Softly & Slowly

A fast-mover who successfully do her things slowly!

Batak: Orang Biasa

Kalau ayahmu orang batak, ibu mu orang batak, maka kamu orang apa?  Untuk saya ini pertanyaan yang susah.  Susah dijawab.  Bukan karena saya tidak tahu jawabannya. Melainkan karena di dasar hati ada yang namanya penolakan.

Ah, seharusnya saya menjawab dengan gagah: Ya, saya memang orang batak!

Empat puluh tahun yang lalu saya lahir dari seorang ibu boru batak.  Seorang boru atau wanita yang lahir di Medan, ibukota propinsi Sumatera Utara di mana komunitas orang batak berada, dan dibesarkan di Jakarta.  Ayah saya juga orang batak.  Lahir dan dibesarkan di tano batak.  Pesta pernikahan kedua orangtua saya dijalankan dengan adat batak.  Dalam keseharian, mereka bercakap-cakap di antara keduanya menggunakan bahasa batak.  Mereka juga rajin menjaga kekerabatan dengan orang-orang batak di kota tempat kami tinggal.  Kurang batak apalagi?😛

Tapi dengan begitu kentalnya kebatakan dalam darah saya tidak serta merta membuat saya mudah untuk mengaku sebagai orang batak.

Pertama, terus terang saja saya merasa malu.  Sementara orang Jawa terkenal dengan unggah-ungguhnya yang membuat mereka selalu tenang dan santun, lalu orang Sunda terkenal dengan kata-kata yang lembut merayu, orang batak terkenal berbicara dengan suara keras dan suara tinggi seperti sedang marah-marah dengan logat e-taling yang kental.  Dengan mudah orang batak mendapatkan mendapatkan label: Orang batak gampang marah.

Kebetulan saya tidak berbicara dengan logat e-taling.  Juga tidak keras-keras dan juga jelas tidak marah-marah kecuali memang sedang marah :P  Menyaksikan tayangan televisi dimana para pelawak menirukan logat ber e-taling tidak membuat saya tertawa walaupun orang seruangan terbahak-bahak.  Sensitif memang.   Apalagi kalau dalam lawakan disebutkan kegiatan orang batak: kalau satu orang batak saja berarti: pencopet.  Haduh, siapa sih yang membuat survey bahwa kebanyakan orang batak di Jakarta profesinya pencopet?  Lalu katanya kalau dua orang batak berkumpul: main catur.  Ini juga tidak positif.  Main catur hanya baik kalau mencapai gelar GM, kalau cuma menghabiskan waktu yang bisa dipakai kerja dan nyari duit itu jelas payah.  Kalau tiga orang berkumpul: nyanyi dan minum tuak.  Halah. Untungnya pertanyaan belum berkembang menjadi kalau empat orang berkumpul? Ooh itu sih Gayus sama hakim pengadilannya. Kalau lima orang? Gayus sama para atasannya. Brr.  Tambah malu lagi saya. Sekarang orang batak dikenal sebagai koruptor.

Kedua, seringkali orang batak dianggap kasar.  Mungkin karena cara bicaranya yang tanpa embel-embel diplomasi.  Karena itu saya yang dibesarkan di tanah parahyangan seringkali merasa tersisih secara moral karena walaupun saya tidak bermaksud kasar, saya memang berbicara straight forward.  Bukan ga mau berdiplomasi, tapi memang diplomasi bukan bakat alami saya.  Kesannya bahwa karena saya orang batak maka saya terus terang.  Untuk saya logikanya bukan begitu, kebetulan saya memang orang batak, kebetulan saya jenis yang tanpa basa-basi.  Kalau orang non-batak tanpa basa-basi tidak langsung dituduh kasar toh? Tapi kalau orang batak yang melakukannya disebut kasar. Saya jadi terjebak dalam stereotype.  Saya tidak merasa kasar dan tidak merasa gampang marah.

Ketiga, orang batak fanatik dengan kebatakannya hingga seringkali KKN. Kalau mau kerja, cari dulu dimana ada bapauda, amangboru, tulang, ompung dlsb dan melamar lah kesana. Lalu ada yang menasehati: Kerja di perusahaan A saja, disana banyak orang bataknya? Uh, ngefek apa? Ga heran kalau atasannya Gayus batak-batak juga.  Bawaannya KKN.  Periksa kantor pengacara batak, dua pertiga nya juga bernama belakang dari suku yang sama. Lalu kalau mau menikah, jangan pilih pasangan dari suku lain, harus sesama orang batak juga.  Alasannya, orang batak terkenal setia dan tidak akan bercerai. Untunglah semakin maju ke tahun 2000 urusan pernikahan ini tidak sefanatis jaman dulu, walaupun urusan KKN masih sama.

Uf.

Namun saya juga tidak lalu kepingin jadi member suku lain.  Saya hanya tidak kepingin dikotakkan kedalam stereotype negatif hanya karena saya mengakui nama belakang saya.

Jadi, saya orang apa?

Orang biasa aja. Normal.

 

4 Comments»

  sirait na jogy wrote @

statment yg bagus kak..
hanya mungkin kita sudah dilahirkan menjadi orang batak darah yang di alirkan di tubuh kita darahnya orang batak
apapun dan bagaimanapun orang batak itu adalah kita
sudah tugas dan kewajiban kita membela apapun tuduhan yang di alamatkan kepada kita kalau itu memang benar2 hamya sebuah pandangan yang salah
mengenai batak

  GUS DEDY wrote @

“Apalagi kalau dalam lawakan disebutkan kegiatan orang batak: kalau satu orang batak saja berarti: pencopet. Haduh, siapa sih yang membuat survey bahwa kebanyakan orang batak di Jakarta profesinya pencopet? Lalu katanya kalau dua orang batak berkumpul: main catur. Ini juga tidak positif. Main catur hanya baik kalau mencapai gelar GM, kalau cuma menghabiskan waktu yang bisa dipakai kerja dan nyari duit itu jelas payah. Kalau tiga orang berkumpul: nyanyi dan minum tuak. Halah. Untungnya pertanyaan belum berkembang menjadi kalau empat orang berkumpul? Ooh itu sih Gayus sama hakim pengadilannya. Kalau lima orang? Gayus sama para atasannya. Brr. Tambah malu lagi saya. Sekarang orang batak dikenal sebagai koruptor.”

Lawakannya Warkop tuh…
coba deh dengerin rekaman lawakan warkop yang lawas2 pasti ketemu deh ama lawakan ini….

  nathanhosea wrote @

Salam,
Sekedar analogi, di DUNIA ini siapa yg tdk kenal yahudi, yang sebagian besar bangsa di dunia membencinya, dng sebutan “zionis”
Di indonesia tentu siapa yg tdk kenal suku “BATAK” dgn katakter kasar tapi penuh perjuangan menuju cita cita.
So.apa bedanya yahudi dan batak . Analisis sendiri kali ya.
Semua itu tentu ada sejarah yg membentuknya.
Itu perlu ditelusuri. Selain faktor demografi tentu ada juga faktor lainnya
Namun ada hal yg menarik , faktor budaya makan juga ternyata mempengaruhinya ,sekedar contoh org batak sukanya apa makannya , tentu kita sdh taulah , sumber produk makanan tersebut sangat mempengaruhi tabiat manusia .mungkin secara tdk sadar sy juga mencoba menelusuri kebiasaan makan org lain sumber makanan tsb memang ada kolerasi.
Karena makanan yg masuk ke tubuh manusia akan menyatu menjadi darah dan tabiat sumber makanan tsb membentuk manusianya.,percaya atau tdk ini sekedar analisis yg pernah diulas seorang pakar ahli gizi .

Tentu hubungannya dgn judul yg ibu tulis.
Saya justru semakin tertarik utk menjadi sebuah bahan analisis yg untuk di nikmati …bukan untuk dibenci.. terkadang kegusaran atau kegalauan atas apa yg kita hadapi justru menjadi tantangan utk menelusuri dan mencari jawaban bahkan justru kita bisa jatuh hati …
menjadikannya sebuah kajian menarik sebagai warisan pengalaman hidup.
Terkadang memang JATI DIRI itu perlu sebagai bagian aktualisasi diri ,
Mungkin juga JATI DIRI itu di Indonesia perlu utk menampilkan eksistensi agar tdk menjadi warga kelas 2 , tentu pemahaman ini juga sdh kita ketahui.
Ini hanya sekedar analisis maaf bukan menggurui.
Salam

  O9o wrote @

I love Batak,di kampungku di luar sumatra Batak malah dhargai akan prestasi dan ketegasannya.malah saat saya ikut o2sn di sulawesi yg didampingi oleh guru lain di bilang bahwa orang batak itu suaranya bagus yah.Dan saat itu 34 provinsi ada di sana termasuk sumut dan saat nama saya di panggil tiba tiba ada yang manggil’kak orang batak kan kenalkan marga ku purba’wah betapa senangnya aku saat ada yg menegur dan satu suku.so syukurilah suku BATAK karena kita memiliki tanda pengenal yg Khas di Indonesia(marga).Karena setiap suku di dunia juga ada kekurangan dan kelebihannya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: