Softly & Slowly

A fast-mover who successfully do her things slowly!

Boru = Parhobas (?)

Pernikahan adik gw adalah terakhir kalinya gw harus kerja sebagai parhobas.  Adik gw empat, seharusnya empat kali gw kerja jadi parhobas. Waktu adik gw yang cowo menikah, gw ribet karena di setiap tempat gw lewat, orang-orang mengeluh, ga dapet minum lah, ga dapet lapet lah, apalah, malah suami gw dijambret tangannya dipaksa beliin rokok.  Gw sendiri harus bolak-balik ke kantin gedung ~~which pasang harga getok bin mahal banget mark-up 2000% dari di luar~~  untuk beli aqua karena stock selalu kosong. Gw ga dapet makan siang, ga dapet lapet, seharian engga makan, minum dikit dan besoknya gw langsung panas tinggi akibat infeksi.

Terus terang gw kaget waktu itu. Kok perlakuan  tamu pesta terhadap parhobas segitu nya ya? Apa semua orang (batak) kalo jadi tamu pesta berperilaku seperti itu, ataukah hanya yang kebetulan dateng di pesta gw ini aja (which is aka ‘sodara-sodara’ gw)?

Pengalaman pertama gw waktu adik perempuan gw menikah, di Bandung, saat Daddy masih hidup ga sepahit itu.  Jangankan suruh beli rokok, gw disuruh duduk duduk aja jaga anak gw sementara Daddy punya sepasukan boru untuk marhobas.  Adik gw yang ketiga menikah di Sumatera jadi kita ga ikutan. Pengalaman berikutnya, ya pernikahan adik bungsu yang baru kemarin.  Mungkin karena udah cukup antisipatif maka gw ga tersinggung lagi kalo gw dicegat setiap lewat dengan berbagai keluhan engga kebagian apa-apapun.

Tiga pernikahan, tiga audience yang hampir sama, dan tiga audience yang berbeda.  Maksut gw, pihak keluarga gw yang boleh jadi kebanyakan sama dan keluarga ipar yang samasekali berbeda. Gw mengambil kesimpulan dini bahwa memang ternyata orang batak punya kultur yang tidak cocok dengan harkat pesta itu sendiri.  Kebanyakan orang, dalam pesta,  saat dia menjadi raja, ia merasa bahwa dia harus dilayani dengan seenak-enaknya sesuai dengan kemauan dia.  Tidak lagi perduli bahwa pihak parhobas juga adalah manusia yang sama harkat dan derajatnya dengan dia.  Padahal pesta itu suatu bentuk yang baik dari kekeluargaan yang dibentuk sedemikian rupa hingga semua pihak yang terlibat berinteraksi cukup dalam, lebih dari sekedar hai dan goodbye.

Ah, lanjut dulu tentang cerita boru si parhobas ini.  Gw protes ke suami: kenapa sih kalo acara keluarga gw, gw jadi parhobas, acara keluarga kamu, gw juga jadi parhobas. Dimana letak keadilan? *lebay*  Tapi ini kenyataan.  Pernah acara pernikahan abangnya suami gw. Tentunya walaupun gw masih adiknya pengantin, tapi karena sudah menikah, gw berhak duduk berderet-deret di depan, di samping bapak mertua.  Ga nyana, acara pernikahan ga bisa dimulai karena kepala kerbau belum tiba di tempat acara. Suami gw lempar jas-nya lalu pergi ke tempat dimana ada si kepala kerbau, yang ternyata masih dimasak, lalu menggulung lengan baju dan membantu memasak dan memproses dan membawa si kepala ke tempat pesta.  Acara makan akhirnya dimulai tanpa si kepala kerbau, dan lamaaaa sekali gw hanya sedih sendiri karena suami gw ga ada, sibuk ini dan itu, ngurus ini dan ngurus itu sepanjang acara pernikahan.  Dia dan gw sibuk mengurus segala sesuatu yang harusnya dikerjakan oleh si boru. Sementara si boru ~~ipar perempuan gw dan suaminya~~ duduk-duduk manis dan makan dan ngobrol dengan nyaman.

Lain kali, mertua gw meninggal.  Sehari sebelum penguburan, gw pergi kesini dan kesitu dan kemana-mana untuk mengurus pembelian peti, persediaan makanan dan minuman untuk anak-anak, baju-baju yang kurang, menemui saudara dan lain sebagainya.  Sehari sesudahnya, merental mobil, membayar katering dan lain sebagainya.  Sementara si pihak boru duduk tenang, mengobrol dan mengatur sana sini dengan suara keras, sampe tengah malem dan bikin orang ga bisa tidur.  Belum lagi suara kerasnya ngatur-ngatur di setiap kesempatan, semua orang yang pernah dateng pasti agak bingung kenapa pihak boru suaranya lebih keras daripada pihak anak yang menyandang marga.

Wajar dong kalo gw merasa tidak adil? Ketidakadilan yang aneh ~~dan bukannya gw menolak untuk sibuk-sibuk, which is part of my voyage in this world~~

Lebih dalem dari itu semua adalah saat gw sebagai boru dianggep bukan hanya sebagai parhobas, sang golongan pekerja, tetapi secara harafiah sebagaimana kebanyakan priyayi memperlakukan pekerja, seperti majikan memperlakukan budak.  Dengan tanpa penghormatan.  Dianggap bukan siapa-siapa, bukan apa-apa, selain obyek untuk disuruh-suruh.  Adat istiadat tentunya diciptakan demi kebaikan. Bukan demi melegalkan sifat-sifat yang meninggikan ego sendiri.  Entah kapan gw bisa melihat adanya perbaikan.

2 Comments»

  ikabundajoyken wrote @

hai salam kenal, ini cerita ku ketika Marhobas.. keep give your best yah.. GOD always beside us. ^_*
http://ikabundajoyken.wordpress.com/2013/10/22/parhobas/

  tommy simatupang wrote @

boru (yang sudah menikah)=parhobas adalah memang benar sesuai adat batak. Dan bagi semua yang menikah pasti akan pernah dalam posisi sebagai boru dan itu tidak bisa disangkal maupun ditolak dalam siklus dalihan natolu. Prinsip dalam dalihan natolu yang dibuat oleh nenek moyang kita adalah sangat mengikat dan saling ketergantungan dan saling menghormati.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: