Mengatasi Boring

Mengatasi boring, gw mau aja waktu diajak Susan (sebenernya semua anak milis diajak) nonton Kick Andy. Sebagai seorang pembaca setia buku-buku karya Marga T, gw solider karena di acara ini MT akan menyumbangkan royalti buku Sekuntum Nozomi 3 (yang settingnya kerusuhan Mei 1998) kepada korban yang menderita cacat pada peristiwa tersebut.

Jam lima gw dah wara-wiri di Plangi, nunggu Susan dan entah siapa lagi. Setengah enam lewat dikit, Susan muncul pake kostum sweater dan jeans item. Walopun gw baru pertama kali ketemu, ternyata dia ga beda-beda amat sama foto yang gw liat di SNz4 dan di file milis. Ternyata kita cuma akan berangkat bertiga sama Eflin. Sambil nunggu Eflin, kita ngopi dulu di Starbucks…gw sih cuma minum juice apel.. 🙂

Setelah Eflin datang (yang juga mengenakan kostum berwarna gelap), lalu berangkatlah kita ke MetroTV. Rupanya, Pak Bakir, sopir mobil kantor yang disalahgunakan oleh Susan, udah tau tempatnya. Sampe di MetroTV jam setengah tujuh lewat dikit, didepan GrandStudio udah banyak bener orang…waktu Susan memperkenalkan kita bertiga sebagai anggota MTfc, penerima tamu langsung ngobrol dengan handy talkie-nya…dan ternyata, kita disuruh masuk duluan bersama-sama dengan rombongan dari GPU. Weeeh…namanya duluan, berarti bebas pilih tempat duduk dong? Jelas aja kita pilih yang paling depan…sempet foto-foto dulu (biasa orang kampong!), tapi pada malu mo bedakan en lipstikan…

Waktu ice-breaking, sang MC bernama Widya mulai menyanyikan “Esok Masih Ada”. Siapalah anak taun 80an yang ga tau lagu ini? Jadi gw bersenandung ikut nyanyiin…tau-tau Wida udah menyorongkan mic ke gw, dan gw cuek aja nyanyi (secara gw tau ini cuma ice breaker, kalo shot beneran masuk tipi, gw rasa gw pasti gemeteran)…dan kemudian mengajak gw berdiri menyanyikan lagu itu sampe abis. Yang paling heboh dalam situasi ini sapa lagi kalo bukan Susan. Tanpa sepengetahuan gw, dia udah sibuk ceklak ceklek motret…~~satu komentar Wida yang bikin gw pengen ngakak langsung “Wahh, bagus juga nih suaranya….” mengingat tujuh taun yang lalu seorang ketua jemaat mengomentari gw begini, “Ibu pendeta memang pintar main piano, tapi kelihatannya dia tidak punya talenta menyanyi.”~~

Selama dua jam, kita duduk mengikuti taping episode Kick Andy yang membahas mengenai kebakaran Yogya plaza yang sekarang berubah nama menjadi mall klender, terkait kerusuhan Mei 1998. Gw tau sih bahwa banyak anak-anak remaja yang jadi korban kebakaran itu, tapi gw ga nyangka kalo ampe sekarang tetep ada stigma yang disandang oleh keluarga korban itu, bahwa anak-anak mereka penjarah. Fiiuhhh…

Gw juga menyaksikan seorang bernama Iwan yang dibakar dan menjadi cacat pada tanggal-tanggal kerusuhan itu….he is in a bad shape, burnt all over and was left by his wife. Untuk orang inilah Marga T memberikan sumbangan 25 juta.

Gw merasa terharu, dan ga nyesel mengikuti acara ini. Pasti beda dengan nonton di TV, dimana emosi kita ga akan terhanyut, secara setiap berapa menit sekali pasti ada jeda iklan…tapi di studio ini, gw mengalami dengan jelas kembali kerusuhan Mei 1998 dengan segala macam imbuhan kekerasan, kengerian dan pengorbanan.

Pelajaran yang penting banget untuk bangsa ini: plis deh, jangan sampe terulang lagi kejadian begini…amit-amit ~getok-getok meja

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s