Softly & Slowly

A fast-mover who successfully do her things slowly!

Batak: Kau Harus Panggil Ompung!

Ada suatu kebiasaan pada orang batak.  Jika dua orang batak bertemu, maka biasanya mereka akan martutur, artinya saling memperkenalkan diri. Bukan sekedar diri sendiri, tapi juga termasuk keluarga, termasuk nomer silsilah, asal kampung sampai nama nenek buyut nenek moyang semua sah untuk disebutkan.

Marganya apa? Sihombing. Sihombing apa? Lumbantoruan.  Belum berhenti, masih lanjut.  Pertanyaan berikut, Paraha atau Sian dia atau nomor piga? Yang mana dan darimana, nomer berapa?  Kalo semua pertanyaan itu berjawab dan kedua orang itu memiliki persamaan marga dan nomer dan lainnya masih mungkin berlanjut ke pertanyaan siapa nama kakek buyut dan segalanya.

Lalluuuuuu, ini yang menarik. Pertanyaan tentang nama kakek buyut tentunya merujuk secara signifikan kepada orang tertentu.  Bayangkanlah nama kakek buyut anda, yang tidak pernah anda kenal namun namanya anda hafalkan, anda sebutkan kepada seorang asing yang baru kenal.  Kemungkinan besar ia akan termangu-mangu juga karena merasa asing.  Namuuuun, hebatnya orang batak, walaupun tidak lagi kenal, maka si pihak yang secara umur lebih tua atau dalam pembicaraan kelihatan lebih dominan akan bilang bilang begini:  “oooh, molo songoni, mar-ompung ma ho tu hami.”  Artinya: “Kalau begitu, kau harus panggil saya ompung!”

Dalam berbagai pembicaraan sedemikian yang pernah saya alami, hampir tidak pernah seorang pun menyebutkan tingkat yang lebih rendah.   Umpamanya: “Oh, kalau begitu, saya harus panggil abang sama kalian.”  Kebanyakan akan menyebut tingkat yang lebih tinggi.  Ompung, Bapauda, Tulang, paling sedikit Abang.

Saya beberapa kali merasa ragu.  Harus saya akui bahwa saya tidak terlalu suka ditanyai melit tentang asal usul.  Boru aha? Sian dia? Entah berapa ratus kali ~lebay.com~ setelah saya menyebut nama kampung saya: Doloknagodang, si penanya memandang ke horison nun jauh disana tanpa ekspresi dia tahu dimana tempat itu sebenarnya.  Lebih lucu kalau si penanya kemudian bertanya: “Di mana itu Doloknagodang?” Aih.  Lalu saya bilang: Porsea.  Mudah-mudahan dia tidak nanya ulang Porsea dimana.  :P  Tetapi begitupun, si penanya tetap pede menambahkan: “Kalau begitu, aku ini kakakmu!”  Saya oke saja. Tidak keberatan.  Mudah-mudahan ia merasa senang.  Setelah sampai di rumah, saya berpikir ulang dan cross check dengan mami saya.  Mami lalu bilang: “Ah, salah itu, kau yang kakak-an”

Pertanyaan pentingnya adalah, apakah sikap itu berkaitan dengan ego yang selalu kepingin dihormati? Menurut saya iya.

Pengalaman saya menunjukkan bahwa orang batak selalu ingin dihormati dan menjadi yang terbesar dan terdepan.   Secara positif sikap itu membuat orang batak yang merantau jauh dari kampungnya mempunyai kesempatan untuk sukses sama besarnya dengan orang lokal dimana dia merantau.  Secara negatif, sikap itu membuat secara sosial kebanyakan orang batak bersikap sok.  Walaupun lebih dari limapuluh persen sesungguhnya berkantor di terminal Pulogadung atau di pinggir jalan berwiraswasta tambal ban, tapi pantang merendahkan hati. Apalagi meminta maaf.

 

1 Comment»

  Onie wrote @

Kakak aku suka banget sama postingannya, tapi jangan sampe calon suami saya baca karena dia bukan orang batak. Setiap pesta pasti keadaannya kaya yg kk ceritain di postingan sebelumnya, tapi banyak org batak yg ga spt itu. Mgkn org yang mnrt kita ga seperti itu males kali ya datang ke pesta adat batak, saya jg mending tidur di rumah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: