Softly & Slowly

A fast-mover who successfully do her things slowly!

Saya Menyimpan Marah dan Dendam

Di bulan Agustus 2015, hari-hari saya berlangsung biasa. Pagi kerja, sore pulang, wiken jalan ke mall.  Secara pribadi, saya merasa pencapaian saya sudah cukup oke.  Boss-boss memuji bahwa guru-guru baru masuk ke rumah baru nya masing-masing dengan mulus. Semua keluhan difasilitasi dengan baik, dan departemen yang saya pimpin mendapatkan pujian.  Buat saya itu sebuah pencapaian.  Karena untuk memperoleh hal tersebut, saya harus bergulat dengan bawaan naik darah setiap harinya. Saya punya bantuan dua asisten, yang tidak komunikatif dan tidak menginformasikan apa-apa yang penting sampai saat last minute bahwa kekacauan itu akan ketahuan (atau malah sudah ketahuan). Akibatnya saya mengambil peran sebagai damage control. Memperbaiki kerusakan.  Saya kurang suka, karena orang keburu komplain, atau kompor keburu meledak, yang seharusnya bisa dicegah.  Salah satu asisten sangat bermasalah dengan kejujurannya.  Satu hari dia lapor sakit Hepatitis.  Saya ngotot dia harus bedrest dan konsul dokter.  Saat saya minta copy surat dokter, saya dikirimi surat istirahat satu hari. Eh? Satu hari? Lalu alasan Hepatitis berganti menjadi Diabetes.  Karena kurang confident, saya lapor boss yang mengirim sang asisten kembali ke rumah sakit untuk konsul.  Hasil akhirnya adalah: tidak ada hepatitis, tidak ada diabetes. Tapi kepercayaan saya atas kejujurannya terlanjur hilang.  Dan kehilangan kepercayaan itu memicu micromanagement.  Saya cek setiap langkah, dan setiap saya cek ketemu kesalahan baru, atau kekacauan baru. Betapapun saya mencoba menekankan pentingnya informasi dan komunikasi, tetap saja saya diabaikan.

Saya mencoba untuk melaporkan kinerja yang menurun ini kepada atasan saya.  Sayangnya, bukannya mendukung dan mengambil tindakan untuk make things better, dia malah membenci saya.  Saya melihat tanda-tanda yang jelas bahwa setiap email yang saya kirimkan tidak dibalas.  Setiap teguran yang saya sampaikan kepada bawahan saya tidak ditanggapi atau dikembalikan mentah bahwa sayalah yang harus melakukan perbaikannya. WHAT? Namun sejauh itu pun saya tidak meraba apapun.

Saya ingat menulis status di Facebook.  In this world, I never remember anyone being cut because they are nice, but people being cut because they are right.

Two days after saya menulis status tersebut saya dipanggil untuk sebuah meeting yang dinamai tete-a-tete dan kata-kata yang menyakitkan hati keluar: we have to end our working relationship because your form of communication harm the community. Saya jelas sakit hati. Apa dari komunikasi tersebut yang disebut harm the community? Lalu big boss menunjuk-nunjuk kepada email saya kepada salah satu orang dan postingan fesbuk hampir setahun silam.

Email saya agak keras. Saya bilang: kalau kita mau saling menghormati maka hubungan kerja kita akan semakin baik. Kenapa saya bilang begitu? Karena saya disapa dengan Hi HR! Dan email itu memerintahkan saya menghapuskan beberapa entry yang 1. bukan tugas saya untuk menghapus 2. tidak perlu dihapus. Lalu apa yang harm the community dari email minta saling menghormati demikian?

Postingan fesbuk saya memang menyinggung seorang “penguasa” yang seharusnya sudah pensiun bertahun-tahun yang lalu tapi masih bertahan di posisinya karena masih “mau” dan mengajukan berbagai alasan kenapa dia tidak boleh pensiun. Saya tidak keberatan asal kinerjanya oke, yang saya suka sebel adalah, she is judgmental to the max. Pembicaraannya hanyalah: waktu saya=manager seumur idup, yang mengerjakan tidak pernah ada masalah. Nobody in this very world would like to hear those kind of judgment, right?  Yang lebih ngeselin masalah personal: Aih, badan kamu gendut, you have to lose weight.  Malaikat aja bisa tersinggung ditegur begitu.

Saya marah.  Saya katakan dengan jelas: this is not fair, as I don’t have a support. Yaiyalah, support macam apa dari atasan yang setiap saya ketuk pintunya langsung cemberut? Btw, saya bertahan di tempat ini hanya karena saya sayang sama suami saya yang sangat senang saya kerja di tempat khusus ini, sehingga walaupun dihina dina demikian saya masih bertahan sekian lamanya.

Boss twisted my words: so you said I am not good enough? Bah. Saya paling sebel kalau kata-kata saya diputar balikkan. Saya bilang saya don’t have support kok jadi not-good-enough itu apa hubungannya.  Dan itu memicu emosi saya untuk menjelaskan dengan lebih gamblang seluruh kebenaran dari peristiwa masa lalu yang tidak pernah dibicarakan atau didiskusikan.  Boss kecil bilang: kalo mau ketemu saya kan tinggal bikin invite meeting.  Lhah, invite meeting tapi ga diaccept atau didecline, dan kalopun diaccept orangnya ga muncul dengan alasan ada emergency, apa gunanya lagi invite meeting.  Itu kebohongan publik tingkat tinggi menyatakan tinggal invite meeting!  Lalu kata berikutnya keluar: Because you are emotional we can’t talk to you. Lhah, kok saya sedang memberikan fakta dibilang emosional. Aaargh. Tidak ada diskusi, pembelaan atau apapun yang bisa saya kemukakan. Semua kata-kata saya hanya menempel di dinding-dinding kosong dan luruh tersapu.

Anyway, saya mencoba sedapat mungkin berpikir positif. Lots and thousand of people losing their job every day. No big deal. Some wise saying said: when you are losing something, sometimes you need to lose that because it has no value. Sure I believe those words. Manusia yang di suatu hari panas bilang: you are my friend, lalu di hari panas yang lain bilang: we want to get rid of you, surely has no value. Orang yang menyingkirkan orang lain atas dasar kebencian dan bukan fakta, sekedar karena cape dikejar oleh kerjaan jelas bukan orang yang pantas untuk dipertahankan. Kenapa saya bilang kebencian, karena saya tidak melihat alasan lain sekedar karena si boss kecil cape bolak-balik saya “ganggu” untuk lebih memperhatikan pekerjaannya lebih daripada sekedar voucher starbucks, pengisian mtix atau lirik lagunya Katy Perry yang seharian digaulinya. Seorang big boss yang tidak cross check dan sekedar percaya dengan omongan satu orang juga tidak perlu saya pertahankan, Untuk sekaliber big boss, memaki-maki suami dan adik saya yang menyertai saya ke ruang meeting, bolak-balik keluar masuk ruang meeting menyatakan sikap menghina dan mengunderestimate orang lainnya yang obvious bukan jenis boss yang pantas saya bela.

Walaupun menyadari demikian, kemarahan dan dendam ini masih belum reda.  Orang-orang yang memutus mata pencaharian orang demi ambisinya entah kapan mereka akan dapat ganjarannya.  Orang-orang yang selalu kepingin jadi penguasa sampai mati, entah kapan mereka akan dapat pelajarannya.

No comments yet»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: