Softly & Slowly

A fast-mover who successfully do her things slowly!

Rumah Itu Bukan Rumah Saya

Untuk bermalam-malam selama tahun-tahun saya meninggalkan masa remaja, saya bermimpi mengenai sebuah rumah. Rumah bertingkat dua yang dibangun seadanya dan meninggalkan banyak bekas di sepanjang rajutan berkas neuron yang menyimpan memori.

Jendela-jendela nako selalu muncul di mimpi saya.  Entah mengapa jendela nako menjadi pilihan pengaturan udara di rumah seluas 200 meter persegi itu. Namun, pembuka jendela nako yang selalu pasti akan macet setelah pemakaian beberapa bulan menjadi sesuatu yang sentimentil setiap kali saya memandang jendela berkaca nako dimanapun. Beberapa bulan setelah rumah itu selesai direnovasi, pencuri masuk malam-malam ke dalam rumah dan mengambil barang berharga seperti televisi, stereo set dan golf set. Tidak seorang pun mendengar pencuri tersebut masuk melalui cara membongkar salah satu jaringan kaca nako yang memang mudah dibuka bahkan dengan alat yang sederhana.

Gorden di ruang tamu menutup sebuah jendela kaca besar yang menghadap keluar rumah.  Saya tidak menyukai jendela kaca itu.  Saat hari gelap, rasanya semua penduduk dunia bisa melihat aktivitas penghuni rumah melalui layar kaca jendela itu.  Saya membiasakan diri untuk menutup gorden tersebut pada saat matahari mulai terbenam.  Setelah itu baru saya boleh merasa tenang duduk memainkan piano yang terletak di ruang tamu. Saya merasa takut sementara saya duduk menghadap piano, sementara saya tidak bisa melihat ada orang yang sewaktu-waktu berdiri di luar jendela tersebut, lalu hal itu terjadi, karena seringkali ada tamu yang datang berkunjung.  Namun ibu saya tidak menyukainya.  Menutup gorden itu maksud saya.  Jika saya tidak terlebih dahulu melakukannya, maka seorang saudara saya, atau ibu saya akan melakukannya setelah jam 9 malam, saat semua pintu dikunci dan lampu dimatikan.

Saya tidak menggolongkan diri saya penakut, namun ada saat-saat dimana saya harus turun dari kamar saya di lantai 2 yang berlantai tripleks, melewati deretan tangga kayu yang curam dengan pemandangan ke arah sepotong bidang yang harusnya menjadi bagian plafon tertutup namun dibiarkan terbuka dan memberikan pandangan yang gelap dan sedikit spooky setiap kali kami harus menuruni tangga, kemudian melewati ruang tamu yang gelap dengan gorden terbuka, saat-saat itulah saya memutuskan untuk berlari. Secepat mungkin menutup gorden dalam hitungan 3 detik dan mengatakan kepada diri saya sendiri yang terengah, sudah aman, setelahnya.

Tangga, plafon terbuka dan gorden tersebut menjadi bagian dari mimpi buruk saya saat saya masih remaja, dan menjadi mimpi memori saya sekarang.

Seringkali dalam mimpi saya kembali ke kamar saya yang sempit.  Satu ranjang single, satu meja belajar dan sebuah lemari besar yang menampung semua harta saya dari pakaian hingga buku. Ada dua jendela di kamar saya. Satu jendela kaca yang menampilkan pemandangan yang cukup menyenangkan hingga ke puncak gunung burangrang nun jauh di sana, dan sebuah jendela kaca nako yang setiap ditutup masih menyisakan sesenti celah yang memungkinkan udara dan suara masuk. Di dalam kamar tersebut saya pernah bermimpi tentang masa depan saya.  Sambil saya bisa mendengar suara-suara adik saya dari kamar sebelah karena partisi kamar yang tidak tertutup sepenuhnya, sambil saya menggantungkan lukisan puncak Burangrang yang saya lukis menggunakan cat air, atau koleksi kerang yang saya pungut dari Carita, di koridor yang menghubungkan kedua kamar kami. Saat saya kembali kesana di dalam mimpi memori saya, sebutir air mata pasti jatuh, entah di dalam mimpi atau memang membasahi alas tidur saya.  Menyadari, bahwa semua mimpi masa muda saya tidak satupun yang menjadi kenyataan.

Di bagian paling belakang rumah dibangun dapur dan kamar mandi.  Saya mengalami masa saat rumah itu belum direnovasi dan kami harus melewati sebuah koridor yang gelap untuk mencapai kamar mandi.  Kamar mandi-nya juga remang-remang dengan bak air besar dan sebuah wc jongkok peninggalan khas belanda dan dinding-dinding yang sudah berlubang membuat angin leluasa masuk. Setelah rumah direnovasi, koridor gelap itu menjadi gudang tempat penyimpangan barang-barang yang sudah tidak diperlukan atau untuk kamar pembantu.  Koridor itu berbatasan langsung dengan rumah tetangga yang setiap pagi suka sekali memasang lagu-lagu pop terbaru keras-keras. Tidak berjendela dan berlangit-langit tinggi. Di dalam mimpi saya sekat pembatas itu terbuka dan membuka sebuah pemandangan mengerikan tentang tembok berlubang seperti tempat para pengungsi perang berlindung.

Kamar mandi pertama kami mempunyai bak yang besar, sebuah wc jongkok, water heater dan sebuah jendela kecil untuk ventilasi di atas bak.  Saya tidak pernah menyukai jendela itu.  Saya membayangkan ada orang yang sedang mengintip melalui jendela itu. Agak tidak mungkin karena letaknya di atas kepala orang yang berjalan namun saya tetap parno.  Bak itu sendiri sewaktu-waktu menggantikan fungsi kolam renang.  Berjam-jam berendam di dalamnya menjadi hiburan sementara menunggu sampai ada yang menggedor pintu untuk bergantian menggunakan kamar mandi. Setelah beberapa tahun, kamar mandi itu direnovasi dan menghilanglah bak besar itu.

Ada dua kamar mandi dibangun di rumah itu, namun hanya satu yang menjadi favorit.  Yang satu lagi less favorable for many reason. Dari dapur sebuah tangga dibangun menuju ke tempat jemuran baju.  Saya pertama sekali mengetahui bahwa saya penderita acrophobia setelah naik tangga ini. Sampai di atap seng yang menjadi alas jemuran *dan panas di kaki pada waktu siang* saya merasa gamang dan mau jatuh.  Meniti atap ini kami bisa mencapai segala penjuru atap rumah. Saya tidak pernah berani.  Tidak jauh di atas saya tergantung kabel-kabel listrik, saya selalu kuatir dengan kegamangan saya, saat saya meniti atap tersebut saya akan refleks meraih kabel itu untuk berpegangan. Seharusnya saya tahu itu tidak mungkin terjadi.

Di samping rumah itu pernah tumbuh pohon jambu yang unik. Namanya jambu mawar. Saat pohon jambu itu tidak berbuah saya suka memanjat dan duduk di antara batang-batangnya sekedar menikmati angin semilir.  Tidak terlalu jauh memanjat tentunya mengingat saya takut ketinggian. Saat berbuah saya suka menikmati buahnya yang segar dan wangi. Pohon itu favorit saya. Ada pohon jambu batu juga yang tumbuh di depan dan samping rumah, namun saya lebih sering merasa gerah karena anak-anak kecil entah darimana datang memanjat dan mengambil buah jambu tersebut. Perasaan damai memiliki pohon jambu itu tidak pernah tergantikan hingga sekarang.

Dalam mimpi saya saya mengunjungi kamar mandi berbak besar itu, mengisi airnya, membuka sumbatnya dan membiarkan semua air mengalir keluar. Mungkin seperti itulah saya mengelola perasaan saya. Setelah hati saya dipenuhi oleh memori masa lalu saya, ini adalah saatnya saya membuka sumbat dan membiarkan semua itu mengalir keluar. Mengosongkannya. Seperti waktu lalu. Membiarkannya direnovasi.

Sejak bertahun-tahun yang lalu saya yang tidak sentimental memahami bahwa ada suatu perasaan rindu yang membuat mimpi saya selalu berputar di rumah itu. Mengulang masa saya tidak bisa tidur menantikan sebuah suara klakson yang menandakan saya harus membuka garasi karena ayah saya pulang.  Mengulang masa saya bangun jam 5 pagi, membuka pintu rumah dan berlari keliling blok dalam udara dingin dan sepi kota kecil dengan sedikit kendaraan. Merindukan suatu tempat dimana saya boleh berangan-angan dengan luas dan selalu berharap. Suatu tempat dimana saya tidak menyadari bahwa dunia ini sesungguhnya kejam.

Saya tidak bisa lagi kembali ke rumah itu, betapapun saya merindukannya. Rumah itu sudah terjual.

Menggerus sisi hati saya adalah saat saya merindukan rumah itu, saya sebenarnya tidak memilikinya.  Walaupun saya dibesarkan di rumah itu, tidak sepotongpun, baik pohon jambunya, atau jendelanya, atau gordennya secuilpun boleh saya miliki. Miris rasa.  Sekeping uang penjualannya tidak boleh saya minta.  Saya pernah membersihkannya, melap jendela dan mengepel lantainya, namun saya tidak berhak atasnya. Saya pernah tidur di dalamnya, menangis di salah satu ruangnya, namun itu bukan rumah saya.

No comments yet»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: