Tidak Wajar

31 Okt 2002

Diantara semua stress gw, gw ngomel-ngomel sama Among. Bukan Among yang diomelin, tapi curhat setengah putus asa, supaya Among aja yang ngomong sama si mami supaya menghargai sedikit kesusahan orang lain… Anehnya, Among malah marah-marah sama gw.

Dia bilang, seharusnya gw menghormati si Mami sejelek apapun dia dan sebagaimanapun gw dicurangin terutama dalam perkara rumah dan pembantu…hah?

Okay, wait a second, apa Among mengalami hal-hal berikut ini:
1.Begitu lulus S-1 disuruh tinggal di rumah ngajar piano dan kawin! Ga boleh terus ke S-2. 2.Waktu minta terus ke S-2, jawabannya meremehkan banget, “Emangnya kamu mampu?” 3.Setiap gw pulang dari kampus, pulang dari tempat kos, maka gw jadi babu ngebersihin rumah, nyapu, ngepel, ngelap kaca, ngerapiin lemari, plus mandiin anjing
4.Waktu gw merid, setengah biaya pernikahan gw bayar dari uang tabungan gw sendiri, tapi sama semua orang mami bilang dia yang bayar semuanya!
5.Gw udah dijanjiin dikasih piano, tapi ternyata ga jadi, dengan alasan si Lorit mau les? Please deh… Wajar ga sih gw jadi marah begini, setelah sekian banyak umplek-umplekan perasaan ga hepi dan perasaan diperlakukan tidak adil?

Menurut Among, teteup ga wajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s