Summer 1991

Summer 1991

Sebenernya gw ga ada niatan mo labor Summer ini…bener deh…! Tapi karena sohib gw, Debby, udah sibuk ngelamar sana sini, dan udah diterima di Guest House, maka gw terseret! Dia ngajak gw kerja bareng dia, karena kerjaan-nya pasti banyak, lowongan tersedia untuk dua orang, dia perlu orang yang inggris-nya bisa diandelin! Selama Summer, GH akan menampung para dosen AIIAS yang bakal ngajar untuk summer school pendeta-pendeta dan guru-guru. Manto yang mau ngelamar untuk posisi itu, agak setres karena ngerasa inggris-nya agak kacaw!

Supervisor kita adalah Maam Tobing, istri Rektor. Inti dari kerjaan gw dan Debby adalah menyiapkan (termasuk membersihkan dan merapikan) kamar-kamar, termasuk nyuci, nyetrika seprai-seprai dan selimut-selimut (the hardest part…!!), dan sampingannya yang laen, buka usaha laundry.

Banyak juga pengalaman baru yang gw temui selama gw kerja di GH ini. Pertama, disirikin sama anak-anak laen yang juga labor, dengan jam kerja yang lebih mengikat. Manto termasuk salah satu anak yang kerja di AdBuilding, janitor yang mulai kerja jam 5 pagi, selesai jam 10 pagi, sambung kerja sore mulai kerja jam 2 siang sampe jam 5. Delapan jam penuh kerja tiap hari! Gw dan Debby sebenernya bangun jam 5 pagi juga, tapi cuma untuk nganter air panas buat mandi tamu. Paling 3 ato 4 ember, makan waktu paling lama 20 menit, abis itu kita tidur lagi ampe jam setengah tujuh…hehehe….Jam 8 sampe jam 10 kita bersihin kamar-kamar, nyuci-nyuci…abis itu…nyantai deh ampe jam 4 sore, sampe waktunya untuk ngangkat jemuran dan nyetrika.

Kalo nyuci seprai dan selimut, itu emang job-description kita…tapiii..untuk laundry baju para tamu, kita mengenakan biaya tambahan! Mulai dari Rp 200- sampe Rp 1000 (inget, ini taun 1991) tergantung ukuran dan jenis bahan. Ini bisnis yang menguntungkan banget, secara jarang banget ada tamu yang cuma nginep sehari dua hari. Paling sedikit, satu orang akan nginep dua minggu –keliatannya, ini waktu standar untuk setiap SKS. Ga mungkin kan ada orang yang ga nyuci baju selama dua minggu? Karena ngeliat bisnis ini menguntungkan, ada beberapa anak janitor yang ikut-ikutan buka laundry (dengan target pasar yang berbeda tentunya).

Tamu pertama kita adalah Mr. Lee, orang Korea (sekarang beliau udah jadi ketua Divisi North Pacific). Pagi jam setengah delapan, kalo kita ketok pintunya, untuk bersihin kamarnya, dia akan bilang, “Ooh…no…no…no need, still clean!” Ampe tiga hari berturut-turut, still clean terussss…gw ama Debby menyangka mungkin Mister ini parno kita bakalan ngacak-ngacak barang-barang-nya gitu, dan menamai dia Mr. Paranoid. Hari keempat, dia memperbolehkan gw dan Debby bebenah dan ganti seprai, dengan berdiri di samping pintu mengawasi pekerjaan kita. Soal laundry, Mr. Lee ini juga agak irit. Dia hanya nge-laundry tiga hari sekali, dan paling-paling satu pasang kemeja dan pantalon!

Suatu hari Sabtu Mr. Lee muncul dengan kemeja batik….rupanya dia baru beli di Bandung, keliatannya bangga bener dia dengan baju barunya itu, karena hampir seharian dia pake itu batik kemana-mana. Ketika besoknya kita bersihin kamarnya, Mr. Lee menyerahkan setumpuk (tumben!) kemeja termasuk kemeja batik-nya yang baru itu untuk dilaundry.
Untuk menjaga kualitas cucian kita, biasanya gw dan Debby menggunakan jasa Byclean pemutih. Memang ampuh banget kok! Seorang tamu kita orang Philiphine yang kemejanya warna putih semua sampe bengong melihat setrikaan rapi kemeja-kemejanya yang tadinya agak kuning kecoklatan jadi putih benerrr.

Karena waktu itu gw dan Debby masih pemula dalam bidang ini (alasan!), setelah menggunakan pemutih, embernya kita ga cuci bersih-bersih, langsung kita pake untuk merendam cucian-nya Mr. Lee. Alhasil, waktu kita angkat, warna batik yang coklat tua memudar menjadi bercak-bercak seperti pitak di kepala…Walopun gw dan Debby panik dan berusaha dengan segenap cara yang kita tau untuk merevitalisasi kemeja batik itu, tidak ada perubahan yang menggembirakan.

Gw dan Debby sepakat untuk mengantar laundry itu bersama-sama, sekalian mengaku dosa, dan mengajukan agar kita boleh mengganti kemeja itu dengan kemeja batik yang baru atau uang, mana aja yang lebih diinginkan oleh Mr. Lee.

Setelah mendengar penjelasan kita, dan memeriksa kemeja batiknya yang ancur….Mr. Lee senyum (aneh!) trus bilang, “This is all right, I have many more.” Hah? Apa ga salah denger? Trus dia memberikan uang jasa laundry, yang ga dipotong seharga kemeja rusak itu, plus USD10- sebagai tip buat kita berdua. Gw dan Debby akhirnya mengganti penamaan kita dari Mr. Paranoid menjadi Domba Berbulu Musang!

Tamu lainnya yang berkesan untuk kita adalah sepasang suami isteri berkebangsaan Bangladesh. Pendeta Das tinggal di Guest House selama tiga minggu, sedangkan isterinya, yang tiba setelah Mr. Das dua minggu di GH, tinggal selama tiga minggu juga!

Kedua suami isteri ini paling cerewet soal air panas. Mereka minta diantar pada jam yang pas setiap pagi. Kalo kelewat, suka agak bete, kalo kecepetan, juga bete. Menurut Mrs. Das, dia mandi harus pas jam 6, kalo sebelum itu air udah dianter, maka air keburu dingin, kalo dianter setengah 7, dia udah keburu mandi walopun dengan air dingin, yang menyebabkan rematik-nya kambuh! Nah Loh!

Selain itu Mrs. Das punya banyak pertanyaan dan permintaan. Bukan aja masalah kebersihan kamar atau hasil laundry, tetapi dia minta dibantuin ngetik lah, minta dicariin obat sakit perut lah, minta disediain ember tambahan-lah, dan minta laundry selesai cepet-lah, minta tolong kita belanja-lah, ….kadang-kadang gw dan Debby jadi bingung ngatur waktu. Beberapa kali dia mencegat anak-anak (siapa aja yang lewat) untuk khusus manggilin gw ato Debby ke asrama.
Tahun 1990-an gitu, ngetik pake laptop bener-bener belum jaman, dan MS Windows belum mendunia. Gw dan Debby paling bisa ngetik pake PC (masih dos) atau pake mesin tik…kebayang kan…betapa lamanyaaa??

Tapi, sebelum Mrs. Das pulang, dia meninggalkan banyak warisan untuk kita, berbotol-botol selai, susu, dan makanan lainnya yang masih penuh, plus sebatang coklat silver queen dengan kartu yang ditulis tangan menyatakan rasa terimakasih mereka atas bantuan kita, dan uang tip masing-masing Rp 10,000- (ini udah gede banget waktu itu). Dah, gw ama Debby langsung lupa bahwa beliau itu ce-er-we-te!

Ada juga beberapa tamu bule, yang perjalanannya lebih jauh, dari Amerika! Mereka lebih cuek untuk urusan Laundry. Biasa tamu-tamu kita yang orang Asia hanya mencucikan baju luar mereka. Tapi, tamu-tamu Amerika, baju dalam masuk dalam kategori laundry. Gw dan Debby harus menambah item lain dalam daftar harga kita!

Byclean pemutih bener-bener andalan kita dalam urusan cuci-mencuci pakean dalem ini! Dan seorang ibu-ibu, sampe melit bertanya, bahan kimia apa yang kita pake untuk mencuci CD-nya sampe bisa bersih bangeth!! Gw dan Debby dengan polosnya menunjukkan botol Byclean (kita yakin di Amerika juga ada!).

Salah seorang tamu bule kita, yang perawakannya tinggi langsing dan botak (mirip dengan pemeran film Hunter) menggunakan parfum Eternity. Begitu kita memasuki kamarnya, langsung tercium wangi Eternity. Seprai, bantal, dan kemeja-nya semua wangi Eternity, malahan, sesudah dicuci dengan detergen, dijemur dan diseterika, wangi itu masih nempel di pakaian-nya. Kalo orang lain menamai dia Hunter, kita menamai dia si Eternity.
Tamu bule kita yang lain, yang juga kurus tinggi langsing botak, memilih untuk mencuci sendiri semua kemeja-nya di wastafel. Waktu dia melihat kemeja rekan-nya Mr. Banuag lebih putih cemerlang setelah dilaundry, akhirnya dia memanggil kita untuk mencucikan bajunya. Agak ribet, karena dia menanyai harga yang kita tetapkan, berapa harga sabun dll dll…

Tamu bule yang lain lagi, datang sekeluarga, dengan tiga orang anak! Namanya anak-anak, terang aja cucian-nya pasti banyak banget….Sehari bisa dua ember penuh, hanya dari kamar mereka aja. Sayangnya, begitu diberi rekening, si Bapak geleng-geleng kepala dan memilih untuk complain ke Sir Rantung, host AIIAS di kampus. Sir Rantung membela gw dan Debby. Setelah negosiasi, bill seharga Rp 62,000- hanya dibayar Rp 40,000- ajah! Dan mereka meninggalkan kampus tanpa meninggali kami tip. Sebenernya, Debby agak-agak kurang puas dengan penyelesaian itu, mengingat bahwa tamu yang ini daftar permintaan-nya memecahkan rekor Mrs. Das. Sampai-sampai beberapa kali, gw dan Debby harus juga berperan sebagai babysitter, yang menemani anak-anak mereka keliling kampus, main bola di lapangan, dan memberi mereka makan (cuma nuangin sereal ama susu sihhh).

Satu kali gw dan Debby mengambil waktu cuti tanpa setau Maam Tobing, dan mendelegasikan kerjaan ke Manto (yang sekamar ama kita). Manto, mengomel-ngomel habis-habisan setelahnya, karena ia jadi mendadak gagu dan ga bisa menjawab omongannya para tamu, kapok! Akhirnya gw dan Debby sepakat untuk ga ngabur bersama-sama.

Kali yang lain, gw dan Debby sama-sama nonton TV di rumah salahsatu dosen. Ternyata Maam Tobing nyariin kita, karena ia ga bisa berkomunikasi dengan tamu yang sedang kebingungan karena keilangan konci! (agak aneh memang, kenapa bisa supervisor GH orang yang ga bisa ngomong inggris?)

Perjalanan karir gw terhenti setelah kerja selama dua bulan setengah. Alasannya sepele, karena load pekerjaan di GH sudah menurut dengan drastis sehubungan dengan berakhirnya Summer AIIAS. Setengah bulan terakhir, dosen-dosen AIIAS berasal dari dalam kampus, jadi tidak membutuhkan akomodasi.Maam Tobing dengan entengnya bilang bahwa gw harus berhenti karena itu (sama sekali ga ada beban, ato ga ada pertimbangan….ampuuunn). Gw akhirnya berhenti, dan menghabiskan dua minggu sisa liburan summer di rumah, sementara Debby dan Manto tetep kerja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s