Softly & Slowly

A fast-mover who successfully do her things slowly!

Jatuh Cintah ya Berjutalah Rasanyah

Ada tiga jenis buah-buahan yang saya ingat dari masa kecil saya. Satu, mangga. Saat musim mangga, orangtua saya gemar memborong sekeranjang besar komoditi pedagang langsung dari pasar induk. Saat itu camilan pagi siang sore digantikan oleh mangga. Saya hafal jenis-jenis mangga dari hasil membongkari keranjang-keranjang tersebut. Yang wangi mangga arumanis, yang hijau lonjong mangga golek, yang besar bulat mangga indramayu dan yang orange kemerahan mangga golek. Jika sedang tidak musim mangga maka konsumsi buah terbatas pada dua, pisang dan tiga, jambu. Pisang dari penjual keliling yang lewat saban hari dan jambu biji dari empat pohon yang tumbuh di depan dan di samping rumah.

Saya dulunya tidak pernah suka jambu biji. Rumah orangtua saya tidak berpagar. Saat jambu-jambu tersebut mulai berbuah, datanglah anakanak entah dari mana memanjati dan mengkonsumsi buah tersebut. Saya sebal. Suara mereka berisik dan buah jambu itu tidak sempat jadi besar dan tidak sempat jadi matang. Buah paling besar yang berhasil saya sikat sebelum berandal-berandal cilik itu mengambil kesempatan paling hanya sebesar bola golf. Itu pun keras benar. Pernah saya diamkan beberapa minggu, pernah saya masukkan di keranjang beras supaya lekas matang. Hasilnya tidak terlalu memuaskan. Kulitnya tetap keras luar biasa, pahit kalau digigit, dengan daging yang sepet dan biji yang banyak. Saya kepingin buah jambu itu berkulit lunak mudah digigit dengan daging manis, tidak pernah kesampaian. Entah memang cara pematangan tradisional ala saya yang kurang canggih, tapi pernah bagian dalam sudah membusuk, kulitnya masih sekeras kulit badak. Kalau sudah begitu saya relakan saja deh para krucil itu mengambili si buah jambu.

Waktu awal kuliah mata saya mendadak terbuka setelah kelas Botani bahwa buah jambu biji memiliki kandungan vitamin A yang sangat tinggi. Untuk penderita DBD yang kehilangan trombosit sangat direkomendasikan untuk mengkonsumsi jus  buah jambu biji dalam upaya pengobatan. Selain itu, karena komposisi vitamin plus serat yang mengenyangkan, buah ini cocok untuk diet.  Horee. Ini penting. Kebiasaan anak kos menyeduh mi instan membuat jarum timbangan mudah bergeser ke kanan. Pengetahuan bahwa buah-buahan sangat friendly untuk diet membakar semangat saya untuk mengkonsumsi buah-buahan sebagai penganti nasi *dan mi instan.

Teman kos mulai bawel. “Itu biji-biji jambu jangan dimakan, nanti usus buntu!” Hah? Sumpe lo? Jaman tahun segitu google belum ada, jadi rumor bisa berkembang lebih indah daripada bunga mawar di taman. Karena ternyata saya suka rasa manis dari daging buah jambu biji itu, ya bijinya ga saya makan. Temen kos yang lain nyinyir, “Kamu lagi kelas tidur ya? Kan kata dosen kandungan vitamin yang paling tinggi terletak di daging yang diantara biji-bijinya itu.” Haduh.  Ini sebenarnya buah jambu biji atau buah simalakama sih?

Tapi bertahun-tahun sejak itu saya jadi galau. Godaan buah jambu klutuk yang dibelah dua dengan isi merah pink yang ditawarkan penjual buah sukar untuk ditolak. Saya pasti beli lalu bingung sendiri dengan bijinya mau diapain, ditelan atau dibuang. Sekali saya telan lalu saya parno sendiri waktu saya sakit perut. Pernah saya buang tapi rasanya sayang banget karena harga buah jambu biji itu bukannya murah. Karena itu tren mengolah buah-buahan menjadi jus saya sambut dengan gembira. Tinggal potong-potong, masukkan juicer, biarlah dia yang memikirkan biji itu mau saya telan atau saya buang. Hehehe.

Untung galau itu hilang kira-kira setahun dua tahun terakhir ini setelah saya kenalan dengan jambu biji yang satu ini. Teman saya membawa buah jambu yang kelihatannya biasa dan sama lalu memotongnya menjadi enam bagian seperti memotong apel. Saya ternganga. Memandang kulitnya yang hijau muda pucat, eh, memang sudah matang? Dan potongan santai asal itu, mm, mana bijinya? Memang sudah matang. Daging buahnya empuk dan manis. Tidak sepet seperti buah jambu di depan rumah orangtua saya dulu itu. Bijinya hampir tidak ada. Satu atau dua butiran kecil yang tidak mengganggu. Saya bisa menikmati si buah jambu biji sampai potongan terakhir tidak ada yang terbuang.

Rasanya seperti ketemu harta karun. Namanya Guava Crystal Seedless. Rasa penasaran saya membawa saya ke website http://www.sunpride.co.id yang menjelaskan ini buah tidak sebule namanya dengan jaminan bebas pestisida dan chemical berbahaya. Priceless. Kalau ditanya ulang apa rasanya menemukan si guava ini, saya akan bilang rasanya macam jatuh cinta. Berjuta rasanya, ada manis enak, manis nikmat, manis sejuk, manis comfort, manis indah… halah.

No comments yet»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: