Softly & Slowly

A fast-mover who successfully do her things slowly!

Bully

Kenapa saya menulis dalam bahasa Indonesia padahal judulnya in English? Karena topik yang mau saya bahas, Indonesia banget. Eh, Indonesia bingits. Gitu deh.

Katanya menteri yang baru dibully di sos med karena ia hanya lulusan SMP, bertato dan merokok. Saya ga cek twitter, tapi begitu buka fesbuk, healah, foto ibu menteri ada dimana-mana dengan berbagai caption. Berita tentang pidato nya, masa mudanya, cerita tentang pasangannya, diposting dan direpost bolak balik. Saya baca-baca dikit, ternyata komen-komennya positif. Jangan memandang jenjang akademiknya, jangan memandang kebiasaannya merokok, jangan memandang tato nya, tapi pandang prestasinya. Huaaaa! Setuju. Jadi, kalau semua postingan ini adalah pembelaan, siapa yang membully sebenarnya? Mungkin di luar sana, di tempat yang saya ga baca, ada orang-orang yang menulis tentang keburukan-keburukan ibu menteri. Kalau keburukan itu memang sesuatu yang perlu diperhatikan dan ditindaklanjuti mungkin it’s okay. Sometimes the walls talk. Tapi kalau keburukan itu diulang-ulang padahal tidak penting, itu memang bully.

Jamannya masih kampanya pemilihan presiden, saya melihat ada banyak bully terhadap capres. Bukan hanya satu kok, dua-duanya. Yang satu dibilang dipecat dari militer. Saya tidak berminat mengecek kebenarannya, tapi bolak balik meng higlight topik yang sama ya iyalah bully. Yang satu dibilang Cina. Nah, kalau ini saya lebih sebel lagi bacanya. Kalau Cina terus kenapa? Selalu komunis? Kurang gaul berarti tuh si penulis. Yuk saya ajak jalan-jalan ke Cina. Hehe. Saya memang suka banget jalan-jalan di Cina. Alamnya sejuk, berbukit-bukit, cuma orang-orangnya aja yang saya sulit berkomunikasi. Wajar lah kalau saya diterima dengan sebelah mata, cuma mesen mie semangkok aja saya ngomongnya salah melulu. Tapi filosofi hidup yang tertuang di huruf-huruf nya itu jelas bukan ajaran komunis.

Kembali ke leptop. Salah satu tokoh yang sering kena bully adalah bapak gubernur Jakarta. Karena sukuisme sangat melekat erat di jiwa banyak penduduk Jakarta, mereka menginginkan pemimpin yang anak betawi dan tidak kafir. Again, healaaaaaa. Satu hari saya mendapatkan update dari konsultan keamanan. Email itu berisi informasi tentang demonstrasi-demonstrasi yang akan terjadi di seputar Jakarta. 4 demo bertopik menolak bapak gubernur karena dinilai bukan suara rakyat Jakarta. Heh? Saya langsung sedih. Manusia luar biasa yang tidak takut mati demi membela kebenaran mau didemo remeh temeh begini?

Begitulah. Bukan sok sok an, but I feel you ibu menteri, bapak presiden dan bapak gubernur.

Because, dalam skala yang sangat mini, saya termasuk orang yang sering di bully.

Why? Because I’m different. Because I stand for the right.

Bertahun-tahun yang lalu waktu saya masih jaman sekolah, saya sekolah di SMP dan SMA Negeri. Untuk lingkungan gereja saya, itu pilihan yang tidak populer. Komentar yang sering saya dapatkan adalah: “Kenapa ga sekolah di sekolah gereja saja?” Sampai hari ini saya tidak menyesali keputusan Daddy saya dan keputusan saya untuk sekolah di sekolah negeri. I got many friends and lots of wisdom. Salah satunya adalah, don’t judge people by your difference.

Sampai sekarang saya masih ‘aneh’ di kalangan saudara-saudara seiman-seperjuangan. Sementara kebanyakan ibu-ibu sudah tidak mau memperhatikan penampilan dan nglomprot dengan sukses, saya tidak mau ikut arus. Sementara ibu-ibu seusia saya menghabiskan waktu habis kebaktiannya dengan ngobrol (dan bergossip of course), saya tidak mau ikut arus, dan menciptakan kegiatan untuk anak-anak. Apakah hasilnya baik? Saya dihargai dan disukai? Ih engga! Percaya deh. No matter how much time, energy or money that I spent to create a better activities, ujung-ujungnya cuma ditanya: Kok Ibu engga pernah muncul pertemuan? Kok ibu rambutnya masih di blonde in? Kok ibu masih pake make up? Heaaaaa? Lalu karena saya cuma senyum doang dan melenggang, dalam forum-forum mini saya disebut sombong, ekslusif, ga mau gaul dan lain lain. Begitu saya muncul di suatu acara, semua mata ibu-ibu memandang saya sambil senyum-senyum penuh konspirasi. Bully.

Di ruang kerja, sampai hari ini *dan se senior ini, saya masih sering mendapatkan bully. Yang paling sering adalah omongan : Orang nya aneh. Lalu email saya tidak dibalas, telepon ditutup atau dijawab dengan judes, requet tidak dikerjakan, berpapasan melengos dengan alasan “habis orangnya aneh”. Yeeeee, plis deh. Banyak kaleee orang yang lebih aneh dari saya. Seorang senior saya bolak-balik bilang “kalau kamu tidak banyak senyum maka kamu tidak akan maju-maju” Ini pattern nya mami gw banget, bahwa segala sesuatu di dunia ini, baik jodoh dan parkir ditentukan oleh senyum. Saya coba jelaskan bahwa bukan karena saya tidak senyum maka telepon saya ditolak oleh ajudan pak menteri *ya iyalah, liat muka saya aja engga, bukan karena saya ga senyum maka saya tidak bisa konfirmasi siapa yang di disposisi pak dirjen, tapi sang senior kekeuh bahwa saya tidak berprestasi karena tidak senyum dan dituliskan di performance evaluation saya. Setelah lima tahun berlalu, saya malah naik jabatan dan si senior terpuruk karena bos nya aja males kerja sama dia.

Yang kedua sering adalah, kalau saya ngomong keras dikit, dikatain itu karena suku saya. Heaaaaaa. Pengen komen: move on dwong.

It is hard to be different. It is hard to be right.

But, it is not right to bully. Heran saya dengan sikap mengulang-ulang berita tentang keburukan orang, menghakimi, memaksa orang untuk mengikuti filosofi tertentu, apalagi membawa-bawa soal agama, soal suku, soal hobi, soal pilihan-pilihan hidupnya. Don’t judge. Don’t bully.

No comments yet»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: