Asisten

Ada engga ya ibu rumah tangga ya tidak-pernah-komplain mengenai asisten rumah tangganya.  Dulu disebut pembantu rumah tangga, tapi kekinian kelihatannya kurang setuju dengan istilah pembantu maka digunakan lah istilah asisten rumah tangga atau ART.  Back to laptop. Ada ga ya ibu rumah tangga yang TIDAK PERNAH komplain mengenai asisten rumah tangganya?

Kalo pertanyaannya dibalik menjadi ada engga ya bapak rumah tangga yang tidak pernah komplain mengenai asisten rumah tangganya? Hahahaha. Saya yakin banyak. Di rumah saya aja ada satu *wink. Mau garis lipatan celana panjangnya ada empat hasil setrikaan si embak atau si empok, engga bakalan dia protes. Salah satu embak yang kerja di rumah sangat memanfaatkan hatinya yang baik luar biasa itu.  Setiap membersihkan kamar, seratus dua ratus ribu juga dibersihkan dari dompet.  Kesalahannya adalah, suatu hari dia membersihkan dompet saya. Ketauan deh.

Seorang gadis muda datang dari agen penyalur.  Saya sudah membayar uang muka kepada penyalur untuk memastikan kedatangan asisten baru, karena asisten yang lama sudah dipastikan tidak pulang lagi, paling tidak ke rumah saya.  Gadis muda ini adalah asisten paling unik yang pernah bekerja di rumah saya. Sejak kedatangannya hingga keberangkatannya yang makan waktu kurang lebih 4 bulan, dia hanya satu kali mencuci bajunya.  Itupun setelah saya tegur.  Setelah seminggu dua minggu saya baru menyadari bahwa di jemuran tidak satupun baju nya pernah tergantung.  Baik baju dalam maupun baju luar. Dan setelah seminggu dua minggu itu, kalau kami duduk bersama di depan televisi saya terganggu dengan bau badannya.  Pertanyaan pertama saya adalah: mbak udah mandi? Jawabnya, udah.  Kedua, bajunya udah diganti?  Jawabnya juga udah. Baru setelah saya merasa yakin tidak ada cucian saya tanya pertanyaan ketiga, engga pernah dicuci bajunya? Jawabnya. Engga.  Kenapa? Diam seribu bahasa.  Setengah jam kemudian dari arah tempat cuci terdengar suara air.  Si mbak mencuci seluruh isi tas-nya sekalian. Luarbiasa. Tapi saya sudah terlanjur bertekad menelepon penyalur untuk mencari penggantinya.

Seorang mbak yang kerja di rumah saya punya kebiasaan yang tidak higienis.  Saat itu anak saya masih balita dan suka ngompol.  Bolak-balik kain pel harus bekerja membersihkan bekas nya di lantai.  Suatu hari saya bilang: mbak, tadi sudah sempet bikin susu buat si adek?  Jawabannya: sudah bu, nih! Sambil tangannya yang barusan memeras air dari kain pel dengan confident menutup lubang di dot bayi dan mengocok botolnya dengan gerakan ringan. Gubrak.

Kalo seperti itu saya komplain ga? Disinilah susahnya. Komplain sering terasa duri. Seorang empok yang kerja pulang pergi di rumah saya tegur, mpok tolong debu hasil nyapu nya jangan dimasukin ke kolong mobil aja gitu, ditampung dengan serokan, buang ke tempat sampah.  Hasilnya? Teriakan hebat yang membuat saya seolah-olah sedang main sinetron.  Ibu ga seneng sama saya? Saya lihat ibu memang benci sama saya, setiap saya datang engga pernah ditegor. Maaaaaak.  Harus ditegor gimana sih? Lagian kalo dikasih tahu jangan masukin sampah ke kolong mobil harus dibalas dengan teriak gitu?

Seorang mbak lain yang juga kerja pulang pergi saya tegur: mbak, nyapu itu dari dalem ke luar, sampahnya ditampung dan dibuang ke tempat sampah.  Kalau nyapu bolak balik dari kanan ke kiri, lalu ke kanan lagi ya bakalan ga selesai-selesai berdebu terus. Dibalas dengan; Iyaaaaaaaaaaaa Ibuuuuuuuu, macam intonasi anak esempe yang diceramahin tiga jam bosen belum selesai-selesai. Lhah, saya pengen marah tapi akhirnya ga jadi. Mungkin memang dia berniat membuat drama juga seperti si empok sinetron, saya ogah terpancing.

Terus apakah saya boleh komplain? Saya pengen komplain karena mug-mug yang tadinya baik-baik aja sekarang mulutnya bopeng kanan kiri karena entah kesenggol apa saat dicuci.  Saya pengen komplain karena handphone saya selalu lepas dari chargernya setiap si embak nyapu entah gimana cara nyapunya.  Saya pengen komplain karena tupperware yang tadinya bagus dan baru, sekarang miring kanan kiri seperti didudukin kuda sebesar satu ton.  Dan banyak lagi hal-hal sepele di dalam rumah, seperti pengaturan kursi dan furniture yang sudah saya atur menurut kesukaan saya digeser menjadi seperti kesukaan dia.  Dan diatas itu semua teguran atau koreksian diabaikan seperti rambu-rambu jalan.

Berbahagialah jika ada ibu rumah tangga yang tidak pernah komplain. Ngiri saya. Beneran.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s