Saya Orang Indonesia (Jangan Kawin Dengan Orang Batak III)

Kenapa harus ada chapter 3? Good question.  Hm.  Begini, berbagai komentar masuk selama tahun-tahun posting berjudul di atas ada di blog ini.  Tapi, tidak semua komentar saya approve.  **Itulah untungnya moderated comment 😛

Tapi kemudian, saya berpikir ulang, bahwa seharusnya semua komentar itu saya approve. Terlebih komentar dari orang-orang yang mengaku batak tulen 100% asli namun meninggalkan komen yang berisikan nama-nama penghuni taman safari.  Dan terutama komentar dari yang mengaku sudah berpendidikan tinggi dan sekolah di luar negeri.  Ke hadapan mereka, saya ingin menjejer komen-komen mereka sendiri sambil berkata “Hey, kamu bilang kamu batak tulen, berpendidikan dlsb, tapi kamu mengata-ngatai saya dengan kata-kata yang hanya digunakan oleh orang yang setiap harinya bergaul di terminal pulogadung!  Kamu mengatai saya tidak berbudaya dan tidak berpendidikan tapi kamu merefleksikan persis seperti yang saya tuduhkan.” *In a second thought, jangan-jangan mereka sekedar mengaku berpendidikan dan sekolah di luar negeri… ow.. ow.. ow..

Baru kemarin saya mengobrol dengan adik saya.  Mereka rutin mengunjungi orangtuanya di Pematang Siantar.  Hampir setiap tahun.  Selain mengunjungi orangtua mereka juga menyempatkan untuk menjelajah daerah Tapanuli, paling tidak seputaran Danau Toba dan pulau Samosir.  *Saya sendiri hanya tiga kali sampai ke daerah Tapanuli, dua kali karena ompung saya meninggal, satu kali karena mertua saya meninggal.

Belasan tahun yang lalu, daerah Parapat adalah daerah kunjungan wisata yang sangat hip. Ratusan hotel berderet menawarkan harga dan fasilitas di sepanjang jalan ke arah danau Toba yang membentang indah di bawahnya.  Di usia belasan saya pernah menjadi turis disana.  Tidur di hotel, berenang di danau, naik perahu ke Tomok dan melihat kuburan kuno raja.  Walaupun saat itu usia saya belasan, tapi saya sudah punya anggapan bahwa orang batak tidak ramah.  Secara iseng di pasar rakyat saya melihat sehelai celana pendek.  Saya tanya berapa harganya dan saya juga minta agar celana pendek tersebut diturunkan supaya saya bisa meraba bahannya.  Saya rasa saya cukup sopan.  Tapi responnya, oala, “Kalo tidak punya uang, tidak usah belanja!”  Bahkan saya tidak tahu berapa harganya darimana ia tahu saya tidak punya uang? *geleng kepala.

Namun sekarang, Parapat adalah wilayah yang ‘ditinggalkan’.  Pengunjung danau Toba memilih untuk menyeret kopernya naik perahu dan memilih tempat bermalam di Samosir.  Hotel-hotel sepanjang Parapat digunakan hanya untuk tempat retreat.  Adik saya yang pernah mengalami bis-bis penuh bule masuk Parapat mengatakan bahwa sekarang bule yang datang hanya golongan backpacker.  Saya melongo.  Turis beralih ke Samosir karena mendapatkan pelayanan yang lebih ramah dan harga yang lebih kompetitif  tanpa takut tertipu.

Sekali waktu adik saya menginap di Samosir.  Pada  pagi hari mereka memasuki ruang makan yang sudah dikemasi.  Loh? Belum jam 10 mengapa breakfast sudah bubar?  Adik saya bertanya, “Makan paginya dimana?”  Seorang pegawai dengan ketus menjawab  “Sudah habis!”  Seorang lain langsung mendekat dan mengusir si pegawai, “Tu sonkho!” dan mengambil alih situasi. Dengan ramah menawari adik kami makanan dari daftar menu sambil minta maaf karena kesalahan mereka mengantisipasi jumlah tamu dan makanan.  Nah! Begitulah seharusnya caranya.  Tamu, pelanggan, pembeli semuanya adalah raja dan berbasa-basi adalah hal baku dalam industri pariwisata.

Tapi, kalau saya katakan langsung kepada orang batak bahwa mereka kasar dan tidak bisa berbasa-basi, apa yang akan terjadi?  Sederetan makian akan kembali masuk ke inbox moderated comment saya.  Siapakah orang batak sebenarnya?

Bangga-kah menjadi orang Batak yang dicap kasar? Saya tidak.  Itu sebabnya saya bertutur bahasa dengan halus dan sopan.  Malahan, jika memang harus marahpun saya ingin saya tidak kelihatan kasar, karena yang pertama kali akan dikatakan orang adalah:  “Pantesan kasar, batak siihh!”

Bangga-kah menjadi orang Batak yang dicap sok ekslusif? Saya tidak.  Teman seprofesi saya sesama rohaniwan lebih sukses dalam pernikahan beda budaya mereka karena memungkinkan mereka lebih diterima di banyak komunitas.  Seorang rohaniwan Batak beristri Manado, akan diterima dengan baik di lingkungan orang Manado, bahkan di lingkungan orang Tionghoa.  Tapi rohaniwan Batak beristri Batak akan berjuang dulu sebelum diterima di dua komunitas itu.

Saya hanya ingin mengajak pembaca posting-posting ini untuk berpikiran terbuka. Terimalah kekurangan kita!

Saya teringat pengalaman saya jika berpergian ke luar negeri.  Dengan penampilan yang sangat Asia, orang tidak langsung bisa menebak saya orang Indonesia.  Mereka mengira saya Jepang, Korea, Taiwan atau Singaporean, atau kalau memang saya sudah menggeleng kepala terus mereka menyangka saya Filipino.  Satu dua kali saya malu juga mengaku orang Indonesia.  Harus saya akui!  Jika saya berada di Malaysia, mengaku Indonesia hanya akan membuat tingkat pelayanan mereka turun hingga 0% ke tingkat meremehkan.  Lebih baik saya mengaku orang Singapur, jadi tiket saya tetap diurus.  Jika berada di Hong Kong, mengaku orang Indonesia hanya membuat mereka berpikir saya sedang mencari pekerjaan sebagai pegawai domestik.  Lebih baik saya mengaku-ngaku jadi Jepang.  Mereka tidak akan mengusik.   Paling sensitif mengaku Indonesia kepada orang Australi.  Untuk mereka orang Indonesia yang bisa jalan-jalan ke luar negeri adalah golongan koruptor. *Sigh.  Siapa yang harus saya salahkan dalam situasi demikian? Republik kita tercinta ini memang dipenuhi oleh koruptor.  Dan nama Indonesia harum di kancah Internasional gara-gara penangkapan koruptor kita harus dilakukan di luar negeri.

Sama dengan perasaan saya menjadi orang Batak.  Siapa yang harus saya salahkan jika televisi Indonesia menayangkan sinetron dan film berkarakter orang Batak dengan cara bicara yang kasar dan profesi berbau preman? Saya kah yang punya masalah jika saya mengungkit kesalahan itu sebagai cermin untuk bertindak lebih baik?

Tell me.

Advertisements

11 thoughts on “Saya Orang Indonesia (Jangan Kawin Dengan Orang Batak III)

  1. Saya membaca beberapa tulisan ttg batak. Saya bisa merasakan ketidaknyamanan kaka di lingkungan batak. Tapi saya tidak setuju jika kita malu menjadi batak. Karena menurut pembelajaran saya orang batak itu mempunyai budaya yang sangat sistematis dan baik. kesetaraan gender justru terlihat dengan konsep dalihan natolu, kita bisa belajar menjadi pelayan saat menjadi pihak boru (ingat pihak boru bukan hanya wanita, tetapi juga sang suami) dan menjadi raja saat menjadi pihak paranak (paranak + istri) adil bukan? dan ada banyak hal lain yang saya merasa bangga menjadi orang batak, contohnya : kekonsistenan, kegigihan, pantang menyerah. Perjuangan orangtua batak ga ada matinya (saya sangat merasakan ini, dan bisa kita lihat dari banyaknya orang batak yang menyekolahkan anaknya di sekolah swata katolik event pekerjaan ortunya cuma tukang tambal ban) banyak pemikiran batak yang saya suka. Tetapi memang banyak orang2 batak yang tidak mengerti nilai2 adat tetapi merasa dirinya yang paling batak, saat bicara sopan,saya pernah dibilang sama teman saya (dari siantar) “kaya ga orang batak kau”. Langsung saya bilang dengan lantang, memang orang batak harus kasar? saya batak asli, dan marilah kita benahi paradigma batak itu kasar, yang benar adalah konsisten. Jangan bangga kalau kita menang karena orang tertekan ngomong sama kita, tetapi karena kita mempunyai argumen yang benar dan kuat. Saya memang melihat orang-orang batak dari kampung cenderung merasa lebih hebat dan batak, tetapi sebenernya saya melihat ada kesenjangan sosial sehingga secara tidak langsung mereka iri atau bahkan dendam untuk melebihi orang batak yang lebih mampu (sisi positifnya, orang batak berkemauan tinggi dan pantang menyerah namun tidak mau kalah). Analisis pribadi saya, maaf kalau salah keluarga inti kaka tingkat perekonmiannya baik tetapi keluarga besar yang lain kurang. Orang batak tuh merasa satu, dan merasa kalian harus membantu, efeknya kalian merasa diganggu. dan kesenjangan ekonomi berefek terhadap perilaku. Saya senang hidup di keluarga yang menanamkan nilai batak tetapi tetap berpikiran terbuka. semangat mencoba mencintai batak! 😀

  2. sewaktu aku skimming thread yg kakak buat ini dari part 2 sampe part 3, hatiku rada panas kak. karna yang pasti kakak tahu lah sebabnya, pastinya aku sebagai orang batak dan merasa tersinggung apalagi aku laki2 batak. tapi kucoba kudinginkan perasaan ku. memang sih kak klo orang batak tuh pesta pasti banyak asap rokok. atau makan daging yg haram2. tapi coba di oplet ato di warnet yang ga ada orang bataknya smua pada merokok bikin kesal aja. trus kita langsung judge ehh.. pasti ini orang batak yg merokok eh… taunya bukan jd jelas semunya kembali pada pribadi masing. Sifat dan tabiat bisa dibentuk oleh agama dan pendidikan. Jd klo dibilang orang batak itu kayak gini gitu itu tergantung pribadinya masing2 kak. memang ada orang batak seperti yg kakak sebutkan diatas tapi itu tidak bisa menjadi justifikasikan kalo semuarang batak itu semua bejat kayak bodat. Coba aja lah kakak buat pengumuman di TV jangan kawin sama orang batak trus bapak ato ibu ato keluarga kakak menonton pengumaman tersebut bisa kakak bayangkan apa reaksi mereka? mungkin klo aku sebagai adik aku cm sedih bgt betapa menderitanya kakak ku ini gara2 orang2 batak.jadi coba lah kak lebih bijak untuk membuat statement ato perkataan. jangan jadikan justifikasi sebagai alat terakhir untuk menjudge sesuatu. Karna klo kita menjudge manusia yg pasti kita sudah banyak salahnya(dosa) makanya perlu Penyelamat. aku harap kakak bisa memberi suatu kebanggan terhadap suku batak> tentang. Parhobas itu bukan identik dengan wanita kak namun boru, kalo boru yg married pasti suaminya ikut marhobas juga. aku sendiri lihat waktu nanguda ku adik laki2nya married suaminya yg dia suruh2 ini itu sampe2 suaminya kena marah karna teledor ^_^. nah aku salut sama udaku yg satu lg dia ga perlu disuruh istrinya dia sudah marhobas duluan nasi kurang, minum kurang,di urusnya, piring gelas kotor diangkatnya. salut kali aku melihat udaku itu yg marhobas. yg kulihat sisi positifnya marhobas itu sama dengan melayani. Ingat apa kata Yesus Yg terbesar itu yg harus melayani. jadi kak itu sebuah anugrah buat kk yg jd boru. karna kua pun berda di posisi boru dari SISI IBU walaupun aku ga setuju dgn adat batak ttg pembagian warisan klo untuk boru. krn dikit. tapi itu tergantung keluarga masing2. masih banyak kebanggaan dari suku batak. sa semua suku di indonesia yang punya tulisan asli. terus kalender sendiri. suku batak jawa saj ygterkenal punya tulisan asli dan penanggalan asli yg tidak diambil dari budaya arab ato india jadi jelas terbukti memang orang2 batak itu pintar2 tapi sapa yg mau jamin ga ada yg bodoh banyak juga yg bodoh, yg bodoh ini lah yg ga mau belajar dan keras kepala dan mau menjelekjelek kan dirinya sendiri. bangga menjadi batak buakan karna tradisi ato, karna Tuhan yg menempatkan aku disini makanya aku bangga.

  3. kalau saya baca dari beberapa tulisan anda mengenai “batak” saya melihat sering kali anda merasa kecewa dan tidak nyaman dengan beberapa hal yang telah anda alami..
    Namun disisi lain saya melihat anda adalah orang yang melakukan adat batak dan anda menjalankan kewajiban anda dengan baik (terutama ketika anda menjadi “parhobas”.
    Yang menjadi menarik ketika anda menulis “Jangan kawin dengan orang Batak” justru suami anda adalah orang Batak. Masih menurut saya, menyimpulkan tulisan anda, Suami anda adalah BATAK SEJATI.
    Pada dasarnya saya sangat tidak sependapat dengan pernyataan anda yang hanya meliahat “Batak” dari sisi negatifnya saja, tetapi setelah membaca beberapa tulisan anda saya menjadi “terbuka” bahwa memang ada beberapa hal yang harus diperbaiki dari perilaku masyarakat batak dewasa ini yang cenderung menjauh dari nilai Esensial dari ADAT BATAK itu sendiri.
    Semoga kekecewaan anda terhadap “Batak” tidak berlangsung selamanya dan saya berharap nantinya akan ada tulisan anda yang berjudul
    “MENIKAH DENGAN BATAK? WHY NOT!

  4. Beginilah cara ito ini membangun orang batak, saya yakin di hatimu yang terdalam begitu mencintai rakyat batak, apalagi ito ini seorang rohaniawan ternyata. Kata2nya kasar seperti cambuk( maklum orang batak) tp hatinya lembut dan penyampaiannya pintar( wih… batak x lah).
    Tulisan yang sangat mencerahkan.Mudah2an makin banyak orang batak yang baca tulisan ito.

  5. haloo ibu…
    Sesama boru batak, saya sangat ingin sekali bertemu dgn ibu. Saya penasaran dgn cerita2 ibu di blog ini, pengen ngobrol lgs. Hopefully oneday… 🙂
    Gbu

  6. Tersenyum juga baca artikel ito…bisa saya pahami opini pribadi yang terbentuk krn kondisi adat istiadat sehingga menimbulkan pandangan yg spt itu……saya juga pernah memandang miring tentang adat istiadat kita itu…tapi…sebenarnya baik koq…coba renungin secara perlahan dan ambil sisi positifnya…saya sendiri menikah dengan boru jawa yg diadatkan, setelah saya menikah akhirnya saya paham maksud dari adat istiadat dari suku kita ini…percayalah ternyata baik adanya…terutama dari sisi persaudaraannya…
    Justru suku batak memerlukan orang-orang spt ito utk membangun nilai-nilai positif yg sebenarnya sdh ada…aturan-aturan dlm adat batak ternyata melingkar utk mengikat tali persaudaraan dan kehormatan diantara keturunannya…

    GBU

  7. Horass…
    Menarik sekali pembicaraan topik ini.. Walaupun saya bukan orang Batak, tp pacar saya Batak asli yg bkerja di Jakarta.. Saya sedikit banyak memiliki pengalaman yg juga dialami Ito2/lae2 disini.. wlapun tak seberat Ito penulis blog ini..hehehe
    Saya akan melihat hal ini menurut kacamata saya sbg org Kristen.. (Mohon maaf bagi yg bukan Kristen ya 🙂 …)

    Pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan utk berbuat baik. Manusia juga memiliki kecenderungan utk mencari sebuah ‘kebenaran’. (Yang ga jarang juga mereka malah jadi sesat)… Maka dari itulah disepakati dan dibuatlah adat istiadat dan kebudayaan yg mencoba utk menjadi “kacamata kuda” bagi manusia supaya dia bisa menjaga kita utk tetap melakukan apa yg telah disepakati bersama sebagai sebuah ‘kebaikan dan kebenaran’. Esensi dari sebuah adat dan budaya yg dibuat manusia pada dasarnya memiliki nilai2 yg baik dan luhur. Tp belum tentu ‘benar’.

    Seringkali kita melupakan fakta bahwa manusia sudah jatuh dalam dosa.. Mereka nggak akan pernah bisa menjadi ‘benar’ walaupun bisa mereka berbuat baik. Tp tidak akan pernah sempurna.

    Utk itu seharusnya kita sbg umat Kristiani (karna banyak org Batak beragama Kristen) harus nya mendahulukan nilai2 kebenaran menurut Alkitab diatas adat ataupun budaya etnis kita TANPA MENINGGALKAN nya begitu saja..
    Saya percaya adat dan budaya Batak adalah karunia Tuhan yg perlu dilestarikan begitu juga dgn adat dan budaya yg lain, tapi jangan sampai hal tersebut menajdi segala galanya bagi kita.. bahkan di atas KASIH.

    Menurut saya adat dan budaya Kristen no.1.. Apa itu adat budaya Kristen? 9 buah Roh. (Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri)

    Kita mengaku Kristen, tapi ketika kita cuma punya anak perempuan yg ga bisa meneruskan Marga kita kecewa n kurang care dgn dia..apakah itu kasih?

    Kita mengaku Kristen, tp ketika ito ini curhat mengenai pengalaman pahitnya, kita pada marah-marah , maki2 n bahkan ada yg mengancam. Apakah itu kesabaran?

    Kita mengaku Kristen tp kita selalu menganggap suku lain tidak sehebat kita. Kita cenderung eksklusif. Susah untuk menerima suku lain. Apakah itu kebaikan?

    Kita mengaku Kristen tp ketika kita yg Batak selalu beranggapan bahwa Batak itu harus keras. Lalu bagaimana dgn kelemahlembutan?

    Kita habis2an waktu mengadakan pesta adat, sinamot dll . tp kurang memperhatikan sesama kita yg kesusahan. (Pesta adat menurut saya boleh asalkan semampu kita yg penting esensi nya).

    Kita mengaku kristen tp masih merokok ,minum bir banyak2. Bukankah tubuh kita bait Tuhan. Dimanakah penguasaan diri kita?

    Jadi betul bahwa yg salah BUKAN adat nya. Tp bagaimana orang2 nya yg memperagakan adat tsb. Karena kalau saya amati dalihan na tolu esensi nya bagus.. Tapi tetap itu di bawah nilai2 kebenaran Alkitabiah. Yg tidak sesuai dgn Alkitab hrus ditinggalkan. Karena kebenaran cm ada satu dr Tuhan Yesus.

    Kesimpulannya, Ito mungkin kecewa dgn orang2 Batak di sekeliling ito. Tp saran saya jangan pernah melihat “manusia”. Krena manusia pasti selalu dapat mengecewakan. Liat Tuhan dan kebenaranNya.

    Bersyukur dan bangga lah dgn Batak yg sudah diberikan Tuhan kepada Ito.. Batak itu baik begitu juga dgn suku lain.

    Tuhan memberkati semua..
    Horass!

  8. Eike batak juga cyinnnn.
    Cuma udh mengakar di jakarta dan di jepang. Banyak yg negatif dan positif sih di tiap adat istiadat, termasuk batak.
    Cuma aja kadang ada momentum traumatis yg bikin kita jd makin sebal dan antipati sama adat istiadat tertentu. dulu sering sakit hati juga kalo denger omongan2 miring, nyuruh, maksain,ngejek ala2 org siantar (tiap balik kampung sih emang kesono soalnya) .tapi as time goes by dan maturity level dan kecerdasan eike juga bertambah seiring dgn makin luasnya pergaulan, makin asik deh tuh kita pilah pilah mana yg bisa ditiru, dikompromi, dicuekin, didumelin dalem hati, dll. Kalo kata cinta laura sih: i dont care, just wanna get chill, all i know colombia is way better than stanford, whatsoever, bla bla bla( cinta laura tuh kalo diwawancara ga pernah nyambung dan ujung2 nya doi bragging kampusnya hahaha) .saya kalo plesiran ke luar negeri yg developed countries sih nemunya batak2 kualitas yahud. Beda bgt ama batak yg suka maki2 saya di kopaja kalo ngasih receh kurang dikit krn emang saya ga pernah tau harga eceran naik kopaja. So , bawa asik aja. Peace love and horas bah!!

  9. Halo, penulis. Saya baru tau nih ada sampai chapter 3. Macam LOTR..hehehe

    Tapi saya bisa memahami alasannya. Ibarat mengulang mata kuliah. Terus memberi kuliah yang sama karena yg dididik gak lulus2..ga paham2..pelajarannya gak masuk2..entah karena sdh kelewat “cerdas”..atau karena terlalu keras tengkuk a.k.a bebal (jreng! jreng!)

    Kebebalan / keras tengkuk / stiff-neck sayangnya merupakan salah satu kekurangan yang mengakar di mayoritas suku batak – atau “kualitas” (???) menurut beberapa orang.

    Bahkan sepertinya beberapa yang tersasar ke blog ini hanya cukup membaca judulnya yang provokatif saja sdh cukup menjadi bekal menjalankan kewajiban (saya lebih memilih kata “misi”) untuk merespon. Mereka2 ini datang dengan “gelas” yang sudah terisi penuh. Isinya pun air mendidih. Dalam amarah yg meluap2 tak satupun punya hikmat utk menangkap makna yg tersirat. Semua didikan hanya akan tumpah dan terbuang percuma.

    Untuk menyingkapi artikel ini tanpa terlihat bodoh diperlukan hikmat. Sayangnya hikmat dan amarah tidak dapat ditempatkan di satu ruangan. Amarah hanya dapat akur dalam satu ruang dengan kebodohan.

    Bicara tentang kebodohan,pengalaman pribadi saya baru2 ini boleh jadi contoh. Kemarin malam saya memberikan respon atas posting salah seorang saudara di sebuah faith-based group (grup rohani) yang dilontarkan ybs kepada admin. Sebatas saran mengenai prosedur grouping tepatnya. Masukan saya sama sekali tidak bermaksud menimbulkan perbantahan karena bukan topik yg harus diperdebatkan pula. Namun entah kenapa, si member pembuat posting tiba2 meluap2 ke saya. Dari mengajak “ketemuan” sampai mengata2i “setan” dan “bodoh”. Karena saya ga ngerti dan menurut saya aneh, saya cuekin. Tapi ybs makin gencar. Saya pikir waktu itu ada yg “kesambet”. Jadi utk menghidari perdebatan, saya balas posting caciannya dengan doa dalam bahasa inggris (karena menurut ybs saya ini bodoh dan dia pintar. Ya pastinya org pintar paham dong..)
    Isi posting saya mengatakan bahwa saya tidak keberatan jadi bodoh di mata manusia tapi indah di mata Allah, toh semua manusia itu bodoh dan hikmat manusia adalah kesia-siaan di mata Allah. Sebuah penghiburan utk diri saya dan nasihat utk ybs. Lalu saya akhiri dgn “JBu” (Jesus Blesses u).
    Ternyata ga selesai sampai di situ, muncul lagi komentarnya “anda ini orang bodoh! Nulis GBU aja gak bisa. Orang pintar (saya) juga tau”……(????!!)
    Sambil geleng2 saya coba pahami perkataannya. Kalau maksudnya saya benar2 tolol, harusnya kata2 itu diubah jadi “..org bodoh juga tau”…
    Jadi kalau katanya org pintar juga tau, dan ybs tdk paham, artinya orang ini mengaku tdk termasuk kategori “pintar”…
    Tapi setelah saya pikir2, tiba2 saya seperti ditunjukkan akar permasalahannya. Saya pilih pakai hikmat Allah dibanding amarah.
    Saya lihat respon terakhir saya sebelum momen “all hell brakes loose” itu. Dan beginilah penggalan tulisan saya tsb.

    “……..maaf ya kalau terlalu straight-forward..maklum orang Batak..hehehe.JBus all”

    Apa yang salah ya dgn itu?..
    Ooh..ternyata karena ada kata “org batak” sedikit orang tsb lsg tersinggung…
    padahaaaal…maksud saya:

    “….maaf ya kalau (saya) terlalu straight-forward (, kak admin)..maklum (saya) orang Batak..hehehe. JBus all”……….

    Setelah saya konfirmasikan ke org tsb, boro2 ada respon..lsg bungkam..hilang dari peredaran…ternyata hanya baca kata “batak”, mode “bantai” ybs td lsg ON. Ga sempet lagi pahami konteks kalimat. Ibaratnya ybs tadi seperti turis mabuk yg mampir ke Onsen (permandian air panas Jepang) lalu masuk, telanjang bulat dan langsung menceburkan diri. Gak sempat baca plang “onna no yu” (khusus wanita)…Tamat lah..hehehe

    Itulah juga mengapa banyak yg kasih respon ala “Taman safari”, jamban, dan lampu merah. Saya sih yakin yg posting seperti itu kalaupun Batak, marganya satwa. Karena yg digunakan hanya insting mempertahankan diri dan kawanannya. Kalau manusia yg pakai akal budi akan gembira menerima didikan semacam artikel blog ini. Simak, ambil momen utk refleksi, beri empati dgn menarik ke diri “seandainya isi hati ibu dan saudara2 perempuanku yg aku kasihi juga sama seperti si penulis, gimana ya?..”
    Alih2 begitu, ini hanya baca judul, lsg “WTF??!!!” terus kontak ke temen2 satu lapo. Nama lapo-nya “Parbada”. Ajak utk “serbu” beramai-ramai. “Salibkan diaa!!!”. Yang sdh mendarah daging meskipun buruk jangan sampe diomongin. Apalagi sampai mau dirombak. Kalaupun ada yg jd whistle- blower langsung “dirajam” beramai-ramai biar dianggap “penjahat” sama pembaca lainnya. Dalam prosesnya mereka malah mempertontonkan kebodohan mereka sendiri.

    Semua misi membela diri ini sia2. Karena dari tingkah laku lah orang lain melihat, mengukur dan mengambil sikap. Menurut teman2 di suku lain kita, suku Batak ini udah macam mafia. Itulah yg disebut stereotipe. Komentar2 galak malah jadi justifikasi atas penilaian tsb.
    Coba pikir komentar macam di bawah ini.
    “Orang Batak gak ada yg kasar. Kami gak seperti seperti. Bohong itu! Dikarang2nya sama si setan ini. Dasar kau, anj*ng, b*bi! Mati saja kau! naso maradat!”…

    Hayo..Gimana ga bego tuh..
    Btw, itu contoh aja. Bacanya aja geli kan..

    Menurut saya, artikel blog ini justru membantu perbaikan imej suku kita kok (Batak). Mereka para penonton di luar lapangan jadi bisa lihat adanya koreksi, introspeksi dan peluang utk reformasi. Juga kesempatan utk menunjukkan bahwa kaum perempuan di suku batak punya suara yg diperhatikan dan dihargai. Bukan warga kelas dua, atau sekedar “mesin reproduksi” ataupun “mesin cuci”. Lebih mantap lagi kalau dijadikan agents of change ke arah yang positif. Supaya terkikis pandangan “stereotype” negatif yg selama ini mereka percaya (mereka = sahabat2 dari suku lain). Consider it (as) a bitter pill to swallow in order to get better. Horas!

    • Sangat setuju dengan komentar ini!! 👍👍👍👍.
      Diskusi ini justru membawa kebaikan jika disingkapi dengan open minded clear mind dan kesabaran.
      JBus all

  10. Sebenarnya kaka hanya trauma dan malas untung mengakui diri sebagai orang dari suku batak karna sederet kekurangan, kelemahan yang sikap yang hanya dilakukan oleh beberapa orang. Karna saya sendiri sangat yakin masih ada kok orang batak yang mampu bertutur kata baik, tersenyum, menggucapkan ‘maaf’ ‘ terimakasih’ walaupun kebanyakan gengsi diri untuk mengucapkan hal tsb. Aku gak 100 % setuju sama statement kaka tapi bukan berarti aku gak setuju 100% , ada benarnya tapi dilakukan hanya segelintir org. Kita doakan saja biar mereka berubah menjadi yang lebih baik. Tuhan Memberkati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s