Softly & Slowly

A fast-mover who successfully do her things slowly!

Pernikahan Terakhir (Dengan Orang Batak)

Hari minggu kemarin kawinan adik gw yang bungsu. Anak terakhir di keluarga. Secara orangtua gw ga punya anak angkat, seharusnya kemarin ini terakhir ever. Gw harus mengakui bahwa gw sejak jauh-jauh hari udah menyiapkan mental untuk tipe-tipe manusia yang akan gw hadapi belajar dari pengalaman pernikahan yang sebelumnya.

Jadilah jam setengah enam pagi gw ke salon, sasakan dan sanggulan dengan pesan sponsor supaya hairspray disemprotkan tanpa memikirkan keselamatan lubang ozon, biar rambut jadi kaku sampai sore atau malam bahkan sampe pagi berikut kalo emang harus. jam tujuh lewat gw udah di jalan dengan kebaya rapi menuju ke gereja tempat pemberkatan.

Biasanya pemberkatan no much on rush, kecuali terkadang partisipan acara nya pada terlambat datang, terutama pendetanya. kali ini pendetanya yang belum datang pada jam yang ditentukan, jadilah kita menunggu nunggu dulu, untungnya juru kamera cukup kreatif memanfaatkan momen idle itu untuk pemotretan penganten.

Jam 11 pemberkatan udah selesai dengan foto-foto lain dan sebagainya, jam 12 kurang, gw udah sampe di gedung walaupun jarak gereja dan gedung uh, jauh-sekali-rumahmu-jalan-rusak-pula. Karena gw kebagian pegang duit juga, maka gw terlambat dateng naik ke lantai 2 untuk acara resepsi. Jadi gini, pesta batak tentunya sulit dimengerti oleh orang yang bukan orang batak yang kebanyakan bingung juga mo makan apaan, karena yang terhindang di meja biasanya terdiri dari nasi, daun singkong, ikan mas arsik dan daging dimasak macam rendang berbumbu. Biasanya makanan pesta ada somay-nya, bakso-nya, es-krimnya yang tentunya ga bakalan mungkin dihindangkan dalam set menu batak. Karena itu biasanya ada dua bagian makanan. Untuk teman-teman disediakan lantai 2, dimana ada makanan internasional dan di lantai 1, makanan ala batak. Karena itu, beberapa pengantin, menggunakan lantai 2 sebagai tempat resepsi kecil, menerima selamat diantara teman-teman. Kadang gw berpikir, inilah justeru dimana si pengantin bener-bener pesta, menyediakan makanan untuk orang-orang yang dia kenal dan dia sayangi, untuk teman-teman yang setiap kali memang sharing life with them. di bawah, kebanyakan orang tidak dikenal ~tapi cerewet~~.

Okey, jadi jam 12 lebih sedikit, bagian lantai 1 sudah mulai makan. Di bagian meja gw, ikan mas nya gendut banget…ck..ck..ck… padahal yang makan engga banyak, jadi makanan engga habis ~~ini kadang bikin prihatin, sisa makanan itu dikemanain? dibuang kan, orang piringnya ditumpukin gitu aja pas ngebersihin, pdhl kalo makanan prasmanan, orang ngambil secukupnya, sisanya masih bisa dibungkus~~

Jam 1 lebih dikit dimulailah keribetan pesta. Hiras en the geng of boru udah mulai dengan ngangkat-ngangkat air minum kotak, sekitar 40 kotak aqua dan minuman botol/kaleng mereka angkut bertiga ~~gw coba nyari orang gedung untuk bantuin, tapi tak seorangpun mau ngebantu, dengan alasan bukan kerjaan mereka,heraaaan, gw instruksikan agar mereka tak perlu dikasih tip sangkin kesel~~ Setelah itu mereka bertiga dipekerjakan untuk membagikan jambar (daging) ke sana dan kemari, termasuk memotong-motong. Setelah membagikan si jambar, mereka sekali lagi kesana dan kemari untuk membagi-bagikan minuman, kacang, dan kue bolu sebagai snack.

Acara ngebagi-bagiin ini lumayan bikin cape. Adaaa aja meja/orang yang mengaku belum dapet minuman lah, belum dapet snack lah, sampe ada yang marah bilang mau pulang lah karena ga dapet sebotol fanta ~~aduhaai, berapa seeh harganya sebotol fanta, ga mungkin mereka ga sanggup beli, emang aja entah kenapa berasa pengen diladenin nya tinggi banget~~ ada yang bilang belum dapet, setelah dibagi, ketauan di bawah meja nya udah banyak berjejer botol minuman…

Gw termasuk banyak bolak-balik, karena gw pegang duit yang untuk dibagi-bagiin diantara segala macam orang, untuk dimasukkin ke dalem tandok (tempat beras) setiap orang memberikan beras, amplop untuk pemberi ikan, ada lagi amplop amplop untuk tulang, keluarga dan lain-lain, plus segepok khusus untuk pemberi ulos dan uang kecil pecahan dua ribuan, lima ribuan untuk diselipkan di jari-jari orang yang manortor menari-nari setiap ada kejadian kegembiraan yang lewat, belum lagi gw memegang bendahara untuk membayar salon perias, es krim untuk resepsi, musik pengiring dan lainnya, dan termasuk membantu menjagai si bayi anaknya adik gw yang umurnya baru 2 bulan. Kalo ada yang nanya kenapa harus gw yang jagain, karena adik dan ipar gw harus duduk di depan, agak kurang sreg stroller dibawa juga kesana kan? Jadilah gw dengan sanggul keras dan hak tinggi lari-lari atau jalan cepat kesana dan kemari, sampe gw ga ngerasa tau-tau hari berganti dari panas terik jadi ujan badai.

Ujan badai beneran! Sampe listrik mati, ada genset, yang dinyalakan dengan tidak terburu-buru, baru setelah sekitar limabelas menit staff gedung beranjak, sesudah gw muter nyari mereka yang lagi asik-asik duduk ngobrol di kantin…sigh. Gw pikir selama ini orang batak emang cukup aneh kalo pesta, ternyata staf gedungnya lebih aneh lagi. Setiap gw lewat, ada aja yang negor, bilang ga dapet minum-lah, ga dapet kue-lah, beli minum sendiri-lah, sampe gw bingung, apa iya sih kelewat. Sekali waktu gw bawa kacang untuk dibagiin, seseorang mengetuk-ngetuk mejanya tanpa ngomong sebagai isyarat minta dibagi. Yaaah, inilah yang kadang bikin orang males, sopan santun ga dijaga. Memang saat ini gw bertindak sebagai boru yang bertugas melayani, tapi kali lain kan bisa jadi dia yang jadi boru.

Bicara soal boru, adat istiadat memang mewajibkan pihak perempuan melayani, di setiap acara pesta, baik kelahiran, pernikahan dan kematian. Gw ga berusaha menggugat kalo cuma soal kerjanya, yang gw suka sebel, cara nyuruhnya yang kurang sopan seperti memperlakukan budak. Pembantu gw di rumah aja gw nyuruhnya aka minta tolong dengan sopan, ga pake teriak, ga pake maksa. Kedua, yang bikin gw suka menggugat, seolah-olah karena posisi boru, maka kita jadi dianggep bukan manusia, ga dipelihara perasaannya, ga dicek apakah udah makan, apakah cape dll, disuruh-suruh terus macam kerja rodi. Ketiga, beberapa jenis ‘boru’ yang gw kenal, cerewetnya lebih parah dari inang-inang di pelabuhan belawan, jangankan kerja, ngatur ajaa tanpa kontribusi yang berarti.

Gw cukup heran waktu jam 5 sore acaranya selesai. Penganten udah mangampu. Waktu gw menikah, pesta itu berhenti tepat jam 6, dan ga ada lagi acara mangampu karena udah tiba waktunya untuk hari perhentian. Gw merasa cukup beruntung karena di pesta ini gw ga pake http://www.bete.com, setiap orang yang nanya rese, protes rese, gw cuma liatin aja dengan pandangan lempeng tanpa ekspresi. Gw merasa cukup beruntung karena ga ada yang ngomel dan nunjuk muka gw seperti waktu kawinan adik gw yang cowo. Gw merasa cukup beruntung karena makanan cukup, semua kebagian ~~walopun gw ga napsu makan~~, ga ada yang maksa beli rokok atau permintaan aneh lainnya. Cuma agak sebel karena ada anggota keluarga yang harusnya termasuk deket dan supportif, bukan sodara kandung, yang kerjanya protes melulu, bikin setori melulu, sampe bentakin nyokap gw. Bah, orang kayak gini gw ctrl-alt-del baru tau.

Well, all done. Kalo semua pernikahan batak kayak gini, I have not much to complaint.

6 Comments»

  Page not found « Softly & Slowly wrote @

[…] Pernikahan Terakhir (Dengan Orang Batak) […]

  Pernikahan Terakhir (Dengan Orang Batak) « Softly & Slowly wrote @

[…] Pernikahan Terakhir (Dengan Orang Batak) […]

  exa wrote @

Mengerti satu orang lain saja berat (sedekat apa pun itu), apalagi mengerti dengan komunitas (meskipun kita kebetulan bagian di dalamnya). Memahami dengan pikiran yang positif, bahwa makna terdalam dari sebuah penciptaan/terciptanya suatu budaya, akan memberikan pencerahan. Tentunya apabila masih ada kerendahan hati yang tulus.

Sampai sekarang saya juga tidak bisa memahaminya, tetapi semakin hari semakin merasakan LUAR BIASA saya dikandung, dilahirkan, dibesarkan bahkan mati pun sebagai ORANG BATAK, sekaligus ORANG INDONESIA.

  Yohana wrote @

semoga nanti aku tidak kawin dengan orang Batak dan tidak ada upacara adat Batak dipernikahanku

  daniel wrote @

ini kan salah satu sudut pandang terhadap batak.
sudut pandang lain kan ada lg.
masalah makan brlebih kan ga ada salah itu
Tuhan kita pun lobi do di baen 12 bakul
masalah cerwet kebanya kan kan mankorhon tu na denggan do
suara keras jg kan belum tentu nge bentak (tau sendiri lah suaraorang batak)
ai na diboto do hamu sisolhotna umbaen kadang muruk tu hamu akka ini.
yakinlah hasilnya pasti positif

  David wrote @

Salam kenal Mbak / Kakak.

I am bataknese (pure), not married (yet, but i gotta plan).

Sometimes, saya selalu berpikir bahwa pernikahan batak itu adalah menghabiskan tabungan hasil keringat bertahun-tahun kerja hanya untuk ‘membayar’ pernak-pernik (yg tidak berguna) dan ritual (tidak penting), serta yang paling parah adalah membayar orang-orang yang datang atas nama adat (ini yg bikin geleng2 kepala sih). Alhasil, banyak teman/saudara yang mengorbankan “tamu”-nya (yang notabene berjasa/berpengaruh dalam kehidupan kedua mempelai, baik di pekerjaan atau relasi atau networking lain) sehingga harus mendapatkan catering yang “tidak semewah lantai bawah yg diisi orang2 adat bayaran tsb”.
Looking at myself, I wish someday I dont need to make my boss, partners,clients,colleagues etc queuing too long in my wedding day in a small room upstair, and don’t get a chance to met me in person (karena ga ada sesi salam2an seperti kawinan international).

Just my 2 cents


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: