Mami Sudah Pergi

As of today, sebulan lebih dua hari, mami meninggalkan dunia ini. Saya tidak ingat benar, mulai kapan saya menyadari bahwa waktu mami tidak lagi lama di dunia ini. Waktu mami sakit di Aw** Br**, dokternya memanggil kami (saya), dan menyatakan bahwa mami berada di stadium akhir penyakit liver nya. Saya saat itu cukup paham, bahwa segala sesuatu yang dimulai, pasti ada akhirnya. Namun, saya saat itu masih juga tidak paham, karena tidak melihat all the big picture.

Mami kemudian pulang ke rumah, sudah sulit sekali untuk bergerak, bahkan untuk pergi ke toilet pun harus dengan bantuan. Hanya satu hari di rumah, mami kembali masuk rumah sakit, kali ini ke Silo**, yang lebih jauh dari rumah, demi mendapatkan perawatan dari dokter yang dikenal dan dipercayai nya. Dan kondisinya terus menurun sejak saat itu. Dari yang masih mampu bicara, lalu bicaranya pelat, sampai samasekali tidak bicara dan hanya mengangguk, lalu tidak merespon samasekali. Setiap perawat memandikan, dan membalikkan tubuh mami yang seharian hanya terlentang, mami mengaduh-aduh kesakitan, mengerang-ngerang, tanpa kami tahu bagian mana tubuhnya yang paling sakit. Mami mengeluh saat buang air kecil, walaupun sudah menggunakan kateter, buang air menjadi saat yang menyakitkan: “sakit banget, sakit, sakit”, diulang-ulanginya. Mami juga tidak lagi bisa tidur nyenyak, walaupun seharian di tempat tidur, semalaman ia juga mengaduh, dan mengerang. Kata-katanya yang paling terdengar adalah: Tuhan, Tuhan, oh Tuhan. Beberapa malam saya berada di rumah sakit, kata-kata itulah yang paling saya ingat.

Lalu di suatu malam, hari Kamis jam 10, saya mendapatkan panggilan telepon, mami sudah pergi. Dan kami melakukan apa yang perlu kami lakukan, untuk melayakkan beliau beristirahat di tempat peristirahatannya yang sementara itu. Pesta adat, pelepasan dan pemakaman berjalan sebagaimana telah diatur.

Satu bulan kemudian, kemarin, saya baru menyadari, mami sudah pergi.

Saya sudah yatim piatu. Daddy meninggalkan kami pada bulan Maret tahun 2002. Mami meninggalkan kami bulan Mei 2019. Tidak ada lagi mami yang minta diantar-antar ke tukang pijit, mami yang ribut-ribut mau berobat alternatif, mami yang selalu ingin pergi ke Amerika atau ke Eropa.

Saat membersihkan rumah dan kulkasnya, banyak obat-obatan tradisional yang kami buang. Melihatnya menciptakan kepedihan tersendiri di hati saya. Obat apapun tidak akan menolong jika waktunya sudah habis. Banyak makanan-makanan sehat yang juga kami buang, karena kami tidak mengkonsumsi jenis makanan demikian. Saya melembari baju-baju mami yang sudah saya kenal sejak kami anak-anaknya masih kecil-kecil, kebaya yang pernah saya gunakan untuk wisuda SMP, kebaya yang pernah saya pakai untuk Kartinian, masih tersimpan di lemari nya. Saya memegang botol-botol parfum yang pernah saya belikan untuknya, walaupun tersisa hanya sedikit cairan di botolnya. Kami membuang bekas sikat gigi mami, peralatan mandi, make-up yang bersisa dan tidak mungkin digunakan kembali. Menyortir sepatu-sepatunya, alat-alat pijat kesehatan, peralatan jahitnya dan mengumpulkannya dalam kotak-kotak penyimpanan. Masa-masa lalu bergulir dalam setiap yang saya pegang, kenangan melintas setiap saya membukai pintu-pintu lemari mami. Mami sudah pergi.

Saya bermimpi. Dalam mimpi saya mami gemuk, dan berjalan tertatih, dipapah oleh saya di tangan kirinya dan adik perempuan saya di tangan kanan nya, sambil menyandang sebuah tongkat. Lalu saya berpikir: bukankah mami sudah sakit parah sampai tidak bisa bergerak? Luar biasa rumah sakit itu membuat bahwa mami bisa sembuh dan berjalan kembali. Kami memapah mami melewati jalanan yang tidak terlalu mulus, dan bahkan membawanya melewati jalan pintas entah kemana. Lalu saya terbangun, dan saya menangis, karena mami sebenarnya sudah pergi. Mami memang sudah sembuh, namun di dalam tidurnya yang abadi, bukan sembuh untuk jalan-jalan dengan kami.

Mami memang bawel dan cerewet, sehingga saya sering malas-malasan mengajaknya jalan-jalan. Tetapi sekarang saya menyesal kurang sering membawanya berjalan-jalan. Seharusnya saya membawanya ke Korea, ke Singapur atau bahkan ke Surabaya *mami samasekali tidak sempat ke Surabaya melihat kampus ITS*, saat mami masih sehat, secerewet apapun dia. Mami memang demanding dan tukang mengatur, tapi seharusnya mami tidak hanya diajak ke Puncak, ke Anyer atau ke Bandung. Saya punya uang untuk membayari mami lebih dari itu, tapi saya membatasi diri, dan sekarang saya tidak punya mami untuk diajak jalan-jalan. Selera mami untuk baju, sepatu dan tas, memang tidak cocok dengan saya, dan semua oleh-oleh saya dari luar negeri, syal-syal atau selendang berakhir menjadi pengikat karpet, dompet dan tas-tas entah di tangan siapa, namun seharusnya saya tidak membatasi diri untuk men-traktir nya ke mall untuk belanja apa saja yang diinginkannya. Karena pada saat seperti ini, saat menyadari bahwa mami sudah pergi, saya mendadak ingin membawanya jalan-jalan dan belanja-belanja di mall.

Untunglah saya membelikannya parfum-parfum mahal itu. Saya membawa botol-botol yang hanya berisi sisa dan kenangan itu kembali ke rumah. Dulu, saya membelinya dengan susah payah, dengan gaji yang pas-pas an, sebagai seorang karyawan yang baru diterima bekerja, sebagai staff entry level. Untunglah saya pernah mengajaknya menginap di hotel berbintang, walaupun waktu mami “merampok” semua toiletries dan jatah teh celup dari breakfast, membuat saya menghela nafas, saya senang dia pernah melakukannya. Untunglah saya tidak pelit-pelit membuatkannya pesta ulang tahun, yang saya tahu dinikmatinya dan membuatnya tertawa. Mami bilang: saya bangga, saat memperkenalkan si semata wayang saat itu. Sekarang saya kepingin membuatkannya pesta ulang tahun yang lebih mahal dan lebih mewah. Namun mami sudah pergi. Dan saya bersyukur untuk malam-malam tidak tidur yang saya alami di rumah sakit, di sisi ranjangnya, walaupun hingga hari ini masih terasa ngilu di persendian.

Mami sudah pergi.

IMG20180611115817

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: