Softly & Slowly

A fast-mover who successfully do her things slowly!

Some Batak

Setelah beberapa komentar yang masuk di blog ini sehubungan dengan judul: Jangan Kawin Sama Orang Batak dlsb, saya memutuskan untuk membuka sebuah page khusus tentang topik ini. 

Salah satu alasannya adalah karena pembaca seringkali tidak merefer kepada posting sebelum dan sesudahnya, lalu berkomentar negatif.

Satu komentar berkata begini: lu aja yang bego, masa aqua bisa engga ada di pesta pernikahan. itu artinya organizernya pelit atau ga well organized..

Okey. Marilah kita berjalan dari satu pesta ke pesta batak lainnya dan membuat survey, berapa banyak penyelenggara pesta yang cukup bertanggungjawab hingga ke urusan aqua dan berapa banyak yang tidak? Dalam pengalaman saya yang sedikit, masih lebih banyak kececeran soal aqua. Bukan hal yang aneh dalam sebuah pesta batak bahwa tamu membawa botol air mineral mereka sendiri. Saya berasumsi orang yang meninggalkan pesan bukan orang batak dan sayangnya cepat mengomentari sebelum memahami situasi sesungguhnya.

Sebuah komentar yang lain mengatakan: Saya lihat anda adalah orang yang tinggi hati dan sayang sekali lahir di keluarga orang batak. Tidak heran anda tidak laku, karena tidak ada yang suka menikah dengan orang seperti anda.

Okey. Ini juga kesimpulan yang terburu-buru. Jika posting dan komen semua terbaca dengan baik, tidak akan timbul asumsi bahwa saya tidak menikah, sama salahnya dengan tanggapan bahwa saya tinggi hati.

Pengalaman selama ini belum pernah mengajarkan kepada saya bahwa menjadi orang batak adalah sebuah kebanggaan yang luar biasa. Saya bilang belum, karena saya membuka diri untuk kemungkinan itu.

Kebalikannya yang terjadi, orang batak (baca secara adat, bukan individual) lebih banyak mengecewakan.  Di upacara pernikahan, di upacara kematian, di arisan dan pertemuan biasa, sarat dengan bias yang memojokkan saya sebagai pihak yang lemah.  Sebagai perempuan saya tidak suka dihinakan dan dianggap warga kelas dua hanya sebagai pelayan makan saja.  Sebut saya tinggi hati, tapi mari kita berbicara kepada wanita-wanita batak seusia saya di kota besar seperti Jakarta, berapa banyak diantara mereka yang tidak ‘menghindar’ dari situasi demikian?

Sejauh ini pendirian saya masih tetap, masih berharap jika saja adat batak tidak perlu dinodai oleh keinginan-keinginan egois untuk berkuasa, untuk dihormati dan terutama oleh uang.

No comments yet»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: