Ceria

Dulu saya pernah pakai mobil yang diberi nama Ceria. Keluaran Daihatsu. Kemarin ketika di perjalanan pak suami alias si Among melihat mobil Ceria, ia langsung bilang: yang di luar sih ceria, yang di dalemnya ewwh. Hehehehe. Memang ukuran mobil ini kecil lebih mini dari rata-rata city car.

Saya sebenarnya paling suka mobil ini. Ukurannya yang ga seberapa itu sangat menyenangkan untuk diajak nyelip-nyelip terutama jika di jalan tol sudah berbaris para truk seukuran transformer.  Pengemudi truk biasanya tidak berdaya jika mobil sekecil ceria yang memotong jalannya.  Tapi kalau sebesar Fortuner, biasanya dia juga bergaya-gaya memajukan truk-nya seakan ga rela.

Ukurannya yang mini mini maini mo itu juga sangat menyenangkan saat parkiran penuh lalu saya tinggal parkir di spasi yang tidak akan cukup untuk mobil besar. Petugas parkir juga ga akan melarang, karena toh tidak mengganggu jalannya lalulintas perparkiran.

Dulu saya ke kantor di daerah Kemang Jakarta Selatan selalu bawa mobil sendiri. Dari rumah di Bekasi Utara, saya harus menempuh kurang lebih 10km untuk sampai ke pintu tol. Dari pintu tol ke exit di Kuningan makan waktu kurang lebih satu jam. Lalu dari exit tol ke kantor kurang lebih 6 km melewati kemacetan akibat lampu lalu lintas yang menyala merah lebih lama daripada hijau. Satu setengah jam rata-rata saya habiskan di jalan raya pada pagi hari dan satu setengah jam pada sore hari untuk pulang ke rumah. Ceria sangat bersahabat, bisa nyelip bisa ngebut, tapi masih kuat diatas jalanan yang tidak rata.  Pada masa itu tol JORR belum jadi, masih dalam pembangunan.  Kadang setelah beberapa kilometer, pengendara dialihkan ke jalan-jalan kampung yang beraspal tidak rata sebelum kembali memasuki jalan tol yang masih dalam tahap finishing. Udah berasa-rasa off-road. Off road tapi mobilnya Ceria wkwkwkwkwk.

Teman-teman sekantor yang juga berdomisili sekitar Bekasi suka ikut nebeng, dan saya wanti-wanti. Maklum ya mobilnya cwimie jadi maklum juga kalau di jalan terguncang-guncang terus walau tidak sedahsyat guncangan bajaj. Dua sampai tiga orang teman suka nebeng dan selalu memasukkan ongkos setara biaya bis-nya ke kencleng. Lumayan untuk nambah isi bensin.

Suatu hari kami bertiga, bersama Among dan Kekel ke Bandung. Kekel masih kecil, mungkin masih lima tahun.  Saat itu Cipularang juga belum jadi, jadi rute ke Bandung harus melewati jalur Puncak yang berliku-liku dan naik turun pegunungan. Kekel awalnya masih sibuk sendiri: ciat ciat shah shuh heh hoh, dengan imajinasi dan permainannya, sibuk berguling ke kanan dan ke kiri di bangku belakang. Tapi setelah tikungan entah keberapa, dia komplain.  Among, perutku rasanya aneh. Hahahaha. Abis ga bisa diem sih.  Among menepi di sisi yang ada penjual jagung bakarnya.  Jadi seperti pepatah sekali merengkuh dayung mabuk darat teratasi dan kenyang jagung bakar.

Ceria itu bukan hanya kami gunakan Jakarta-Bandung bolak balik, tapi juga Jakarta-Pangandaran. Jalur-jalur tikungan tajam, tanjakan dan turunan semua bisa dilalui si Ceria tanpa masalah. Kadang AC nya kurang dingin kalau cuaca di luar panas terik. Wajar, karena memang dari pabriknya demikian disainnya. Irit di semua sisi.  Among menambahkan kipas untuk lebih mendinginkan AC, dan menambahkan karpet peredam panas di langit-langit mobil supaya kami lebih nyaman berkendara.

Waktu Among bilang mobilnya mau dijual, ditukar dengan tahun yang lebih baru (dan ukuran yang lebih besar), saya merasa paling kecewa. Kalau boleh Daihatsu keluarin terus edisi terbaru mobil jenis ini tiap tahun kemungkinan saya akan selalu jadi pelanggan setia cause I like it just too much hehehe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s