Softly & Slowly

A fast-mover who successfully do her things slowly!

Pamer

Apa sih yang saya ingin pamerkan dari hidup saya? Tidak ada yang luar biasa. Pinter? Jelas lebih banyak mungkin seratusjutaan orang lain lebih pintar dari saya. Teman-teman SMA saya bukan sekedar lulus S-1 macam saya. Mereka lulus S-2, S-3 bahkan lebih, karena banyak yang berkecimpung di dunia pendidikan menjadi dosen. Cantik? Jelas tidak. Kalau saya cantik paling tidak kecantikan itu pernah menguntungkan saya waktu saya masih muda saat pergaulan saling mengenal diantara gadis dan jejaka terjadi. Saya termasuk yang selalu disisihkan, tidak pernah dianggap cantik, tidak pernah di”taksir”, apa dikirimi salam atau sekotak coklat? Waktu jaman saya kuliah sering hujan turun saat selesai kebaktian malam. Para pria berlari ke asrama atau ke rumah dosen atau ke mana saja mencari payung, dan berlomba sampai kembali ke Chapel untuk memayungi si pujaan hati atau si gebetan. Saya akan berdiri di Chapel sampai hujan berhenti, karena tidak ada yang menawari payungnya. Kaum pria muda itu mencari gadis cantik. Suatu kali monitor asrama datang mencari kami yang masih ada di Chapel lewat jam 10 malam membawakan payung. Kami? Iya, yang ga cantik kan bukan hanya saya saja. Kaya? Lhah ini lagi lebih engga. Sungguh saya ngiri sama anaknya pejabat siapa itu yang usia 19 langsung dapet warisan tujuh turunan. Ga perlu kuliah, ga perlu ngejar-ngejar dosen minta bimbingan, ga perlu dihina dina saat ngelamar kerja dan interview, hidupnya langsung bahagia punya rumah satu hektar dan mobil beberapa. Tinggal buka PT Sesuatu. Profit ga profit bukan masalah, toh, cadangan melimpah.

Jaman sosmed sekarang pamer jadi tambah mudah. Ga perlu ikut arisan dan ngerumpi untuk menyebarkan berita. Tinggal posting aja di IG atau di FB. Mulai dari keberhasilan menyabet gelar akademik, kesuksesan meraih piala atau medali, sampe hal-hal materialistis macam baju baru, sepatu, jam, tas, gadget, bla-bla-bla yang harganya tidak akan terjangkau oleh masyarakat kasta bawah macam saya. Connections bisa komen: baggguuusss, atau addduuh ngiri deh, sampe yang dengki bilang: ini ori apa kw? Soal pamer harta, saya sering takjub sendiri. Takjub sampai menganga seperti memandang bintang-bintang di langit. Karena ternyata harta tidak ada habisnya, dan seolah penghasilan juga ternyata tidak ada limitnya. Untuk memamerkan satu ruangan penuh Hermes, kira-kira berapa penghasilan sebulannya? Ga mungkin kan cuma buat Hermes, kurangi biaya makan, bensin, luluran etc… ckckck maka saya menganga sendiri membayangkan deretan angka 0 nya. Sungguhkah di dunia yang masih ada orang mengais sisa makanan dan hidup dari hari ke hari, ada orang yang seberuntung itu? Wow.

Pamer itu bikin orang jadi ngiri. Ngiri terlalu banyak jadi dengki. Dengki jadi benci, dan benci itu bisa jadi macem-macem. Mulai dari urusan sekedar remove atau unfollow, sampai ke urusan menjelek-jelekkan orang, mengucilkan dan (ini yang saya alami) mempergunakan kekuasaan untuk mematikan sumber nafkah orang lain.

Tapi apa yang perlu didengki-in dari saya? Apa yang bikin orang ngiri sama saya? Kan saya udah bilang, ga ada dari penampilan dan hidup yang saya yang bisa dipamerin. Untuk orang seperti saya yang ga ada apa-apanya aja ada orang yang ngiri, gimana para raja pamer sosmed itu ya? Saya doakan mudah-mudahan tidak ada stalker-nya yang psikopat. *lho?

No comments yet»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: