Softly & Slowly

A fast-mover who successfully do her things slowly!

Batak, Kasar?

Saya seringkali merasa excited setiap kali mendapat pemberitahuan bahwa ada comment yang ditinggalkan pembaca pada blog ini, terutama untuk posting-posting mengenai batak.  Posting yang bukan dalam bahasa Indonesia tentunya memiliki pembaca yang lebih heterogen, dengan comment juga yang lebih heterogen. Posting tentang batak tentunya lebih terfokus kepada kaum yang memang dari suku batak atau yang berhubungan langsung dengan kesukuan ini. Karena itu saya selalu tertarik.

Dari sekian komentar, saya menilai bahwa sesungguhnya masalah yang saya tuangkan di tulisan-tulisan itu bukanlah masalah saya sendiri. Banyak orang lain yang mengalaminya.  Masalah saya tidaklah unik, mungkin hanya keterbukaan saya mempublikasikannya saja yang membuatnya seperti berbeda. Setelah membaca komentar positif atau paling tidak netral tersebut, saya merasa tidak sendirian.

Setidaknya saat saya merasa suntuk menghadapi orang-orang yang memberikan saya perasaan tertekan akibat adat dan kesukuan, saya menyadari bahwa saya tidak sendirian, bahwa di luar sana ada banyak orang yang senasib seperti saya. Bukankah itu sangat menghibur?

Sayangnya akhir-akhir ini saya menemukan komentar yang cenderung menghakimi.  Berbeda dengan komentar-komentar yang rata-rata memahami duduk perkaranya, komentar negatif ini cenderung menyalahkan saya sebagai si penulis.  Saya sendiri tidak terlalu keberatan untuk perbedaan pendapat. Saya berpikiran terbuka dan welcome kepada pemikiran apa saja, termasuk yang men-cap saya egois, tidak tahu malu, tidak tahu apa-apa soal batak, sombong atau apapun.

Namun walaupun begitu, saya ingin menghimbau siapapun yang membaca blog ini dan bermaksud meninggalkan komentar agar melakukannya dengan berhati-hati sekali.

Maksud saya begini, sementara di sebuah posting saya mengatakan bahwa saya tertekan menjadi orang batak karena orang batak kasar, sombong dan menghakimi, maka orang-orang yang berkomentar kasar secara langsung meng-iya-kan perasaan saya itu. Bukankah  begitu?

Sementara saya menulis bahwa orang batak lebih mengutamakan adat daripada kemanusiaan, lalu seseorang meninggalkan pesan dengan nama-nama penghuni kebun binatang di dalamnya, bukankah itu secara langsung meng-konfirm bahwa seperti itulah sifat orang batak?

Kedua, saya menyadari bahwa mudah untuk menghakimi jika hanya membaca sebuah posting. Saya meyakini bahwa komentar positif datang dari pembaca yang jika tidak karena mengalami peristiwa yang sama, maka adalah pembaca yang membaca posting-posting lain yang berkaitan.  Karena itu saya juga menghimbau agar pembaca sebelum meninggalkan pesan yang nyelekit, bacalah dahulu postingan yang lain.

Kalau saya ditanya? Benarkah orang batak kasar? Hehehe. Saya orang batak dan saya tidak kasar. Mudah-mudahan mereka percaya kepada saya karena perilaku saya yang tidak merefleksikan asumsi tersebut.

5 Comments»

  Andy Harahap wrote @

Kakak yang baik,

Selama ini apabila saya baru bertemu orang lain (yang bukan batak), memang mereka punya impresi yang sama dengan yang sudah kakak terakan di atas, akan tetapi kalimat berikutnya dari mulut mereka adalah bahwa mereka setuju bahwa orang batak itu biasanya kasar dalam hal berkata-kata dan cara mengucapkan kata-kata tersebut. Dan jika ditelisik lebih jauh, maka mereka (orang lain itu) akan mengungkapkan bahwa batak itu terlihat kasar sebatas itu saja, tetapi hati dan maksud dari orang batak itu biasanya baik. Dan tidak sedikit yang memberi saya masukan bahwa banyak koq orang batak yang baik.

Saya sudah baca beberapa thread Kakak di blog ini mengenai batak dan kebatakan. Di dalam beberapa tulisan tersebut, kakak memang banyak mengungkap nada miring mengenai prilaku orang batak, dan saya pun mengamini sebagian dari sisi negatif tersebut. Tapi itu semua tidak mengurangi kebanggaan saya menjadi orang batak, karena saya percaya semua hal di dunia ini bisa dilihat dari dua sisi dan sebenarnya banyak yang kita bisa ambil dari sisi positifnya.

Saya jauh dari mampu untuk menggurui Kakak, tetapi dari pada banyak menggerutu dan “mencaci maki” si batak dan kebatakannya, barangkali akan lebih baik buat kita untuk mencoba menjadi contoh bagaimana menjadi batak yang modern dan yang lebih baik. Dan karena adat adalah produk dari kebudayaan yang merupakan hasil cipta dan karsa manusia, maka tugas kitalah untuk menuliskan dan menciptakan harsa dan karsa agar menjadi kebudayaan batak yang lebih baik sehingga melahirkan adat istiadat batak yang lebih baik pulak.

Salam,
Andy seorang batak yg lahir dan besar di jakarta dan beristri seorang bali.

  Achellia Erri wrote @

Dear Kakak

saya orang indonesia juga, yang lahir di yogyakarta dan berdarah jawa. saya tertarik denan posing posting yang kakak buat di blog ini. saya belum penah ke tanah batak, tapi saya punya beberapa teman berdarah batak yang datang dari daerah sumatera. banyak pengalaman yang saya dapat dari mereka, walaupun secara lisan dan tidak ada visualisasinya. pada dasarnya mungkin ada beberapa hal yang saya juga tidak tau seperti apa realitanya di tanah batak sana, tapi setau saya teman-teman saya yang sudah hidup membaur dengan suku suku yang lain mereka cukup bisa menyesuaikan diri, sifat dasar atau watak memang masih ada…tapi sejauh teman-teman yang saya kenal mereka baik dan pekerja keras. keras dalam berpikir, keras dalam bertutur, dan keras dalam mempertahankan pendapatnya mungkin memang cirikhas mereka (teman teman saya yang berdarah batak) mungkin karena yang kakak rasakan ada beberapa pengalaman yang kurang menyenangkan, jadi menimbulkan luka batin yang cukup “berat” tapi saya yakin kakak bukan orang yang sempit pikir untuk mengeneralisasi semua orang batak dengan label-label seperti di atas….saya sebagai anak yang terlahir di suku jawa dan keluarga saya juga sudah modern dan demokratis memang memandang beberapa adat yang terlalu berlebihan di suku batak, atau peraturan-peraturan yang terlalu tidak masuk di akal saya sebagai orang jawa. tapi saya menghargainya sebagai kekayaan budaya indonesia, dan harus dilestarikan oleh orang-orang yang menjunjung tinggi kebudayaan suku tersebut. tapi mempertahankan budaya bukan berarti harus sempit pikir dan menolak moderenisasi sama sekali, sebaiknya mungkin bisa hidup lebih balance saja, antara budaya, agama, dan juga cara hidup di era yang sudah modern. mungkin banyak kesalahan dalam cara saya menganggapi posting-posting ini…..atau ada kata-kata yang kurang berkenan, tapi saya setuju dengan bang Andy diatas, bahwa citra Batak dan keBatakan yang kuno dan dinilai negative sebaiknya untuk posting posting selanjutnya lebih ke memberikan solusi atau pandangan pandangan bataknese bataknese muda dalam hidup di era modern, lebih positive dan inspiratif untuk generasi muda yang berdarah batak……

salam hagat Achellia Erri Yurita Sugiono

  lysa sirait wrote @

saya orang batak,..saya lahir dan besar di Sumatera Utara, di medan tepatnya..saya dibesarkan dikeluarga batak,.teman2 saya banyak yg dari suku batak, aceh, padang, jawa dan china,. namun ketika saya merantau ke Jogjakarta orang2 yang baru mengenal saya bahkan menjadi teman akrab saya tidak percaya kalau saya Batak Asli.. menurut mereka SEMUA orang batak kasar.. Saya tidak pernah belajar bagaimana menjadi wanita jawa tetapi selama saya dididik di keluarga saya, saya tidak pernah diajarkan menjadi orang batak yang kasar, dan orang tua sayapun memberi teladan,. saya rasa org tua eda juga.. Saya bertemu banyak sekali orang batak yang jauh dari kata “Kasar”. Tegas memang benar, tapi tidak kasar.. Jadi, eda,.kesimpulannya adalah : tidak semua orang batak itu kasar. Jadilah boru batak yg jadi berkat bagi sekelilingmu,. yang mengayun dunia dengan kekuatan dan ketegasan ditangan kananmu dan membelainya dengan kelemahlembutan ditangan kirimu.. Kitalah duta itu,. ketika orang melihat kita, orng akan diberkati dan melihat kalau ternyata masih banyak koq orang Batak yang Tidak Kasar.. Janganlah terlalu membenci Batak,.karena bagaimanapun,. “makkuling do mudar i”… ga bisa dipungkiri kalau kita lahir sebagai suku Batak,. Kan lebih indah kalau kita menceritakan yg baik2 ttg budaya kita,. budaya indonesia,..kalau bukan kita, siapa lagi?

  Eva Haryani Sinabutar wrote @

Bacaan menyentil tetapi kita haruslah arif dalam menilai semua hal yang dituangkan di sini persoalan batak dan kebatakannya. Tulisan ini perlu menjadi perhatian bagi orang Batak untuk lebih memperbaiki citra Batak lewat cara bersikap, bertindak. Saya seorang batak yang lahir dan besar di Sumatera Utara. Dan ketika saya berbicara, orang-orang tidak menyangka bahwa saya bersuku Batak karena saya cenderung mengeluarkan suara yang halus. Intinya, untuk saya secara pribadi siapa kita adalah diri kita yang menentukan. Semua pandangan orang terhadap Batak juga bisa berubah jika kita bersikap baik. Bukankah perubahan dapat dimulai dari diri kita sendiri? Mari kita ambil positifnya, kita perbaiki hal-hal negatifnya.

Sekian,
Eva Haryani Sinabutar
Terima kasih🙂

  lsasro wrote @

buat anda yang katanya orang batak…

Terlepas dari benar atau tidak,semoga tulisan anda mrubah sbagain kecil orang batak yang dinbilang kasar.Saya orang batak,batak toba,lahir,besar,sekolah dan menempuh pendidikan di Sumut.Saya agak kurang setuju ketika anda menyimpulkan bahwa batak itu (semua) kasar adanya,menurut saya seseorang yang kasar tidak dapat kita nilai dari cara ngomngnya,saya banyak berteman dngan orang jawa,sunda dan melayu,mereka memang bilang batak itu suara keras,perilaku keras,tapi mereka menilai itu cuman sbagai cara penyampaian aja(dalam komunikasi) ,mereka menilai orang batak itu baik,pintar-pintar,pekerja keras dan memiliki integritas yang tinggi,bahkan mereka berusaha mempelajari batak dari segi bahasa,lagu dll.jadi menurut saya istilah kasar itu sangat tidak cocok,karena kasar itu relatif dan bisa ada ditiap suku.

Yang kedua mengenai adat istiadat yang anda katakan lebih mementingkan adat daripada kemanusiaan ,saya sangat miris membaca itu dan anda bahkan mengaku seorang orang batak,Bukankah dalam adat batak kita diajari mengenai silsilah,diajari mengenal keluarga atau bahkan yang tidak kenal sekalipun kalau ada ikatan marga atau kalau dengar seorang batak trlantar pasti akan ditampung atau disambut dengan baik olh orang batak (MANGKULING DO MUDAR I),dalam adat batak juga kita diajari menghormati orang tua ,bahkan berlaku hormat bagi siapa yang lbih tua dari kita marale-ale(berkawan) denagn baik.Somba marhula-hula ,elek marboru,manat mardongan tubu dan segudang istilah batak lain yang mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang siap ditempatkan di manapun,dan kita diajarkan untuk menghormati sesama.dan kita diajari tidak memandang asal,kelas(kekayaan) “BUKANKAH ITU YANG NAMANYA MEMANUSIAKAN MANUSIA?”,tapi semua kembali kepribadi masing-masing atau mungkin karn alairan kepercayaan anda yang mmbuat anda skeptis terhadap adat istadat ini,

by:Sasro L.gaol
trimakasih.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: