Kontemplasi

cropped-cropped-dsc042711.jpg

Kelihatannya masa kontemplasi saya sudah berakhir.  Satu tahun lebih saya berpikir. What’s went wrong?

Satu, pernahkan anda memiliki sahabat? Saya punya beberapa sahabat yang saya pelihara mati-matian dengan sepenuh jantung dan hati saya. Mungkin terdengar lebay to the max. Tapi saya serius. Teman yang saya approve atau add di facebook bukan sekedar teman yang baru kenal. Dalam kehidupan nyata, saya usahakan tetap menjalin pertalian yang nyata. Kalau seseorang sudah muncul bolak-balik dalam postingan facebook berarti pertalian tersebut sudah lebih erat.  Haha hihi dan jempol bukan sekedar basa-basi tapi memang kerinduan dan keharuan yang dinyatakan dalam emoticon.

Saya pernah menjalin suatu hubungan yang saya rasa hampir menjadi sahabat. Saya menceritakan keluh-kesah saya dan saya mendengarkan keluh kesahnya.  Saat ia sakit, saya mendampingi, menenteramkan dan mendukung perawatan yang diambil.  Saat ia butuh bantuan, saya sisihkan waktu untuk melakukan sesuatu yang bukan tugas saya. Saat ia hanya butuh teman, saya juga tidak ragu untuk menempuh kemacetan Jakarta yang terkenal menyebalkan demi duduk di cafe dan ngobrol.

Saya tidak menyangka ketika suatu hari, sebilah pisau ditancapkan dengan ganas di punggung saya.  Tidak ada yang lain yang saya bisa pikiran kecuali hal itu: I’ve been stabbed from the back. Mengingat semua waktu dan keluh kesah hati saya sesak. Kadang saya pulang ke rumah sampai jam sepuluh malam, karena memang lalulintas tidak bersahabat setelah sesi curhat.  Kadang saya mengabaikan keluarga saya demi mendengarkan keluhan dan menghiburnya barang sejam dua jam setelah jam kantor berakhir. Lalu sebagai balasannya, sumber penghasilan bulanan saya ditutup. Dikunci. Dan saya diusir tanpa ampun.

Seorang teman menasehati. Let it go. Karma akan berlaku. Once you let it go, you will get the replacement sooner.

Apakah saya percaya? Setengah mungkin. Tuhan yang saya percaya tidak beroperasi berdasarkan perasaan seseorang atau sekedar saya saja. Entahpun saya sakit hati, dilukai, menanggung kepedihan mendalam, stress sampai depresi, saya meyakini Tuhan tetap mengasihi semua ciptaanNya.  Tidak serta merta Ia menghukum ciptaanNya yang bersalah, dan mengucurkan keran harta kepada ciptaanNya yang lain. Walaupun saya juga meyakini karma tidak pernah salah alamat, saya juga meyakini God doesnt operating in my feelings’ way.

Jadi saya duduk menunggu dan melakukan kontemplasi. Saya menyesali saat saya menolong orang lain, mengeluarkan uang dari dompet saya sendiri, dan karena saya menghindari anggapan saya orang kaya, saya sebut bahwa uang tersebut dari dia. Saya menyesali saat saat saya membela seorang yang lain, menggunakan semua usaha dan waktu saya, dan juga karena saya menghindari anggapan saya sok pahlawan, saya sebut bahwa saya mendapatkan instruksi dari dia.  Kepada Tuhan saya menangis dan menyebutkan penyesalan saya.  Saya tidak menyesal menolong orang lain, namun saya menyesal menyebut nama dia sehingga orang lain tersebut menganggap bukan saya yang “orang baik”.

Saya sangat berharap Tuhan mendengar kesedihan saya yang satu itu.  Kesulitan hidup yang saya tempuh akibat tidak ada lagi sumber penghasilan tetap saya terima dengan tegar.  Betapa inginnya pun saya mempertanyakannya, tapi saya menyadari bahwa saya tidak pernah kekurangan apapun.  Saya masih bisa berbelanja dengan normal untuk kebutuhan hidup, saya masih berpergian dan mendapatkan penghasilan walaupun tidak tetap, saya masih bisa membantu orang lain yang berkekurangan.  Walaupun ini berhubungan dengan harta tapi ini samasekali masalah perasaan. Walaupun saya tidak terikat dengan perusahaan atau kantor sumber penghasilan tersebut, tetapi mendadak menghilang meninggalkan pertanyaan yang tidak saya sukai? “kenapa dia keluar mendadak? korupsi?” dan saya tidak punya kesempatan untuk menjelaskannya.

Sejak entah kapan tau di tahun lalu, I’ve decided to let it go. Anything good or bad happened eversince? None. Matahari terbit dan matahari terbenam. Hari berganti dan bulan berganti. Like I said, God doesnt operating my feelings’ way.  😀

Dua, pernahkah anda kesal kepada seseorang? Saya tidak mudah kesal, tapi sekali kesal saya sulit untuk memulihkan diri.  Tidak sulit untuk membuat saya kesal, cukup dengan mengulang masalah yang sama berkali-kali.

Kalau anda berhutang kepada saya dan saya menagih dua kali lalu saudara pura-pura tidak mengangkat telepon, atau whatsapp cuma centang biru tanpa balasan. Itu mengesalkan. Kalau anda menyombong kepada saya, lalu saya cuma senyum, dan anda merasa dapat angin untuk menyombong untuk kedua ketiga dan keempat kalinya. Itu juga mengesalkan.  Rasanya bukan cuma saya yang kesal, hampir semua orang dalam situasi yang sama akan merasa paling tidak a little bit irritated.

Satu tahun lebih saya menahan kesal kepada beberapa orang tertentu. Kesal karena saya tidak bisa mengungkapkan apa yang saya rasakan dalam hati saya. Kesal karena setiap feedback yang saya dengar lewat berita dari orang lain hanya berisi ide menyalahkan. Dan saya tidak bisa membela diri maupun mempertanyakan mengapa sekedar menyalahkan tanpa mencari solusi.

Beberapa nasehat yang saya terima menyarankan agar saya ikhlas.  Ikhlas adalah sebuah situasi dimana batin dan mental kita tetap tenang, walaupun sesungguhnya badai sedang bergejolak di luar pintu.  Ikhlas adalah sebuah ketenteraman karena menyerahkan segala sesuatunya kepada kehendak sang Pencipta, bukan kepada kewarasan akal pikiran sendiri semata.

Tapi mengikhlaskan bukan masalah mudah. Saya dididik untuk berperang.  Mencari keadilan dan berjuang.  Ikhlas adalah let it go and never return back to fight for anything of it.  Ikhlas adalah menjalaninya flowing as the stream without strugging that it is unfair. Sejak saya mulai bersekolah, setiap hari adalah perjuangan, mencapai sesuatu, meraih sesuatu, dan saya tidak pernah berhenti.  Saya terus bergerak, terus berjuang, terus berperang, terus menerus memompa stamina dan kalau bisa mem-forsir energi saya.  Saya bertahun-tahun hidup dalam kelelahan. Jikapun saya berpergian, berjalan-jalan, berwisata, saya tetap lelah secara mental.

Sama seperti saya memutuskan untuk let it go sejak tahun kemarin, saya juga memutuskan untuk mengikhlaskan ketidakadilan. Mungkin itulah kontemplasi yang terbesar yang pernah saya lakukan dalam hidup saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s