Bekasi

Kadang-kadang saya pengen pindah dari Bekasi. Hahahaha. Cita-citaaaa.  Dulu saya “terlempar” ke Bekasi tanpa benar-benar menyadari apa konsekuensinya dari tinggal di daerah ini.  Saat pertama saya fresh graduate yang berjuang mencari pekerjaan pertama, sahabat saya sudah tinggal di Bekasi, dan menawari saya untuk tinggal bersama sementara saya mencari tempat tinggal yang lebih permanen.

Jarak dari rumah teman saya di Bekasi Utara itu ke kantor di Jakarta Selatan bukan lumayan lagi kalau ga dibisa dibilang keterlaluan jauhnya.  Jaman tahun 90-an belum ada tol JORR, jadi semua bis berangkat dari Bekasi Timur, berdiri, berdesakan, sampai ke Blok M.  Lalu dari Blok M sambung dengan metromini nomer 66 yang mengarah ke Pondok Indah. Begitulah cara saya sampai ke kantor. Dari sejak tahun segitu, Cikunir dan gerbang tol dalam kota yang dimulai di Halim sudah macet gilak pada rush hours.  Tapi, saat itu, entah kenapa saya bisa melaluinya dengan baik.  Berangkat jam 5 dari rumah, sampai jam 7 di kantor.  Pulang jam 3.30 dari kantor dan sampai jam 7 malam di rumah.

Ketika saya menikah, daddy saya membeli sebuah rumah, juga di daerah Bekasi Utara.  Dari rumah saya diantar dengan mobil ke pintu tol Bekasi Barat, sekitar 10km jauhnya, dimana sebuah van menunggu semua karyawan yang bermukim di Bekasi untuk berangkat ke kantor.  Sama juga. Jam 4.30 dari rumah, jam 5.30 sudah menunggu di arah pintu tol Bekasi Barat. Rumah di Bekasi Utara ini terletak di daerah padat penduduk, sebuah kompleks perumahan yang sudah lama.  Sebelah kanan dan kiri tetangga yang kurang saya kenal dan juga kurang ramah.  Seringkali mereka memarkir sepeda motornya sembarangan saja tepat di pintu pagar rumah saya sehingga menghalangi keluar masuknya mobil.  Lain kali hari minggu pagi saya membuka pintu rumah, pagar pembatas kanan dan kiri sudah dipenuhi jemuran milik tetangga.  Entah kapan lagi, buah mangga dari pohon di depan rumah dipetik tanpa seijin saya yang sedang duduk-duduk di teras rumah.  Mereka menyangka semua pohon, jalanan, pagar adalah milik bersama. Wedeh.

Saya pikir petualangan dengan Bekasi sudah berakhir saat saya pindah ke daerah Tangerang Selatan.  Ternyata tidak.  Hanya dalam waktu empat tahun, saya kembali lagi ke daerah Bekasi di daerah yang berbeda, perbatasan dengan Jakarta Timur, yang untungnya lebih dekat ke pintu tol. Dan ini alamat permanen, karena KPR nya aja 15 tahun wkwkwkwkwk.

Tapi setelah beberapa waktu terasa perbedaan-perbedaan.  Lingkungan perumahan yang kami tempati ini lebih beradab, tidak ada lagi tetangga yang parkir sepeda motor depan pagar, atau menjemur pakaian di pagar pembatas rumah. Malahan, buah mangga kami bisa tahan berhari-hari tergantung di pohonnya tanpa ada yang mengusik.  Tapi disini, sekedar cari tukang jualan mie goreng yang enak aja susah.  Di Tangerang Selatan, dari martabak manis, sate padang sampai teriyaki ala-ala Jepang dijual oleh street vendor.  Di Bekasi yang ini, mencari penjual ayam goreng pecel lele aja seperti susah. Dulu mencari jajanan seperti roti bakar dan pisang goreng cukup mudah, sekarang lebih susah.  Ada sih street vendor, jual gorengan, martabak, pempek dan lain dan sebagainya. Tapi setelah satu kali beli saya kapok, karena taste nya kok ga cocok.  Kalo ga aneh, anyep atau apalah.  Untung sekarang sudah ada jasa delivery makanan lewat app online, jadi memilih vendor atau resto yang lumayan jauh juga bukan big problem anymore.  Kalau mengandalkan yang sekitar kompleks memang kurang bersaing.

Eh, kenapa jadi ngomongin makanan? Hahaha. Awalnya saya bilang pengen pindah dari Bekasi. Pilkada daerah yang kemaren, teman-teman habis-habisan mengetawai saya ketika AD mencalonkan diri jadi wakil bupati di kabupaten Bekasi.  Mau setengah mati saya terangkan bahwa saya bermukim di kota Bekasi, bukan Kabupaten, teteup aja diledek.  Untungnya pemimpin yang lain yang menang.  Habis gelap terbitlah terang. Untuk pemilihan walikota tahun depan, ada lagi VP 29 is my age yang mencalonkan diri.  Habis lagi saya diledek teman-teman.  Kali ini saya ga bisa berkelit dengan status kota dan kabupaten.  Hiks. Mudah-mudahan pemimpin yang mumpunin yang menang bukan yang sinetronisasi.

Masih belum habis gaung dari ledekan akibat calonisasi, muncul berita tentang seminar yang mengajak para pria untuk cara cepat mendapatkan empat istri.  Bukan seminarnya yang saya mau highlight, tapi si founder dari organisasi dan seminar ini yang menyebut dirinya dengan vickyku vickymu bla bla. Kalau orang lain berkomentar mengenai isu poligami dan akibat-akibatnya, saya cuma sebel ngeliat profile fesbuknya yang menyebut tempat tinggalnya orang ini di Bekasi.  Awh.

Masih belum sirna soal orang Bekasi yang satu ini, muncul berita mengenai seorang teknisi amplifier yang dikeroyok dan dibakar massa di… Dimana? Dimana lagi kalau bukan di Bekasi.  Ini benar-benar saatnya tepok jidat, atau bahasa kerennya face palm. Malu banget. Apakah orang Bekasi memang begitu barbarnya?

Dan terakhir kemarin ada situs yang dilapor oleh ibu Menteri, diblokir Keminfo dan pemiliknya ditangkap polisi. Situs jejadian trafficking yang disamarkan dalam bentuk yang indah walau dilengkapi gambar-gambar pornografi.  Dimanaaaaaaa? Bekasi sodara-sodara.  Dari tempat tinggal saya ke alamat kantor yang tertera di situs itu ga sampe 5km acan. Bah, parah.

Seakan-akan orang-orang Bekasi ini, isinya adalah orang-orang yang kalau ga punya penghargaan atas hak kepemilikan orang lain maka kesukaannya adalah sama artis-artis yang aneh, atau mengandrungi dengan pornografi dan trafficking yang diselimuti bungkus agama, atau kalau ga gitu maka galak-galak barbar sampai membakar orang.  Pedih banget. Padahal saya ga begitu.  I am just a fine normal person yang cari makan with a fine normal way.

Pindah ah.

 

Advertisements