Softly & Slowly

A fast-mover who successfully do her things slowly!

Few Words Before Birthday

Menjelang akhir-akhir taun saya sering ga konsen dan banyak pikiran.

Satu, kebutuhan natal mendadak di depan mata. True this is a most wonderful time of the year, but it is also true that this is the most spending time of the year. Dulu saya membiasakan diri membeli beragam hadiah kecil, ga mahal, untuk semua kerabat dan teman dekat. Lalu saya berhenti. Memang dompet cepat menipis tapi juga saya mengganti strategi ke hadiah ulang tahun saja. Jadi bergantian, ga sekaligus semua spending hard.

Dua, di bulan ini saya ulang tahun. Ulang tahun supposedly moment yang menyenangkan untuk saya. Tapi entah mengapa saya selalu merasa hari itu cepat sekali berlalu sebelum saya benar-benar merasakan maknanya…

Tiga, saya punya kebiasaan kontemplasi berlebihan. Saya sensitif, karena itu saya bolak-balik introspeksi dan ujung-ujungnya kecewa pada diri sendiri dan merasa gagal total. Apalagi di akhir tahun begini, kumulatif kegagalan sudah menumpuk.

Anyway, I feel this is a good year to grateful about.

I am generally healthy. Amit-amit, tapi tahun ini saya berhasil menghindari opname. Selama summer saya agak kuatir penyakit kronis menjadi akut akibat aktivitas lapangan yang meningkat tajam, eh, ternyata saya baik-baik saja. Saya masih ingat summer 2013 saya masuk UGD dua kali akibat muntah-muntah di kantor. Tahun ini saya cuma sekali ke UGD karena gejala dehidrasi akibat diare. Walaupun intensitas pertemuan dengan berbagai dokter lebih intensif, tapi saya lebih sukses menjaga kesehatan. That’s something I want to thank God for. Health is the number one blessing for me.

Belum kepingin masuk ruang operasi, karena itu saya harus lebih menjaga makan. Makan terlalu sedikit salah, kebanyakan sedikit juga salah. Benar-benar harus dijaga kualitas dan kuantitasnya seseimbang mungkin. Perhaps next year, tapi amit-amit jangan sampe akut dulu seperti seorang rekan sekantor, yang medivac ke Singapur😛

I am generally in good shape. Walaupun saya cuma pelari kategori 5km dan tidak pernah maju, tapi saya berhasil menanamkan kebiasaan kepada anak semata wayang. He does like to run now. Januari tahun ini, setiap kali dibangunkan, ada omelan-omelan kecil. Sekarang, bulan Desember, dia yang ngajak saya lari.

Yang bikin saya sedih, walaupun makan dijaga, olahraga teratur, tidur nyenyak, tapi penyakit tetap suka berada dalam sistem saya. Hiks.

Di bidang kerja, sesungguhnya pencapaian saya juga tidak jelek. Saya berhasil menembus batas-batas kasat mata yang dulu dibangun orang dan menginovasi sebuah sistem yang lebih tangguh. Walaupun perjuangannya berat, bete nya bolak-balik, tapi hasilnya sepadan.

Yang bikin saya sedih, segitu senengnya bos-bos saya, segitu bangganya mereka kepada saya. Orang-orang yang tadinya mengganggap saya rendah sekarang lebih bersahabat. Guru-guru yang tadinya pada galak sekarang lebih manusiawi. I made it! Tapi, saya malah dikucilkan oleh satu divisi khusus. Ah, benci sekali saya mengingatnya. Mereka menganggap saya sampah sehingga tidak perlu dikirimi email, atau email saya tidak perlu dibalas, request saya tidak perlu ditanggapi, dan kesalahan saya dicari-cari dan dihembus-hembuskan ke seantero yang mau mendengarkan. Hiks hiks. Terus terang saya tertekan. Benci pada bully.

Tahun ini untuk pertama kalinya sejak melayani *about 15 years, saya dan suami boleh dibayarin untuk pergi conference di Bangkok. Buseeet. 15 years kakak. But still I am grateful. Selama 15 tahun saya merasa tidak dihargai apa-apa, mau saya berkorban tenaga, uang, apapun untuk jemaat dan gereja, tanggapan organisasi datar saja, sebelah mata saja. Kalaupun dikirim konferensi, paling ke Bandung, tidur di asrama mahasiswa. Ihiks. So,this year is a grateful experience.

Tahun lalu, bulan-bulan seperti ini saya sudah nekad beli tiket ke Hong Kong. Dicicil. Memanfaatkan buy one get one. Kapan lagi? Saya sudah beberapa kali ke Hong Kong, tapi anak saya belum pernah. Saya tidak mimpi mengajaknya backpackeran ke Eropa. Mending dana nya untuk kuliah. Tapi sungguh senang bisa mengajaknya menginjakkan kaki ke daratan China, yang jaraknya hanya 4 jam terbang dari Jakarta. I felt so grateful, that I can be his anything. His teacher who taught him piano and violin. A coach who train him swimming and running. A friend who bring him along in a backpacker experience. Saya dan ortu saya tidak punya pengalaman demikian.

So, dear God, as I step in into the length of this month. I would like to thank you for the wisdom given, strength given, and love given. In next year, though I don’t know what you prepare for me, I want to keep believe that it will be the best one and better than this year.

I ask for strength to cope with the bully in the office please. I don’t know how to deal with them. But, You know. You are the mastermind and can teach me easily on the method.

Again, thank you. Thank you and thank you.

No comments yet»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: