Softly & Slowly

A fast-mover who successfully do her things slowly!

Pasar Senen

Secara iseng banget, gw setuju untuk pergi dengan Among ke Senen. Iyaa..pasar Senen, tepatnya pasar Inpres di bilangan Senen. Karena tujuannya adalah untuk nyari burjer sama beli lampet. Hayya.

Berhubung cuaca seringkali berubah-ubah ga jelas, dan jelas kita takut kena macet akibat hujan deras yang bisa aja mendadak tumpah, jadilah kita memutuskan untuk naik kereta. Ternyata setelah beberapa tahun ga pernah lagi menjadi rombongan komuter, penampilan kereta penumpang sudah sangat banyak berubah *atau gw aja yang lagi lucky ya dapet kereta yang bagusan?. Maksutnya adalah,  dua kali jalan gw dapet kereta AC yang bersih, ga ada penjual asongan bolak-balik ~~dulu gw lumayan muak sama penjual jepitan rambut yang seenaknya menggantung dagangannya pas di depan muka kita, padahal lagi asik-asik ngelamun. selain itu gw juga terganggu dengan penjual minuman, penjual sabun, penjual lampu yang dagang sambil menyeret-nyeret troli~~, juga di kereta udah engga ada yang ngamen, engga ada yang mengemis dan ada kereta khusus perempuan ~~jadi berasa masuk mesjid~~. Soal kereta khusus perempuan ini memang keliatannya cukup efektif untuk para wanita yang berpergian seorang diri. Seorang petugas dengan sigap men-sweeping kalo-kalo keliatan ada pria yang masuk di gerbong ini. Anehnya niiy, empat orang pria berpakaian seragam dinas perhubungan yang jelas-jelas adalah anggota korps PT KAI, dengan santainya nongkrong di gerbong ini sampe si petugas menggebah mereka.

Okaylah, jadi sampe lah kami di stasiun Senen. Kalo keretanya ada perubahan, stasiun dan suasanannya sama aja. Orang-orang yang sembarang ngeletak di peron masih seperti itu aja. Dari stasiun kita turun lewat underpass untuk mencapai jalan raya. Gelonya, di underpass yang ga ada ventilasi dan exhaust nya itu *knapa sih ga diinstall exhaust? aneh* ada orang yang dengan santainya merokok.

Pasar Senen dari tahun ke tahun keliatannya sama aja. Entah ada kebakaran atau bangunan baru, di mata gw keliatannya sama aja. Burjer, atau singkatan dari buruk-buruk Jerman tapi jangan tanya kenapa Jerman bukan Italy atau Perancis, istilah untuk pakaian bekas keliatannya sudah tidak lagi merajai pasar. Atau gw nya aja yang ga tau?

Di suatu koridor yang terbilang bersih, dijual burjer yang sudah ditata rapi, di laundry dan diberi gantungan. Gw menaksir dua helai tirai berwarna putih gading. Si penjual dengan berpikir-pikir memberi harga: “475 kak!”  Ealaaah, kalo harga segitu ngapain gw seken di Senen? Gw muter-muter dikit lalu berniat berlalu. Si penjual bertanya: “Berapa kak?” Gw menjawab dengan polos: “Lhah, kalo segitu saya jadi ga enak mau nawarnya” Si penjual mendesak: “Berapa kak?” Gw bilang: “Berapa ya? 150 lah” Lalu si penjual berkilah: “Belum dapat Kak. 350 lah ya?” Gw menggeleng lalu beranjak. Si penjual memanggil: “Kak, sebentar Kak…lalu kasak kusuk dengan seorang lagi lalu menyetujui: “Ya udah Kak, ambillah, untuk penglaris.” Ha? Yaaa, tau dikasih tadinya gw tawar aja 100rb? Gw kira mental inang-inang gw udah cukup parah, ternyata ada yang lebih parah. Ck ck ck. Jadilah gw mendapatkan sepasang gorden seharga 150rb.  Sebenernya sih gw cukup puas, secara ukurannya emang besar dan bahannya berat plus ada poninya juga. Cuma diye kecepetan setujunya ah! Among mencela gw: “Lhah, elu mo ngelawan inang-inang pasar Senen, jelas kalah elu! Kayak engga tau aja!” Hiyaaa, understand.

Keluar dari tempat burjer, kami menuju pasar Inpres untuk berburu kue lampet. Di sini aura batak memang tercium dan terlihat sangat jelas. Kemana mata memandang, tumpukan ikan asin, ikan teri, bunga rias atau biasa disebut honje, dan kain ulos menjajah mata. Di suatu pojok, penjaja memegang erat-erat sebuah baskom besar ~sungguh, dipegangin seperti itu baskom bisa jatuh kapan aja~. Ternyata dia menjual pohul-pohul. Penganan itu dijual Rp 1,500- sebuah. Untuk orang yang mudah merasa jijik seperti gw, mengkonsumsi pohul-pohul awalnya adalah sebuah perjuangan ~lebay.com~ Gimana engga, bentuk jari-jari tangan yang jelas itu mengindikasikan bahwa pembuatannya dengan tangan dan dari tangan langsung dikukus, tanpa bungkus daun atau plastik atau wadah cetakan apapun.  Kalo kue itu sudah ditata di piring imajinasi masih agak terkendali. Tapi tepat di depan penjualnya, dengan wajah bulat dan rahang bersegi yang khas plus keringat…healaaa…

Di sampingnya berderet rantang-rantang berisi susu kerbau. Susu kerbau? Ya sebenernya makanan yang seharusnya terbuat dari susu kerbau yang dimasak sedemikian hingga menyerupai tahu itu kebanyakan sekarang dibuat dari susu sapi.  Among membeli beberapa karena dia memang suka makanan itu.  Sementara kita melihat-lihat apa lagi yang mau dibeli, gw overheard seorang ibu-ibu yang keliatannya bukan orang batak. “Bu, ini jual lapet kan? Ada yang isi beras dicampur ketan sedikit tidak?” Si penjual, tanpa sedikitpun menggeser jualannya sekedar memperlihatkan apa isinya dengan sigap menjawab: “Ini dari beras. Tidak ada dari ketan.” Si ibu yang menaksir lapet ketan bergerak sedikit untuk membuka serbet tutup jualan. Lalu si penjual dengan sigap menepis tangannya sambil berkilah separo ngomel: “Dimana ada lapet dicampur ketan, mana bakal jadi.” Gw pengen ngakak. Kalo gw si penjual lapet, gw bakal membuka dagangan gw seluas-luasnya, toh terbuka seharian ga bakalan membuatnya jadi berubah rasa, wong si lapet terbungkus erat daun pisang kok? Siapa tau si calon pembeli ngeliat bungkusan daun pisang aja tertarik dan membeli jualan gw walaupun bukan persis seperti keinginannya?

Sementara berjalan keluar, Among masih membeli mi lidi dan terong belanda.  Gw asli ngakak ga ketahan. Inang-inang penjual terong duduk santai separo duduk separo tiduran. Sementara Among milih-milih, Among udah mencoba menawar harganya: “Ah, kasihlah 12,000 sekilo Namboru”   Si penjual, dengan ekspresi lempeng tanpa senyum tanpa bergerak sedikitpun menyahut: “Tidak dapat. 16,000 sekilo”  Among masih belum puas: “Ya, pas kan lah berapa Namboru, kurangi lah sedikit.” Si penjual, sekarang dengan dengan ekspresi kesal menyahut: “Dang boi moro” Saat itu gw ngakak, melepaskan semua saraf yang sedari tadi udah tergelitik pengen ketawa melihat cara berjualan orang-orang batak ini. Huaduuuh.  Si penjual ngeliat gw dengan tampang aneh mungkin jengkel karena engga tau persis kenapa dia diketawain.

Tapi sungguh lucu untuk gw ngeliat cara jualan sedemikian. Tidak ada keramahan. Tidak ada senyuman. Tidak ada celah untuk tawar menawar yang win-win solution.  Kalo lagi serius mungkin jadi sebel, cuma karena udah paham cara sedemikan, gw bisa ngakak. Hahaha.

No comments yet»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: