Ibu Pendeta Tergugah Deh

“Kapan Jeremi punya adik?” Sudah beberapa tahun ini, gw agak-agak terganggu dengan pertanyaan dan anggapan dari orang-orang di sekeliling gw. Baik itu keluarga, anggota jemaat, tetangga dan lain-lainnya. Yang paling nyebelin adalah kata-kata, “Ngapain sih lama-lama, langsung aja kasih adik biar capenya sekalian!” Yeah, in matter that it will be me (underline, bold) yang bakalan cape???

Gw samasekali ga bisa memahami bahwa orang-orang semacam itu ga punya pengertian bahwa ada orang-orang di dunia ini yang tidak mau cape, seperti gw! Yang paling sering adalah: “Kalau anak cuma satu nanti dia egois!” Mungkin ada benarnya, tapi apakah semua orang yang bukan anak tunggal tidak egois?

Yang paling menyakitkan gw adalah yang terjadi seperti ini. Suatu hari di acara kebaktian rumah tangga jemaat, dibahas mengenai mendidik anak-anak. Hiras, selaku pendeta yang mengajar membuat remarks di akhir pembicaraannya –anak-anak adalah karunia dari Tuhan! Lalu seorang anggota jemaat (laki-laki usia 50-an) nyeletuk: “Ibu pendeta tergugah deh untuk nambah lagi.” Maksudnya tentu saja menambah jumlah anak, bukan tambah nasi.

Celetukan itu seolah-olah menyalahkan bahwa gw-lah yang enggan untuk menambah jumlah anggota keluarga. Apakah gw memang tidak kepingin punya anak lagi? Gw kepingin. Memang di tahun-tahun pertama sesudah Jeremi hadir, gw males banget mengetengahkan topik mengenai menambah anak. Dengan terus terang gw bilang sama Hiras (dan siapa aja) gw males hamil dan melahirkan. Fakta bahwa gw kemudian bekerja dalam bidang pemberdayaan masyarakat urusan maternal dan infant health samasekali tidak membuat gw mengubah pandangan gw, malah semakin meneguhkan. Melihat penderitaan ibu-ibu hamil dan melahirkan di desa-desa terpencil dimana tidak ada fasilitas dan tenaga penolong persalinan sudah cukup untuk membuat gw terngeri-ngeri dan (walaupun menyalahi peraturan program) diam-diam menyarankan agar ibu-ibu itu ber-KB permanen saja.

Ada banyak penyebab kenapa gw males hamil dan melahirkan. Lebih baik gw mulai ceritain aja beberapa diantaranya. Pertama, gw adalah seorang fast-mover yang sangat dinamis. Lebih sibuk, gw lebih senang. Walaupun gw baru hamil satu kali, dan menurut para ahli setiap kehamilan mempunyai situasi unik masing-masing, gw cukup tahu bahwa kehamilan membuat dinamika gw terhambat. Yang tadinya gw bisa lari kesana kesini, gw harus duduk tenang. Jalan juga harus pelan-pelan macam putri cina yang kakinya diiket dari kecil. Ga bisa naik turun tangga, mondar-mandir dan melakukan apa saja kegiatan yang gw suka.

Bahkan, seperti pas kehamilan pertama yang sangat-sangat bermasalah dengan muncul-nya flek-flek hampir setiap bulan, gw bisa membayangkan lebih banyak dari waktu gw akan habis di tempat tidur untuk bedrest.

Kedua, gw adalah seorang yang suka diperhatikan kalau sakit. Ini penting banget buat gw. Sayangnya, Hiras bukan jenis orang yang telaten memperhatikan dan merawat orang sakit. Pertama sekali kami menikah, kalo gw mengeluh sakit, maka dia akan bilang “Tidur aja, nanti sembuh sendiri.” menuruti logika ilmu kedokteran bedebe (nama kampungnya di Pematang Siantar).

Saat gw hamil, sangat kepingin gw dimanjain, dibawain makanan enak, direbusin air panas buat mandi de el el, de el el….tapiii kenyataan-nya ga begitu. Malah satu kali, sementara kita kedatangan tamu-tamu (keluarga Hiras yang masih muda-muda dan tidak hamil), gw sibuk bikin goreng pisang, masak makan siang, cuci perlengkapan masak, tamu-tamu semua asik makan-makan aja (tanpa inget untuk ngajak gw lagee!).

Tidak sensitif-nya Hiras dalam perkara ini juga terbukti ketika ada orang-orang yang dengan cueknya minta diantar pulang setiap pulang kebaktian (alasan:nebeng!) membiarkan mobil melewati ratusan gundukan (hiperbola.com), hingga bagian sisi perut gw nyeri karena guncangan yang tidak berhenti.

Kalau gw kesakitan, apa komentar mereka? “Oooo…ibu pergi aja ke tukang urut, gampang kok…”

Dan kalau Hiras jadinya menghabiskan lebih banyak waktunya untuk menemani gw yang bedrest di rumah, orang-orang yang sama akan komentar “Pak pendeta itu mah ga pernah merhatiin kita, dia terlalu takut sama isterinya?” Duengggg…..takutkah namanya kalo ada suami nemenin isterinya yang sedang sakit (hamil lagi!)?

Ketiga, dinamisme gw membuat gw ga tahan jika harus bergantung kepada orang lain (baca=pembantu). Kalo udah ga tahan gw bisa emosi banget. Waktu gw baru melahirkan, di rumah kita memperkerjakan seorang anak anggota jemaat yang kebetulan putus sekolah dan berminat meneruskan ke kursus tata rambut. Gw dan Hiras oke untuk membayari, dengan syarat anak ini melakukan tugas-tugas domestik, yang tidak mungkin gw sanggup lakukan.

Sejak hari pertama, gw udah ngeliat ada-nya bibit-bibit masalah. Jeremi yang baru pulang dari rumah sakit saat itu mengotori popoknya terus-terusan. Pada hari sabtu pagi jam 07:00, popoknya Jeremi sudah habis. Waktu gw ngecek ke kamar mandi, satu ember popok sisa kemarin belum dicuci (direndam aja belum). Mendidihlah darah gw! Dengan kesal, gw isi ember dengan air dan detergen dan mulai duduk mencuci. Tidak lama mami datang membawakan sayuran, dan menemukan gw di kamar mandi sedang nyuci. Mami langsung ngomelin gw “Orang baru melahirkan ga boleh nyuci, biarin aja di situ, kan udah ada si R yang akan nyuci.” Gw menjawab dengan kesel, “Nunggu dia nyuci, mau jam berapa? Masak untuk makanan pagi aja belon selesai-selesai dari jam setengah enam!” Mami gw lalu menanyai R, “Kenapa belum kamu cuci popok itu?” Jawaban R enteng banget, “Bukannya kalo hari Sabtu ga boleh nyuci?”.

Setelah itu hingga hampir enam bulan dia bekerja di rumah kita, selalu adaaaa aja masalah-masalah serupa. Kali lain, gw udah ampe teriak-teriak manggil dia, waktu dia datang, dengan tampang sok lucu dia ngomong, “Maaf saya ga dengar!”. Selain itu daftar kekacauan bisa ditambah dengan: malas memasak (menu lebih banyak didominasi oleh Indomi), pergi les yang harusnya cuma makan waktu paling lama 3 jam bisa molor hingga sehari penuh dengan alasan dia mengunjungi keluarga-nya dulu (kalau sekali dua kali bisa ditolerir, tapi kalo hampir setiap kali, tentunya bikin kesel), menyimpan air es di kulkas walaupun sudah berulang-ulang dilarang, dan yang paling wahid adalah membiarkan gw menggotong sendiri kereta bayi setiap kali turun dari mobil, sementara dia melenggang dengan tenang.

Sepengalaman gw, susah-susah mencari pembantu yang cocok dengan kita dan bisa membuat kita merasa terbantu, bukan emosi. 7 dari 10 pembantu yang pernah kerja di rumah gw, justeru masuk ke dalam kedua. Ada yang baru dua hari kerja sudah minta pulang (dan selalu memasang muka ga bahagia), ada yang ga bisa diandalkan untuk menjaga kebersihan, malahan ada yang lebih banyak meluaskan network (dengan cara ngobrol dan pacaran) daripada memikirkan cucian dan setrikaan.

Keempat, adalah persalinan di rumah sakit itu sendiri.
Sumpe…gw merasa sangat terhina sekali ketika bidan dengan cuek-nya (baca:kasar) memaksakan tangannya memasuki daerah pribadi gw. Sakitnya bukan hanya fisik tetapi mental gw langsung down! Itu sebabnya mungkin, banyak ibu-ibu yang melahirkan memanggil-manggil dokternya, karena merasa dokter-nya jauh lebih baik menghandle masalah mereka (by intuition) daripada bidan-bidan yang terlatih di sekeliling mereka.

Concern gw yang lain adalah, bahwa anak gw ga mendapatkan kolustrum yang sangat penting, karena ia sudah keburu dikasih susu kaleng. Ini praktek yang jelas-jelas harus dihapus dari seluruh rumah sakit… Untungnya sekarang, sudah banyak rumah sakit yang lebih ‘sadar’ dan mengizinkan seorang bayi untuk sekamar dengan ibunya untuk mengantisipasi masa-masa kolostrum tersebut.

Mungkin situasi akan berubah kalo gw mengalami masa kehamilan lagi, karena baik gw dan Hiras udah belajar dari kasus yang terdahulu. Sekarang mungkin gw ga akan sesensitif dulu jika berhadapan dengan pembantu, dan mungkin ga semanja dulu, who knows? Let’s see.

Advertisements

2 Comments

  1. setiap orang punya reason masing2 ya, ..yg belum tentu dipahami orang lain…

    saya malah senang saat hamil dan menyusui…tapi melahirkan? uuuhh….3 kali saya melahirkan harus operasi…:(

  2. hahahaha resti! congrats deh…penderitaan kita emang beda….bahagia gw kalo tau ada yang enjoy the maternity time! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s