No Need to Be Sound

Sedikit dari pengalaman gw kerja untuk programmatic research tahun 2004.

6 Maret 2004

Gw adalah magician –solve everything, even read your mind!

Begitulah gw akhir-akhir ini di kantor. Entah kenapa beban gw jadi berat banget, karena semua jenis pekerjaan ditumpahin sama gw, termasuk kerjaan Mita dan Pak Jun yang menurut Bos mereka ga beres kerjain. Salah satu kendala gw adalah karena gw melakukan pengecekan lewat telepon kadang-kadang gw ga tau persis apa yang terjadi. Contoh: pagi-pagi gw ditelpon dari Lombok karena kertas habis (see…hanya masalah sepele gini?), trus gw langsung kirim lewat BCA petty cash untuk beli kertas (plus memproses surat peringatan kepada office manager karena bisa-bisanya kehabisan petty cash). Siangnya, departemen yang sama nelepon gw karena toner abis (heraaaannn gw), trus gw langsung telepon kantor HP di Bali untuk kirim secepatnya dengan pesawat merpati mana aja yang akan berangkat selusin toner ke Mataram. Siang yang sama, gw ditelpon lagi, sekarang masalahnya, form abis. Maka naik darahlah gw!

Dengan ga sabar gw mendraft surat peringatan untuk koordinator data managemen yang bisa-bisanya kehabisan semua barang dalam waktu sehari? Dan dari semua troubleshooting itu, gw masih harus tinggal lebih lama di kantor karena mau nelepon Geneva, France dan Amerika. Kenapa bukan Mita, bukannya itu kerjaan dia? Hahhh…kan gw dah bilang gw adalah Magician?

Satu-satu-nya hiburan gw adalah: Bos bersedia naikin gaji gw. Walopun cuma 10%, ga setara dengan banyaknya kerjaan, setidaknya cukup menghibur. 19 Sep 2004 Gw udah mati-matian muter se-Lombok untuk follow-up data IFSF atau data kematian Ibu dan bayi, berpanas-panas seharian naik motor kemana-mana…begitu gw duduk di kantor untuk mengupdate data, tau-tau password gw ditolak.

Gw menghubungi Richard dan Acung ‘biang gara-gara’ hanya untuk mendapatkan jawaban bahwa gw UN-AUTHORIZED person. Aneh banget, mereka bukan orang program merasa lebih berhak untuk mengakses data daripada gw yang notabene adalah perencana dan pelaku dari kegiatan IFSF tersebut. Gw lapor sama Bos, dan hampir seharian menghabiskan waktu dengan email-email-an dan telpon bolak-balik untuk mendapatkan kejelasan mengenai status un-authorized itu. Karena walopun Bos udah bilang –Yes, please give access dan kata-kata semacam –Please help Lyn with all necessary things, she is the Program Officer, she is the only one responsible to coordinate and handle data matters and so on and so on, Richard dan Acung ga langsung memahami (mungkin ada kendala bahasa? Atau keduanya butuh buka kamus dulu?) dan ga langsung menjalankan perintah Bos. Setelah gw menunggu selama 6 jam, barulah gw dikasih meng-akses dua folder –Correspondence & Registration. Buat apa juga? Orang yang paling bego dalam program ini juga paham bahwa ga ada pentingnya gw mengakses file tersebut.

Yang paling jengkelnya gw lagi, seorang staf baru yang menangani masalah keuangan dan samasekali buta soal-soal data management diberi akses untuk semua data yang gw perluin itu. Fffuihhh….

Mungkin juga mereka balas dendam and mencoba give me a hard time. Pasalnya, gw ngelapor sama bos bahwa gw ngeliat Satpam merokok waktu gw ke kantor jam 10 malem. Di kantor ini rokok adalah barang haram, bahkan sampe radius keluar pagar kantor. Bos gw langsung marah dan meng-email Richard dengan keras. Richard membela satpam (dan dirinya) dengan bilang bahwa peraturan yang lama udah ga berlaku….yang jelas aja bukan hanya bikin bos gw sewot tapi juga Country Director jadi lupa diri dan ngomel-ngomel di email.

Pernah juga dia coba-coba untuk turut campur dalam urusan program. Gw udah request sama bos untuk meng-hire 10 orang. Udah gw tes dan interview sesuai dengan kebiasaan dan sesuai dengan manual, gw ajukan nama-nama mereka ke Bos. Lalu, Bos OK. Gw masukin nama mereka ke bagian keuangan untuk dipanggil ulang, difoto, dan segala tindakan administratif yang perlu. Tau-tau bagian keuangan (tanpa sepengetahuan gw) memanggil 16 orang untuk di-hire. Siapa yang approve angka 16 itu? Richard! Yaaa…gimana bos gw ngga naik darah lagi? (Lagian orang keuangan itu bego juga, ngapain juga manager IT yang approve recruitment? Jaka sembung bawa gitar! Richard juga anehnya mau aja diminta approval…).

Kisah sedih di hari minggu yang lain berkaitan dengan sample darah. Udah beberapa tahun sample-sampel ini dikumpul dengan maksud akan dianalisa kemudian. Sampel-sampel ini kemudian dititip di dua institusi kesehatan paling bergengsi di Mataram. Tapiiiii….setelah gw cek, re-check, ternyata pengelolaan sampel-sampel tersebut tidak memenuhi persyaratan. Ada yang seharusnya disimpan di deep fridge malah disimpen di kulkas rumah tangga-lah, tidak ada yang mencatat suhu pagi sore setiap hari-lah, dan mereka terang-terangan menolak untuk membantu gw packing sampel-sampel itu untuk dibawa ke Jakarta, karena tidak ada honornya! Oooohhhh….terpaksa gw sendiri packing, membongkar deep fridge, menyiapkan dry ice dan mencatat nomor-nomor batch-nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s