat barbuk.

 

Love Covers All

Saya akan berbicara mengenai cinta. I know this is not usual of me. Also, saya ga akan mengganti kata cinta dengan kasih though the meaning maybe quite similar. I will use that magic word. Cinta. Cinta yang bukan jodohnya Rangga.

Paulus menuliskan suatu definisi cinta yang sangat berkesan di hati saya. Most people know but perhaps find it hard to understand. Love covers all. Cinta menutupi segala sesuatu. Segala sesuatu? Mengapa harus segala sesuatu?

Di Negara ini ga ada salju. Tapi ada hujan debu. Hujan debu pertama yang saya alami ketika gunung Galunggung meletus sekitar tahun 1980an. Saya masih duduk di kelas 4 SD. Pagi hari jam 6, tidak ada matahari yang biasanya menyeruak melalui awal dan memaksa menggeliat menerangi permukaan bumi. Saya diantar Daddy ke sekolah dalam mobil yang lampunya dinyalakan. Semua mobil di jalan raya menyalakan lampu. Rasanya matahari enggan terbit, atau sedang ngambek. Setelah jam 11 siang, barulah cahaya matahari berhasil mendaulat kembali kekuasaannya yang dikudeta oleh hujan debu. Saat saya berjalan keluar kelas, semua permukaan yang terbuka, halaman sekolah, tanah, rumput, tanaman, pohon, bak pasir, atap rumah, atap sekolah, atap mobil semua diliputi oleh selapis debu. Seakan-akan dunia ini pernah ditinggalkan oleh penghuninya untuk liburan ke luar galaxy dan tidak ada mbak yang bertugas bersih-bersih. Selama beberapa minggu hujan debu terus datang. Mobil yang sudah dicuci bersih, kembali diliputi debu. Lantai yang sudah disapu kembali diliputi debu, permukaan jendela yang sudah dilap kembali dilapisi debu. Semua berdebu. Jaman tahun segitu, masker penutup hidung yang sekarang sangat ngetrend berbagai gambar *saya pernah liat ada yang seperti muka spongebob lagi ketawa lebar, males banget ngeliat wajah pemakai-nya, belum heits. Entah berapa banyak debu pernah terhirup ke dalam paru-paru. Air untuk mengepel selalu keruh dan hitam.

Kalau debu itu cinta, itu mendefinisikan LOVE COVERS ALL. Cinta menutupi segala sesuatu. Debu gunung berapi itu tidak memilih menutupi, meliputi atau melapisi apa. Beberapa waktu kemarin saya berkunjung ke daerah Gunung Sinabung, sebuah gunung berapi yang juga sedang batuk-batuk. Kebun jeruk, kebun kentang, kebun bawang, kebun sayur seeeeemmmmuuuaaa tertutup debu. Sampai-sampai petaninya kecil hati merasa hasil panen nya tidak akan bagus.

Kebun yang diliputi debu gunung berapi samasekali engga keren. Apa bagusnya? Bikin stress. Coba kalau debu gunung berapi itu salju. Semua permukaan putih, putih dan putih, lalu orang foto-foto. Keren. 😛

Baik debu gunung berapi, baik salju, untuk saya mendefinisikan dengan baik Cinta Menutupi Segala Sesuatu. Now come the question, apakah cinta that you have do covers all? In this term, covers the good and bad of people you are cares about or people surround you? If they nice to you, your love covers them with warmness and when they hurt you, your love cover them with the same warmness too. Or, your love only cover them with warmness when they are nice, or nice enough. When they do something you don’t agree too, it is not warm anymore, but bitter and cold?

It is easy to be nice to someone that nice to you. But I learned in my life, the nice ones stabbed my back and arranged conspiration to take me down. The nice one partying when they know I am not in my best shape.

The big question here is, do your love is the kind of love that covers all. Small mistakes, big mistakes. Small hurt, big hurt. Small attention, big attention. Small caring, big caring. Love just covers all.

Cinta menutupi segala sesuatu. Bukan hanya kesalahan-kesalahan kecil yang mudah dimaafkan. Bukan hanya keterlambatan ke pertemuan, atau kehabisan batere sehingga tidak bisa berkomunikasi. Bukan hanya air yang tumpah atau piring yang pecah. Tapi juga kesalahan-kesalahan besar yang berakibat kepada kehidupan. Luka-luka batin yang terbuka dan menggangga karena pemaksaan pendapat dan kata-kata yang kasar atau menyakitkan.  Hati yang tawar karena pilih kasih. Uang yang dipinjam dan tidak kembali. Kasih yang diberikan dan tidak berbalas. Perhatian yang diberikan dan tidak berbalas. Mungkinkah cinta saja menutupi-nya?

 

Pamer

Apa sih yang saya ingin pamerkan dari hidup saya? Tidak ada yang luar biasa. Pinter? Jelas lebih banyak mungkin seratusjutaan orang lain lebih pintar dari saya. Teman-teman SMA saya bukan sekedar lulus S-1 macam saya. Mereka lulus S-2, S-3 bahkan lebih, karena banyak yang berkecimpung di dunia pendidikan menjadi dosen. Cantik? Jelas tidak. Kalau saya cantik paling tidak kecantikan itu pernah menguntungkan saya waktu saya masih muda saat pergaulan saling mengenal diantara gadis dan jejaka terjadi. Saya termasuk yang selalu disisihkan, tidak pernah dianggap cantik, tidak pernah di”taksir”, apa dikirimi salam atau sekotak coklat? Waktu jaman saya kuliah sering hujan turun saat selesai kebaktian malam. Para pria berlari ke asrama atau ke rumah dosen atau ke mana saja mencari payung, dan berlomba sampai kembali ke Chapel untuk memayungi si pujaan hati atau si gebetan. Saya akan berdiri di Chapel sampai hujan berhenti, karena tidak ada yang menawari payungnya. Kaum pria muda itu mencari gadis cantik. Suatu kali monitor asrama datang mencari kami yang masih ada di Chapel lewat jam 10 malam membawakan payung. Kami? Iya, yang ga cantik kan bukan hanya saya saja. Kaya? Lhah ini lagi lebih engga. Sungguh saya ngiri sama anaknya pejabat siapa itu yang usia 19 langsung dapet warisan tujuh turunan. Ga perlu kuliah, ga perlu ngejar-ngejar dosen minta bimbingan, ga perlu dihina dina saat ngelamar kerja dan interview, hidupnya langsung bahagia punya rumah satu hektar dan mobil beberapa. Tinggal buka PT Sesuatu. Profit ga profit bukan masalah, toh, cadangan melimpah.

Jaman sosmed sekarang pamer jadi tambah mudah. Ga perlu ikut arisan dan ngerumpi untuk menyebarkan berita. Tinggal posting aja di IG atau di FB. Mulai dari keberhasilan menyabet gelar akademik, kesuksesan meraih piala atau medali, sampe hal-hal materialistis macam baju baru, sepatu, jam, tas, gadget, bla-bla-bla yang harganya tidak akan terjangkau oleh masyarakat kasta bawah macam saya. Connections bisa komen: baggguuusss, atau addduuh ngiri deh, sampe yang dengki bilang: ini ori apa kw? Soal pamer harta, saya sering takjub sendiri. Takjub sampai menganga seperti memandang bintang-bintang di langit. Karena ternyata harta tidak ada habisnya, dan seolah penghasilan juga ternyata tidak ada limitnya. Untuk memamerkan satu ruangan penuh Hermes, kira-kira berapa penghasilan sebulannya? Ga mungkin kan cuma buat Hermes, kurangi biaya makan, bensin, luluran etc… ckckck maka saya menganga sendiri membayangkan deretan angka 0 nya. Sungguhkah di dunia yang masih ada orang mengais sisa makanan dan hidup dari hari ke hari, ada orang yang seberuntung itu? Wow.

Pamer itu bikin orang jadi ngiri. Ngiri terlalu banyak jadi dengki. Dengki jadi benci, dan benci itu bisa jadi macem-macem. Mulai dari urusan sekedar remove atau unfollow, sampai ke urusan menjelek-jelekkan orang, mengucilkan dan (ini yang saya alami) mempergunakan kekuasaan untuk mematikan sumber nafkah orang lain.

Tapi apa yang perlu didengki-in dari saya? Apa yang bikin orang ngiri sama saya? Kan saya udah bilang, ga ada dari penampilan dan hidup yang saya yang bisa dipamerin. Untuk orang seperti saya yang ga ada apa-apanya aja ada orang yang ngiri, gimana para raja pamer sosmed itu ya? Saya doakan mudah-mudahan tidak ada stalker-nya yang psikopat. *lho?

Salju Turun di Wall Ini

Saya suka lagu Korea ini. Check https://youtu.be/HQVOYkDTeIM. Pertama sekali saya dengar dipopulerkan oleh In Sooni, mudah-mudahan saya tidak salah. In Sooni adalah seorang penyanyi Korea berwajah gelap karena berayahkan seorang Afrika Amerika. Kalau salah lihat sedikit, bisa disangka bersaudara dengan Oprah. Tapi dia hidup dalam perbedaannya di Korea, yang semua orangnya berkulit putih terang walaupun tanpa BB cream.

Goose Dream sendiri bercerita tentang mimpi. Seorang yang bermimpi suatu hari akan melangkah melewati dinding tebal yang membatasi geraknya selama ini, dan akan terbang meninggalkan celaan dan cemoohan orang yang mengikatkan selama ini.

How I love that!

Cause I have the same dream.