Softly & Slowly

A fast-mover who successfully do her things slowly!

Dendam

Baru akhir-akhir ini saya menyadari bahwa saya sesungguhnya pendendam.

Dan orang pendendam susah move on.

And that’s exactly me.

Saya selalu mencoba mengatakan pada diri saya sendiri untuk bertanggungjawab untuk pilihan-pilihan yang telah saya buat. I try my best for that. Right or wrong is another story, but once I make up my mind I will take the consequences.

It is that really true?

I realize now, that it is not. Because saya masih dendam.

Here is the story. Saya selalu menyalahkan mami saya untuk hidup saya sekarang. Apa yang salah? Sebenarnya tidak ada. Jika saya menilai hidup saya, pencapaian saya tidak lebih buruk dari kebanyakan orang. SD, SMP, SMA selesai dengan memuaskan. Saya tidak sembarang bilang memuaskan, memang begitulah adanya. Saya lulus dari SMP dan SMA favorite pada masa itu, yang passing grade masuknya dipasang setinggi langit.

Masalah mulai muncul saat saya mau masuk kuliah. Yang ngetren tentunya adalah melalui saringan masuk perguruan tinggi negeri atau jaman saya disebut UMPTN.  Yang ngetren itu saya tidak lulus. Jadi saya luntang-lantung. Kenapa? Saya tidak menempuh ujian masuk universitas swasta manapun karena keyakinan akan lulus UMPTN.

Dalam ketidakjelasan, untungnya masih ada universitas yang membuka ujian masuk gelombang II. Saya buru-buru mendaftar dan untungnya diterima. Saat itu saya masih ingat betul, Daddy saya sedang bertugas ke luar negeri, urusan konferensi atau apa. Hanya mami di rumah, dan beliau samasekali tidak membantu saya membuat pilihan yang mantap. Yang berulangkali dikeluhkannya adalah: Mami gak ada uang, mahal sekali uang masuknya. Tapi terserah kaulah inang, mami akan usahakan. Ya, mahal sekali sih, entah darimana mami mencari uang.

Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orangtua, saya sangat terpengaruh dan tidak bisa berpikir jernih. Sejak saya masih SD mami saya selalu mendengung-dengungkan betapa tidak punya uangnya beliau sehingga saya tidak mendapat cukup baju. Serius, saya merasa tidak mendapat cukup baju. Celana jeans dan kaos TShirt saya adalah sumbangan dari organisasi Dorkas yang mengirim pakaian bekas ke gereja-gereja. Tidak heran modelnya aneh-aneh dan warnanya juga ajaib. Tapi, itulah yang saya kenakan di saat saya remaja. Tidak pernah saya membeli yang sedang trendy dari department store. Dan keputusan saya saat itulah yang saya sesali hingga hari ini.

Karena betapa sayangnya saya sama mami, saya memutuskan tidak jadi kuliah di kedokteran *yang menurutnya mahal itu, dan banting setir ke universitas tidak berkelas yang bisa masuk tanpa ujian saringan.

Sepulangnya Daddy dari luar negeri, beliau cukup kaget mendapati saya kuliah di tempat berasrama tersebut. Komentar Daddy yang masih saya ingat: uang kuliah disitu dengan di kedokteran tidak terlalu banyak bedanya.

Tapi nasi sudah menjadi bubur. Saya sudah membayar uang kuliah satu semester dengan aim akan melanjutkan ke luar negeri pada tahun kedua di jurusan yang saya minati.

Setahun berlalu dan saya menagih janji mami untuk mengirim saya ke luar negeri. Lagi-lagi tembang kenangan tidak punya duit dinyanyikan dan lagi-lagi saya terpesona. Jadi saya tidak jadi keluar negeri. Lebih parah lagi, saya banting setir dari jurusan sains ke jurusan social studies. Tadinya saya mau jadi dokter tapi menurut mami saya lebih baik saya jadi akuntan.

Sampai detik ini saya menyesali keputusan tersebut. Menyesali mengapa saya tidak matang untuk memutuskan. Menyesali mengapa saya tidak mencari second, third, fourth opinion tapi hanya mendengarkan mami saja. Karena, ternyata orangtua saya cukup punya uang untuk menyekolahkan saya kuliah dimana saja, theoretically.  Pada saat saya kuliah tingkat tiga, orangtua saya memiliki tiga buah mobil. Bukan hitungan yang ringan untuk pengeluaran. Dan saat itu adik saya juga sudah mulai kuliah, di universitas-universitas swasta yang lain. Kami tidak kekurangan.

Mengapa saya menyesali keputusan saya tersebut? Karena 1. saya bersusah payah mencari pekerjaan yang cocok untuk saya. Bolak balik saya membuat CV dan mengirimkan lamaran kemana-mana. Ditolak dari mana-mana. Cukup menyedihkan. Dari ratusan lamaran, hanya satu yang direspon, dan saat wawancara rasanya seperti mendidih karena apapun yang saya ceritakan dianggap tidak menarik.  2. Saya berkeliling dari satu profesi ke profesi lainnya. Dari akuntan, menjadi sekretaris, menjadi program officer, menjadi trainer, menjadi technical officer sampai sekarang menjadi housing coordinator. Tidak satupun sesuai dengan panggilan saya, walaupun semua nya bisa saya kerjakan dengan baik. Sama dengan kuliah akuntansi yang IP nya selalu diatas 3.5, pekerjaan saya juga selalu rapornya A. Tapi passion? Don’t say.  3. Saya sedih melihat teman-teman saya yang sudah mencapai jabatan tinggi karena sejak awal sudah bekerja di bidangnya. Ibaratnya, mereka sudah matang, saya masih menggali. Mereka bergaji 9 digit sebulan, sedangkan saya? ah, saya mah apah, jauh sekali, baru dua tahun ini gaji saya agak lumayanan. Biasanya cuma sedikit diatas UMR.  4. Walaupun saya sudah mengorbankan mimpi dan cita-cita saya sedemikian, mami saya tetap tidak menyayangi saya.

Seharusnya saya bertanggungjawab. Toh, walaupun saya dipengaruhi, saya juga yang telah membuat keputusan tersebut. Seharusnya saya tidak ngoceh-ngoceh dan menyesali masa lalu tersebut apalagi bolak-balik menyalahkan mami saya.

Tapi itulah yang saya lakukan, karena saya masih dendam.

Saya dendam karena mami tidak pernah mengatakan saya cantik, atau manis atau pintar atau apalah. Saya mendengar adik-adik saya dipuji-puji. Si cowo kerja di BUMN, si cewe sedang ambil S2, si bungsu pinter nyanyi sampe rekaman. Saya? Sayah mah apah. Ironis. Saya anak tertua, cuma saya yang masuk SMA favorit di kota saya, cuma saya yang bisa main piano dan biola, dan sekarang cuma saya yang masih tampak muda dan terjaga — adik-adik perempuan saya sudah persis mak gondut, bukan menghina, sekedar membandingkan — tapi saya tidak pernah dibanggakan. Saya tidak pernah dipuji. Percuma semua jerih payah saya membahagiakan orangtua dimasa muda. Percuma saya mengorbankan mimpi, percuma saya menunggui mami dan daddy pulang entah dari mana untuk membukakan pintu hinggal jam 11 malam (adik-adik saya tidak ada yang mau). Tidak ada gunanya semua.

Saya dendam karena mami tidak pernah menghargai saya. Setiap bertemu orang baru, entah muda atau tua, saya disuruh menyalam. Di usia saya yang kepala 4, saya sungguh sedih diperlakukan seperti anak umur 5 tahun dan dikatai: Si Annie ini pemalu. Saya tidak pemalu. Saya punya cara saya tersendiri yang berbeda dengan mami saya yang serba kepo dan mau tau urusan orang. Bukan berarti saya tidak punya teman. Teman saya banyak, dan semuanya setia, in good or bad till death do us apart. Bukan hanya mau kumpul kalo punya rumah bagus dan gapunya utang.

Saya dendam karena mami selalu mengatai saya atas kegagalan-kegagalan saya. Saya menikah usia 29, dan sejak saya selesai kuliah di usia 23 hingga mencapai usia 29, yang saya dengar: kamu sombong, kamu pilih-pilih, kamu gendut, kamu bau, gada laki-laki yang suka sama kamu, gada laki-laki yang mau dekati kamu. When I challenged her: Paulus bilang ada orang-orang yang punya karunia untuk hidup sendiri, jawabannya: Orang yang hidup sendiri tidak dihargai orang. Aaarrrgggh. Saya ingin mami mengakui bahwa hidup berumahtangga atau sendiri bisa dijalani oleh siapa saja. Mami saya juga sekarang janda sejak Daddy meninggal 10 tahun yang lalu. Bagaimana perasaan nya jika saya kembalikan kata-kata itu kepadanya bahwa orang yang hidup sendiri tidak dihargai orang?

Setiap saya kembali dari interview dengan wajah kusut kecewa komentar mami: Kamu sih tidak pernah senyum, kamu sih pilih-pilih, kamu sih tidak ramah, kamu sih tidak manis. Aaarrggggh. Justru para bos-bos yang saya kenal itu juteknya minta ampuun. Bagaimana cara mereka sampai ke tempat mereka? Teori absurd. Tapi hingga sekarang, jika saya sakit, jika pohon di depan rumah tumbang, jika mobil kegesek motor mami pasti berkomentar: Ooo itu karena kamu tidak pernah senyum, kamu tidak ramah bla bla bla.

Saya dendam karena saat adik-adik saya selesai kuliah mereka ditawari: mau S2 dimana? Saya tidak pernah ditawari, dan pertanyaannya adalah: Kapan kawin? Saat saya challenge kenapa saya tidak ditanya soal S2, jawaban mami yang enteng adalah: Kan kamu tidak mampu *merujuk kepada status universitas saya yang cuma terdengar sayup-sayup. Saat itu rasanya saya kepingin bunuh diri. Saya masuk universitas sayup-sayup bukan keinginan saya sendiri tapi dipengaruhi rasa sayang saya yang tidak ingin membebani mami dengan biaya banyak. Jika saya memilih, saya akan ke luar negeri. Dari luar negeri yang sayup sayup pun terdengar agak mentereng. Tapi karena kapasitas otak saya tidak sayup-sayup, sekarang saya menyesal.

Menyesal benar menjalani hidup dimana saya harus bersusah payah sekedar untuk mencicil mobil dan rumah. Menyesal benar menjalani hidup dimana banyak orang membenci saya karena sikap saya yang straightforward. Menyesal benar menjalani dendam ini.

Hingga sekarang saya tidak bisa dekat dengan mami. Saya tidak bisa memaafkan sikapnya yang petantang petenteng beli rumah baru sedangkan anak-anaknya belum punya rumah. Saya belum bisa memaafkan sikapnya yang meminta hak lebih atas warisan yang ditinggalkan Daddy — saya bilang lebih? Ya. Daddy punya paling tidak 4 asset. Penjualan 3 asset yang pertama, kami berlima anak-anak cuma kebagian tanda-tangan, tidak setetes atau sepeserpun. Penjualan asset yang terakhir, bagian 50% persen hak kami masih juga harus dibagi untuk uang kesehatan, dan uang kenyamanan mami, sehingga tiap anak hanya menerima 1/8 nya. Bukan saya maruk harta, tapi sungguh sedih menyadari bahwa mami tidak pernah perduli dengan kebahagian dan kesejahteraan anak-anaknya. Saya tidak bisa memaafkan sikapnya yang bergenit-genit dan bersaksi di depan jemaat bahwa anak-anaknya tidak pernah membantu dia.

Dendam itu begitu pedih sekarang. Semakin saya tekan, semakin saya ingin meledak. Semakin saya mencoba diam, semakin pahit komentar yang keluar.

I want to end this now.

Yes now

For good.

 

 

No comments yet»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: