Three Months Still Moving On

Saya tidak terlalu ingat apa yang terjadi dalam tiga bulan terakhir.  Rasanya hari-hari berjalan begitu cepat.  Bergulir seperti tetes air hujan di dedaunan langsung lepas landas ke tanah.  What’s new? Everything, at least for me.

Hampir satu tahun yang lalu saya melamar untuk sebuah posisi.  Waktu lowongan dibuka, posisinya sama dengan posisi saya sekarang.  Tapi saya tidak diterima. Alasannya? Tidak tahu. Saya pernah merasa begitu sakit hati. Setiap pulang kerja saya menangis karena merasa ketidakadilan begitu menusuk. Mantan bos saya secara tidak langsung mengatakan bahwa ia memberi rekomendasi kurang baik untuk calon bos, karena attention to detailsnya saya kurang bagus.  Apa? Padahal bukan saya yang membuat kesalahan, tetapi karena saya orang Indonesia yang harus lebih bodoh dari yang bule, maka saya yang kena getahnya? Menyebalkan.  Saya mencoba untuk tidak membenci calon bos walaupun saya tahu bahwa ia tidak fair.  Menyatakan diri sebagai teman saya namun tidak mau memberi saya kesempatan. Sampai sekarang, kalau terpaksa saya harus membuatkan reservasi hotel dan kursusnya, saya merasa sedikit kesal.

Enam bulan setelah peristiwa itu, calon bos yang sama membuka lowongan lagi.  Sekali lagi saya diinterview dan sekali lagi saya tidak diterima.  What a nightmare.  Itu adalah masa-masa terberat yang saya rasakan, karena saya melihat wajahnya setiap hari, namun saya tidak mempercayainya lagi. Calon bos yang menyatakan diri sahabat saya itu ingin diperhatikan dan disayang namun tidak sudi memperhatikan dan menyayangi saya.  Kemudian ketika saya tanya alasannya ia menjawab, karena kandidat yang lain sangat cocok, semua pekerjaannya sekarang mirip dengan apa yang akan dikerjakan. Hm, aneh, tapi terserahlah.

Kenapa saya bilang aneh? Karena kurang lebih tiga bulan setelah peristiwa itu saya mendapat promosi. Saya mendapatkan posisi yang saya inginkan tapi dengan job description yang samasekali berubah. Persamaannya dengan pekerjaan yang sekarang? Tidak ada. Jika saya melewati interview pasti saya tidak diterima.  Saya sekarang bekerja untuk fasilitas perumahan.  Apa yang saya tahu tentang rumah kecuali rumah saya sendiri? Rumah saya sendiripun saya percayakan pemeliharaannya kepada suami saya. Kalau atap bocor, bukan saya yang naik ke dak untuk membersihkan daun kering-nya.  Kalau torren bocor, dialah yang bertanggungjawab menemukan kebocoran atau mencari tukang untuk menambalnya.  Bahan apapun yang ia pakai dan berapa harganya saya tidak pernah turut campur. Saya sekedar meyakini saja.  Lalu, sekarang, mendadak, saya harus tahu membedakan jenis-jenis cat, jenis-jenis atap, menginspeksi kualitas pekerjaan tukang, mengetahui harga material, mencarikan pembantu, membelikan sprei hingga memasang internet.  Tidak ada persamaan nya sama sekali dengan pekerjaan saya terdahulu.

Seorang teman saya pernah menasehati, bahwa pekerjaan itu bukan rejeki jadi tidak udah disesali.  Saya tidak menyesali namun mempertanyakan alasan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat-nya.

Jadi, saya sekarang berada dalam sebuah dunia yang benar-benar berbeda.  Saya sedang menggunakan seluruh sumberdaya saya untuk memahami dan secara cepat mastering dunia ini.  Hari-hari saya sibuk, masih melakukan sedikit dari apa yang saya lakukan sebelumnya, belajar memahami dunia yang baru, ikut mengembangkan sesuatu dan terlibat dalam ini dan itu. Sibuk. Super.  But I like it.

Anehnya, pikiran saya yang complicated ini sophisticatedly masih bisa memikirkan hal-hal lain.  Seperti persoalan ketidakcocokan maternal yang tidak pernah bisa diatasi dan selalu menggangu.  Masalah baru dalam pelayanan jemaat yang entah darimana datangnya tapi membuat tidak nyaman.

Allrite. One by one. Mater and me bukanlah dua manusia yang bisa bekerjasama dengan baik. Kami dua individu 180 derajat berbeda.  Saya praktis, mami saya ribet.  Saya fair, mami saya pilih pilih.  Saya pemurah, mami saya pelit.  Mami saya berdandan habis-habisan, saya berdandan natural.  Mami saya suka pesta dan bertemu orang, saya tidak.  Mami gemar bicara, saya tidak. Sejak lama perbedaan  mencolok demikian membuat hubungan kami tidak baik. Mami complain kepada semua orang yang mau bahwa segala sesuatu yg saya katakan hanya menyakiti hatinya. Mami selalu menusuk saya dengan perkataan bahwa saya sombong dan tidak suka tersenyum membuat orang tidak hormat kepada saya. Saya membalas dengan pertanyaan,  memangnya siapa yang hormat kepada mami membuatnya berpikir demikian, and she comes with answer that she did thinks everybody in this world had and should menghormati dia.

Kadang saya heran mengapa kami yang satu darah satu daging bisa demikian berbeda.  Mengapa saya tidak mau mengalah untuk menyenangkan hati mami? Ngomong-ngomong soal mengalah, sebenarnya saya merasa cukup dua kali mengalah.  Satu, saat saya masuk universitas atas pilihan mami, dan kemudian jurusan atas pilihan mami.  Dua, saat saya menikah dengan pendeta sesuai keinginan mami.  Apakah pilihan itu menyenangkan? Tidak. Pilihan itu menyengsarakan.  Adik-adik saya merasa saya orang terbuang yang tidak sanggup masuk universitas yang lebih bagus.   Bertahun-tahun mereka meremehkan kemampuan intelektual saya.  Menjadi isteri pendeta juga tidak kurang meletihkannya.  Bertahun-tahun saya hanya menerima kritikan dan kritikan saja. Okey, dua kali mengalah, demi cinta saya sebagai anak kepada ibu dan demi membuatnya bahagia.  Let me asked this good question, pernahkah ia mengalah untuk saya? Bukan sekedar mengalah biasa, namun seperti yang saya sudah lakukan, yang mempengaruhi masa depannya? Sayangnya saya tidak menemukan satu pun.  What she did only considering herself.  Maukah dia mengalah untuk saya? Saya tidak yakin. Meminjamkan mobilnya saja kadang-kadang ia tidak bersedia walaupun ia tidak menggunakannya.  Jangankan memberi sesuatu yang lebih berharga.

Again, perasaan cukup mengalah itu yang membuat saya selalu kesal. Tapi, apa memang saya tidak mau mengalah?  Beban. Saya tidak kepingin dianggap anak durhaka, tapi saya juga tidak sanggup sekedar menerima nasib.

Now, problem number two. Seringkali saya berbincang dengan teman hidup saya tentang masalah kritikan terhadap pendeta dan isterinya.  Saya sungguh tidak suka dikritik. Saya juga tidak suka mengkritik orang lain sebenarnya.  Sahabat saya cuma menyabarkan saya dan berkata, ya, memang demikianlah kualitas jemaat jaman sekarang.  Tetapi saya menyanggah dalam ketidakpuasan saya.  Mengapa saya dikritik? Bukankah saya sudah melakukan sesuatu yang baik, memberikan all in all service lahir bathin kepada mereka, mendedikasikan seluruh waktu dan tenaga bahkan uang saya.  Lalu mereka masih membenci saya dan menganggap saya tidak layak. Paling ga enaknya lagi dikucilkan dan diomong-omongkan kepada jemaat lain sebagai bahan curcol. Sedangkan anggota jemaat yang tidak berkontribusi saja dihargai dan diberikan jadwal melayani, saya? Hanya karena ketidaksukaan mereka lalu mengucilkan saya di jemaat, tidak ditegur, tidak dianggap dan tidak diberi jadwal melayani manapun.  Ah. Mengesalkan.  Karena saya tidak punya seragam master guide dan tidak pernah menggunakan kacu lalu saya dianggap bukan seorang master guide dan tidak diajak dalam kegiatan kelas kemajuan.  Seorang yang baru saja menjadi master guide sepuluh tahun dan menjadi paskibra sekolah advent menyombongkan diri di hadapan saya bahwa dia sangat ahli dengan segala baris-berbaris. Ih. Andai saja ia tahu saya siapa. Good for me that it makes me reflected on myself apakah saya pernah menyombongkan diri kepada orang lain? Ah tidak. Saya cuma tidak suka tersenyum, apalagi sekedar senyum palsu kepada orang-orang yang saya tahu tidak menyukai saya.  Dan itu cukup dianggap sebagai bahan dosa besar untuk mengkritik saya. Disitulah saya kecewa.  Mungkin kesombongan saya  adalah tidak bisa dengan rendah hati menerima ketidakadilan kepada saya. Mungkin kesombongan saya adalah karena tidak bisa dengan nrimo berbesar hati atas kritikan.

I am moving on though!

Advertisements

2 thoughts on “Three Months Still Moving On

  1. Jujur , sy suka baca blog anda…tulisannya kadang menggelikan, penuh terus terang , apa adanya tanpa basa basi,terkadang ada rasa haru , gembira campur baur spt gado gado…… memang sulit memiliki hati seorang hamba ,,,, apalagi seorang wanita “yg lebih banyak berorkestra dlm perasaan “atau mungkin sy salah …lanjutkan tulisannya…4 thombs 4 u

  2. Hai, kakak 🙂
    Kita punya kesamaan dlm bnyk hal, pengalaman menyebalkan dgn adat, kondisi yg susah cocok dgn mama sndr, posisi anak tertua yg pny beban mental lbh berat, tp punya pemikiran luas dan menghargai kehidupan, so inspiring 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s