Batak: Kesan Pertama Tidak Menggoda

Suatu siang, walaupun saya tidak punya tendensi hipertensi, saya merasa naik darah setinggi-tingginya.  Saya sedang berkutat dengan data ketika tiba-tiba saja monitor komputer menjadi gelap dan buzz, mati!.  Saya menelepon seorang IT officer.  Setelah deringan ke sepuluh telepon saya diangkat.  Saya mendengar jawaban halo, lalu sedetik kemudian telepon saya dimatikan.  Saya mendengar gagang telepon digabruk oleh orang di seberang.  Saya mendadak kesal.  Saya telepon ulang si IT Officer, menanyakan kenapa telepon digabruk sementara saya berbicara?  Si IT berkilah: “Saya engga matiin. Memang mati sendiri!” Whatt? Saya jelas mendengar bunyi gagang telepon yang diletakkan. Bukan sekedar bunyi tuttt menandakan hubungan terputus kok?  Dan jengkel saya menjadi berbuih saat si IT membentak: “Saya tidak mau meladeni kamu, kamu orang kasar. Dasar orang batak!”

 

Dalam stereotype orang batak seringkali digambarkan cara berbicara dengan nada tinggi tidak sabaran, suara keras dan logat e-taling yang kental.  Coba lihat orang batak yang terkenal di film – Nagabonar. Walaupun saya tidak tahu pasti dari marga apa dan berasal darimana tapi semua orang percaya Nagabonar adalah orang batak.  Kurang keras apa dia berbicara? Pengeras suara merk TOA jelas kalah.  Dan Nagabonar jelas tidak bisa bilang jendral seperti saya mengatakannya.

Si Bang Poltak, si Togar, karakter manapun yang pernah wara-wiri di dunia hiburan memiliki sifat yang mirip dengan Nagabonar.  Kenceng! Gara-gara mereka, saya dianggap berkarakter temperamental setiap orang melihat nama belakang saya, bahkan sebelum orang berkenalan dengan saya.

Orang batak pertama yang saya kenal dan kagumi adalah Daddy saya.

Kekaguman saya terjadi setelah saya menyadari bahwa Daddy berbeda dengan orang-orang batak yang selanjutnya saya kenal.  Daddy berbicara dengan nada lemah lembut dan suara lirih, persis seperti kebanyakan kaum bangsawan dari Parahyangan.

Saya tidak sempat bertanya kepada beliau, kapan proses evolusi atau revolusi itu terjadi.  Saya meyakini, pada saat Daddy dibesarkan di tano Batak, ia berbicara dengan gaya yang sama dengan orang-orang sekelilingnya.  Namun sepanjang saya mengenalnya, ia selalu berbicara dengan nada halus.

Jikapun demikian, Daddy tetap mengalami kesulitan berbicara dalam bahasa Sunda maupun bahasa Inggris.  Alih-alih mengatakan: “Kadieu” ia akan mengatakan kadio atau kadiye seperti e saat mengucapkan huruf D.  Namun di kali lain, beliau juga susah mengatakan “Sae” atau “Sare”.  Jadinya lebih sering jadi saeu atau sayu dan sareu.  Tapi kalau berbicara dalam bahasa Indonesia, susah mencari dialek batak-nya, terutama kalau nada bicara nya santun dan tenang.

Berbicara dalam bahasa batak ternyata tidak mengubah kehalusan nada bicaranya.  Sungguh!  Baik tone ataupun ritmenya tidak berubah, tidak mendadak jadi tinggi atau cepat.  Karena itu saya mengaguminya dan meniru gaya bicaranya.

Saya tidak tahu pasti apakah ada penggolongan bahasa batak menjadi bahasa kasar atau halus seperti dalam bahasa sunda atau jawa yang mengenal kromo dan ngoko, namun sejak entah kapan saya serta merta menganggap bahwa bahasa batak yang digunakan oleh ayah saya adalah bahasa yang halus.  Karena itu saya sebisa mungkin meniru beliau.

Di acara arisan dan pesta, dimana orang-orang berteriak: “Hey amani-aha tuson jo!” atau “Hey inata-aha buan jo on!” kata-kata Daddy yang santun “Satabi jo satokin amani-aha, boi do buanon mu on?” menjadi oase tersendiri.  Daddy sering mengucap “Satabi” sebagai kata “Maaf” atau “Permisi”.

Daddy juga mengucap “Ema tutu” seperti mengucap kata Amin.  Lirih. Tidak panjang seperti Aaaaamiiiin yang terkesan ngeledek. Tidak keras seperti AMEN yang terkesan lebay.

Kepada kami anak-anaknya, Daddy menyapa dengan: Inang dan Amang.  Beberapa orang saya dengar menyapa anak perempuannya dengan: boru.  Untuk saya, sapaan semacam itu menunjukkan penghargaan orangtua terhadap anaknya daripada sekedar memanggil dengan nama kecil atau dengan malahan  dengar hardikan: hey.

Saya juga terbiasa mengucap kata “Olo” atau berarti iya dengan nada sedikit merayu, sedikit naik di ujung kata, sebagai ganti mengucapkan nya dengan nada seperti sedang batuk uhuk uhuk.  Berbicara lambat separo mengeja ~yang seringkali ditafsirkan sebagai bentuk influency oleh kebanyakan orang batak tapi saya akan tetap melakukannya~.

Ah siapa bilang orang batak harus selalu berbicara dengan nada kenceng seperti marah-marah?

Kenalan dulu dengan Daddy.

Atau saya.

 

Advertisements

One thought on “Batak: Kesan Pertama Tidak Menggoda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s