Daun Sereh

Sosmed dua hari ini lagi rame akibat sebuah postingan yang dishare dan viral. Awalnya adalah curhatan seorang calon mempelai perempuan mengenai batalnya dia bersanding di pelaminan.  Di timeline nya dia menyertakan screen shoot dari belasan percakapan daring antara dia dengan calon mertua perempuannya.  Calon mertua perempuannya menyebut bahwa perhiasan emas yang digunakan si calon mempelai saat acara pertunangan tipis-tipis seperti seperti daun sereh. Dan baju yang dikenakan si calon mempelai di acara itu juga memalukan karena jenis pakaian yang sama sudah sebelas tahun yang lalu dibeli calon mertua sekedar untuk pakaian rumahnya.

Saya tidak kepingin mengomentari siapa pihak yang benar dan siapa yang salah.  Saya udah lumayan lama jadi orang batak.  Boleh saya bilang, yang namanya pertikaian akibat hal hal remeh temeh seperti pakaian dan perhiasan adalah hal yang sangat biasa diantar keluarga batak. Boleh saya sebut biasa pake banget. Banget pake bingit. Kalo ada yang baca ini mau marah silakan aja. Biasa banget, orang batak kalau ada masalah dan kekurangannya disebut langsung marah. Di blog saya ini aja ada ratusan komen yang tidak saya approve sekedar karena omongannya hanya menyebut penghuni ragunan, menyebut bahwa apa yang saya tulis tidak pernah terjadi, menyebut dirinya paling pintar soal adat, menyebut saya tidak tahu apa-apa soal dunia, melabel bahwa isi blog ini 90% komplain (situ acnielsen ya?) bahkan yang paling ga saya sukai adalah nasehat sok imut menyuruh saya berdamai dengan diri sendiri. Men, benar bahwa manusia saling mengoreksi, saling menasehati. Tapi yang bener dong! Serius dikit knapa. Plaaaakk.

Ini soal blog saya, masih juga orang gagal paham.  Postingan udah tahun 2008 masih dibahas sampe sekarang.  Apalagi karena ada urusan daun sereh jadi banyak lagi yang kirim komen ke blog ini. Ih. Blog ini blog saya sendiri.  Mau saya marah-marah ke langit sebenarnya apa masalahnya? Saya ga marah-marah depan umum, naik ke tiang sutet atau demo di depan gedung MPR.  Mencurahkan perasaan saya di blog saya sendiri dianggap sebagai penghinaan terhadap kebatakan seseorang itu menurut saya cenderung lebay dan kebangetan. Si calon mempelai itupun mau curhat di facebooknya silakan aja sebenarnya.  Mark Zukie yang punya platform ga melarang sama sekali.  Kita netizen ini yang lebay menshare ribuan kali dan mengkontribusi komentar-komentar yang belum tentu mencerahkan, boro-boro menyelesaikan persoalan si gadis.

Selalu kurang dan selalu tidak pernah hadir adalah unsur ini:  SEEK TO UNDERSTAND.

Seek to understand! Kalo cuma bisa menghakimi orang lain, ga usah sok-sok menasehati, apalagi menyebut nama-nama penghuni ragunan yang inosen itu. Memang banyak kok kegiatan adat batak yang menyimpang dari fungsi sebenarnya, yaitu merekatkan kekerabatan.  Baru sebulan yang lalu saya menikahkah keponakan saya yang tertua. Dalam acara pesta, sementara saya duduk-duduk manis ngobrol dengan pak suami, inang-inang entah darimana dan entah siapa membentak saya dari belakang saya: Kau ga boleh duduk di situ, cuma bapak-bapak di acara ini, perempuan di belakang *dan diulang-ulang sampe beberapa kali dengan nada semakin meninggi.  Nih ya, kalau memang mau mengoreksi kan bisa bilang baik-baik: Eda atau akang atau apapun dia mau sebut gw, acara nya sekarang hanya untuk bapak-bapak.  Duduklah di sini, di samping kami, nanti kalau sudah selesai kembali lagi.  Ituuu kalau mau ngoreksi ya? Intonasinya juga diatur yang sopan dan manis budi. Kalau main bentak itu namanya ngajak berantem.  Semua orang juga ngerti sopan santun dasar demikian.  Tapi kan ternyata memang ada orang-orang seperti itu.  Sebelum bentakan itu, saya tidak memperhatikan siapa mereka. Tapi setelah bentakan itu, saya jadi memperhatikan.  Sekali lagi kalau ada yang tersinggung silakan loh ya! Dalam observasi saya, kumpulan ibu-ibu tukang bentak itu sepanjang acara hanya cemberut saja, kacang atau lampet atau minuman yang beredar hanya menjadi bahan untuk dicela, bukan menjadi suatu kegembiraan pesta. Serius ini.  Muka mereka berkerut semua seolah-olah mereka bukan lagi pesta tapi lagi di kamp konsentrasi hitler. Lalu kalau saya menyebut kegiatan adat bukan lagi perekat kekerabatan, apakah saya salah? Mengeneralisasi? Ah coba berpikir baik-baik kalau masih sanggup.  Kalau saya menghadiri acara orang lain, mau saya kurang suka, sakit perut, engga enak badan, sedapat mungkin air muka saya atur supaya ceria.  Ini pesta men, pesta! Pesta kok bentak-bentak orang. Bentak-bentak orang kok doyan. Ish.

Jangankan soal pakaian dan perhiasan.  Songket dan gelang.  Urusan rasa kopi aja bisa jadi celaan kan? Hahahaha. Ah sudahlah. Ga usah kirim komen ke blog ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s