Softly & Slowly

A fast-mover who successfully do her things slowly!

Menikmati Hidup (Tujuh Belas Tahun Yang Lalu)

Tujuh belas tahun yang lalu saya memulai petualangan kerja saya di Jakarta.  Jakarta memberi sebuah magnit yang tidak bisa saya tolak.  Bukalah halaman iklan lowongan kerja di koran ternama Indonesia, hampir semua pemberi kerja beralamat di Jakarta.  Saya yang sangat bersemangat ingin segera terjun ke dunia kerja dan melepas identitas sebagai salah satu usia produktif tuna karya, dengan cepat memproduksi ratusan lembar fotokopi surat lamaran kerja beserta pasfoto 4X6 dan CV singkat.  Hampir setiap hari saya berkunjung ke kantor pos untuk mengirimkan puluhan amplop lamaran kerja.

Tiga tahun setelahnya saya kembali membuka iklan lowongan kerja dan mengirim ratusan amplop CV.   Namun kali itu, saya tidak lagi memproduksi pasfoto.  Saya menggunakan teknologi scanning untuk membuat CV plus foto.  Menghemat ratusan ribu yang dulu pernah saya gunakan untuk mencetak foto.  Namun seperti juga kali pertama saya mendapatkan pekerjaan, saya tidak mendapatkannya melalui iklan koran.  Pertama kali karena saya memperoleh info dari orang dalam, kedua karena saya direferensikan oleh sebuah agen headhunter.

Ketika tiga tahun setelah itu saya kembali mencari pekerjaan, saya tidak lagi memproduksi fotokopi CV saya.  Saya pergi ke situs-situs online dan mengirimkan bentuk elektronik dari semua dokumen.  Tinggal klik dan beres.  Dan saya bisa buktikan sampai sekarang, saya belum pernah memperoleh pekerjaan lewat iklan di koran.  Beberapa orang pesimis mengatakan bahwa semua iklan itu formalitas karena mereka pasti punya saudara dan kenalan yang sudah mengantri. Mungkin saja. Saya juga tidak punya bukti yang bisa menguatkan atau melemahkan dugaan itu kok.

Tapi sekali lagi, Jakarta memang memiliki magnit istimewa yang menarik para pencari kerja.  Bukan sekedar banyak nya kesempatan tapi juga sebuah gaya hidup yang istimewa.  Di Jakarta, orang bekerja keras namun menikmati hidupnya.  Kerja sampai pagi, tapi makan enak, fitness di klub dan liburan ke resort.

Tujuh belas tahun yang lalu saya termasuk salah satu gadis-gadis kantoran yang menggunakan sepatu hak tinggi, stocking, rok pendek dengan setelah jas.  Walaupun hampir setiap hari saya overtime sampai jam 3 pagi, penghasilan saya tidaklah menjadi luar biasa dan memungkinkan saya berpergian ke Singapur untuk refreshing.  Tujuh belas tahun yang lalu tiket ke Singapur hampir sama harganya dengan tiket ke Hong Kong sekarang.  Budget airline samasekali belum ngetrend.

Penghasilan saya juga tidak terlalu luar biasa sehingga memungkinkan saya menenteng Gucci atau Prada. Halah. Saya lebih sering belanja di Blok M, satu-satunya kawasan yang hip pada saat itu, kadang-kadang ke Mangga Dua atau Pasar Senen walaupun jenis produknya hampir mirip-mirip.  Paling-paling saya belanja satu baju sekali setahun di Marks & Spencer atau di gerai Next.

Jaman itu, walaupun kami sudah punya prinsip work hard play hard, sebanyak-banyak uang kami habiskan adalah untuk belanja pakaian dan make-up, minum kopi di kafe yang masih terbilang jarang, atau menginap semalam di hotel menikmati kasur empuk dan mandi air hangat.  Maklumlah, saat itu saya masih tinggal di kamar kos.  Kasur tidur saya standar, tanpa AC dan jelas tidak ada air hangat untuk mandi, kecuali mau nekad memasak sepanci air.  Hotel adalah suatu kenikmatan.  Lain dengan sekarang, saat saya sudah mampu membeli tempat tidur yang sama dengan di hotel dan memasang water heater sendiri di rumah saya.  Sekarang menginap di hotel bukan termasuk refreshing buat saya, kadang-kadang malah bikin stres karena kasurnya ternyata ga sebagus di rumah.

Suatu kali saya dan teman-teman jalan ke Bali.  Tiket Garuda Jakarta-Denpasar-Jakarta harganya 1.5 juta rupiah. Untungnya harga hotel dan mobil sewa bisa kami bagi empat.  Itu sudah termasuk liburan paling mewah pada saat itu.  Makan di Warung Made sudah paling top banget dweh.  Bandingkan dengan jaman sekarang, dimana gadis-gadis selevel entry staff seperti saya jaman itu,  walaupun sama berstoking plus stelan jaket, namun mereka menenteng tas impor Furla dan menginjak Jimmy Choo sambil menggengam iPhone. Jalan bareng bukan sekedar ke Bali tapi backpaking ke Singapur dan Malaysia. Kalau diantara kami ada yang ulang tahun paling keren nraktir di Sizzler dengan salad bar all you can eat nya.  Kalau dua atau tiga sekalian berulang taun di bulan yang sama, kami bisa ber dim-sum di hotel Mulia atau memilih resto Jepang berkaraoke yang agak high-end *pada saat itu.  Gadis-gadis sekarang menggesek kartu kredit yang ditawarkan dengan cepat dan gratis asal punya KTP, padahal tujuhbelas tahun yang lalu, saya pernah dua kali ditolak oleh penerbit kartu kredit dengan banyak alasan.

Saat saya berkantor di gedung Landmark di Jalan Sudirman, makan siang di restoran Ikan Tude yang berjarak sekitar 1km dari kantor sudah terasa keren banget.  Saat itu belum ada Grand Indonesia dengan ratusan food outletnya.  Saat saya berkantor di SCBD makan siang di Blok S sudah lumayan banget walaupun di pinggir jalan berdebu dan panas. Saat itu Pacific Place belum berdiri.

Itu tujuhbelas tahun yang lalu.  Sekarang ini saya merasa kehilangan perasaan menikmati hidup itu.  Kerja tidak terlalu berat, wisata kuliner dua kali seminggu ke resto baru yang direkomendasikan majalah, belanja online dan setiap hari menghapus sms KTA dan penawaran kartu kredit yang mampir di hp.  Work hard play hard? Work well play well, maybe.

No comments yet»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: