Softly & Slowly

A fast-mover who successfully do her things slowly!

Foto Lama

Buat saya facebook masih tetap luar biasa.  Banyak yang sudah bosan, beralih ke social media yang lain.  Tapi buat saya, facebook masih menyimpan sejuta hiburan.  Saya pernah bermain games keluaran Zynga di facebook. Tapi kemudian saya bosan.  Setiap 8 jam sekali saya menanam dan memanen hasil tanam demi memperoleh keuntungan dan poin.  Jika ada quest khusus, saya harus mempercepat cycle tersebut menjadi 4 jam sekali atau 6 jam sekali.  Masalahnya kesibukan kerja kadang sangat menyita waktu sehingga saya tidak punya waktu kosong untuk memanen, apalagi menanam.  Ladang terbengkalai, hewan piaraan terabaikan dan quest tidak selesai. Sementara pemain lain bisa mencapai level hingga ratusan, saya mandek di angka 80an.  Pernah juga saya memasak makanan dan menghidangkannya setiap 8 jam. Telat menghidangkan, makanan tersebut hangus dan harus diulang.  Rugi uang dan tidak dapat poin. Saya juga pernah bermain hidden objects, tapi begitu quest nya membuat saya harus dikirimi sebuah benda khusus dari minimal 5 orang teman, saya berhenti. Lhah, susah nyari 5 orang teman yang sama rajinnya tiap hari main game!

Tapi munculnya foto-foto, baru atau lama, yang paling saya nikmati.  Semua foto punya cerita.  Foto makanan, foto anak-anak, foto hewan kesayangan dan foto dari masa lalu. Foto yang tidak pernah saya pernah lihat sebelumnya dan saya tidak ketahui kehadirannya, muncul di facebook dengan tag nama saya.  Saya ternganga melihat tampang saya 22 tahun yang lalu. It was me? Bersama teman-teman seperkuliahan dengan pakaian gaya 80-an. Waktu saya remaja, saya merasa paling outdated.  Paling engga gaya.  Orangtua saya tidak mudah memberikan uang untuk membeli berbagai macam pakaian.  Mereka memberi saya uang paling paling sekali setahun, saat  tahun baru, untuk pakaian.  Sementara saya lihat teman-teman saya memakai kaus dan jins yang paling trendy yang sedang dijual di toko Matahari.  Ya iyalah, Matahari Dept Store masih satu-satunya andalan, belum kenal Metro, Centro atau Sogo.  Tapi, saat saya lihat foto 22 tahun yang lalu itu, ternyata saya yang gayanya paling 80an. Paling nyata.  Jika yang lain mengaku difoto tahun 90an masih mungkin karena pakaian mereka bukan yang paling trendy.  Sudah nonton film Korea berjudul Sunny? Persis begitulah cara berpakaian saya.  Ternyataaaaa.

Seorang adik sepupu saya mengaplod foto kami waktu dia masih TK *astaga, dan saya masih SMA. Melihat ulang pakaian yang jadul abis dan gaya rambut penuh frizz mencuat kesana kesini saya menggeleng kepala.  Waktu itu saya belum kenal apa itu smoothing dan apa gunanya benda bernama catok.  DI tempat asal saya di Bandung, hanya ada dua salon terkenal, Yucca dan .  Ke sanalah saya mempercayakan tata rambut saya, dan setelah sekarang saya lihat hasilnya lewat foto-foto itu, widih, sungguh saya mensyukuri kehadiran Peter Saerang dan LuVaze.

Bertahun-tahun lamanya saya mempercayai bahwa tubuh saya semakin lama semakin gemuk.  Lengan yang kencang bertambah dengan gelambir lemak, kaki yang jenjang berganti dengan lipatan lipid yang disebut selulit. Saya selalu mengira berat badan saya bertambah terus.  Beberapa foto jadul membuat kening saya berkerut. Hmh? I was that big before? Really.  Apakah ini efek  jins baggy dan sweater atau memang I was not actually gaining weight? Kalau berdasarkan timbangan rumah *yang seringkali sukar dipercaya karena memang tidak pernah dikalibrasi* berat tubuh saya bertambah 25kg dalam waktu 22 tahun.  Berdasarkan pengalaman, seragam paskibraka saya di tahun 1987 jelas tidak muat samasekali.  Saya juga sudah tiga kali membeli pakaian dengan tiga ukuran yang berbeda. 10, 12 dan 14.  Di awal-awal saya punya gaji sendiri yang bisa saya belanjakan sesuka hati, saya pergi ke Marks and Spencer dan membeli beberapa baju.  Dari situlah saya tahu ukuran saya 10, bahkan kadang-kadang bisa 8 kalau modelnya yang agak longgar.  Sepuluh tahun kemudian, saya membeli ukuran 12, karena ukuran 10 sudah sangat sesak dan tidak nyaman dikenakan, dan sepuluh tahun kemudian, yaitu sekarang, saya memakai ukuran 14.

Dari dulu sejak saya masih muda, saya sering tersinggung kalau orang berkomentar tidak manis: eh, tambah gemuk ya? Hah? Atau: Oooh baju ini tidak akan muat sama dia karena dia besar! What? Padahal saat itu ukuran  tubuh saya 10. Sejak seratus tahun yang lalu saya ogah belanja baju di Mangga Dua karena tersinggung dengan jenis ukuran yang ditawarkan hanya terbatas pada S-XS-XXS.

Apalagi membaca laporan medical check up dari Prodia: Obesitas. Wahah, Prodia mohon menyadari bahwa penilaian yang kelihatannya sepele begini menyebabkan tingkat ketidakpercayaan yang tinggi kepada institusi bernama Prodia. Serius! Gimana saya mau percaya pada hasilnya yang lain? Di depan dokter Prodia saya bertanya: Dok, apakah saya obesitas? Dokter menekuk kening dalam, lalu menggeleng dan bertanya: Siapa yang bilang?  Good question yang saya tembak langsung: You are! Since it was written in my med report last year! Dokter menundukkan kepala membaca hasil anamnesanya dimana dia sudah terlanjur men-check type tubuh saya sebagai athletic. Nah lo!

Kembali ke laptop. Saat melihat foto jadul di facebook saya menyadari bahwa kemungkinan besar memang ukuran tubuh saya diatas rata-rata orang. I will always look bigger than many people walaupun berat saya cuma 45 kg.  Dan melihat foto jadul itu juga saya menyadari mungkin saya tidak terlalu outdated….

No comments yet»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: