Mungkin Gw Yang Aneh

25 Jan 2004

Gw kerja sebagai program officer untuk sebuah program dan riset yang targetnya adalah ibu-ibu hamil. Program ini bergerak di seluruh pulau Lombok, mempromosikan perlunya perawatan kesehatan selama kehamilan plus membagikan suplemen gratis. Suplemen-nya sendiri ada dua macam: satu yang berisi iron dan folic acid –sesuai dengan paket tablet tambah darah dari pemerintah, yang satu lagi berisi multivitamin. Si Ibu tidak tahu jenis mana yang dia dapetin, dan nantinya darahnya akan diambil untuk dibandingkan untuk mengetahui apakah memang perlu minum multivitamin selama kehamilan.

Tugas gw adalah memastikan bahwa berbagai-bagai kerjaan yang macem-macem tersebut diselesaikan sesuai dengan ketentuan dan sesuai dengan waktu-nya. Contohnya: untuk phase-in diperlukan data jumlah ibu hamil dari puskesmas, juga diperlukan pengaturan kapan training untuk bidan, kapan sosialisasi dan lain sebagainya, termasuk pengecekan jumlah stok suplemen dan budgeting. Itu kegiatan rutin setiap hari, tidak termasuk troubleshooting—kalau-kalau ada training yang ditangguhkan, recruitment yang ga memenuhi target dan lain sebagainya. Setiap hari adalah kesibukan yang luar biasaaaaaa….telepon bolak-balik ke Lombok, data cek dan analisa bolak-balik, keputusan baru setiap beberapa menit….aiihhhh…..

Gw kerja bareng dengan temen gw namanya Santi. Kalo gw lebih agresif dan selalu menjaga semua kegiatan hopefully perfectly in the timelines, Santy lebih nyantai sedikitttt. Biasanya dia sangat membantu kalo harus berhadapan dengan bagian administrasi yang ga pernah punya dokumentasi, bernegoisasi dengan bagian keuangan yang engga pernah bisa menerima kalo mendadak-mendadak, atau dengan bagian IT yang merasa begitu diperlukan oleh semua orang sehingga agak susah-susah dimintain bantuan.

Tapi di kantor gw bukan sama Santi aja, ada juga Pak Jun dan Mita. Pak Jun ini sesungguhnya pekerjaan-nya berkaitan dengan penyediaan barang-barang. Tapiii…beliau ini lebih sering duduk di kantor, malahan jarang pake telpon, karena bertumpuknya dokumen-dokumen sehubungan dengan pembelian yang ga kelar-kelar dia kerjain. Dia juga bawa pulang kerjaan ke rumahnya setiap malem beserta laptop, tapi anehnya, ga kelar-kelar terus semua purchase order itu walaupun udah di back-date sampe hampir lima bulan, dengan outstanding mencapai 60 juta! Gw ga bisa juga maksa beliau untuk menyelesaikan pekerjaan-nya, karena kalo gw nanya agak ribet sedikit aja akibatnya dia malah jadi gugup, lebih sering duduk di luar untuk merokok ketimbang duduk di depan komputer. Lebih kacau lagi kalau perlu data pembelian barang yang sudah pernah dibeli. Sementara bos marah-marah, Pak Jun ampirrr seharian dia cuma kutak-katik aja tanpa kejelasan dengan gugup dan kalo ditanya jawabannya terdengar seperti sedang kumur-kumur.

Mita lebih aneh lagi. Tugasnya sebenarnya adalah sekretaris direktur program, yang notabene hanya ngurusin kapan beliau ada, kapan beliau balik, meeting sama siapa aja dan dimana aja, dan memastikan mobil selalu ada bensinnya dan selalu ada di tempat. Tapiii, ternyata, Mita lebih banyak ngerecokin kerjaan gw dan Santi, dan menggosip sana-sini (kegiatan yang mustahil gw dan Santi lakukan sangkin sibuknya). Contohnya begini: Gw disuruh berangkat ke Lombok sama bos, tentu aja salah satu yang perlu gw lakukan adalah membeli tiket –dimana ini adalah kerjaan Mita. Herannya, sampe udah tinggal sehari lagi gw harus berangkat, itu tiket belon ada juga. Waktu gw tanya alasannya adalah: “Cek lagi deh sekali lagi sama Babe, takutnya ga jadi.” Hah? Maksudnya apa dengan ga jadi? Ini udah tinggal sehari lagi! Walhasil, Santi-lah yang berbaik hati mencarikan gw tiket lewat travel langganan (yang ngasih harga cukup mahal karena pesanan mendadak). Kali lain, gw ngasih tau Mita, “Mbak, ini ada orang dari UNICEF mau ketemu sama Babe, tolong diurusin.” Dengan cueknya Mita menjawab, “Yang ditelpon kan kamu, ya urusin aja!” Gimana gw ga mau meledak marah coba? Belum lagi dengan keanehan-keanehan lainnya, seperti dia tau-tau berhaha hihi dengan kantor Lombok, dan ngobrol dengan hampir semua orang disana hanya untuk bilang halo dan apa kabar, padahal line telepon itu perlu dipake untuk follow-up kegiatan ke lapangan. Lalu entah kapan tiba-tiba dia menyatakan ga mau lagi mengerjakan pekerjaan-pekerjaan sekretaris (lha, kalo bukan sekretaris terus dia apaan?). Hasilnya, kalo diitung-itung, lebih banyak gw yang ngurusin meeting dan itinerary-nya si bos ketimbang Mita (termasuk pesen tiket, cek bensin mobil dan bayar tagihan). Seakan-akan gw kurang kerjaan??

Kita juga mengandalkan bagian lain seperti IT dan Logistik. Yang gw paling herannya dari Pak Richard yang bagian IT itu adalah: dia hampir ga pernah sanggup ngebantu kita nyelesain apapun. Je je te je be em ha em….setiap pagi susah banget nyari dia, telpon di meja ga diangkat, HP mati….tapi dengan asiknya dia wara-wiri seperti yang sibuk banget. Di dunia kerja gw banyak menemukan orang-orang seperti ini. Aneh-aneh.Eh, mungkin juga dari kalau mereka yang ditanya, maka dalam versi mereka gw-lah yang aneh?? Bisa aja!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s