Softly & Slowly

A fast-mover who successfully do her things slowly!

Saya Orang Indonesia (Jangan Kawin Sama Orang Batak II)

Bulan July kemaren ada yang meninggalkan sebuah pesan di topik: Jangan Kawin Dengan Orang Batak! Gee….gw baru baca komen-nya hari ini, dan tiba-tiba merasa ~~kalau kata orang Sunda~~ peureussss di hati. Pedih! Ga ada hubungan sama komen itu, cuma tiba-tiba aja terlintas pikiran yang udah haunted lama di dasar otak gw.

Sudah beberapa tahun ini jika orang nanya sama gw: Mbak ini orang apa? maka gw akan menjawab: saya orang indonesia. Sering-sering orang nyangka gw becanda, lalu tersenyum dan memperkuat pertanyaannya: Maksudnya, asalnya dari mana? Gw jelas tau maksud pertanyaannya, gw hanya menghindar.

Berada di pesta pernikahan orang batak dan arisan orang batak ga pernah membuat gw merasa nyaman. Selain asap rokok yang tidak familiar dengan gw, dan benar-benar merupakan jenis polusi paling nyebelin-ever buat gw, adat istiadat yang berlaku juga membuat gw sering-sering merasa terhina daripada merasa belong-to.

Contoh yang paling gw inget adalah waktu bokap gw meninggal. Gw adalah anak-nya. Anak-nya yang paling tua. Dan gw merasa dekettttt banget sama bokap gw. Sedih hati-nya adalah, oleh banyaknya orang yang datang berkunjung, gw ga merasa terhibur malah tambah sedih hingga gw pingsan dan menangis melolong. Bukan kepergian bokap yang paling menyayat hati gw, tapi kenyataan bahwa orang-orang yang datang itu ~~baca:orang batak~~ ‘menendang’ gw dari berlama-lama memandang terakhir kalinya jenasah bokap, dan menganggap bahwa mereka-lah yang paling patut untuk menghias peti mati-nya dan duduk di sebelah jenasah my very own father!

Dalam upacara adat batak untuk melepas jenasah itu, gw samasekali ga masuk itungan. Jangan-lah disuruh duduk di samping peti mati bokap gw, berada di ruangan yang sama pun gw hampir-hampir ga boleh kalo gw ga betereak permisi minta jalan: “Saya anaknya! saya anaknya!” Semua orang mengarahkan punggung-nya dan melotot marah ketika saya minta jalan. Bukan hanya gw yang sakit hati, adik-adik gw yang perempuan empat orang juga merasakan hal yang sama. Miris banget. Hingga belakangan setelah peristiwa itu saya ga kaget ketika mereka menyatakan ogah kawin sama orang batak. Satu-satunya yang terus-menerus dipanggil-panggil adalah adek gw laki-laki satu-satunya. As if, my father only have one child ever in his life.

Sebisa mungkin hingga hari ini gw menghindar dari arisan orang batak. Paling segen gw dengan acara-acara sedemikian. Tidak nyaman. Tidak friendly. Tidak kepingin. Udah hampir empat-puluh taun usia gw, dan sejauh ini belon pernah sekali-pun gw merasa bersahabat dengan lingkungan tersebut. Belum pernah dalam acara apapun juga, pernikahan atau kematian di keluarga gw, gw merasa di welcome or well-comfort oleh orang-orang yang menganggap diri mereka pemangku adat batak. Gw lebih merasa diinjek, dicela, dimaki dan ditendang.

Kadang gw berasumsi bahwa keengganan tersebut berhubungan erat dengan kebudayaan bikinan seperti rokok, kopi, kartu, bir dan saksang. Saya seringkali bete kalo menanyakan jenis makanan, lalu dikomentari: Ah, makanan apapun halal nya…mana ada yang haram.  Halal atau haram adalah wilayah pribadi.  Sama dengan agama dan kepercayaan. Saya tidak percaya dalam SOP budaya batak ada keharusan untuk orang batak makan darah.

Anggota jemaat gw banyak juga orang batak, temen deket gw banyak juga orang batak, tetapi mereka termasuk kategori yang mengharamkan babi dan anjing, tidak merokok dan minum bir dan memilih nonton DVD daripada main kartu. Dan ternyata, dengan mereka pergaulan gw ga ada masalah, gw merasa damai dan gw tidak merasa salah tempat.

Gw meyakini bahwa memang kita ga bisa mengeneralisasi orang berdasarkan suku dan ras-nya.  Namun, bagaimana gw bisa keluar dari  opini yang negatif kalo setiap kalinya yang gw liat dan gw harapkan adalah hal berbeda. Contoh:  Adik gw menikah, memang gw adalah parhobas-nya. Namun, apa masuk akal, seorang perempuan yang berdandan nyalon beberapa jam demi tampil cantik di pernikahan adiknya, disuruh-suruh dan dipanggil-panggil oleh pria-pria yang duduk santai merokok dan minum kopi dengan kata-kata merendahkan seperti: “He, saya belum dapat minumannya!” atau “He, disini belom dapat, bagaimana sih, masak yang sana terus yang dapat sih *lalu memaki*”. Saya harus katakan bahwa belum satu kalipun seorang pria batak yang saya temui dalam acara-acara sedemikian yang tidak memandangi saya dengan tatapan kurang ajar, seolah-olah penampilan saya adalah sebuah godaan untuk mereka! Wajar saya tidak suka acara-acara dimana banyak orang batak berkumpul, karena ditatap sedemikian hanya membuahkan dua reaksi: tersinggung dan mau marah.

Saya tahu benar bahwa saya tidak boleh melabel setiap orang batak dengan cara yang sama. Namun, sekali lagi, bagaimana cara nya saya keluar dari opini negatif, jika yang saya lihat dan saya dengar hanya mendukung opini itu.  Para wanita bertubuh subur dengan gelang dan perhiasan keroncong yang seenaknya menyuruh-nyuruh saya: “Ambil cuci tangan! Bikin ini! Bawa itu!” dan kemudian mencela dengan seenaknya: “Ah, bagaimana pulak yang satu ini, kurang gesit!” Astaga! Padahal saya dikenal sebagai seorang fastmover.  Adik ipar saya dicela lebih pedas: “Hey, gemuk kali kau, nanti suamimu lari!”

Yang mencela jelas tidak lebih cantik ataupun lebih langsing dari yang dicela.  Belakangan saya tahu juga para pembicara adat yang reseh luar biasa itu ternyata dalam struktur kemasyarakatan bukanlah seorang manager yang cakap atau direktur perusahaan yang kaya raya. On average, malahan, mereka tergolong dalam kaum elit berprofesi tambal ban atau supir metromini.  Saya jadinya mengambil kesimpulan bahwa pantas saja mereka bersikap tidak sopan kepada suhud atau si empunya pesta, karena dalam keseharian, saya-lah yang lebih wajar bersikap arogan terhadap mereka. Pesta batak satu-satunya wadah dimana mereka merasa equal dengan orang-orang berpendidikan lebih tinggi dan berkarir lebih sukses. Nah lo.

Gw seneng dengan tarian, nyanyian, ulos, tao toba dan lainnya. Tapi bukan hanya orang batak yang memiliki beautiful culture seperti itu. Gw ga menyangkal diri gw sebagai orang batak, tetapi gw juga tidak bisa memaksa diri gw untuk menjadi seorang batak yang suka makan di lapo.

Better of all, gw menyatakan diri gw sebagai orang Indonesia.

201 Comments»

  Am. Ivan Sipahutar (SHAH UTAR) wrote @

Wah sebuah pengalaman yang pahit kalau ito diperlakukan begitu, maaf tetapi itu batak yang ito kenal kali kalau keluargaku enggak berlaku seperti itu maka cobalah membuka diri bagi orang batak yang lain , pasti ito bangga jadi orang batak

  bon jour no wrote @

bener juga ya setelah aku pikir2…orang Batak itu suka merasa dirinya paling hebat dibanding orang lain. Mereka merasa paling paling deh.
Agama mereka kuat, tapi mereka paling jago bolak balik omongan, yang salah jd benr, yg bener jadi salah. yang penting mulut bekoar.
Ok itu urusan mereka, cuma yg saya gak suka adalah orang Batak tidak mau jadi bawahan, maunya jd atasan, dan kalo sdh jd atasan semua bawahannya diganti dengan orang-orang Batak sekampungnya.

Mereka gak malu korupsi, liat aja tuh kasus2 korupsi besar pasti ada Batak nya, yg jadi hakim2 sogokan ya Batak juga…

Saya punya teman orang Batak, dia pernah berkomentar dgn bangganya..liat tuh yg duduk di pemerintahan sekarang kebanyakan orang Batak!
Saya jawab pula, iya tapi yg kasus2 korupsi kebanyakan ada Batak nya…
Apa dia jawab? ah itu kan masalah kesempatan, kalau kau yg jadi pejabat mungkin kau juga akan ikut-ikutan korupsi..

saya tersenyum, itulah jawaban khas orang Batak, bukannya malu tapi bermain kata kata dengan memulai perdebatan…
Tidak ada kata malu…merekA SANGAT PEDE

Saya jadi teringat akan boss saya di kantor saya dulu, dia seorang warga negara Belanda yg lama tinggal di Indonesia. Dia pernah berkata kepada saya…
” Saya tidak pernah akan menerima karyawan dari suku Batak, karena jika mereka masuk di kantor ini pasti mereka akan berusaha memiliki kantor ini, sekalipun kantor ini di atas kertas milik saya. Karena mereka akan berusaha memasukan karyawan2 baru dari sukunya sendiri…(zeg mereka tidak tahu malu hoor)
begitulah gaya khas Belandanya kalo bicara…

Saya sendiri tidak pernah bangga dengan kejelekan suku saya yg suka kawin cerai, jago bohong, gengsinya tinggi, menang nampang doang , terkadang saya malu.

Tapi kelebihan suku saya yg saya banggakan..pandai bergaul, terkenal wanita dan cowoknya yg ganteng2, pintar pd umumnya, berani dan berpikiran luas, sangat demokratis krn sejarah kami tidak mempunyai raja, yg ada hanya kepala2 adat…sehingga kadang di cap kebarat baratan…
dan satu lagi suku kami pernah mengikrarkan berdiri sendiri dgn tidak melepaskan diri dari Indonesia, setia kpd UUD 45 dan Pancasila…
Itulah kebanggan saya dan mungkin suku saya pd umumnya…

  cekeysh wrote @

hiks, that’s very true. cape ngeliat TV, koruptor pajaknya batak, boss boss nya batak, sampe hakim bias-nya pun batak. miris.

  nela wrote @

begitu yah???
betul juga sih katamu kak. cowoku yg sekarang sih batak, meskipun dah lama merantau tp sifat “pede tinggi” nya itu yg gaya khas org batak ga berubah. kl menurut pengamatanku, kyknya org batak itu emang lebih cucok dijadikan teman. krn sprtnya wanita mendapat t4 yg tdk sejajar di mata mrk. hanya emang juga sih mereka tu pinter2 dr sononya (ga tau jg sih apa kebetulan ajah tmn2 batak yg gw kenal tu pada pinter / pinter ngomong).
jadi takut juga nih kalo gini menjalin hubungan dgn org batak :(

  cekeysh wrote @

Saya sangat berharap suatu hari nanti ada sebuah pintu yang membawa saya untuk mengenal lebih banyak orang batak yang positif daripada yang negatif seperti yang selama ini saya kenal. Thanks for your encouraging comment!

  Josua wrote @

Horas buat semua…..

tegang baca postingan ini,

Sebelumnya saya(21) minta maaf jika ada kesalahan

saya mungkin ngerti pengalaman tante atau yang lain yang mungkin mengalami pengalaman buruk dari orang batak,

Tapi saya tidak melihat ada sifat buruk di dalam diri orang batak, tapi mungkin sikap keras didalam diri orang membuat dirinya terlihat buruk. Sama seperti tante sendiri yang berkeras (di postingan ini) tetap mempertahankan pemikiran anda (maaf).

Saya hanya berpesan pada tante, kalau anda masih membuka hati untuk menerima adat batak marilah kita lihat dari sisi positif, masih banyak yang dapat kita banggakan dari budaya batak walapun tak terlepas dari beberapa sisi negatif. Karena tidak ada yang sempurna di dunia ini, sebab kesempurnaan itu hanya milik Yang Maha Kuasa. Tidak ada diantara kita yang sempurna. Jika kita memandang dari sisi negatif tidak akan ada kedamaian. So, mari kita perbaiki budaya kita ini mulai dari diri kita sendiri.

(logat batak)–> tertawa nanti orang lihat kita

akakakaakkaakkaka………..!!

  Charly Silaban wrote @

Horas ito cekeysh..!
Domisili di Jakarta kah ?
Kalo iya, ayo hangout bersama komunitas Toba Dreamers sabtu ini (3 Nov) di Toba Dream Family Cafe, Jl. Dr. Saharjo no 90. Ada Live performance dari Viky and Tongam jam 9 mlm, Free..
Ajak aja keluarga and anak !
You’ll see different side of Batak.. :)

  marga_bush_syet wrote @

keknya yang salah bukan di bataknya deh tapi di orang2nya aja. masa si meninggal orang tuanya ga boleh deket2 gimana itu??? selama ini yg kuliat klo orang batak meninggal ga masalah anaknya yg laki ato yg perempuan mau dekat2 jenazah orang tuanya. jgn pengalaman anda di jadikan patokan bahwa semua batak seperti yg anda gambarkan. saya pun banyak meliat dalam acara2 batak orang2nya tidak menyenangkan tapi itu bukan berarti karena keBATAKannya tapi karena pribadinya yg seperti itu.

  cekeysh wrote @

Ya, memang benar. Ini boleh jadi adalah masalah kepribadian, bukan kesukuan. Tapi, manusia biasanya sangat dipengaruhi oleh kesan pertama, saya jadi termasuk golongan yang skeptis, karena orang batak yang saya kenal HAMPIR ga ada yang memberikan kesan baik untuk saya.

Mudah-mudahan ada pencerahan di masa yang akan datang…

  hotma wrote @

orang batak adalah orang yang paling berterus terang dan tidak berpura2. Memang sih banyak orang batak yang jahat dan kasar…Tapi bukan berarti semua orang batak seperti itu..Malah orang2 batak pada umumnya adalah orang yang sangat pekerja keras. Tuntutan hiduplah yang membuat orang batak punya tipikal keras.Mungkin itu yang bikin kamu ngga merasa nyaman, secara kamu tumbuh di lingkungan yang multi etnis atau katakanlah anak jakarte..Tapi aku sangat bangga sebagai orang batak Karena pada umumnya orang batak itu tulus, tegas, dan tidak berpura2. Dan yang penting, secara umum orang2 batak di negara ini adalah orang 2yang bisa diandalkan. Jangan kawin sama orang batak??Pasangan batak-lah yang tingkat perceraiannya paling kecil,karena orang batak sangt menghargai yang namanya perkawinan. Dan kebanyakan pria batak adalah orang2 yang setia.lah mau kawin aja acaranya susah & ribet, ya mikir 100 x lah kalau mau cerai.hehhehe..

  tugiyaningsih wrote @

setuju..tentang diskripsi orang batak yang ito bilang..aku orang jawa,pacarku orang batak juga aku bangga ma dy,,,tp ampuuuunnn dh….susahnya nembus keluarganya…aku dah sempet ngomong2 sma bapak ibunya..mereka dh setuju..tp keluarga besarnya menentang….gak ada omngan sama aku ortu dr cowoku pun terhasut untuk menjodohkan pacarku dngn boru karo(batak)….mngkn cukup 1 itu aja yang aku kurang suka dr mereka…kurang berterus terang…:(

  Inna wrote @

salam kenal untuk mb Ningsih, saya ingin ngbrol banyak dan mencari tau kepribadian orang batak. boleh saya minta emailnya, krna kasus mb sedng saya alami. tnx ya mb

  helena caroline wrote @

Hmmm it’s a difficult, really.

Bisa ngerasain apa yang kamu rasakan.
Mama dari papa saya batak, Papa nya papa saya ambon menado plus belanda. Mama saya Papa nya Batak dan ibunya sunda asli.

Somehow our Batak relative always claimed that my family is true Batak, dibanding ambon atau menadonya ;) Biasa kan Batak memang suka keukeh semekeuh ;p

True problem is my hubby orang Solo asli, and he always…. always teases my abot my batak blood.

Kalau ada kernet tereak2 dia bilang sst itu lho bangsa mu. Nonton Segap, Buser etc – etc, suami comment memang orang batak sadis sadis ya ……

Dari ketawa-ketawa sampai marah besar, sampe akhirnya ke tahapan kalo emang gw batak so what???

Padahal not even single batak language or tradition yang saya atau mama even papa saya paham.

Cuma memang waktu saya menikah semua Tulang, opung, whatever itulah ambil peranan sampai papa mertua saya yang dari Solo ditanya kamu bawa mas kawin berapa? di hari pertunangan saya ha ha ha ha ;)

Jadi memang seperti ini ya nasib jadi keturunan batak ha ha ;) even I’m not 100% Batak Lho!

Salam,

Helena Caroline

  Humphrey H Samosir wrote @

Horas Ito,
Saya lahir dan besar di luar negeri, tetapi oleh halak Bapa diberi pokok pokok paradaton tentang kita batak. Saya kira justru tingkah polah demikian justru diperagakan oleh sekelompok orang “batak” yang justru pengetahuan tentang paradaton yang sangat “minim”. Boleh dibandingkan dengan orang batak di hitaan apalagi who resides in remote areas. Harus ada hitungan jelas posisi Dalihan na tolu. Apalagi jika meninggal dalam keadaan sari-matua, saur-matua dll.

Memang posisi anak “siboan goar” selalu diuntungkan dalam hitungan tersebut, tetapi jika dilihat secara seksama, itu tergantung humbang mana yang dianut.

Hanya saja memang kata kuncinya terletak pada, apakah keturunan yang meninggal telah menikah/berkeluarga?

Saya memaklumi perasaan ito-ito semuanya. Saya sendiri sangat tidak setuju pada perlakuan demikian. Seharusnya mereka lebih “elek” mangelek terhadap boruni namatoras. Perkara sudah menikah atau belum.
Tetapi juga kalau boleh diingat bahwa orang tua kita juga masih merindukan untuk meninggal dalam keadaan batak, kata Ompung nahinan bahwa “asa unang ngali-ngali dohot malungun tondi ni namatoras”. Begitu katanya.

Bagaimana pendapat anda tentang adat kita batak? Silakan kunjungi http://hhsamosir.blogspot.com/2008/01/stop-lecehan-kaum-agama-terhadap-adat.html

ps:
1. My admiration of your cultured vocabulary.
2. Here in US, many people will say that they are Irish-American, African-American and etc to describe their ID, I’d rather NOT to say that I am Indonesian-American but Batak-American. Although, to their ear it’ll sound like “Buttock”.
(Just the joke)

Semper Fi,
HH Samosir USMC

  hot patar wrote @

Salam Hangat ito,

Dari “comment” yang telah diberikan oleh kawan kawan, mungkin sdh cukup membuktikan bahwa sifat org batak yg ito pikirkan tdk seburuk kenyataannya.
Nikmatin saja hidup yang sekali ini, jangan sesalkan yg sdh lalu, org tua yang sdh meninggalkan kita, simpan kenangan selama hidup bersama org tua itu dalam hati (hanya itu yg bisa dilakukan..dikenang). Jadi senanglah jadi orang batak.Karena memang orang batak.

Horas,
Hot Patar Hutasoit.

  batak do au wrote @

horas mejuah-juah yahooo t0….

share aja nih disuku lain juga banyak hal yang ngak menyenangkan kok, tapi banyak juga yang menyenangkan..seperti kita tauh sendiri adat suku dibandung misalnya yang kawin cerai begitu gampangya… hanya berdasarkan uang. dan semua orang di indonesia mengakui suku tersebut begitu. jadi ya tiap suku pasti ada baik dan buruknya, kalo dengan begitu kita harus mempublish ke masyarakat umum… matilah kita
hehehe….. soalnya ito perlu tauh juga banyak suku diindonesia bangga dengan orang suku batak, sebagai contoh di tempat saya bengkulu, jambi, palembang, orang batak di anggap orang yang survival. dan bisa beradaptasi dengan masyarat setempat. sehingga banyak orang batak di daerah saya bisa diterima di masyarakat setempat. dan orang2 batak disana mempunyai kekerabatan yang bagus sesama orang batak. yang bisa saya ucapkan ama ito… mungkin orang batak didaerah ito emang kekgitu kali…. dimana seh??? ??

horas mejuah-juah yahowu

  cekeysh wrote @

yups, thanks for your all encouraging comments. saya masih berpijak pada keyakinan, bahwa sekalipun hingga detik ini saya belum merasa kebanggaan, keuntungan atau kebahagiaan jadi orang batak, saya tidak menutup hati saya untuk kemungkinan suatu saat nanti ada pencerahan.

  linggom Marojahan Rumahorbo wrote @

Horas, ito !!
saya orang Batak, tinggal di Bona Pasogit, tapi bukan berarti pemikiran kita harus seperti Bona Pasogit. yang artinya kita harus berpikiran luas.
saya mengerti akan perasaan yang sedang kamu alami. dalam adat Batak, kadang kita merasakan adanya ketidakadilan.
saya pernah merasakan apa yang ito rasakan, yaitu ketika oppung saya yang paling sulung meninggal.
tapi itu tidak membuat kita bangga sebagai orang batak. dari setiap cerita yang telah ito sampaikan, disana kita dapat lihat kalau yang salah bukan bataknya, tetapi orangnya.
Kenapa???
banyak dari kalangan orang Batak sudah merasa dirinya hebat kalau sudah mengerti adat Batak, tapi kenyataannya tidak demikian.
seorang orang Batak dianggap hebat ketika dia dapat mengharumkan nama keluarganya dan dapat melaksanakan apa yang disebut DALIHAN NA TOLU dengan sebaik2nya. Mungkin ito juga tahu apa itu dalihan na tolu.
jadi jangan merasa berkecil hati sebagai orang Batak, tetapi banggalah sebagai bangso Batak , yang mempunyai adat istiadat yang mengagumkan.
HORAS…..!!!!!!

  dewanto sinurat SH wrote @

horas ito boru apa , ?maaf mencampuri urusan keluarga kalian ,tapi sebagai orang batak asli saya tergerak berbicara ,singkat aja ..coba di selami lagi lebih dalam ..saya juga gak fanatik amat dgn batak tapi aku coba selami ada juga sih hikmahnya ..coba bayangkan kita di rantau tak ada otrang datang akrena kemalangn..tapi begitu terderngar oleh marga maka akan ada yang datang..

  cekeysh wrote @

terimakasih untuk your comments, all!

menyelami kebudayaan batak adalah salah satu yang saya lakukan selalu. saat menyelami dan mengobservasi apa yang terjadi di lapangan, benturan pun terjadi. Budaya yang indah dan diciptakan untuk saling mengasihi satu dengan yang lain menjadi sebaliknya.

Ito Sinurat bilang di rantau kita kemalangan lalu terdengar oleh marga dan mereka datang. Ah, benar sekali. Sayangnya, dalam pengalaman saya, lalu mereka yang datang itu minta ongkos pulang! Mungkin memang pengalaman saya yang kebetulan kurang baik. Saya selalu berharap hanya saya saja yang kebetulan mengalami hal-hal tersebut karena kebetulan dalam lingkungan marga saya mungkin orang-orangnya kurang sensitif.

Tetapi memang, hingga saat ini belum sekali saya merasakan kenikmatan memiliki saudara yang sama-sama orang batak. Secara adat.

Pintu hati tidak pernah saya tutup. Selalu berharap. Mungkin tidak akan harapan saya terwujud? Entahlah.

  jupiterpredy wrote @

salam buatmu,adakalanya batak itu persis sperti yg ito katakan,tp saya mau berbagi pengalaman dng ito,pd awalnya saya juga meganggap bhw smua batak itu wataknya keras,tp setlah saya telusuri ternyata prasangka saya salah,intinya saya mau membuka diri dan berterus terang sma org batak dan hasilnya saya sangat bangga menjadi org batak tulen.

  Lindang Nababan wrote @

Salam kenal, gw lahir dari orangtua yg asli batak.mereka jg lahir di bonapasogit.tp km,anak2nya dah lhr di jkt. Hampir semua keluarga besar sudah tgl d jkrt. sejak kecil gw merasakan sekali kekeluargaan sbg org batak, kbtlan mereka tdk aneh2.gw senang ikut arisan dan pesta. Tp sejak gw pindah k Metro (Lampung) dan menikah gw sangat tdk suka k pesta dan arisan. gw merasakan yg km rasakan itu..lingkungan org batak di metro sprtny tdk welcome dg gw, bahkan keluarga suami yg bnyk tgl d lampung..srng dgr selentingan krn gw sdh lhr d jakarta tdk mengerti adat..bahkan prnh wkt acr tujuh bulanan di tgh orng banyak gw sprt org tertuduh diomongin sm ketua punguan. Gw sadari bukan krn adatnya gw mls ke pesta di metro tp krn org2ny. Gw dekat dg keluarga dan teman2 gw bnyk org batak..tp tdk sprt mrk, yang menganggap org yg lhr di bonapasogit yg plng bgs, wlpn tdk sklh, tdk bs mendidik anak, tdk rajin k gereja,wktny hbs utk ngerumpi. Patokan mereka istri yg bgs yg rajin ke acr adat,mrk tdk berfikir jaman skrng bnyk perempuan batak yg pny karir. Apalagi saat ini gw pny 2 anak perempuan, kl hdr diantara org batak sprtny gw ini bukan apa2 krn blm pny anak laki2. Sepertnya tdk pny anak laki2 adalah keselahan gw yang sangat besar.Sejak tahun lalu gw diskusi dg suami kl gw tdk bs memaksakan diri dg lingkungan org batak di metro ini. Mmg gw hrs maklum..krn hampir 90% org batak di metro hanya lulusan SMA dan SMp, dimana kebnykan priany tdk bekerja, yg bekerja kaum perempuan itupun menjalankan kredit di pasar dan mereka msh membawa kebiasaan di bonapasogit wlpn sdh merantau. Sprt ke lapo, main kartu sp pagi, berebutan ambil makanan di pesta, dan lucunya kaum ibu2 suka sirik kl ada perempuan batak yg lbh maju. Yang pasti wawasannya kurang,sekian tahun merantau tidak merubah cara berfikir mrk.
Kl gw dtng di arisan gw sprt orang asing, bkny gw tdk mau ngobrol, srng gw coba basabasi tp ibu2nya menjawab dg ketus.
Akhirny gw berfikir semua kembali ke pribadinya..kdng gw kangen kumpul2 dg keluarga besar di jakarta yg bs menrima gw apa adanya.

  lala wrote @

Wah, setuju banget deh dg Topic nya.
I’m really really not proud to be Boru Batak.
Saya Orang Indonesia.
Mostly Orang Batak itu kasar, egois, hobi campur tangan urusan orang, Omdo (no action, talk only), hobi mabok+judi, dll.. (maaf nih bukan bermaksud menjelekkan, tp reality).
Saya bukan 100% Batak (Bokap doang yg batak asli), lahir & besar di Jkt. Tp di rumah Bokap tdk pernah mendikte untuk menerapkan adat batak. Bahasa sehari-hari pun menggunakan bahasa Indonesia. Namun waktu acara pemakaman Bokap, boro2 mereka2 yg Batak mau bantu (baik materiil or non-materiil), yg ada cuma bisa nyuruh ini itu. sok seksi repot tp malah tambah ngerepotin. Waktu acara nikahan juga byk bgt ribut ini itu. Sekarang rumah tanggaku dicampuri oleh mertua yg asli batak. Jadi nya yah berantakan & sedang dalam proses menuju perceraian.
So, what is the good to be Bataknese?

  cekeysh wrote @

Deeply sympathy for your situation, Lala.

Saya sangat tertarik dengan komentar Lala.

Lala, sangat disayangkan rumahtanggamu berakhir dengan perpisahan. Saya tidak bisa membela orang batak bahwa mereka baik dsb, karena yang saya alami tidak seperti itu.

Ada banyak komen untuk posting ini yang tidak saya approve. Bukan bermaksud untuk berat sebelah, namun karena terlalu negatif. Banyak menuduh saya kurang wawasan, keras kepala, mudah tersinggung, tidak tahu adat, malahan ada yang menyebut saya tidak pake otak, dan mensyukuri bahwa saya tidak laku-laku kawin (saya senyum sendiri membaca komen yang itu).

Lala, orangtua saya dua-dua nya asli batak. Ayah saya sudah almarhum. Mertua saya dua-duanya asli batak, dan dua-duanya sudah almarhum. Keempat adik saya menikah dengan orang batak, dan keempat saudara ipar saya juga menikah dengan batak. Darah batak sangat kental di urat nadi saya.

Sayangnya, seperti juga Lala, saya mengalami hal-hal yang membuat saya memandang kebatakan saya dengan kritis. Seperti yang Lala bilang, orang batak yang berjudi, minum sampai mabuk, berbicara tanpa tatakrama, sampai yang membuat perkara kecil menjadi besar dalam pernikahan dan kematian sudah saya alami.

Namun setelah itu saya tidak lantas menutup mata dan menerima keadaan itu sebagai suatu adat yang harus saya lekatkan di hati saya.

Seorang pintar pernah berkata: Our brain can only function when it is open. Saya setuju benar. Jika pikiran kita tidak terbuka, kita tidak pernah tahu, bahwa sebagai orang batak kita telah melakukan kesalahan. Kita telah menjustifikasi kekasaran cara bicara kita sebagai bagian dari kebatakan kita. Apakah memang demikian adanya? Apakah memang orang batak tidak bisa berbicara lemah lembut? Saya tidak percaya.

Jika pikiran kita tidak terbuka, maka kita akan mengklaim bahwa di acara adat sebagai ‘raja’ kita harus menerima benefit ini dan itu, tanpa menyadari bahwa sebagai manusia, di dalam kedukaan, seharusnya kita lebih ber-empati untuk direpotin dan bukan ngerepotin.

Dan pikiran tidak terbuka itu-lah yang lebih menjadi beban saya yang menyandang suatu marga batak di belakang nama saya.

Terimakasih sudah meninggalkan pesan di posting saya ini. Mudah-mudahan orang berikut yang membaca-nya lebih memahami esensi posting ini.

  Fernando wrote @

Horas di hita sasudena, Syaloom,

Orang tua Saya lahir dan besar di tanah Batak, tapi saya diijinkan Tuhan lahir di Jakarta, Menurut saya hanya Tuhan Yang Maha Sempurna, suku manapun pasti ada hal – hal yang positip ataupun negatif tergantung dari sisi mana kita menilainya, ada beberapa adat istiadat Batak yang posisip dan patut di jaga dan dilestarikan, ada juga yang kembali menurut saya tidak positip dan perlu di tinggalkan, tapi smuanya itu adalah bikinan manusia..so … no body is perfect….kalo membuat kita damai sejahtera lakukan dengan suka cita jika membuat kita ,merasa tersiksa kenapa harus dilakukan, serahkan semuanya pada Tuhan…Beliau teramat sangat jauh lebih tahu apa yang terbaik buat anaknya, kebetulan istri saya bukan orang Batak dan dulunya bukan Kristen..tapi puji Tuhan, semua indah pada waktunya…keluarga kami sangat diberkati walau sering mengalami kesulitan di beberapa sisi..tapi Tuhan selalu buka jalan.

Dalam hal adat kami sering mengalami ” peminggiran ‘. tapi buat saya adat tidak bisa membawa keselamatan ke surga jadi kalaupun saya sedikit terpinggirkan, itulah resiko jika menentang adat dan saya fine – fine aja tuh….jadi semua kembali kepada kitanya masing – masing..tergantung bagaimana kita menyikapinya…finally…serahkan semua pada Tuhan…Beliau akan buka jalan…semua akan indah pada waktunya …Syaloom and God Bless Us

  Oleg Saelanenko wrote @

You think you know but you don’t.

Kemarahan adalah salah satu perangai penting untuk membuat keseimbangan. Ito memang harus marah “hanya” saat dibutuhkan untuk menekan pesan penting pada isu tertentu. Tetapi kemarahan akan kehilangan kekuatannya kalau terlalu banyak digunakan.
Setiap manusia dipengaruhi oleh kekuatan internal. Kecenderungan berbuat baik dan kecenderungan bertindak yang merugikan. Saat dihadapkan pada dilema moral, ito bisa mengenali sisi mana yang lebih positif dan mana yang merugikan.
Nah yang uniknya “Shit happens” at all time yang sering sekali tidak bisa kita hindari. Dan saat ini ito kebingungan sehingga dikuasai oleh nafsu membalas dendam yang sudah merupakan sifat dasar manusia.
Pertanyaan saya ke ito: apakah ini yang selalu diajarkan alm. Amangboru untuk selalu membalas dendam? saya yakin 200% tidak, karena terbukti dongan tubu selalu respek dengan keluarga.
Ok, apa yang terjadi sebelumnya atau dimasa yang akan datang apakah sedemikian penting? atau apakah bisa ito kontrol? Jadi lebih baik kita memikirkan mengenai saat ini, seperti ketika saya sekarang memberikan komentar karena masih dalam kendali saya. :-D

  cekeysh wrote @

If it is, please think deeply through this my statement: Pernahkah saudara Oleg menjadi saya? Berada di rumah saya? Duduk diantara orang yang mengaku saudara saya? Jika belum, saya mengundang anda secara terbuka untuk melakukannya satu kali saja, untuk mengetahui apakah sesungguhnya yang sedang berada di dalam ‘kendali’ itu?

  Nurdin sirait wrote @

Hidup batak….jayalah bangsa batak….persatuan dan persaudaraan bangso batak seperti air d laut….horas…!!!!!

  Supplier indonesia wrote @

kalau aku sih, aku tidak mau memungkiri darah yang mengalir di tubuh saya, walau banyak hal yang tidak aku suka dari orang batak, namun demikian saya tetap bangga jadi orang batak, karena bagi saya baik dan jeleknya suku batak, saya adalah orang batak, dan setiap orang bertanya “saya orang batak”

Cobalah untuk membuka diri lagi ya ito…banyak hal positiv yang bisa kita banggakan :-)

  sa9al4 wrote @

wah.. saya termasuk orang batak abal2… nyaris antipati ama acara2 keluarga (batak). singkatnya kurang lebih sama kaya ito lah..
saya rada2 liberal kalo masalah adat (aneh ya), selalu berdebat kalo udah ngomong begituan (sama ortu & saudara2) dan untungnya saya selalu merasa ‘menang’… hehe..

tapi saya kira sayapun gak bisa memilih jadi orang batak atau ngga… cepat atau lambat akan selalu ada orang batak menemui saya, orang yg bertanya mengenai ‘batak’ dan ingin merasa ‘kebatakan’ bersama saya..

maka sayapun mulai belajar… kadang saya pikir jg saya musti memandang dr sudut pandang mereka, ga ada salahnya.. karena selama ini saya bisa dibilang ‘sombong’, hanya mengakui yg ada di pandangan saya.. dan melecehkan ‘kekolotan’ mereka..

tak kenal maka tak sayang…. i shouldn’t judge em, before i REALLY know about em & my SELF!
syukurlah keingintauan saya tentang batak mengirim saya kesini (lumayan ngegugling semaleman)

semoga saya bisa belajar dari kasus ito…

tetap kuat ito..
thx…

  latteung wrote @

bagus tulisnya….mantap.

sebetulnya, kami ( mungkin ito nggak ikutan ), harus kembalikepada semangat batak yang sesungguhnya.

apa itu semangat batak?, sebaiknya ito cari tahulah, apa itu semangat batak sesungguhnya.

sekarang ini, banyak dari kami orang batak yang sudah tak waras lagi. bangga dengan kebatakanya yang amburadul.

adat batak tak seperti yang sekarang ito lihat, …aku juga muak dengan praktek adat batak yang sekarang ini.

beberapa kali saya berdebat soal ini.

yang jelas, saya orang batak yang mencintai nilai budaya batak asli,..bukan adat batak jakarta

  cekeysh wrote @

saya senyum sendiri membaca ‘kebatakan yang amburadul’ heheh… mudah-mudahan saya tidak amburadul, tidak sekarang ataupun nanti… thanks for your comment

  widya wrote @

Kalau mendengar org batak, pikiran & hatiku langsung mengingat 2 tahun yg lalu, dimana kekerasan phikis tlh dilakukan t’hadap diriku dg status sbg istri. suami, ibu mertua, adik2 ipar, inanguda suami & kel besar’y langsung mengeroyok diriku bila kami sedang ada masalah dlm rmh tangga kami sbg suami istri. Suamiku org batak ttp dia tdk prnh dewasa dlm memimpin rmh tangga’y, sbg istri aku tak pernah diberi nafkah sesenpun, malah tuntutan keluarga’y t’hadap aku begitu tinggi (berhubung aku juga bekerja). Makian, hinaan & melecehkanku sbg menantu sllu kurasakan. Hingga hal ini sempat m’buatku shock dlm mengarungi pernikahan yg kuanggap amat sakral ini, tp batinku sllu penuh tekanan, rongrongan hingga kurasakan pernikahan org batak sangat penuh dg keegoisan & mau menang sendiri. Ini adalah pengalamanku menikah dg org batak yg menjadikan rmh sbg penindasan kekuasaan tanpa hati nurani.

  cekeysh wrote @

sedih banget membaca tulisanmu, widya. my prayer goes for you, hope God hold your hands and support your feet whenever you feel weak.

  Lidia wrote @

Saya lahir, besar, dan menikah semua serba batak, memang bnyk org batak yg kasar dan sok tau, kadang kesal dn malu jd org batak,kasian juga karna mereka mempunyai sifat dan lingkungan seperti itu. Dan sy pun sgt bangga sbg org batak. Apa yg dialami, saya turut prihatin. Di lingkungan sy kalo ada yg meninggal anak2nya ntah boru ato anak, pasti disuruh dkt-dkt dngan yg meninggal. Untk pesta karena sy boru, maka sy pun siap-siap jd parhobas tp tdk repot sangat karna sudah ada yg ngurusin itu, malah kdg sy jd seperti hula-hula, dilayani, tp ketika kel.suami sy yg berpesta maka sy pun akan duduk2 disamping ipar2 sy. Menurut sy apa yg dialami sering terjd karena apa yg kita pikirkn. Ketika mo pesta sdh berpikir duluan ah pasti nanti sprti ini, itu, bertemu si ini, si itu, sehingga sdah antipati duluan, tp kita gk bisa menghindar karna merekalah horong kita. Tp kita bertemu mereka pd saat tertentu bkn? Jd
Nikmati sj, biarkn itu rhema hidup. Mari kita ajarin generasi kita to be proud jd org btk tp bukn yp memalukan, sok tau dan mengesalkn seperti itu. Puji Syukur karna cekeyhs jodohnya batak jg. Just for a joke: tmn sy, jawa, blg: sy mau protes Tuhan knapa sy dilahirkn jd org jawa, knapa gk tanya sy dvlu sblm dibuat, mau jd org apa, lahir dimana..ha,ha. Semoga makin dicerahkn hatinya untk bangga jd batak.GBus

  jauhari damanik wrote @

orang batak lagi…
terminal : bah horas lae .naeng tudia do hamuna..?
adat..: sattabi jo diloloan natorop..
watak org batak memang keras,seperti watak ito..sorry,tapi nampak kok..bolehlah kita memilah mana yg adat mana yg mengatasnamakan adat, jaman sekarang kaum perempuan juga sudah ada yg jadi raja parhata..,tatakrama batak juga jelas ” dalihannatolu”ada saatnya menjadi hula – hula, boru atau dongan tubu, sebenarnya batak itu sangat indah ..

  ari wrote @

tidak usahlah memperpanjang lebarkan masalah ini. dari komen2 di atas, kita semua harus sadar bahwa yang salah bukan adat dan budaya nya. yang salah bukan Bataknya. tapi manusianya.. bukan adat yang mempengaruhi manusia tapi manusia lah yang mempengaruhi adat krn adat adalah ciptaan manusia. manusia sebagai subjek. oleh karena itu individunya yang salah. nah berarti tidak semua individu org Batak yang kasar dan jahat. ingat, tidak semua..! toh daerah lain juga punya kekurangan dan keburukan. sekali lagi itu bukan karena budaya nya melainkan orangnya. kalau kita membenci suatu suku (dalam hal ini batak) dan kita berjanji utk tidak menikah dengan orang Batak, lalu apa sikap kita itu benar? bunda teresa pernah berkata “kalau kita men-judge/mengadili/mencap seseorang atau kelompok sebagai seseorang/kelompok yang buruk, maka yakinlah kita tidak akan pernah bisa mencintai mereka”. oleh karena itu marilah mulai terbuka dengan orang Batak.

  cekeysh wrote @

maaf saudara Ari, posting ini tidak memperpanjang lebarkan. Ini adalah blog pribadi dimana saya menuliskan opini pribadi saya mengenai pengalaman-pengalaman hidup saya. saya tidak tertutup dengan orang batak, walaupun jarang sekali saya menemukan yang cocok di hati saya karena sudah terlanjur sakit hati. terimakasih tanggapannya.

  Philemon Aritonang (@PhilemonaRajag) wrote @

Batak apa yang membuat begitu,
saya orang batak dan orang tua saya tepatnya ayah saya atau AMong saya sudah meninggal, kami anak-anaknya dan ibu (Inong) kami selalu disuruh disebelah jenajah, bahkan malamnya sebelum pengebumian pun kami tidur bahkan disuruh disamping jenajah. karena orang batak yang lain bilang ini lah saat kalian bisa bersama bapak kalian ini.
sepertinya batak yang mbak ceritakan batak yang lari dari kelajiman, atau saya tidak tau bahwa ada bata.
horas ito … rajagukguk sian sidikalang

  cekeysh wrote @

betul ito rajagukguk, semakin lama saya berpikir sepertinya memang keluarga saya itulah yang berbeda dari kelaziman. sayangnya saya sudah mengalaminya selama 40 tahun, dan kedua orangtua saya menganggapnya bukan sebagai sesuatu yang perlu diperbaiki. saya menghargai saat menghadiri pesta batak dari keluarga lain dimana segala sesuatu berlangsung dengan damai sehingga adat budaya menjadi dicintai dan bukan dijauhi. terimakasih tanggapannya.

  renatalido wrote @

hahaha…seandainya waktu lahir d’tanya mw jadi suku apa? km mw jadi suku apa?

seandainya mw berteman, mw berteman dgn suku apa?

seandainya mw menikah, mw dgn suku apa?

seandainya mw mati, mw dijemput Tuhan yg suku apa?

saran aja, klo lingkungan Anda seperti itu, mudah, yh tinggalin, domisili dmn kek, atau d’luar negeri sekalian…tp jangan membuat statement yg seperti ini…so, bagi mereka yg dlm statemen Anda ini:

“Anggota jemaat gw banyak juga orang batak, temen deket gw banyak juga orang batak, tetapi mereka termasuk kategori yang mengharamkan babi dan anjing, tidak merokok dan minum bir dan memilih nonton DVD daripada main kartu. Dan ternyata, dengan mereka pergaulan gw ga ada masalah, gw merasa damai dan gw tidak merasa salah tempat”

klo membaca ini, khan gag jadi berkat, malah mereka jadi sedih…

Apapun yg Anda alami, saya prihatin…tp kesalahan terbesar Anda adalah kesimpulan yg Anda buat.

be wise girl, ok…

  cekeysh wrote @

sayang sekali renatalido, pendapat saya masih belum berubah soal yang satu itu. saya melihat urusan rokok dan bir membuat pesta-pesta batak tidak nyaman. saya bukan perokok. apakah ada orang batak, seoraaaang saja yang pernah berpikir dalam pesta itu: “ah, kasihan para perokok pasif” dan berhenti merokok? if there is one, I bet I’ll change my mind. merokok adalah hak setiap orang, tapi, tentunya perhatikan juga orang lain yang memilih untuk tidak merokok tapi harus terperangkap dalam asap selama berjam-jam acara pesta. kedua, saya tidak benci orang yang minum bir. taaapi, saya benci orang yang memaksa saya menghindangkan bir sementara saya menghidangkan soft drink. apakah tamu pesta boleh menyakiti hati si pembuat pesta dengan mencela hidangannya? saya boleh toh mengundang orang ke pesta saya dengan menghindangkan makanan yang saya suka? itulah sandungan yang selalu saya temui di beberapa pesta batak dimana saya terlibat. saya terganggu jika para saudara ayah saya arisan di rumah saya dari jam 12 siang sampe jam 10 malam ga pulang-pulang karena main kartu dengan taruhan uang, berkilah bahwa itu adalah permainan, dan merokok terus-terusan, tanpa mempertimbangkan di rumah ada penghuni-penghuni yang perlu istirahat, perlu belajar, dan jelas perlu udara bersih? sekali lagi maafkan saya renata lido, jika ada orang yang sedih membaca paragraf tersebut, silakan hubungi saya agar saya dapat menjelaskan lebih lanjut latar belakangnya dan dapat berdiskusi mengapa kesimpulan itu saya ambil dalam pengalaman hidup saya setelah setengah baya. anyway, terimakasih untuk tanggapannya.

  beslan wrote @

Horas,
Terimakasih atas postingan yg sangat menarik, dan sangat mengharukan ini, postingan ini menyadarkan bahwa kita adalah manusia, dan manusia dr suku manapun, ras manapun pasti ada hal yg baik dan yg buruknya,
Pada situasi yg ito hadapi, ada kesalahan dalam menerapkan adat, masa anak kandung tidak bisa melihat jenazah orang tuanya yg sudah meninggal? Itu bukan adat, itu kelakuan yg ga benar, yang salah adalah penatua adat dimarganya ito,
Yg aku tau, ada ruhut parhundulan kalo paborhat natua tua,

Anak(anaklaki laki kandung) disebelah kanan jenazah dengan seluruh keluarga hasuhuton satu butuha alias satu marga, boru ada di sebelah kiri jenazah, (termasuk anak perempuan) dan namboru,

Cucu ada dekat kaki jenazah, tidak ada yg diusir, tak manusiawi itu, orang lain aja bisa melayat apalagi anak sendiri?

Dalam konteks lain soal marhobas dan sebagainya, kita berpatokan pada dalihan natolu, emang boru itu kalo ada ulaon I hula hula, yA marhobas, kalo boru tubu, (yg pake sanggul) biasanya jadi koordinator, bukan yg sibuk sibuk amat, lagian apa fungsi dongan sahuta (kalo dijakarta Parsahutaon dan STM termasuk teman arisan ) jika dalam pesta tidak gotong royong, berarti diulaon ito ada semacam fungsi yg tak berjalan, apakah boru yg lain tidak ada atau apakah teman parsahutaon dan arisan tidak disertakan.? Kembalikan ke pokok semula,

Mauliate,

D

  Eka Simanjuntak wrote @

Ito, tulisan anda sangat menarik, saya minta ijin di link ke group marga Simanjuntak ya….Thanks

  cekeysh wrote @

terimakasih untuk tanggapannya bahwa tulisan ini menarik. saya menuliskan berdasarkan pengalaman pribadi sebagai referensi. banyak juga komentar yang mencerca saya, mengata-ngatai saya dengan puluhan nama penghuni taman margasatwa karena merasa saya menjelek-jelekkan orang batak. sayangnya orang-orang ini tidak mencantumkan alamat email-nya yang jelas, padahal saya ingin sekali mengatakan kepada mereka: “dengan bersikap demikian bukankah saudara sebenarnya hanya mengkonfirmasi pendapat saya yang negatif?”. untungnya banyak juga tanggapan yang netral, yang saya approve karena saya yakini jika orang lain membacanya, seperti saya, akan memperoleh manfaat yang berarti juga. sekali lagi terimakasih.

  darwis wrote @

mengikuti garis keturunan ayah, seringkali membuat pria batak menjadi sombong..terus maju wanita-wanita batak….. saya bangga dengan tulisan ini….cayo……

  Rudolf L Tobing wrote @

May GOD, give you the serenity to accept what you can’t change, the courage to change what you can, and the wisdom to know the difference.

  dailyturnipa wrote @

I guess, semua kembali ke keluarga masing2… bukan cuma org batak aja yg gitu, smua suku juga ada plus minusnya…

kalo baca cerita di atas…itu sih kayanya (no offense) keluarga kamu aja ya, my parents bener2 dateng dari tapanuli and pindah jakarta and gw ga pernah sama sekali direndahkan kaya gitu… dan bokap gw kerja di pemerintahan dan gw tau jujurnya bokap seperti apa, dan ketika beliau memimpin di konsul HK, semua tau kalo korupsi itu is a big no no!

So, i hope you find peace in your life, but im proud to be batak (tho I rarely spent time in Indo), and Im proud bokap ajarin gw to be proud jadi org batak and junjung adat. All my friends here kalo ketemu bokap gw selalu suka denger cerita2 adat tradisional and look at my mum’s ulos dan kebaya. Semua tulang nantulang namboru amangboru gw pun asik2 aja kok, always friendly and ga pernah ngomong ky gimana2, because they know, in our family, such negativity are not welcome!

Again, in the end of the day, itu orang2ny, bukan sukunya. Cause I wouldn’t trade myself for any other race.

So cheer up, enjoy life! Hatred won’t get you far!

  dailyturnipa wrote @

PS. makanan batak is not all about blood! banyak makanan enak, such as arsik and all that! setiap kali gw plg indo mum always made me amazing batak food and kalo kita visit tapanuli, the view is breathtaking!

And trust me, I have lots of batak friends di indo maupun di Aus. and none of them do the things that your friends did. Just gotta find the right friends ;)

  cekeysh wrote @

true, indeed, just find the right friends! unfortunately I couldn’t choose my relatives. :)

  Cinta Shelya Sihotang wrote @

well……law kjadianny bgtu seh,ya kelewatan lh.. tp,jujur sj sjauh ini pengalaman sy sbg org btak gk separah2 itu deh.. malahan sy bangga loh jd org btak.malah slama nih gk da org yg nyangka law sy itu org batak ( srg dikira sunda atw mlah manado),trus trang sy dgn jujur mngatakn law “Saya org BATAK loh,asli lg.org tua ku dua2 ny batak asli n dr kampung bgt.” gk tau ya,mmg kt akui jg byk tkdg org batak yg keterlaluan,yg seolah2 tlalu membangga2kn anak laki2.tp ya,kt liat lingkungan n dr ajaran keluarga ny jg x ea,, law dikeluargaku seh gk gtu.contoh ny waktu mamaku ninggal, km smua brada disamping petinya. gtu jg para tamu.smua slg mnghargai perasaan km loh sbg org yg sdg brduka.gtu jg ktika sy sbg anak perempuan menikah.toh yg mngatur n brada disamping ayah sy malah kakak sy,bkn ny ito sy..wlopun km org batak,km memegang prinsip. Siapa yg bs jd pemimpin mk dy lh yg akan diberi mandat org tua untuk bs memimpin aggt kel yg laen.wlopn yg nota bene dy adlh parboru. yg pntg dy mampu dan sanggup membimbing/membawa keluarga ke arah yg lbh baek… well….sbnr ny batak itu indah loh.. : )

  DONGAN wrote @

beta hita marhata sidenggan denggan !

  laban wrote @

sebuah topik yang cukup menarik, kalau dilihat memang, posisi perempuan dalam adat batak boleh dikatakan menjadi ” pembantu ” ( pada saat adat itu ya….) namun, sebaliknya juga berputar, jika posisi perempuan berada diphak laki-lakinya, atau kita katakan pihak suaminya yang melakukan adat, maka dia berkedudukan menjadi raja, berikut dongan tubunya, …nah . . . untuk hal yang mengatakan tidak mempunyai anak laki2 tidak gabe, itu kita serahkan dalam adt saja, tapi pada kenyataan borupun bisa menjadi kepala atau pemimpin juga menjadi pewaris, apalagi jika orang batak itu tinggal diperantauan. dan adat batak itu pun akan berubah dan akan luntur dari kulit aslinya dan mengikuti keadaan zaman. mengapa ? karena orang batak merupakan orang yang merantau dan mencari nasip dinegri orang, maka tanpa sadar adat batak itupun akan mengikuti zaman, dan tidak sama seperti apa yang diajarkan oleh nenek moyang, artinya pesta adat banyak yang dirombak, nah untuk ito . . . coba anda telusuri sisilain dari suku batak, cari yang lebih positif maka anda tersenyum sebagai batak, vari negatif maka anda, menangis menjadi batak, positif negatif selalu ada disetiap suku, hal, perubahan, kondisi ataupun yang lainnya, salam… horas…. ” proud to be batak “…

  Demakron Aritonang wrote @

Horas ito,,,
Kalau ito memang malu jadi orang batak, itu hak ito tapi setidaknya jgn sugesti orang lain untuk menjauh dari orang batak,,,
semua yang ito paparkan itu hanya dari sudut pandang ito,,,
sedih rasanya mengetahui ito berkesimpulan demikian tentang suku ito sendiri hanya karena melihat segelintir orang batak yang menurut ito bekelakuan buruk.
Aku yakin, mendiang ayah kita yang dahulu ito tangisi itu pun akan malu jika mengetahui putrinya akan seperti ini.

  cekeysh wrote @

maaf ito demakron, saya tidak men-sugesti orang. biarlah orang menilai berdasarkan pengalaman hidup masing-masing. ayah saya semasa hidup sudah tahu bahwa putri-putri-nya menjauhkan diri dari adat batak, namun ia pun tidak berbuat banyak untuk mengubah pendapat kami, mungkin karena berpandangan liberal, atau juga karena mengetahui memang dalam perkara keadatan keluarga kami jauh dari kesempurnaan batak yang diidamkan. saya selalu menunggu untuk bertemu dengan orang batak yang sopan, berbelas kasihan, tidak gahar, dan masuk akal. jika saya bisa menemukan persentase yang lebih besar dari yang bersifat sebaliknya, saya pasti akan menuliskannya di blog ini.

  Yohana wrote @

Saya juga orang Batak kakak. Sebagai orang Batak, saya juga tidak suka menyebut saya sebagai orang Batak.

Ayah saya sering menyakiti hati saya, (kalau dia marah) dia bilang menyesal menikahi Mama saya yg dari suku Jawa. Bagaimana mungkin menyesal tapi bisa punya 4 orang anak? Saya malu kalau ke pesta Batak atau perkumpulan orang Batak. Saya malu karena saya tidak memakai emas, saya juga kasian lihat Mama yg tidak punya emas melimpah. Saya minder karena mereka tidak mengajak ngobrol saya.

Saya sakit. Ayah bahkan memaksa saya untuk mendapatkan jodoh orang Batak. Selain dari suku itu jangan harap dapat restu dari dia. Dia katakan kalau Batak adalah suku terbaik, padahal ciptaan Tuhan adalah yg terbaik.

Saya setuju dengan tulisanmu di atas. BAHKAN KALAU SAYA BISA MEMILIH SAYA YANG PALING AKAN KERAS BERTERIAK SAYA TIDAK MAU TERLAHIR SEBAGAI ORANG BATAK

  globals4batak nyasar wrote @

Setuju lah….
Apalagi soal jodoh kolot banget…. masa harus cari yang 1 suku… gilanya klo nikah ama perempuan batak…. harus ngikut marga bataknya….

sesama marga juga ada kasta…..

tapi tak semua… perbandingannya 9:1 lah…. wkwkwkwkwkk…

  sinapit wrote @

wkwkwkwkwkwkwk..!!!

hahahahahahaha….
inilah mereka yang teraniaya oleh sukunya sendiri..

orang batak,jawa,bugis,sunda,china…
dijamin pasti ad kejelakan masing2

”jangan tanya apa sdahh diberikan BATAK kpadamu Tpi tanya apa yg sudah kau berikan pada sukumu

itu masih bgian terkecil dari suku Batak
silahkan datang ke kampung2 sana masih banyak orang batak yg krakternya perlu diperbaiki

Termasuk saya…!!!!

jika melihat khidupan orang batak yg suka mabok,main judi,berantem,malak,,,masih banyak lahhh hampir smua hal2 yg negativ ad disuku Ku ini terkadang ingin minder..tpi aku enjjooyyy aja
mau terbalikpun dunia ini aku adlah suku batak,aku tetap menrima sgala kekurangan & klebihan suku Ku ini

hidup ini bebas terserah anda mau berbuat apa…tpi anda dikaruniai Tuhan subuah Otak untuk berpikir…

dan saya yakin setelah membaca ini anda akan tambah benci akan suku Ku ini.

ku ingatkan Anda dianugrahi sbuah pikiran…

  hart wrote @

horas ito.. batak dia do hamu??? dangadong songoni halak batak bah.. dijakarta do hamu?? molo dijakarta do tinggsl muns.. unsg di dok hsmu songoni bah.. so accit annon rohani akka natua2 na di bona pasogit an. kalo kubaca dari pengalaman ito itu,, bukan dibataknya masalahnya.. tapi dioranganya.. lagian ito kalo mau menilai jangan dari pandanganmu aja tapi pelajari dulu sekitarmu(batak laiinnya).. dikampung sana gak akan ada yang bentak2 ito pas acara adeknya ito, gak akan ada yang gak ngasih masuk ito kedepan alm. amng boru itu pas alm. ninggal.. memang laki2 itu di utamakan dibatak iya… tapi gak segitunya juga.. ingot ituo.. elek do marboru kalo batak itu.. artinya.. baik sama borunya.. memanjakan borunya… itulah batak ito… kecuali molo memang akka na gila na ro tu acara ni halak itoi.. sattabi naburju..
jangan terlalu berpikir dengan emosi dan perasaan ya ito.. thankss….

  Hans wrote @

Batak secara lahiriah menjadi suku, adat, budaya, dst. Indonesia menjadi negara karena ada unsur aset budayanya termasuk batak. Jalani aja kodratnya to’, enjoy this life segala sesuatu ada unsur positif & negatifnya.
Toh semuanya masih bersifat duniawi, peace ….

  Sweetarline wrote @

Saya sedang mau cerai dengan suami Batak dari Siantar. Saya sendiri adalah orang Jawa yang sudah diadatkan memperoleh boru SIanipar. Karena keluarganya banyak ikut campur dan suami bagaikan boneka yang dicuci otak oleh keluarganya, saya rasa demi anak saya juga, saya memutuskan untuk cerai. Terakhir, saat sedang hamil muda saya disuruh minta maaf ke ibu mertua gara2 saya agak keras bicara. Masalahnya, ibu mertua bilang mau ambil anak dalam kandungan saya ini nanti. Saya marah. Dan suami minta say a minta maaf DENGAN MINUM AIR CUCIAN KAKI ORANG TUANYA ITU atau cerai. Tentu saja saya menolak dan memilih cerai padahal saya Kristen dan di agam saya seharusnya tidak boleh cerai. Saat ini, saya sudah pulang ke keluarga saya dan hidup bahagia dengan anak saya, seorang bayi cantik berusia 4 bulan. Akhir tahun ini, saya akan menuntut cerai dengan bantuan om saya yang kebetulan adalah seorang pengacara.

  Doreta wrote @

Saya juga pernah mengalami Hal terse but walau ga separah be gitu. Suami saya org Batak. Sbnrnya kami fine2 Aja gak bermslh, yang Jadi masalah dalam kelg kami ya kelg ya, mama tiri Dan adek2 Tirinya juga saudara2 Dan org sekampungnya. Kalau Berbicara Dan berfikir gak dipikirkan dahulu apakah menyakiti hati org lain atau tidak. Saya waktu menikah, pertama scr grj, kebetulan di Kota saya Dan yg buat acara kelg saya. Kelg suami saya itu seenaknya Kalau Bicara bertindak gak menghargai org tua Dan kelg saya. Tauny mencela Saja. Saya msh than emosi.
Kedua waktu mangadati di kpg, saya baru tersadar mama tiri, adek2 Tirinya terutama yg perempuan taunya menghina, memaki saya, malh melempar brg ma saya. Malh di dpn saya Dan suami taunya meminta, Kalau tdk diberi mengata2i kami. Dan yg parahny mama tiri Dan org2 di kpg ya waktu pernikahan kami malh membahas boru Batak yg lain, kok Ga jd nikah, ke mana dia. Saya merasa ga dihargai, krn saya Bkn org btk Jadi disemena2kan Oleh mrk. Krn udah ga tahan, saya berontak ma ibu mertua, terser shah mau dikatai kurang ajar atau apapun, krn semakin didiamkan semakin menjadi2. Drpd Jadi batu Sandungan dalam pernikahan kami, kami putuskan tdk Ada hubungan lg dgn mrk, hanya dgn Sebagian kelg ya Saja. Jujur ajalah, mgkn Seumur hiduppun saya tdk bias melupakan perbuatan mrk. Skrg kami udah dikarunai putri 1 taun, rasa ya kami pikir buat apa anak kami Kenal dgn mrk Kalau hanya utk disakiti. Saya tdk I gin putri saya mengalami kejadian spt saya. Saya sampai depresi krn ulh kelg suami saya. Bgtlah pengalaman yg bias saya bagikan

  Sweetarline wrote @

Sebagai lanjutan, keluarga abang suami saya ini juga mengalami hal yang sama. Istrinya orang Batak juga boru Sianipar, bukan bo’ongan kayak saya. Sama aja dia diperlakukan. Awal mula tinggal di rumah keluarga Marga Smr itu dan diperlakukan bagai budak. Saat ini sedang hamil anak ke-2 dan dia pulang juga ke rumah mamanya di Medan karena bertengkar juga dengan ibu mertua. FYI, anak pertamanya yang kebetulan cucu panggoaran dibawa kabur ke Bandung (mereka berdomisil di Siantar), dilarang bertemu dengan ibunya. Dan mereka semua merasa benar karena merasa sedang menyelamatkan satu2nya penerus marga mereka karena selain abangnya dan suami saya, tiga anak mereka yang lain adalah perempuan. Berbicara tentang adik2 suami saya ini, tak kalah kejam, ada yang memaki saya gila, setan di facebook dan menyumpahi anak dalam kandungan saya supaya jadi gila. Menyedihkan. Tidak heran sekarang adik2 saya dilarang keras oleh mama saya untuk menikah dnegan orang Batak. Walo saya sadar ngga semua Batak begitu, contohnya om saya yang pengacara dan adik ipar eyang saya yang juga Batak, mereka tidak sekejam keluarga suami saya. Jadi saya, sedah memutuskan untuk menjadi single mother dan meminta perlindungan hukum untuk anak saya karena sudah dianiaya oleh suami dan keluarganya sejak dalam kandungan. Begitulah pengalaman hidup saya pribadi dengan orang Batak. Tidak ada provokasi di sini, just saying, if you don’t like it, just skip it since we’re talking about fact here, right? :)

  cekeysh wrote @

Dear Sweetarline,

First of all, I hope and do hope in prayer that you will be all blessed and comforted by Jesus Christ, our God. Saya cukup sedih membaca kisahmu dan merasa prihatin. Saya mencermati bahwa keluarga batak dengan nilai-nilai seperti digambarkan dalam emailmu masih cukup banyak. Tidak perduli setinggi apa pendidikan yang sudah ditempuh, masih juga belum bisa mengaburkan nilai-nilai tradisional yang seringkali tidak masuk akal seperti minum air cucian kaki.

Second, saya ingin siapapun yang membaca posting di blog ini mulai sekarang dan seterusnya, sebelum mengomentari dengan kata-kata yang kasar dan bahkan menyebutkan nama-nama spesies hewan, lebih baik membaca posting komen-komen secara lengkap. Postingan Sweetarline seharusnya membuka mata dan sebagai orang batak sebaiknya kita berbesar hati untuk mengakui memang seperti inilah potret buram hidup kita.

Happy New Year!

  parulian hutajulu wrote @

keluarga ito yg ga benar itu…
bukan adatnya….
ga ada dalam adat batak boru nya di larang duduk disamping ayahnya yg meninggal…perlu di cuci tuh otak nya itu yg nyuruh begituan…
ga ada yg sempurna ito..coba nikmati aja,pasti da hal positif yg dapat diterima..jgn jeleknya aja yg dilihat…
banyak hal positif yg dapat kita ambil dari adat batak..

  sinambela wrote @

Kebanyakan orang batak susah ber adaptasi dengan orang di luar batak di sebabkan karena orang batak ingin menang sendiri dan tidak cepat memahami adat orang lain sehingga susah di terima oleh suku lain, kedua kesannya bergaul dengan orang batak , kita siap siap untuk bergaul dg kondisi kekerasan, susah menghormati suku lain dan hanya membanggakan suku batak saja, dan di lihat dari perspektif orang luar terhadap suku batak orang kurang suka untuk mendekatinya. Apabila di perusahaan dengan pimpinan orang batak, dengan otomatis bawahannya kebanyakan orang batak juga ,nampak sekali protektif kesukuannya tinggi sekali ,yang menrut pandangan saya seolah olah orang batak tidak akan pernah menyelami suku lain

  arthur nugraha wrote @

Opung doli saya baru meninggal hari selasa kmren jam 18.00 Wib tgl 06 Mei 2014 dan di kebumikan hri jumat tgl 09 mei 2014..tp bou saya (adk bpk yg cew) gk di gituin kok mbak pada saat acara opung saya itu..jd saya baca panjang lebar smua crita mbak dan saya simpulkan itu hanya orang nya saja..kepribadian dari org tuw yg iri krn mgkn berada di kota besar jd merasa tau n ngerti adat..emg benar klo bir n judi tuw ada..tp kmren wktu opung doli saya meninggal..judi tuw prmainan sma org2 kampung di skitar rmh opung sbgai jaga mlm aja biar gk ngantuk dan cma smalam aja gk smpe brhari-hari..trs klo msalah bir..itu cuma pada saat manortor..gk ada kita suguhkan utk smua tamu..krn di acara opung kmren kami mnyuguh kan teh dan kopi..klo Tuak ya kdang org itu beli sndri ada jg kami yg beli tp sbgai pngertian kami aja krn org itu mau kmpul2 di rmh n jaga malam lah istilah nya nggu hari esok pada saat opung di kebumikan..tp klo yg mengatur ksna kmri..mlarang gk boleh ini gk boleh itu..pda saat opung mninggal itu gk ada mbak..cuma gini aja mbak..mbak buka aja google ketik aja “pesta adat batak” atau “jenis-jenis adat batak” ntik dstu kan kluar smua..jd dari situ mbak bsa belajar pelan2..krn saya jg gk ngrti2 x cma emg saya jg lg blajar n pengen tau krn saya cucu laki2 yg pling besar..bpk saya jg ank paling Tua..gt aja mbak..yg pasti nya saya bangga jd org batak..klo msalah judi,rokok,mnum,ikut campur urusan org..itu bkn adat nya tp lebih ke kepribadian org nya..hanya kebetulan dia suku batak..trimakasi

  BoNna wrote @

W punya pacar oRang batak !! W sendiri keturunan sunda, w isLam dia protestan. Pacar w baik bahkan sangat amat sopan, dan menghargai kepercayaan yg w pegang. Dimata orTu dia baik..
Tp oRtu dan oRg2 di sekitaR dan diLuar Lingkungan w seLalu ngingetiN untuk cr bkN dr oRg sebRang terutama batak..
Bahkan ada tetangga w seoRang janda yg dL mntan suami’y orang batak, seteLah menikah dia cm dianggep sebagi babu kt’y.. Seperti ga dianggep !! BgTu jg kLu w ktmu dan bercengkrama dgN org2 dijLn, pd saat tahu sy pnya pcr oRg batak mereka mengingatkan haL yg sm persis !!
Bahkan teman dkt sy Rimma putus cinta dengan oRg batak krn tidak dpt restu Org tua dr pihak laki-laki, yg konon kalau anak’y nikah dgn org diluar batak, dan bd kepercayaan anak laki2′y diusiR, dan tdK diakui oLeh kLuarga batak dimnpuN, dan tidak dpt harta warisan.. Sampai segitu’y kahh???
Banyak ketakutan kLu w berjodoh dgN pacar sy yg oRg batak.. Ju2R walaupun w diterima sbgai istri anak’y, tp w takut ga dihargai atau dipandang sbgai istri bohoNgan walau sah dimt hukum..!! Krn hati manusia qt ga tahu??iy kann? Banyak yg w takutin kLu w dah pnya kturunan atau anak, nanti anak w apa bs dianggep dan diterima?? Adat batak kalu menurut w tidak subjektiF !!terLalu angkuh..!!
W butuh saran…?? Umur w dah 24 thn, untuk umuran sgitu bwt cwe pas untuk menentukan siapa yg pantes bwt jd pndampiNg seumur hdP w?? Walau w dah terlanjuR sayang…;(

  cekeysh wrote @

Hi Bonna, salam kenal. Benar pendapatmu bahwa diusia 24 sudah baik untuk seorang wanita menentukan siapa yang menjadi pendamping seumur hidup. Mengenai calon pasangan yang berbeda agama, saya rasa merupakan faktor yang terpenting. Walaupun sekarang saling mencintai dan saling menghormati, akan banyak kerikil dan batu yang dapat menjadi sandungan saat sudah berdampingan sebagai suami isteri. Dalam pengalaman saya, hanya keluarga batak yang sudah sangat liberal yang dapat mentoleransi perbedaan dengan baik, dan itu sangat jarang. Saya tahu keluarga batak yang semua anak-anaknya sekolah dan tinggal di luar negeri, yang seharusnya sudah lebih moderat dalam cara berpikir, ternyata mereka tetap menjalankan pemilihan pasangan dengan suku dan agama yang sama, bahkan gereja-nya pun tidak boleh berbeda. Karena itu saya menyarankan Bonna mencari calon pendamping yang lain. Berdoalah dan percaya bahwa Tuhan akan memilihkan yang terbaik yang akan dapat saling membahagiakan. Salam.

  Ucok Tpb wrote @

Salam kenal to..
mungkin apa yang ito alami lebih ke personal aja kali.. karna tidak semua kondisinya begitu… Belajarlah untuk melihat dari sisi yang lain, karna suku lain juga sama,..
Belajarlah mensyukuri dimana Tuhan menempatkan kita, dengan begitu kita boleh lebih fleksibel dan belajar dan mengerti dan menerima atas setiap kekurangan mgk bukan cuma batak baik suku lain…
Sebelum saya lanjut saya mau nanya: Ito malu sebagai orang batak??
Ito lahir di Jakarta??
tinggalnya di daerah mana??
Sebelumnya saya minta maaf tidak ada maksud apa-apa untuk menanyakan hal tsb cuman mau tau aja,

  Patar Marihot Napitupulu wrote @

Hey.. kau yg sudah berani memojokkan suku Batak,,, kami orang Batak,malah tidak sudi menerima kenyataan bahwa kau adalah garis keturunan Batak.

Sepertinya kau lebih baik ikut terapi mental dulu.Karna saya lihat,dirimulah yang memang lagi bermasalah sehingga bisa mengatakan apa yang ingin kau katakan dengan seenaknya saja.

Adat dan agama adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan di Batak.
Kalau bukan tidak menghargai adat dan memahaminya,mana mungkin missionaris Nommensen bisa mengKristenkan Batak.

Sekali lagi,,,enyahlah kau dari Batak…!

  Vida wrote @

Aku punya mantan asli banget Bataknyaaa, dia egois, pelit, tp disisi lain dia ganteng, mancung. So, saat dia berkhianat sama aku, dia mulai cari-cari salahku yang kemarin-kemarin jadi istilahnya ya ditumpuk-tumpuk trus diledakin “duaaaar” gitu aja, jadinya dia pinter omong, seharusnya dia yang salah terus dia puter jadinya aku yang salah, jadinya mau gak mau ya harus aku yang ngalah dan minta maaf. Tapi aku akuin dia pinter, humoris dan orang yang menyenangkan, dan dia nurut sama orang tuanya, christiannya sih juga baik banget.

  manik wrote @

Salam Damai buat kita semua.saya maklum pro dan kontra tentang Batak sama seperti saya sejak kecil sudah melihat orang batak adatnya rumit sehingga saya sudah berpikir kalau menikah bukan sama orang Batak ternyata betul saya menikah bukan sama orang batak.Tetapi waktu menikah saya tetap acara adat Batak.setelah saya menikah saya tertarik dengan adat batak tanpa ada yang memaksa dan mengajari saya supaya mau ngikutin adat Batak.sampai sampai saya masih poso /muda sudah dianggkat di kumpulan marga sebagai ketua dua dan saya merasa tak mungkin menerimanya.Tetapi setelah saya jalani dan saya ikuti adat batak mulai acara nikah,meninggal,tardidi/baptisan dan lain sebagainya ternyata adat Batak itu IS THE BEST.yang penting diadat batak kita melakukan DALIHAN NA TOLU.Somba marhula hula, manat mardongan tubu , elek marboru.alana inon cocok muse tu hakristenon DEBATA SITOLU SADA. Kalau di adat Batak satu tak dilakukan dari DALIHAN NA TOLU. hasilnya tak bagus sama juga di Agama Kristen SITOLU SADA.SAI hutangiakkon ma hamu na menyalahon adat Batak dengan suku batak untuk lebih bijak untuk mempelajari adat Batak.

  jait wrote @

horasss
proud to be bataksss

kalo ito punya masalah dengan keluarga ito jangan bawakan ke suku. kejadian yang ito alami itu g pernah saya rasakan, padahal saya orang batak asli. kalu ito melihat adat batak itu tidak pada jalurnya, disitu lah ito berperan sebagai orang terdidik, bukan malah memojokkan, kalau ito merendahkan suku batak berarti ito merendahkan diri sendiri, karena ito lahir dari orang batak. dan memang dari gaya bahasa ito memang ito malu jadi orang batak. dan bukan orang bataknya bermasalah.
di negara belanda suku batak sangat di hargai koq, bahkan ada satu museum di belanda khusus untuk budaya batak. setiap suku punya nilai positif -negatif.
pesan sayaa!!!!!
kalaupun tidak mau jadi orang batak jangan mensuggesti orang lain tuk benci batak

hidup batak

  cekeysh wrote @

am not suggesting anyone to hate batak. read carefully please. saya hanya menuliskan pengalaman saya. beranilah untuk menerima pendapat orang lain yang berbeda. if not, still you reflect the negative label of batak.

  jopeng wrote @

Horas……….
sedih juga membaca tulisan seorang boru Batak mengenai orang Batak, koq bisa sampai begitu? Itoku aku rasa yang pas apabila seseorang sadar atau menyadari posisinya disuatu momen/lingkungan sehingga ybs bisa menikmatinya. Mengenai dari salon disuruh-suruh ambil minum atau lainnya, memang mungkin saat itu yang mengadakan acara adalah dari Marga Ito, namanya acara/pesta jelaslah Ito ingin dilihat orang cantik dsb. Coba kalau saat itu yang beracara pihak marga suami Ito, kujamin ngga ada yang berani nyuruh2 bahkan Ito disitu bisa nyuruh2 pihak perempuan yang marganya sama dengan marga suami Ito. begitulah adat Batak To. Mengenai minum, main kartu dsb. itu bukan tipikal suatu suku, tapi ada disemua suku. Tapi karena Ito orang Batak dan Ito tidak menyadarinya bahwa di hati Ito yang paling dalam mencintai dan memiliki Batak maka hati/perasaan Ito tidak dapat menerima kekurangan atau kesalahan sedikitpun dari orang Batak, horas……….

  Sergius A.T wrote @

SAYA BANGGA JADI ORANG BATAK!
saya dah jadi orang batak dari baru lahir sampai skarang umur saya 18 th
di keluarga saya ga ada yg kaya gitu..
smua baik ga ada yg dateng pulang minta ongkos justru bila ada yg datang saya senang karna mreka meninggalkan angpau atau uang jajan untuk saya dan ga ada jga hal yg jelek.jelek sperti kata anda .
saya sedih karna membaca komen.komen apatis dan Topik di atas..
justru banyak orang yg ingin kawin dengan orang batak karna orang batak pekerja keras dan banyak yg berhasil banya orang batak S1 S2 dan kuliah di luar negri..
termasuk kluarga saya smua berpendidikan
jangan anda sama ratakan orang batak anda blang supir copet lah karna stiap pribadi takdir dan nasib orang berbeda inilah saya sedih skali mendengarnya,dan satu yg saya ingat dari papah saya buat orang batak ILMU LAH YG PALING PENTING
PENDIDIKAN MU LAH YG PALING PENTING..
dan terbukti orang batak bnyak yg Berpendidikan tinggi..
nama saya
SERGIUS A.T HUTAURUK DAN SAYA BANGGA JADI ORANG BATAK.
IBU SAYA TOHANG DAN GA ADA YG MENYEPELEKAN PEREMPUAN DI KELUARGA SAYA..
dan anda harus tau ORANG BATAK ITU MACAN DI PERANTAUAN sehingga banyak orang yg iri takut gentar mendengar namanya..
bukan merasa paling hebat atau apa tapi itu lah ke adaanya..
orang bilang orang batak kalo jadi bos pasti sekampung di masukin jd bawahan..
ANDA SALAH!
ga semua sperti itu ..
saya turut sedih atas masalah anda tp menurut saya anda tidak pantas menulis thread atau topik sperti ini karna dapat mencoreng nama orang BATAK..
saya tau anda sakit hati saya tau anda marah tapi tidak pantas sperti ini brarti anda bukan orang batak yg teguh dan menurut saya anda tidak berpendidikan tinggi..
ma.af jika tersinggung karna orang batak asli tidak akan menjelekan nama marga apalagi SUKUNYA sendiri..

  cekeysh wrote @

Sergius, usia anda 18? Baiklah, jika demikian yang ingin saya katakan padamu adalah, dunia ini sangat luas dek, lihatlah ke kiri dan kananmu. Langit yang ada di atasmu itu salah satu ukuran luasnya dunia ini. Bicara soal pendidikan, di usia 18 anda sudah S-2? Jenius kah? Selamat! Baca thread dan komen anda sendiri ini kira-kira sepuluh tahun lagi and tell me what you think after that. For now on what you do only confirming the negative thought people labeled on batak people.

  arlen wrote @

sip saya setuju
walawpun byk yg bilang ga semua org btk ky gt itu cuma awlnya aja coba klo udh ketemu di pesta, pesta apapun itu semua org batak kebanyakan merasa hebat, merasa lbh tua lah, pokoknya paling paling paling paling merasa…….
saya jg prnh diprlakukun spt itu, bahkan saya hampir2 kaya PEMBANTU.
huhuuuuuffffzzz,,,

  borucampuran wrote @

Terlebih dulu saya minta maaf jika Bhs. Indo saya agak kacau. Saya membesar di luar negri, sampai sekarang.

Ayah saya orang Batak asli, lahir di Sumatera (ga inget exactly where). Tapi Ibu saya orang asing. Kebanyakan saudara-saudara dekat saya orang campuran.

Sedari kecil saya tidak suka ke pesta2 orang Batak, karena saya tidak suka lagu2 yang terlalu kuat dan asap rokok.

Setiap kali saya terpaksa ikut acara2 Batak, saya melihat yang saya jauh lebih suka orang Batak campuran. Bukannya apa, tapi cara pemikiran memang rata2 berbeda dari yang tok tok Batak (saya tidak bermaksud meng-insult siapa2).

Memang saya campuran, dan saya tahu pasti cara pemikiran saya sangat berbeda dari pihak keluarga abang dan adik2 ayah saya.

Sering saya di kasih tahu sama ompung saya yang saya harus kawin sama orang Batak, atau tidak saya akan dianggap bukan keluarga lagi dan tidak akan dapat warisan. Saya tidak begitu peduli dengan harta warisan. Toh, dengan kerja keras bisa dapat harta. Tapi keluarga kandung? Itu saya tidak mau hilang.

Untung lah ayah saya tidak peduli siapa yang saya akan kawini, asal orangnya ga aneh2. Punya kerjaan halal, rajin, baik, dsb.

Satu hal yang saya sangat tidak suka dengan tradisi Batak: lebih mementingkan anak lelaki.

Sebagai anak perempuan pertama, saya merasa indignant. Dan saya merasa itu tidak masuk akal.

Ini adalah beberapa sisi Batak yang saya tidak suka dan tidak setuju. Tapi tidak bermaksud segala2nya tentang Batak itu negative.

Dan sedari kecil, saya memang tidak ingin pacarin dan kawinin orang Batak. Bukan karena alasan apa. Hanya karena saya bangga saya orang campuran. Jadi, ingin mempunyai keluarga campuran juga.

Singkatnya, Batak ada baik dan buruknya. Dan saya turut bersimpati yang kakak terpaksa menjalani sisi buruk Batak.

Saya harap, di waktu mendatang, orang2 Batak akan menjadi lebih baik lagi.

  SamuelManuelaPardosi wrote @

Tidak mudah untuk menjadi orang batak…..Dalihan natolu konsep sederhananya namun sulit dan sudah banyak mengabaikannya….menjadi orang batak ketika kita melakukan konsep dalihan natolu pasti kita akan mengalami hidup yang lebih baik…..mari….jika kita ingin menjadi orang batak banyak hal yang perlu dipahami sekalipun harus beli marga atau menikah dengan orang batak….namun menikah dengan orang batak bukanlah itu satu2nya penyelesaian akhir bahwa kita sudah sah menjadi orang batak lebih tepatnya lagi kita bisa berkomunikai dengan raja adat/raja bius agar kita bisa masuk menjadi bagian dari orang batak bukan dengan caranimbrung saja……semoga kita setiap orang menyadari bahwa menjadi orang batak itu adalah sangat susah namun tetap harus diperjuangkan kebudayaan itu.trimakasih……

  Siregar Parhumbang wrote @

Shalom!!!
Horas….( Yg berarti: “Keras/Mengeraslah”. Mksdnya: Pir ma tondim, bahasa Italianya: teguhlah jiwamu!, hehehehe)

Tulisan yg BAGUS, JUDUL-nya bagus, cuma yg di dalam tanda “(..)” itu yg tidak bagus.

Saya SETUJU kalau kita mengaku ” Saya Orang Indonesia ” akan lebih bagus lagi jika menyertakan ” … Dari suku Batak yg bermarga :(salah satu marga Batak)).

Mengenai tingkah laku Orang Batak, yah.. Emang begitulah sifat2 Orang Batak kalau dari sananya, apalagi yg sepantaran Namboru yg menulis tulisan ini.
Btw, saya tinggal di Balikpapan, KALTIM (cuma pelengkap tulisan saya ini, hehehe… Biar lebih Afdol kata teman saya dari Arab). Sejak di kampung dulu saya suka dengan adat dan Budaya kita ( yg selain Orang Batak gak ikutan yah… Karena komen2 diatas ada juga yg bkn orang Batak) yg begitu “Waoww!!!” Dalam memperlakukan Manusia sejak lahir ( dimelek-meleki sejak lahir alias dijagain orang sekampung saat baru lahir selama Seminggu (sambil main kartu dan minum2 krn Zaman mereka belom ada HP, Laptop, Soundsystem buat Karokean, playstasion), dikasih Ulos dari tulang, dihesek-heseki) singkatnya pasti setiap Momen2 seseorang itu pasti selalu dibuat “Nahombar tusi” hingga orangnya Meninggal yg dalam usia Tua dan anak2nya semua telah menikah dan di Adati dibuat ritual yg sangat berbeda dengan seluruh makhluk diplanet ini acara penguburan bukan sebagai acara Dukacita, tp acara Sukacita (ini harus disiarkan nich sama NatGeo Channel) mungkin cuma kita didunia ini yg begitu. Kemudia pada saat berkeluarga, jika suami-istri bertengakar jika si Istri tidak pergi ke pihaknya, dia pergi ke pihak suami (sekali lagi cm di orang Batak ada aturan ini) maka semarga suaminya yg akan memberi Nasihat pada suaminya dan pada mereka agar mereka berdamai, jika si Istri pergi kepihak saudara darinya maka akan berbeda tata cara menjemput istrinya (wuih…. Suku lain mana ada, begitu istri pergi dari rumah lngsng mangkal di Mall cari laki lagi, heheheh).
Saya juga tidak menutup mata atas tingkah laku orang Batak yg Congkak, itu karena penyalah artian Doktrin ANAK ni RAJA, BORU ni RAJA( entah siapa yg buat itu jd atmosfer di kampung dan di negri Perantaun yah!?)
Kembali ke dimana saya tinggal, di KALTIM (karena sebagian besar daerah ini sudah pernah saya duduki) orang2 Batak bagus2 lho.. Ada yg rela menyiapkan 1 gedong Kos-kosan gratis buat pemuda2 Batak yg baru merantau kesini (diberkatilah orang itu), tolong-menolong hingga dapat bekerja(Nepotisme demi kebaikan, kaya Orang Israel) makanya 1 yg kerja tahun depan bisa bikin arisan orang Batak sekantor tapi Kwalitas dan etos kerjanya bagus-bagus lho, mknya banyak perusahaan minyak disini pekerja staf dan Skill-nya rata2 orang Batak kalah Orang Bule atau Expat lain.
Dan disini cara berpikir orang Batak lebih Maju dari tempat lain (sedemikian banyak tempat di Indonesia ini yg saya singgahi)
Kayaknya kalau Namboru mau mendapat pencerahan tentang orang Batak kesini aja (Promosi banget gue yah!?) Karena disini orang Bataknya Keren-keren lho biarpun BTL(Batak Tembak Langsung).
Akhir kata, banyak Hal2 jelek seperti kalau Arisan marga sering minum2 dan asap rokok dan Judi itu karena terbawa dari Zaman dulu karena tidak ada kegiatan lain seperti main Hp, Laptop, Online dan Karokean.
Saya lihat semua telah berangsur berubah disini, Arisan marga suda diisi dengan acara karokean, saat merokok sudah ada yg ingetin: “eh akka ama2i diluar molo marisap, so Marmatean akka anakon muna i alani isap2 mi!!! (Udah ada ina2 na remeng tapi berpikiran maju yg berani bilang gitu, tp tetap dihargain oleh kaum Pria). Sudah Modernlah cara berpikir orang Batak disini.
Tak bermaksud memuji-muji, tapi diberkatilah kami orang Batak seKalimantan.
Horas jala Gabe ma dihita!!!

  Siregar Parhumbang wrote @

Sebelumnya aku menyarankan si Namboru yg punya Tulisan Tempat yg Bagus untuk mendapat Pencerahan, dia BACA tapi tak di BALAS….
Berarti tulisan ini HANYA sekedar MENCELA kelompok tertentu!!!
Baiklah kalau Begitu saya MENANTANG si Nmboru yg sangat berpendidikan ini untuk Tinggal di BALIKPAPAN untuk mendapat PENCERAHAN!!!
Kalau TIDAK MAU, berarti anda hanya MENGHINA dan MENDISKRIMINASI orang BATAK dan TUHAN, karena anda telah Menyarankan Orang untuk tidak MENIKAH ( Tuhan berfirman: Beranakcuculah, dan penuhilah Bumi)
Ternyata anda anda belum diberkati,
Saya Prihatin dengan anda, karena walau anda Dekat dengan Tuhan tp tak sadar Tuhan ada dihidup anda!!!
Ternyata bukan anda yg TIDAK memahami BATAK tapi anda yg TIdak memahami diri anda!!!
Saya sarankan, anda lebih baik menghapus tulisan anda ini, karena anda TIDAK BERTANGGUNG JAWAB!!!!
Sekian, dan Terimakasih!!

  wara wrote @

kenapa kita ga baca aja tulisan ini dan merenungkan agar kita tidak melakukan hal yang seperti namboru ini alami, ini forum bebas kan??semua bebas berpendapat..toh juga namboru ini kan ada alasannya juga kenapa dia nulis ini bukan artikel boongan kok, pertanggung jawaban dia apa??kita jangan jadi menyalahkan namboru ini yang mencoba untuk terbuka dengan bahasanya sendiri…tidak usah langsung menghakimi bahwa namboru ini tidak sadar Tuhan ada di hidupnya siapa kita??apakah kita pernah mengenal namboru ini sebelumnya??belum kenal aja dah langsung bilang tidak sadar ada Tuhan di hidupnya, kalau belum kenal tidak usah menghakimi ya tanya dululah kan lebih baik…gitu aja ok

nb: – keterbukaan adalah langkah awal untuk pemulihan

  Anak Manis wrote @

Kakak sayang, aku baca tulisan2 kakak, tnp maksud menjelekan org btk, tp ada bnrnya jg tulisan kakak. Paling enga saya bs ngerasain gmn sedihnya wkt kehilangan ayah tercinta. Papi saya jg sdh meninggal kak. Wkt itu kami anak2 semua duduk dkt petinya. Tapi yg paling membekas ketika keluarga besar (yg kbyakan sy jg ga kenal) mereka memberikan ceramah pnjng lebar dlm bhs batak, selalu yg disebut2 dan didewakan kakak laki2 kami. Oya anak laki di kel kami cm satu. Sama yaa dgn kakak.

Papi saya kbetulan skt ginjal slama 7 th, dan meninggal krn skt tsb. Hal yg paling menyebalkan ketika berlangsungnya upacara pemakaman selalu kakak laki2 kami yg disebut2 sbg org yg paling berjasa selama 7th merawat papi. Sepertinya kami yg perempuan dihakimi tdk pnh mengurus papi kami. Padahal itu papi kami semua, dan kami semua selama 7 th ikut merawatnya.

Selesai pemakaman ada hal yg jg menyakiti kami para anak2 perempuan. Semua keluarga besar mengatakan bahwa peninggalan papi harus untuk abang kami. Jadi dgn kata lain mama saya dan anak2 perempuan ga dpt apa2, itu harta anak laki2 saja. Lucu ya kak. Org2 goblok itu gak bs mikir apa, lah papi saya pnya istri sah yaa mama saya, masa hartanya ga blh utk mama saya yg janda dr suaminya sndiri.

Dari kejadian itu abang kami jd semakin arogan. Sok jd pngganti papi. Pdhl papi itu ga bkal bs tergantikan oleh sosok siapapun dihati kami. Abang kami pemalas, ga mau kerja sampe skr, hnya mengandalkan uang peninggalan papi yg kbetulan cukup banyak. Dia gak mau kerja karena ga mau disuruh2 org, maunya jadi bos. Kebiasaan di rmh dr dulu laki2 batak dilayani.

Anehnya dia dpt istri boru jawa yg kbetulan diangkat anak dan diberi marga oleh tulang kami, si boru jawa ini jg sama gayanya kyk abang saya yg mata duitan. Boru jawa ini berasal dari keluarga miskin. Jadi belagu. Boru jawa ini berani loh maki2 mama saya kalau ga dikasih uang. Pernah suatu hari waktu kami di notaris, boru jawa ini berteriak2 ke saya, mau menunjukan klo dia anak tulang mesti dihormati. Padahal saya gak ada satu katapun menggangu dia.

Diotak dua manusia itu menganggap klo mereka berdua adalah Raja dan Ratu penerus marga dari papi dan berhak atas semua harta warisan papi. Saya mah ga pnh ambil pusing org2 spt itu. Biar sodara kandung sndiri klo sakit jiwa ngapain jg yaaa kita pikirin.

Boru jawa ini entah knp senewen bngt sma saya, smpe nyumpahin saya biar ga kawin. Saya sih pcaya aja krn sbg saya anak Tuhan ga mempan lah disumpahin spt itu. Toh buktinya dia malah gak bs kasih anak laki2, semua anaknya perempuan. Ngerti sendirilah klo org batak ga pnya anak laki itu artinya apa.

Sampai hr ini abang kami, istri jawa dan anak2 perempuannya hidup dari uang peninggalan papi, yg tiap bulan mama kasih ke mereka. Klo ga dikasih ngamuk lho si boru jawa, kak.

Dari semua kejadian itu saya jg agak tidak peduli dgn kebatakan. Tapi saya jg ga anti sm org batak. Banyak kok kak org batak yg baik. Waktu saya sekolah di luar negeri, saya beberapa kali bertemu orang batak yg tinggal di luar. Saya bertemu beberapa laki2 batak yg pinter, ulet dan pekerja keras, ga ngandelin harta spt abang kami.

Saya mengambil kesimpulan mungkin bukan bataknya yaa yg salah, tp bgmana org batak membentuk pribadinya sendiri seperti apa. Tergantung masing2 org gitu, kak.

Dari semua kejadian itu pastinya ada akar kepahitan di hati kita. Bawa dalam doa kak, agar Tuhan menyembuhkan sakit hati kita.

Akhir thn ini aku mau nikah loh kak. Jadi ga mempan kan sumpahnya boru jawa itu. Asal kita terus patahkan kuasa gelap dan serahkan kepahitan hati, pasti Tuhan mengubah duka menjadi sukacita.

Kalau berkenan mau undang kakak ke kawinanku. Sederhana aja kok. Dan tidak pakai adat batak, krn calonku bukan org batak dan aku jg ga mau dia dibatak2in.

Aku senang baca semua tulisan kakak. Gak perlu menghakimi blog ini. Karena tulisan kakak merefleksikan sesuatu yg memang ada benarnya dalam khidupan sebagian org2 Batak.

Semoga bs bertemu kakak. Peluk dan salam sayang utk kakak.

  Sue wrote @

Heran deh sama orang orang yang berkomentar bernada mencela cela penulis..ini kan blognya kali?chill out man..ketauan orbat rata rata darah tinggi. Gimana enggak?makannya aja makanannya aja high fat semua..ck ck ck..lagian orbat senengnya ngomong mulu..apa apa mandokhata, cape dengernya..yang patus dilestarikan tuh budayanya seperti tariannya, daerahnya, pakaiannya,lagu lagunya..kalau yang mesti dibasmi menurut saya mata duitannya…gimana gak banyak koruptor, wong dari adatnya aja semua semua ujung ujungnya duit capede..

  sweetarline wrote @

Setuju. Ada yang menuntut dihapus lagi, siapa dia gitu loh nyuruh2 hapus artikel di blog orang? :( Kakak.. maju terus! Kejujuran itu nomor satu. Dan itu yang kulihat di blog kakak. Artinya kakak orang yang berpikiran terbuka. Brain only funtion when it’s open…

  luy morri sitinjak wrote @

Salam,
Perkenalkan sebelumnya,saya dilahirkan di suku Batak.kedua orang tua saya Batak.
menurut saya beberapa kekurangan orang Batak berdasarkan yang dilihat penulis memang sering saya temukan.tetapi saya juga sering melihat kelebihan” dari suku Batak.
dan ini tidak terbatas kepada suku Batak saja ,tetapi juga suku yang lain yang ada di indonesia.
dengan kata lain apapun sukunya yah penulis akan menemui hal yang sama saja,kecuali memang penulis sengaja memilih seorang pribadi yang baik dan dia dijadikan sampling untuk penilaian dari suku tertentu,tentu hasilnya akan berbeda.

dan Klo memang penulis memiliki keyakinan untuk tidak kawin dengan suku Batak,yah tidak apa”.karena itu hak penulis dan penulis yang akan menjalani. :)
Semoga penulis bisa mendapatkan jodoh yang sesuai dengan harapan penulis.

Salam

Nb: Buat yang mau comment lagi.tolong dong munculkan sifat emphati.jangan sok ngerasa paling benar.

Sesungguhnya kebenaran itu bersifat relatif dan hanya berlaku karena adanya kesepakatan.

  vivi wrote @

Actually, their comments show how selfish they are :). Keep spirit, and believe that God love ones who trust in Him, not trust in culture.

  alex margono wrote @

malam mbak’e

maaf aku bukan orang batak tapi cuma pengen bagi cerita soal ‘antipati’nya aja. karena aslinya aku bukan pembenci, tapi kadang memang banyak hal yang gak bisa kita hindari yang membuat kita jadi pembenci.

aku asli jowo, semua keluargaku dari mbah buyut sampe saudara jauh juga kayaknya jawa semua.
kebetulan pas sd keluargaku pindah ke sumatra. dan kebetulan lagi ditempat tinggal sekarang orangnya nyampur-nyampur. jadi soal adat jawa juga aku dah gak ngerti, malah cenderung sak karepe dewe, soalnya menurutku adat itu bullshit, terlalu aneh, kurasa gila kita kalo terlalu mengikuti adat. walaupun sebenarnya banyak hal positifnya dari adat itu, tapi terlalu kaku, apa-apa yang kita tanya jawabnya ‘ah pamali’.. gak logis. tapi aku gak pernah malu jadi orang jawa, walaupun aku tau baik buruknya tingkah orang jawa, tapi aku nikmati aja.

wew malah curhat yah, terus apa hubungannya dengan batak?

gini mbak’e, soal antipati..
dulu aku juga pernah antipati sama orang minang, pokoknya benci banget lah, awalnya sih pas sma, kan dari sd sampe smp gak pernah kenal orang minang, pas kenal kok ya ketemunya yang nyebelin semua, dari yang sok nyuruh-nyuruh, suka malak, bego tapi sotoy, ngrasa tuan dikampung sendiri dll lah, pokoknya najis deh aku temanan sama mereka. sampai pada suatu hari…. aku ketemu orang minang yang baek, jauh dari semua yang aku temui sebelumnya, malah sampe sekarang jadi kayak saudara. tapi sayang ditempat kerja ada satu orang yang sifatnya kayak yang aku temuin waktu sma, wah swmoga tuhan menyadarkan dia..

nah kalo soal batak, aku dari sd malah banyak teman batak, dan kebetulan semuanya normal-normal aja, ada juga yang dah kayak saudara, sering makan dirumah dia, tapi kalo makan suka beli nasi bungkus, soalnya dia tau aku gak boleh makan bak hehe
kalo soal pd sama pinter mbual, hmnnn memang gak ada duanya lah sibatak gila temanku ini…
soal pekerja keras sama prinsip pendidikan anak juga aku mengakui..
tapi kalo ganteng, cantik sama pinter sih relatif, soalnya aku termasuk kalo ngomongin ganteng sama pinter wkwkq

nah sampai suatu hari lagi, aku pindah rumah (kebetulan cuma sama adikku) ke perumahan baru yang kebetulan juga banyak orang bataknya, sialnya tetangga sebelah tuh termasuk batak yang dicritain mbak, sok the best, sok tau, sok bosokkkk lah.
hobbynya minum tuak sambil main keyboard dengan lagu yang sama diulang-ulang sampe bosen.. mending kalo pelan, ini volumenya sampe over… dipajang didepan rumah pula tuh, halloooo ini serasa tinggal di partu (parte tuak) aja. apalagi kalo sebangsanya dah ngumpul, ampooon kakak,,, radius 500m juga masih berisik. pernah aku bilang baik-baik sama dia buat ngecilin volumenya soalnya aku lagi sakit gigi dan adikku juga lagi belajar, cuma 5 menit pelannya, abis tu gila lagi.
kalo sudah gitu berarti nyari lawan, you want it, you get it lah, masa aku yang sudah biasa menggila diajarin gila.. alhasil aku pasang speaker 12″ yang suaranya segaring toa, kuat mana pita suaranya sama playlist metalku yang 12,4 album (bajakan) itu? terakhir kapok juga dia, agak berangsur pindah ke tetangganya yang agak jauhan dari rumahku yang gak merasa terganggu dwngan teriakan tengah malam :D
jadi gitu aja, hoho belom..
kmaren belom lama ini bertingkah lagi, aku kan jarang dirumah, paling dirumah malam aja, nah pas pulang malam (hampir tiap malam) aku digonggongin anjingnya, padahal aku gak ngapa-ngapain. terus pas kebetulan anjingnya ngegonggong pas dia lagi didepan rumah, datangin aku, dia tanya knapa kok tiap anjingnya liat aku ngegonggong. sarap ne orang, aku bilang aja apa urusannya sama aku, tanya anjingnya aja lah, sambil ngloyor menjauh, males nangepin orang idiot kurang kerjaan. aku mikir sebanyak itu orang batak yang kukenal, perasaan dia inilah yang paling aneh….

jadi kalo menurutku sih, suku apa aja yang namanya manusia ada plus minusnya, sedihnya mbak’e hampir setengah abad merasa terjajah yah?
untungnya aku gak ambil pusing soal tetanggaku yang batak banget itu, lantak kau lah situ.. biar juga kadang dalam hati timbul niat dalam pengen nyodomi (pake parang) tetangga batak antik itu kalo lagi kumat idiotnya.. wkwkw

smangat yah sis, satu hal, terlalu sayang kita habiskan umur kita buat hal yang gak penting, mending kita yang beranjak cari tempat yang bisa nerima kita daripada kita yang gila karrna maksain diri biar bisa diterima :D

  gomos sibagariang wrote @

Horas!!
Saya sdikit miris membaca tulisan ini,turut prihatin atas apa yg ito alami,tp saya bs bersaksi disaat umur saya msh hampir 4 tahun ibu saya meninggal,dn apa yg ito alami ketika ayah ito meninggal sama skali tidk saya alami,bhkn ketika mnjelang acara penguburan krn saya blm paham saya msih keluyuran,tp saya dicari oleh bnyk orng utk bs brkumpul brsama disamping jenazah ibunda saya,pun ketika lima tahun kemudian ayah saya jg meninggal,sama skali itu tidk aku rasakan,smua orng brsimpati,membri kami sekeluarga makan yg disebut indahan sipaet2,begitu jg sepeninggal keuda ortu kami,abang/ito begitu pduli dngn kami,bhkn ketika hari natal mnjelang,baju,sepatu kami bs lbh bnyk dr tman2 yg msh pnya kdua ortun y,saya pn bs lulus sampai STM,atas perjuangan abang saya,begitu jg ketika saya merantau.yg prtama saya cari adalah,dongan tubu/semarga,jika itu tdk ada,y org batak,dn saya prnah dua kali mnjadi kariawan orng cina,dia bhkan mengutamakan orng batak yg krja disitu,jg ketika saya mnjadi ABK,smua orng batak yg diterima,dn yg pny kapal tentu saja orng cina,tiba saya dijakarta berprofesi sbagai TUKANG TAMBAL BAN,ketika saya mengalami kesulitan,orng bataklah yg membantu saya,cntoh mencarikan kontrakan,meminjamkan uang ,ketika saya tidk cukup uang membayar kontrakan,dn msh bnyk pengalamn yg harus saya ceritakn,walau tk bs dipungkiri minum tuak,bir,main kartu.sering kali mlekat pd org batak,dn saya prnah mlakukan y,tp tidk mengurangi rasa hormat ku pd orng lain.ada pepatah PANTUN DO HANGOLUAN TOIS DO HAMATEAN,saya kira smua orng batak sbelum merantaui pasti dibekali pepatah ini,agar bs menghargai orng lain.mudh2n dng ini sdikit bs membukla cara pndang ito,umur saya saat ini hampir 28 tahun,dn saya sangat bangga diahirkan jadi suku BATAK,horas,mauliate!

  Johnson SIahaan wrote @

Horas, saya orang batak yang lahir dijakarta, tidak bisa berbahasa batak,justru lebih fasih berbahasa betawi ( tapi skrg saya sgt cinta dengan budaya & identitas saya yang ngga semua orang dunia punya)

bir,tuak,rokok memang sudah menjadi kebiasaan orang batak ketika mereka berkumpul, jelas juga ambon,manado,maluku dan adat lain juga begitu ( bedakan adat dengan kebiasaan ) karena dimana orang sedang berkumpul disitulah hasrat hedonisme nya keluar krn kuatnya juga tali persaudaraan dalam marga serta aji mumpung sekali2 ketemu tidak apa2 lah agak hedon sedikit ( tapi bukan tujuan nya untuk mabuk beratkan ? tapi untuk sekedar santai dan menikmati pertemuan itu biar agak rileks, (lagipula alkohol sehat dikonsumsi jika diminum pada kadar yg wajar),
jadi, dapat kah kita mengaitkan hal rokok yang ito benci untuk dijadikan alasan utk tidak bangga terhadap suku ito sendiri?

setau saya budaya batak hanya tuak saja yang orisinil, untuk rokok ataupun bir itu cuma tambahan berkembangnya jenis2 minuman dan dipengaruhi oleh globalisasi dari barat,karena bir itu dari barat.
sebagian besar orang INDONESIA adalah PEROKOK ( jangankan laki2, mamak2 dan anak2pun sudah merokok) dan kita juga harus menyadari bahwa cukai yang dibebankan pada rokok sangat tinggi sehingga pendapatan negara pun semakin besar ( jadi negara hanya tanggung2 untuk mengkampanykan anti tembakau) salahkan pemerintahan kita ! seperti Thomas Hobbes bilang, “Manusia tidak akan berbuat baik jika tidak dipaksa”
jadi, dapat kah kita mengaitkan hal rokok, bir,tuak dan kartu yang ito benci untuk dijadikan alasan utk tidak bangga terhadap suku ito sendiri padahal itu hanya sentimentil personal ito saja?

soal adat2 yang sekiranya tidak berkenan di ito seperti parhobas di atas,, oke,mnurut ku ito harus tau juga konsepsi berbangsa dan bernegara
kita hidup di Indonesia yg beragam etnis dan kultur, justru adat inilah yang sbnrnya membuat negara kita berkarakter seperti bung Karno katakan dulu ” Berkarakter dalam kebudayaan ” dan justru keanekaragaan inilah yang membuat iri negara2 lain karena mereka tidak memiliki suatu sistem kebudayaan yang indah dan kompleks, makanya jgn salahkan malaysia kalo mau mengklaim tor-tor, kalo manusia nya sendiri saja tidak bangga terhadp budaya nya, bagaimana dia mau mengakui kalo budaya yang di klaim itu budaya nya? karena dalam sengketa internasional, Mahkamah internasional hanya melihat kepada siapa yang melestarikan budaya yang di klaim tsb, bukan berasal darimana dia berada, apalagi etnis melayu dan sumatera tidak beda jauh, secara antropologi pun pasti ada kesamaan nenek moyang yang mengasumsikan kesamaan budaya
ya ngga mungkin kan.

kalo ito merasa di lecehkan dalam parhobas adat batak itu ito juga harus tau ttg kedudukan wanita di adat batak, pernah dengar “Boru ni Raja ?”…Konsep-konsep sihabatahon yang di ciptakan pendahulu kita salah satunya “boru ni raja” Konsep ini mengingatkan orang Batak betapa terhormatnya seorang boru di dalam satu keluarga orang Batak. sejak jaman dahulu. sesungguhnya konsep-konsep tersebut, membuat kita sadar, bahwa seorang orang Batak tidak boleh menganggap rendah derajat seorang perempuan
Seorang gadis Batak harus menjadi paroppuan bagi suaminya seorang laki-laki tidak pernah menjadi oppung atau berketurunan tanpa seorang perempuan. Karena merupakan pilihan, maka aharkat seorang perempuan sebagai paroppuan bagi marga lain telah sirna. Maka konsep sebagai boru ni raja menjadi tanda tanya. Sebab konsep “boru ni raja” baru sah kalau seorang perempuan menjadi permaisuri. Disanalah perempuan menunjukkan kepatutan anda sebagai boru ni raja, bukan di “rumah orang tua atau itonya”

jadi, no offensive ya itoo, hahaha
kalo menurut ku, kurang kuat alasan ito, untuk tidak bangga terhadap batak jika dikaitkan dengan sentimentil pribadi ito sendiri yang di bawa keranah publik(apalagi hal yg fundamental kyk budaya) sprti rokok,bir dan kartu,, saya rasa adat lain pun memakai itu haha
justru batak sangat menghargai wanita sperti yang sudah dijelaskan diatas, bayangkan jika ito dilahirkan di suatu suku yang sangat mendeskreditkan perempuan? mungkin ito akan sama sekali tidak mengakui suku ito sndiri,bahkan membenci.
Ito orang beragama, semisal kita kaitkan dengan salah satu dampak globalisasi dari barat yang sgt memburukan moral bangsa adalah “freesex,greed”(yang berbau liberalis dan kapitalisme) itukan sangat bertentangan dengan budaya ketimuran yang kita anut, seandaikan kita tidak memiliki pondasi atau filter yang kuat seperti agama dan budaya, maka hancurlah moral bangsa(bukan nya saya sok nasionalis atau agamis ya),, saya yakin kalo kita bisa mencintai budaya kita sendri maka akan bangkit rasa Nasionalisme yang begitu mendalam, sehingga kita akan cinta terhadap bangsa kita sendiri akan cinta terhadap negara sendiri

  cekeysh wrote @

Benar bukan bahwa bir dan rokok itu bukan adat? Ito juga setuju. Aneh sekali jika kedua hal itu menjadi “adat”, sesuatu yang tidak boleh lepas dari keadatan dan bahkan lebih diagungkan daripada prinsip-prinsip keadatan. Sangat disayangkan. Jangan salahkan hedonisme, saya lebih merasa bahwa orang batak yang saya temui menganggap orang yang tidak merokok dan tidak minum bir sebagai “kurang batak” dan melecehkan bahwa orang demikian tidak memahami adat batak.

Mungkin kita memang bertemu dengan orang-orang batak yang berbeda. Saya menghargai beberapa pesan di blog ini yang berkesimpulan bahwa kemungkinan besar lingkungan yang saya temui-lah yang salah. Saya bisa menyetujuinya. Tapi jangan salahkan pendapat saya. Ini dunia bebas dimana semua orang boleh menyuarakan pendapat berdasarkan pengalaman pribadinya masing-masing.

Jika Ito merasa sebagai orang yang lebih baik, bukalah mata dan lain kali bertemu orang seperti saya anjurkan untuk bertemu orang-orang batak yang “benar”.

  Aday Dc wrote @

salam, saya orang betawi sunda, membaca curhatan tadi mengingatkan saya ttg bbrp waktu lalu, kebetulan sy bekerja di bidang photography, dan pada satu waktu ada kerjaan meliput wedding dengan adat batak, singkat kata semuanya yg di curhatan persis ga ada yg beda, tentang asap rokok, bir, babi, dan kasar/keras

memang kebanyakan batak yah seperti itu tetapi banyak juga yg bertolak belakang, sy bs berkata demikian karena saudara dari kakek saya juga ada yg menikah dengan suku batak dia dulunya supir angkutan dan memang terlihat kasar tetapi itu bukan lah suatu kekasaran tapi tegas, dia seorg pribadi yg baik, tetapi juga yg membedakan dengan suku batak yg lain dia tdk minum alkohol, rokok ataupun makan babi/anjing

jadi yg saya tangkap dari diskusi ini setiap org mempunyai sifat yang berbeda”, pada masalah ini bukan suku nya yg salah tetapi kepribadian/manner/ atau apapun lah namanya dari org trsebut lah yg mesti di benahi

  cekeysh wrote @

Thank you, agree and appreciate your comment.

  jhon68 wrote @

Saya merasa terhina dan diinjak2 di forum/blog ini.kalo ini terjadi pd saat UUITE berlaku mungkin ribuan pengacara Batak akan menuntut(kalau identitasnya asli). Dari masalahnya saya bisa tarik kesimpulan: ini terjadi karena ketidakmengerian adat Batak (Toba).Memang Batak itu adalah suku yg paternialis,marga diturunkan kepada laki2.konsekuensinya,warisan jatuh ke laki2,walau ada warisan kecil bisa dibagi juga utk perempuan.Dalihan natolu,adalah tatanan yg mengatur kekerabatan sesuai marga. Bila pihak marga istriku yg hajatan,maka saya termasuk yg “marhobas” yaitu yg wajib sibuk membantu hajatan,termasuk yg lain yg segolongan dgn saya.keberhasilan hajatan hula2(pamangmertuay ditentukan oleh hasil kerja para boru yg marhobas.disuruh2? Ituketidakmengertian. Anda.semua org Batak akan punya hak yg sama.kalau anda sdh menikah dan punya suami Batak, maka anda akan merasakan juga bantuan dari parhobas yg bermarga dari suami anda.mengenai pandangan Batak thdp perempuan,jelas! Setiap perempuan Batak adalah “boruni Raja”.saking berharganya sampai dibuat pesta besar dgn biaya dan mahar yg besar pula.itu utk sekali seumur hidup.Batak tdk mengenal “istri simpanan”,bini ke 2 ,3 dst.sebab kalau itu terjadi akan membuat “perang marga”.mengenai minum dan rokok,anda sangat tendensius, saya itu dari kecil TIDAK PERNAH merokok dan minum.apakah tanggapan anda?saya pernah bekerja sama org Korea, presiden langsung bilang sama saya: “saya suka mempekerjakan org Batak”! Sy tanya alasannya,dia bilang: Etos kerjanya tinggi,have ability under pressur(tdk cengeng).rtdk ragu2,dan berani .setahu saya,pabrik2 org korea rata2 memiliki org Batak pd midle management ke atas.Batak adalah suku yg punya peradapan tinggi, ciri2nya adalah: punya tatanan kekerabatan jelas,punya silsilah(hingga 25 generasi),punya aksara,punya seni.saya melihat bahwa keluhan anda tdk layak diposting ke publik karena lebih tepat disebut “masalah pribadi”.kalau mengenai halaus kasar ,,kita harus bedakan omongan atau perilaku? Anda mau yg mana?halus spt bencong bicaranya,tp kasar perilakunya?perilaku org batak sangatlah halus, misalnya: kepada besan,tdk boleh menyebut nama,tdk boleh duduk berdampingan,mertua -menantu tdk boleh manggil nama,tp marga atau sebutan sopan.tdk spt suku lain,yg bisa memanggil menantunya langsung nama,bahkan memeluk dan mencium menantu,hal yg ditabukan di org Batak.Memang anda (mungkin) orang Batak,tetapi tdk memiliki sisi yg lain dari diri seorang Batak.masih ada romantisme,cinta dan seni,tdk semata2 anda hanya memikirkan suara keras yg membuat pribadi anda kecewa itu.sering2lah mendengar lkagu2 Batak yg romantis,yg menilai wanita sangat utama.50% lagu utk gadis,40% utk ibu hanya 10% utk bapak dan anak..mudah2an anda berani membaca literatur tentang Batak sebelum posting ke publik,sebab dgn begini saya anggap keluhan anda sama saja dengan keluhan inang2 dari dapur.jangan salah, org2 yg membela anda,mereka memang sejak lahir sudah didoktrin membenci orang Batak,tepatnya :sirik. Betapa tidak? sebagai org pendatang, koq bisa survive?tapi itu kan karena mau kerja dan berkeringat dgn kerja halal! Adakah org Batak sebagai WTS? Pengemis?Pembantu? Kalau ada berapa persent?itu karena “boru ni Raja” tadi…! Lebih baik miskin asal bisa nyekolahin anak2nya,itu prinsip irg Batak.Pantang punya mobil perlente sebelum punya rumah!semoga anda bukan menjadi bagian “suku lain” sehingga cinta sejati anda terpenuhi hingga ajal menjemput,jkalau tidak, siap2 jadi bulan2an laki2 yg penggombal tak bermoral.demikian, Horas tondi madingin,Pir tondi matogu”.

  cekeysh wrote @

we are in a different side of the river. realize that! always setuju untuk tidak setuju. don’t force your opinion.

  Sago Siahaan wrote @

Pertama-tama saya hanya bisa turut berduka dengan apa yang kakak alami walaupun sebenarnya sedalam apapun saya coba berempati saya tidak akan pernah benar-benar bisa memahami kesedihan kakak karena saya tidak pernah mengalami hal yang persis sama dengan yang kakak alami.
Saya sepenuhnya setuju dengan tulisan ini karena merupakan hasil buah pikiran dari kakak dengan segala hal yang telah kakak alami dalam hidup. Namun jika tulisan ini ditulis oleh saya dengan hal-hal baik yang saya alami dalam keluarga saya selama ini tentu saja akan sangat salah dan tidak bersyukur.
Lebih jauh lagi saya ingin berterima kasih karena tulisan kakak ini memberikan saya kesempatan untuk berintrospeksi dan berusaha agar tidak memiliki sifat-sifat buruk seperti yang kakak jabarkan diatas, atau setidaknya bisa berubah apabila saat ini saya masih memiliki sifat seperti itu.
Saya sendiri sejauh ini bangga kak menjadi orang batak, karena seberapa sering pun saya dibuat geram dengan perilaku-perilaku sebagian orang batak,masih ada putri maupun putra batak yang membuat saya merinding dan terharu dengan apa yang mereka lakukan. Seperti kak butet yang mau meninggalkan kenyamanan kota untuk mengajar suku anak rimba di pedalaman hutan sumatera, atau beberapa senior batak saya di kampus yang punya hati untuk menyisihkan sebagian tenaga, waktu dan uangnya untuk menggapai anak jalanan.
In my humble opinion,yang saya dapat simpulkan konteks dari tulisan kakak bukanlah tentang menikahi pria dari keluarga batak atau non-batak,tetapi lebih tentang menikahi pria yang berasal dari keluarga yang bisa mengasihi kakak atau tidak. Karena yang saya tangkap masalah utamanya bukan asal sukunya melainkan perilakunya. Toh,jika kakak menikahi pria non-batak tetapi dengan perilaku yang sama dengan yang kakak jabarkan diatas, itu tidak akan menyelesaikan masalah kakak. Jadi akan lebih tepat jika judul tulisan kakak ini “jangan menikah dengan orang yang salah”. Sekali lagi it’s just my humble opinion loh kak.
Saya hanya bisa berharap kakak bisa secepatnya menemukan jodoh yang bisa mengasihi kakak. Entah ia pria batak atau bukan. Yang saya yakini saat TUHAN memberikan kesedihan yang sangat dalam bagi seseorang itu karena ia sudah menyiapkan sesuatu yang luar biasa indah kedepannya, dan saya harap itu merupakan kehidupan pernikahan kakak.
Terakhir kak, sedikit curhat, alasan sebenarnya kenapa saya merasa agak kurang nyaman dengan judul tulisan kakak, karena saya sendiri adalah seorang putra batak yang selama hidup belum pernah punya pacar kak, jadi saya takut jika semakin banyak wanita diluar sana yang baca judul tulisan kakak, nanti saya makin susah laku loh kak.hahahahaha.
Sekali lagi terima kasih ya kak. Lord loves you.

  cekeysh wrote @

Dear Sago, saya yakin orang yang di luar sana semakin luas pandangannya dan akhirnya memilih dirimu bukan karena batak-nya tetapi karena cinta!

  irxwan junior togatorop wrote @

gw setju ma apa yg ito paparkan, terkadang para pemangku adat cma mempertahankan ego masing2 jika sdang melakukan ritual adat, baik acara nikah mwpun acara kemalangan, yg paling skit itu tadi, kta yg kehilangan malah g bs berbwt apa2 ma org yg kita cintai, yg ada malah org2 yg ga pnya SDM sbuk bcra adat g jelas kmna arah n tjuannya. bknnya mncari solusi yg ada malah adu argumen mmprtahankn apa itu yg d sebut ADAT, pdahal klw kta fkir adat tersbut hrsnya bkn mmpersulit, yg ada mmpermudah sswtu demi jalnnya sebuah prosesi acara. jdi intinya,, kpd para pemangku adat batak hrus merobah sikaf, jdikan adat itu lbh fleksibel, mngikuti zaman, krna adat itu hususnya BATAK tdk ada aturan baku, adat itu bs d robah sesuai kbutuhan dan situasi sbuah acara, yg intinya bs di trima dngn baik. dan aku rasa nnek moyang kta jg tdk dkn marah akn hal itu, adat yg mreka ciptakan kta robah, malah mngkn bangga krna kita merobah nya ke arah yg lbh benar, bkn ke arah yg buruk. horassssssss

  A.A. Sutan Malano wrote @

Salam kenal Cekeysh. Diskursus adat dan pertentangannya, memang selalu menarik untuk dikaji. Terutama jika menyangkut kebiasaan-kebiasaan masyarakat penjunjung adat tersebut. Mengingat sudah banyak orang yang menganggap Anda “lancang” atas tulisan ini, malah sampai memaki-maki dan mengata-ngatai Anda, saya ingin katakan : tak usah gentar ! Tak sedikit orang di dunia ini, yang mengkritik adat sosial mereka dan kemudian dikata-katai, bahkan hingga mendapat sanksi sosial. Kalau semua yang Anda ungkapkan di atas adalah fakta, dan tujuan Anda menuliskannya untuk perubahan yang lebih baik, why not, jalan teruuss …!

Di belahan dunia lain, banyak pula kaum cerdik cendekia (yang seperti Anda ini) mengkritik keras adat istiadat dan tingkah polah masyarakat mereka. Saya ingin mengambil contoh pada budaya Jawa dan Minangkabau.

Di Minangkabau, kritik terhadap adat dan kelakuan masyarakatnya, telah berlangsung sejak 200 tahun nan lampau. Beberapa orang yang paling keras mengkritik diantaranya adalah, tiga orang mantan serdadu Turki Utsmani yang pulang kampung di awal abad ke-19. Mereka ialah Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piobang. Kemudian diikuti oleh Tuanku Nan Tuo, Tuanku Nan Renceh dan Tuanku Imam Bonjol. Kritikan mereka terutama menyasar kepada praktek-praktek adat yang menghalalkan perjudian, minum-minuman keras, serta watak masyarakat Minang yang angkuh dan sulit diatur. Bermula dari itu semua, maka mereka mencanangkan program revolusi sosial yang hendak mengubah karakter orang Minang dan adat istiadat yang usang. Dampaknya kita tahu semua, terjadi Perang Paderi yang berkepanjangan dan melelahkan. Meski nampak merugikan (dengan banyaknya jiwa yang berguguran), namun dampak dari revolusi sosial itu adalah terbentuknya tatanan masyarakat Minang yang baru. Yang tertuang dalam adagium : Adat bersendikan syariat, syariat bersendikan Kitabullah. Sejak itu, maka praktek-praktek perjudian dan minum-minuman khamar segera diharamkan. Efeknya : masyarakat menjadi lebih santun, dan perampokan serta penipuan dapat diminimalisir. Di abad ke-20, kritik terhadap adat dan kelakuan buruk masyarakat Minang tak juga surut. Dan seperti yang sudah-sudah, kritik pedas acap datang dari anak negeri sendiri. Kita mungkin pernah membaca novel Salah Asuhan (karya Abdul Muis) atau Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (Hamka), dimana dalam dua karya tersebut mereka mengkritik adat istiadat Minang yang kolot dan tingkah laku masyarakatnya yang kurang senonoh. Tak hanya mereka, barisan nama-nama lain yang menggugat adat istiadat Minang adalah : Haji Agus Salim, Sutan Takdir Alisjahbana, dan Marah Rusli. Bahkan beberapa orang yang cukup ekstrem seperti Ahmad Khatib al-Minangkabawi, menentang sistem adat matrilineal dan mencap orang-orang Minang telah memakan harta haram. Sutan Sjahrir, yang muak dengan tetek bengek seremoni ala Minang, malah mengaku tak lagi memiliki keterkaitan dengan Minangkabau.

Di Jawa, revolusi sosial (mungkin tepatnya : reformasi sosial) juga bergulir secara gradual. Meski tak sehebat dan sedramatis yang terjadi di Minangkabau, namun perubahan yang berlangsung di Jawa telah memberikan dampak positif terhadap masyarakatnya. Kini, anak-anak muda Jawa, terutama yang mengenyam pendidikan Barat dan tinggal di perkotaan, tak lagi mau yang berkromo inggil dalam bertutur kata. Selain tidak praktis, cara itu mereka anggap tidaklah egaliter. Malah diantara mereka, banyak pula yang “membelakangi” Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Mereka emoh menghormat, kepada simbol-simbol budaya yang dulunya menciptakan perbudakan dan totalitarian itu. Sekarang kita mungkin bisa mengukur, berapa banyak dari kaum terpelajar Jawa yang bersedia manut kepada orang berdarah biru. Mungkin bisa dikatakan : sangat sedikit sekali. Dalam lintasan karya-karya Goenawan Mohamad, Arswendo Atmowiloto atau yang sedang populer saat ini : Radhar Panca Dahana, mungkin kita bisa menengok, bahwa mereka dengan cerdasnya telah mengobok-obok konsep budaya Jawa, dan hendak menggantinya dengan tatanan yang baru. Meski berjalan senyap dan tertatih-tatih, namun reformasi sosial yang terjadi di tanah Jawa berjalan dengan pasti.

Dan untuk budaya Batak, saya cukup mengapresiasi Anda ! Yang berani mengikuti jejak orang-orang besar untuk menggoyang tatanan adat istiadat yang usang. Kalau boleh usul dan jika Anda memiliki nyali yang cukup, jangan cuma mengkritik karakter masyarakatnya saja. Coba cermati apa pangkal persoalannya, sehingga muncul kelompok masyarakat yang seperti Anda gambarkan di atas. Kalau perlu, Anda “menusuk” jantung adat-budaya Batak. Mempertanyakan kesahihan konsep Dalihan na Tolu dan sistem patrilineal yang diagungkan-agungkan itu.

Sebagai penutup, saya teringat dengan buku “Sengketa Tiada Putus” karya Jeffrey Haddler. Menurutnya : Di Minangkabau, tiada sesuatu yang tabu untuk dipersoalkan. Segala sesuatunya, dari konsep matrilineal hingga konsep ketuhanan, selalu hendak digugat oleh anak-anak muda Minang yang tak pernah puas itu. Sehingga dari autokritik inilah, kata Saur Hutabarat, banyak orang-orang Minang yang tampil kemuka, melebihi proporsi jumlah mereka yang sangat kecil.

Jika terlebih terkurang mohon maaf.

Salam hangat,
A.A. Sutan Malano

  Melky D. Situmorang wrote @

Sebelumnya, salam knal buat ito cekeysh……

Sya pnah berbncang2 dgan seorag parhata pesta batak yang sudah berumur hmpir 70 thn.
Kl mngenai adat istiadat batak skarag ne mnurut pndagan beliau mmang sudah mulai brgerak dri jlur yg duluny.
Skarag ne, seorang halak btak srig mnganggap drinya lbih hbat di pesta2 ttentu.
Smentra kita bangso batak d ajarkan oleh si raja batak untuk ttap mmgang dalihan natolu.
hal ini tdak bleh lpas dr dri kta kpan n dmanapun….
kr tulah dsar dr pradaton.
dlam adat batak tdak ada posisi yag abadi.
ada klanya kta d bwah, dan da kalanya kta d atas.
Tulah sbabnya beliau berkta “jangan prnah bersikap sbgai org terhebat saat posisimu d atas, kr akan ada saatnya posisimu d bwah”.
Mgkin tulah yg tdak d phami oleh orang2 yang ito maksud dalam curahan hati ito tu.
Bgus ito mencurahknnya wlaupun sdikit byak tllu kras bhasanya mnurutku. Yang jlas, sfat kbatakn ito msih ada di dlam cara pnulisan ito tu.
Mgkin mmang bnar ada faktor nasib yg mmprtemukn ito dgan kjadian sprti itu.
Tp, mgkin z ada alsan lain mreka mkanya bgtu.
Dlam hal sperti ne, sya tdak mw lgsung myalahkan slah satu phak.
Kr bgi saya, ada kerelativan d dlam mgambil prasangka dsini.

Sya pnah mndgar lagu batak yang dinyanyikn batak-american. Yang rindu plag k bona pasogit, y ingin mnikahi boru batak dr bona pasogit. Begtu bangganya dy yg notabene lhir d California.
Lagu tu d ciptakan dy saat2 strhat. Bhasanya pas, bhkan ada bhasa yang mnurut sya agak tulen. Hanya logat yang lbih k plafalan bhasa inggris.

Byak hal yg mbuat sseorg bs bpndagan buruk ato baik.
Ttapi penilaian yang d ambil dalam suatu komunitas adalah nilai terbesar.
Mgkin y ito knal tu hnya secuil dari sgelintir dari skian byak bangsa batak.

Skali2 dtag k bonapasogit ito, slma ito bskap sprti org batak n mmegang tguh dalihan natolu, ito tdak akn pnah klparan btemu dgan bangsa btak dan snantiasa akan dpat prlindugan.

Sy pnah bcrita dgan tman sya y bkerja d kalimantan. Dtang dngan modal nyawa k klimantan.
Pjuangan dy hnya btemu dgan bangsa batak. Stlah btemu dgan bangsa batak, prasaan legapun dtag.
Ito prlu mgetahui bgaimana khidupan bangsa btak dsna. Kl ito sdah mgetahui tu, sya pstikan ito akn brbalik dr pndagan awal ito tu.

Herman Delago seorang komponis n musisi Austria telah mnjadi orang btak dan dsahkn lengkap scara adat.
Dy suka kbudyaan btak mlai dr bhasa, adat istiadat, musikny dsb. Pling tdak tu pgakuan dy.
D Eropa bangsa batak itu tdak asing lg, trutama d daerah yang ada HKBP-nya.
Bhkan Amrika.

Sya pnah mmbaca artikel seorg bangsa batak yang punya ptemanan dgan orang Israel. Beliau mngatakn bhwa adat istiadat kta tu mnarik, tu artinya ada keingintahuan dia lbih byak.

Dan sbnarnya bangsa batak tu pntar2. Tu tdak bleh dsangkal.
Hanya saja bangsa batak sdikit byaknya tjepit di antara ketakutan mayoritas ttentu.
Tulah yg tdak bsa pcah sampai skrang.

Dalam postingan sblumnya, ada suku bangsa ttentu yang bleh sya ktakan mnyindir bangsa btak.

Cra pndang kuno dan tdak punya kualitas. Tllu smpit.

Koruptor dan d suap ktanya.
Sya tdak stuju dgan tu. N sya hrap ito jgan mperdulikan omongan spti tu.
Dsar pmikirany tllu smpit.
Tllu buru2 utk mnulisny.
Tdak bpikir dhulu.

Buat apa lgi memikirkan negara ini klo kta tdak dpikirkan??
Apa perlu??
Sy pkir tu tdak prlu d perpnjang.

Kembali k masalah ito y sbnarnya,,,,
Banggalah mnjadi bangsa batak….
Bsa jd kwan ito byak yg baik saat ne, ttapi ito tdak akn pnah tau apa d dlamny.
Btak memang tlihat kasar, pkerjaannya jga byak yang kasar spert supir, bengkel dan bhkan tukang parkir sperti yang ito tulis.
Tetapi jagan slah, blum tntu orang yang duduk d pmerinthan sana lbih pntar dr mreka.

sudah sfat tu mkan d lapo.
tu tnda sbuah kkrabatan.

Jgan mganggap remeh dengan saudara kita yang bkerja sbgai bengkel ato supir d jlanan sana ito, sdkit byak itu d pngaruhi oleh kungkungan negara ne.
Pncasila yang sembraut tidak punya arah yang jelas, UUD yang brlbihan. Dan ketakutan mayoritas tertentu terhadap minoritas.

Jadi tidak usah heran dengan keberadaan bangsa kitta ini…..

Bukalah pikiran dan pandangan ito kembali untuk lbih memahami adat batak itu.
Dalihan natolu:
Somba marhula-hula
Elek marboru
Manat mardongan tubu.

Inilah penyebab mengapa posisi bangsa batak dalam paradaton tidak pnah abadi.

Dan yang ito alami itu, berada pada poin ke dua.
Mreka mgkin kurang mmahami tu.
Tp sperti yang sy blang td, bsa jdi ada pyebab lain krna poin pertama.
Tu ito yang tau.
Kembali kpada ito mngenai kbnarannya.

Horas……

  Dunan Hutapea wrote @

sudahlah……. saya bangga menjadi orang batak.

pemilik blog ini juga saya pikir hanya ingin memperburuk citra orang batak. Jika kamu mendapat perlakuan seperti itu, pasti ada alasan dibalik semua itu. Berkacalah pada diri orang lain sehingga ANDA diperlakukan seperti itu. Jika memang tdk ada kesalahanmu, cukup anda yang tahu bagaimana keluargamu (tabiat keluargamu) “bukan orang batak”. akan lebih bijaksana ANDA jika anda tidak menceritakan keburukan keluargamu. Nobody is perfect in life. Ok ito.

  wara wrote @

horas di hita sude

salam buat kita semua, kenapa sih kita semua komennya ga pada ngertiin ito kita ini??ito kita ini menceritakan pengalaman pahitnya, sehingga membuat dia trauma dan membuat judul artikelnya “jangan kawin sama orang batak”??kita baca saja memangnya kenapa sih??ga usah ada yang jelasin apa2 dong, ini malah ada yang jelasin adat batak begini..begitu sampe bawa-bawa firman Tuhan segala…kalo emang kita berpegang pada firman Tuhan kenapa rata-rata di acara batak pas pernikahan pemberkatan di gereja sedikit yang datang??pas di adatnya pada rame??apa karena acara pemberkatan ga sepenting adat??, kalo emang ito kita ini ada masalah kenapa ga kita langsung tanya aja “wah ito kok bisa sampe begitu ya ga boleh duduk di samping jenazah almarhum, keterlaluan jugalah itu keluarga yang nyuruh begitu….seharusnya kan ga kayak begitu” bukan kita ngasih “pencerahan” (pencerahan dari laut) ..sekarang begini saja kalau ada orang pernah kecopetan di bis metromini apakah memang semuanya metromini dia akan kecopetan seterusnya??kan emang metromini yang dia naikin waktu itu yang emang pas ada copetnya makanya jadi trauma dia…sama dengan ini juga, mungkin pas waktu itulah keluarganya sedang memposisikan keadaan yang seharusnya tidak begitu, ya berarti kita harus bilang keterlaluan juga keluarganya waktu itu, kita mengerti perasaan ito dan kita merasakan bahwa itu memang sangat pahit, tinggal gitu aja kok pada repot sih….??ga tau kenapa emang rata-rata orang batak begitu, “Harga Diri”nya sangat tinggi, mungkin kita semua yang orang batak perlu belajar mengenai kerendahan hati yang baik, dan mulai belajar untuk tidak cepat menilai orang sebelum kita menilai diri kita sendiri,karena saya perhatikan begitu cepat keluarga saya yang batak juga menilai kejelekan orang dan langsung menceritakan kepada semua keluarga sehingga keluarga yang lain menjadi “seolah-olah” terpengaruh oleh pembicaraan itu dan membuatnya menjadi punya pandangan yang aneh mengenai orang itu….kita jujur sajalah mengenai ke “batakan” kita, siapa sih orang batak disini yang mau mendengarkan kritikan dan pandangan dari orang lain??siapa yang orang batak terima di kritik??pasti ada aja pembelaannya, terus dengan bangganya kita bilang ya itulah hebatnya batak bisa membela..jujur saja sebenarnya kita harus pertanyakan apakah memang itu kehebatan kita sebagai orang batak atau itu kelemahan kita karena tidak mau menerima kritikan??kalau ada teman2 semua yang batak baca ini..saya yakin pasti akan dibalas dengan banyak pembelaan..itu pasti, dan juga kalau emang kita yang batak punya adat yang sama kenapa setiap keluarga ada yang berbeda-beda ketika menjalankannya??

nb: – keterbukaan adalah awal pemulihan
– buat semua yang komennya banding2ngin dengan suku lain mendingan ga usah komen dari awal (ngapain juga bawa2 suku lain, ngasi contoh kawin cerai lah) ga usah bawa cerita begitu..mending kita baca, kita renungkan, dan kita coba rendah hati dengan semua ini ,dah gitu aja kiranya komen ini bisa membuat kita sadar bahwa batak tanpa kerendahan hati cuma bakal jadi sampah masyarakat….

  cekeysh wrote @

kalau di fesbuk ada icon nya: jempol. thumbs you up for this. thanks.

  Joshua Josse wrote @

Kk,saya sendiri pria ambon tulen,,dan saya mempunyai anak dari seorang perempuan batak,,saya cm mau minta pendapat kk secara personal,saya jg ga bisa cerita semuanya dsini kak,,klo kk ada ksempatan,bisa hub saya lewat email??

  cekeysh wrote @

write me in cekeysh@gmail.com

  sweetarline wrote @

batak tanpa kerendahan hati cuma bakal jadi sampah masyarakat….

Suka banget kata2 ini.. sangat BENAR..
Ini realitas yang saya lihat dalam kehidupan sehari-hari saya di JAKARTA (lengkapnya, di pergaulan antar rekan pekerja salah satu gedung perkantoran, jalan protokol Jakarta, Ibu kota negara ini). Kalau masih ada yang membanggakan suku Batak tapi tidak mau punya sikap rendah hati, tak lebih hanya dari dicibir. Kalau memang mau meninggikan Kebatakan tanpa mau dikritik, ya pulang saja ke kampung, tak usah berbaur dengan suku lain.

Kalau masih mau dihormati, bersikaplah rendah hati, kelak akan terlihat kelebihan yang mungkin memang ada di suku Batak pada umumnya.. who knows?

  wara wrote @

“Kalau masih ada yang membanggakan suku Batak tapi tidak mau punya sikap rendah hati, tak lebih hanya dari dicibir. Kalau memang mau meninggikan Kebatakan tanpa mau dikritik, ya pulang saja ke kampung, tak usah berbaur dengan suku lain”

hahaha (‘,’) …ini juga mantap kata-katanya…thks juga buat kakak cekeysh dan kakak sweetarline

saya sangat suka dengan artikelnya tolong jangan dihapus ya kak, karena semakin membuat saya sadar bahwa saya juga melakukan hal-hal yang diceritakan di atas itu…artikel ini makin membuat saya sadar bahwa saya sebagai orang batak harus banyak berbenah diri..thx kak mungkin sebagian ada yang marah sama artikel yang kakak bikin tapi sebagian juga ada yang jadi belajar bersikap karena artikel ini juga…ini pelajaran berharga buat saya thx..Gbu

  Mey Martha wrote @

hi..gue sendiri bacanya “agak” setuju sih, gue juga orang batak, gue juga merasa keterpaksaan, maksudnya orang tua ngajarin gue memang harus nantinya sama batak, pokoknya keinginan mereka banget deh, semua bener dimata mereka tanpa ngeliat apa yang gw mau dan gw yakin gue bisa, tapi intropeksi diri aja masing2, kita ini orang indonesia yg ga lepas dari Gede omongan doang plus enggak ada mau ngalahnya,so..kapan negara kita mau maju kalo masing2 dari kita aja kepribadiannya buruk, buat segala hal menurut kita negatif dilihat aja sisi positifnya, intinya kita semua harus intropeksi diri masing-masing jangan mencoba menjadi orang paling benar dan jangan mencoba menilai orang dari sisi negatifnya saja, Tx maaf kalo ada slah kata..

  gani wrote @

sampai saat ini saya hanya menilai objektif terhadap orang2 batak mnurut pengalaman saya ya, saya mahasiswa di bandung di tempat kos saya ada 20 kamar ada yg dari betawi sunda dan jawa dll dan hanya 1 kamar yg di tempatin oleh orang batak tapi nyebelinnya minta ampun, its true …orang batak ini cuman mau kumpul dan kumpul2 sama batak lagi aja jadi itu satu kamar di huni banyak orang batak ga modal amat ya, beda klo suku lain saling kenal dan kumpul bareng2, yg orang batak ini suka bikin berisik, ngerasa paling heboh, suka seenakny ambil barang orang tanpa ijin, dan ngilangin barang ga balik lagi nah klo ada waktunya kerja bakti orang2 batak ini selalu pada ngunci kamar kagak mau ikut kerjabakti padahal itu 1 kamr di huni 5-8 orang. aneh bener tingkah laku mereka seolah mereka mengharamkan diri campur dengan suku lain dan ngerasa sukunya lebih hebat kali ya… beuuhh. tapi mungkin tidak semua juga kali ya tapi itulah yg saya alami klo berada di lingkungan bersama orang batak

  jiorutte wrote @

mw ikutan nimbrung y ;)

ayah kandung saya sudah meninggal, dan otomatis saat menikah tentunya posisi ayah akan digantikan oleh adik laki2nya yang paling tua.

beberapa hari ini ada selisih paham mengenai ulos, sinamot, dan akhirnya adik laki2 ayah saya mengeluarkan pernyataan: saya akan mengurusi pernikahan kamu karena ulaon adat, tanpa ulaon adat, saya lepas tangan.

kata pertama yang muncul di otak saya: WTF?!

setengah darah saya ada di dalam mereka, begitu juga sebaliknya. mereka tidak mw menyentuh dan mengurusi pernikahan saya apabila tidak diadati. padahal mereka ada saudara2 sedarah saya. secara akal dan logika, ko bisa, dan secara perasaan? terluka pastinya :)

pasien yang sedang kritis, membutuhkan darah/organ/bagian2 tertentu, yang dicari pertama kali adalah orang2 terdekat si pasien tersebut, karena ada hubungan darah. etapi hal ini?!!

shocked? ofkors. saya dilihat dan dipandang gegara adat. tanpa adat saya bukan siapa2, saya bukan anak mereka, saya bukan keponakan mereka. jadi hubungan kekeluargaan ini ada karena adat.

di luar masalah di atas, saya ingin menyinggung hal lain karena baca komentar2 sebelum ini. salah satunya menyinggung kehidupan orang batak yang merantau ke pulau lain bahkan keluar negeri, asalkan ketemu sesama orang batak hidup mereka akan terjamin.

sebelumnya, mohon maaf untuk orang batak namun memiliki keyakinan berbeda, karena saya mw singgung sebuah perumpamaan di alkitab mengenai orang samaria yang baik hati (Lukas 10:25-37) dan berikut cuplikan2 ayat tersebut:

10:25 Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”
10:26 Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?”
10:27 Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
10:28 Kata Yesus kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.”
10:29 Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?”
10:30 Jawab Yesus: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.
10:31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.
10:32 Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.
10:33 Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.
10:34 Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.
10:35 Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.
10:36 Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?”
10:37 Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

saat hari penghakiman nanti, apakah Tuhan Yesus akan tanya, berapa banyak orang batak yang sudah engkau tolong?

kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri, bukan kasihilah sesamamu “yang orang batak” seperti dirimu sendiri.

tanpa mengurangi rasa hormat sedikit pun terhadap orang2 batak yang menulis komentar di blog ini. coba yuk ubah sudut pandang kita mengenai hal tolong menolong ini.

sekian.
orang-yang-terluka-gegara-ulaon-adat :)

  elsa wrote @

Menurut pengalamanku yg punya temen org batak,dikit sekali (bahkan hampir gk ada) yg bener2 “ramah” kl pun “ramah” dan baik.. Pasti krn ada maunya…
Pinter ngomong?? Waaah itu udh rahasia umum…
Awalny dy driver.. D angkat jd bawahanku,tp sikapny malah tambah sombong,jd nya suka “debat” gk jelas sm yg laen…
Meski ketauan boong,tetep PD bela diri…
Tp soal duit dy paling “tikus”… Makanya bos ku jg suka sebel kl dy sdh ngajuin memo minta duit….
Tp ada juga anak batak,yg anti bgt mkn babi.. Anjing.. Bir… Sm beda abis sm batak yg laen,ank nya baek bener… Dy temen baikku.. Walau jaman kuliah dl…
Setdk nya mungkin ada yg nyebelin,tp yakin deh ada juga yg baik…
Ya relatif,manusia kan tdk semuanya sempurna…
Belajar mengenal dl… Gk blh langsung membenci atw menghakimi… Krn dg begitu,kita belajar mengenal org itu dg bijak… Tdk melalui paradigma yg “jelek” dl…
Biar gk merasa jd batak itu gk enak…

  moses marpaung wrote @

salam buat ito yg punya room….
mungkin sudah banyak kakak2 dan abang2 yg kasi opini2, baik yg destruktif ataupun yg konstruktif thdp org batak…
sy org batak namun diumur 2thn sy pindah ke daerah magelang, dan kelas 2 smp kembali lagi ke bonanipasogit sampai tamat sma..setelah tamat melangkah kembali ke bangku kuliah di jawa.setelah lulus sy tinggal di papua sampai skrg…yg saya ingin bagikan disini bukan perjalanan hidup dari kecil sampai besar, namun transisi sy saat kelas 2 smp sampai sma malah berpengaruh besar dalam kehidupan sy saat ini. terus terang diawal tahun sy pindah ke kampung halaman sy malah kaget dan bahkan ketakutan dgn estetika dan cara gaya bicara suku batak sendiri..namun setelah beberapa tahun sy dalami, ternyata memang karena topografi serta tingkatan kehidupan tertentu yg mengakibatkan mungkin kehidupan batak yg cenderung terkenal “keras”…

poin 1.ttg kedudukan pria dan wanita

Pertama kali sy terlibat lgsg diacara adat lingkungan batak mungkin hanya ada 4…pernikahan tulang sy,pernikahan inangtua sy,meninggalnya opung boru sy, dan terakhir dibulan 2 tahun kemarin meninggalnya mama sy…mungkin yg bisa dilihat disini ternyata sebagai “perempuan” diadat batak tidak dipojokkan seperti opini kakak yg punya room..(maaf kak sy bukan membela,hny berpendapat secara real yg sy peroleh).
di 3 acara yg berkaitan dgn posisi wanita dikehidupan adat, ternyata di ketiganya sy dapati kedudukan wanita juga tergolong sama dengan pria yg katanya dinomorsatukan..
bapak dan mendiang ibu sy sepertinya malah saling melengkapi dalam kehidupan adat(baik secara langsung dan tdk langsung bapak sy menjadi komentator utama,bahkan kadang bapak sy kalah mslh adat dari mama sy)…

poin 2.asumsi batak yg suka korup dan hal2 negatif lain.

terkadang kesan skeptis negatif terpaku terhadap beberapa org yg menjalani hubungan dgn org batak ..bukan menjadi defensif thdp suku batak, namun benar yg dituliskan beberapa kakak2 dan abang2 sebelumnya bahwa it bukan generilisasi thdp suku,namun lebih ke personal ataupun pribadinya…buktinya,maaf bukan melecehkan, apa semua org jawa baik semua?(liat sj kawin cerai jg bnyk di org jawakan?)
apa semua org menado baik semua?
apa org indonesia baik semua?
nah kesannya kan keseluruhan kalo sy pakai kata “org jawa”, “org menado”, “org indonesia”.
padahal yg berbuat hanya segilintir org sj namun semua kena..

poin 3 asumsi adat batak dekat dengan bir, saksang, rokok.

kalo hal yg satu ini mungkin sy juga bs ajukan pertanyaan yg sama dengan pertanyaan di poin 2.

banyak hal buruk dan baik yg sy dapati ketika sy tumbuh didaerah batak..namun ketika sy tanyakan dalam diri sy, “kenapa sy harus besar di daerah batak?” mungkin sy harus mengakui secara pribadi dgn tidak melebih2kan bahwa wawasan dan sudut pandang serta cara melihat perkerjaan sy yg saat ini,sy tidak menyesal lahir, tumbuh, serta besar dilingkungan batak…kalau pun dikatakan dari 100persen ada 40persen yg baik dan 60persen yg jelek perbuatan org batak,itu bukan generilisasi dari “suku batak”, namun harus diliat dan ditelusuri dari person yg berbuat..

sekali lagi bukan sy membela ataupun mempersalahkan suku batak…hanya mengajak melihat sudut pandang bahwa yg salah bukan diakibatkan oleh karena sifat “suku batak” namun liat dulu gmn personal org2 yg mungkin melakukan hal2 negatif kepada kakak atupun abang2 sekalian

“Regards”
Moses Marpaung (di Tembagapura)

  inikabarku wrote @

Seru ya baca posting dan comments ini.. Saya kebetulan dari suku yang berbeda (Tionghoa).

Sepertinya semua suku di Indonesia pasti punya cap jelek, entah itu galak, keras kepala, tukang tipu, manis di mulut, pelit..

Tapi menurut saya, justru itu yang membuat Indonesia kaya. Saling melengkapi dengan kekuranganan kelebihan masing2.

Coba bayangkan kalau semuanya satu tipe yang kalem, sabar, nerimo.. pasti gak ada yang mau jadi supir bus atau pengacara atau pejabat.

Tapi memang benar, hal-hal yang merugikan orang lain harus dikurangi. Tetapi hal tersebut pasti membutuhkan waktu karena karakter tersebut tercipta ratusan tahun.

Tugas dari kita semua untuk mengubah hal ini. Jangan turunkan kebiasaan buruk ke anak2 kita nantinya. Menurut saya pernikahan beda suku sangat baik karena akan memadukan kelebihan dari masing2 suku dan mengurangi kekurangannya.

Kalau mau nikah atau tidak dengan suku tertentu, menurut saya itu hak asasi setiap individu. Tidak ada yang bisa bilang itu salah atau tidak.

Yang pasti saya kagum dengan orang Batak karena mayoritas suaranya bagus2 (kecuali satu orang teman saya batak tapi yang suaranya bikin perut melilit). Hehehe..

Damai buat semua

  manik wrote @

Saya bangga menjadi orang batak.di dunia ini cuman orang batak yg berani mengatakan bangso/bangsa batak.bukan tanpa alasan.siarat menjadi bangsa adalah mempunyai penduduk,mempunyai lambang(tukkot panaluan)mempunyai bahasa,mempunyai aksara/tulisan,mempunyai agama(agama orang batak pertama parmalim)mempunyai negara yaitu Tano batak,mempunyai adat istiadat,mempunyai pemimpin(raja huta, raja adat dll)banyak lagi yg dibanggakan.makanya teman teman yg tak suka adat batak pelajari adat batak kalau menurut anda tak bagus coba buat solusinya supaya bagus jangan bilang tak bagus tak ada solusinya sehingga kita cuman melihat dan menanamkan di pikiran kita tak bagus sehingga yg baguspun kita anggap tak bagus.saya tak pernah menyalahkan anda yang bilang adat batak tak bagus cuman anda yang kurang bijaksana memahaminya.contoh kalau kita tak suka satu mata pelajaran disekolah kita benci sama mata pelajaran itu sekaligus benci sama guru yang mengajarnya.makasih orang batak.menurut saya batak IS THE BESH.

  toga nainggolan wrote @

Hidup bataaaaakkk…. !!!
Yahh… Namanya juga zaman sekarang zaman semakin kacau.. Hampir semua masalah pengen cepat2 diselesaikan dengn cepat alias INSTAN…
Tpi tidak mmperhatikan efeknya.
Orang batak bukanlah orang yg mudah terpengaruhi…jadi wajarlah klo orang batak itu kerasss kepala…orang batak akan selalu mnganlisa terlebih dahulu problemnya sndir…
Tetapi pengeluh, malas, itu bukan sikap, dan sifatnya orang batak….!!!!!
Krna orang batak lebih mnyukai sikap kebenaran daripada sikap perbuatan baik….!!!!!
Mngapa ..? Krna orang baik belum tentu benar namun orang benar tentu untuk kbaikan……!!
Kebanran itu kejam, sadis, namun tegas. Tk pandang siapapun….itulah ciri sikap orang batak….!!!!

Hidup bataaaaaakkkk….!!!!!!!!!!!!

  ion sinaga wrote @

Muda mudahan ini tidak terjadi di keluarga saya. Trut prihatin dengan pengalaman kk.

  rikardo wrote @

jd mksd lo org batak org2 yg trhina???? makanya lo blng jgn prnah kawin ma org batak???

lu kayanya org trtolol dan tr oon dan trgila didunia ini. lu mau komen???? lu gak sneng????
gua ladenin lo. gua org batak. kau senggol org batak retak muka kau.

  cekeysh wrote @

Contoh JELAS kan? Marganya Sinambela, mengaku orang batak, tidak saling mengenal dengan penulis blog langsung mengancam meretakkan muka? Wah. Mari orang-orang batak yang beradab, kita menghindari sikap-sikap arogan dan un-educated seperti ini. Saya meng-approve komen ini hanya sebagai contoh. Di archive saya masih ada seribu makian serupa bahkan lebih mengerikan dari orang-orang yang mengaku batak. Prove to me who you are.

  basic prinsipal wrote @

Cb lihat,hampir 3 tahun penuh membahas masalah “jangan kawin sama orang batak”
Saya setuju penulis blog ini mengatakan orang Indonesia,
Hati-hati bahasan ini bisa menimbulkan SARA ,yang ngaku orang batak santailah sedikit,jgn terpancing emosi,dan suku lain lihat Dulu apa sdh paling baik…kalau sdh. Baru bisa comment suku lainnya,bersifat nasionaiisme dong….
kan banyak yang menuis orang pendidikan….ada juga dari USA segala,ada jg yg SH.
Menurut saya mbak…,itu memang pengalaman pribadi mbak,tp dikaji lagi apakah bahasan dalam blog ini membangun atau tidak,
Buat suku batak,bangalah sebagai suku batak,begitu juga suku lainnya,,tp ingat jgn ini menjadi pengahncur bagi kerukunan dan kedamaian antar perbedaan suku,kita hrus saling menghargai,menghormati,mencintai.
Apa kita mau mengulang perang suku di Kalimantan?????ditanah air NKRI diberbagai daerah… Jangan konyol dong..
Sdhlah kita akhiri masalah ini.terima kasih mbak sdh mengupas habis tentang sifat Orang “batak”dan sdh tenang hati mbak kan???
Bangun Bangsa ini dengan perbedaan Suku,bukan Sebaliknya,jgn punyai sifat apatis,pesimis,egois,dan arogan,gak ada artinya,songsong hari kedepan untuk pemilihan RI 1 2014 agar bangsa kita lebih baik lagi..
Terima kasih untuk semua “salam Damai Sejahtera”untuk semua suku di Indonesia

  fifi wrote @

terima kasih untuk blog ini.
sebenarnya saya terlahir dari suku keturunan chinese. dan saya punya teman pria batak tapi tidak terlalu mengenalnya. sepertinya saya jatuh cinta kepadanya, karena dia baik, lembut, pinter ngomong dan memiliki karakter kepemimpinan yang bagus. negativenya, dia sangat kecanduan dengan gadget dan sepertinya kurang peduli walaupun dia selalu ngomong bahwa dia cares. sedikit egois mungkin krn dia seorang pria.

saya juga punya kenalan orang batak, pria, kerja bengkel dan keliatan kasar. tapi melihat saya, dia bersikap baik, dan sopan.

apa kah mungkin karena penampilan kita? atau mungkin karena saya memang sedang beruntung bertemu dengan batak yang baik.

saya juga punya teman kerja batak, cewe. ada kekurangannya, tapi sisi positivenya dia sangat lucu dan membuat suasana tidak bosan.

tapi terima kasih untuk topic ini. ini membantu saya mengerti bahwa memang seseorang di takdirkan untuk menjadi negative atau positive dari pendidikan /latar belakang keluarganya.

  coklorty wrote @

Saya Ingin memberi motifasi aj ya itokku….
Coba renungkan dari perspective educatinya ito :
Bahwa Oppung- kita dahulu sudah mampu menciptakan sebuah system kekeluargaan “DALIHAN NATOLU” yang sangat rapih dan systematis.
Dimana pada saat itu mereka dengan pola pemikiran masing-masing bisa padu menciptakan sebuah system :
• Pertama, Somba Marhula-hula/semba/hormat kepada keluarga pihak Istri.[3]
• Kedua, Elek Marboru (sikap membujuk/mengayomi wanita)[3]
• Ketiga, Manat Mardongan Tubu (bersikap hati-hati kepada teman semarga)[3]
System itu dibuat dengan tujuan untuk menjaga dan kehormatan dan harga diri setiap marga maupun perorangan.
Oppung kita sudah memikirkan hal itu entah dijaman ataw peradaban kapan itu.
HISTORY OF BATAK :
Orang Batak dahulu hidup dengan sebuah system kehati-hatian pertahanan prinsip dalam harga diri oleh Raja-raja Batak dahulu.
Jika sebuah kelompok marga datang kekelompok marga lain, maka raja setempat akan dengan gagah dan santun bertanya apa maksud dan tujuan kedatangan mereka….
- Jika maksud kedatangan mereka ingin meminang anak perempuannya, maka raja akan dengan tegas menanyakan sejauh mana kesiapan si laki-laki bertanggung jawab terhadap masa depan anaknya. Disini raja sudah menunjukkan rasa kasih sayang penuh dan betapa berharganya boru nyaterhadap Raja. Dimana dalam argumentasi tersebut, kedua belah pihak diwajibkan untuk saling terbuka dan harus berjiwa besar, untuk meminimalis resiko kedepannya.
- Jika kedatangan mereka untuk keluarga yang berduka, maka oppung kita juga sudah mengatur dengan baik posisi, penamaan dan tugas masing-masing marga. Karena disilsilah dan system dalihan natolu sudah di berikan tugas dan tanggung jawab bagi masing-masing parmargaon.
coba dipelajari lagi tentang silsilah dan system dalihan natolu iti, natural Secara
Dan coba buat topic lain lagi diwall ito, “ Kenapa Anda Cinta dan Bangga menjadi Orang Batak???
Maka saya yakin ito akan menemukan jawaban-jawaban yang ito inginkan sesuai alas an ito untuk mencari alas an apa yang membuat ito real mencintai Budaya Batak dan Bangga menjadi orang Batak.

  Ivan wrote @

Saya juga orang Batak (campuran). Tapi saya lebih suka dibilang orang Indonesia. Saya memiliki darah batak atau tidak nggak ada ngaruhnya dengan kebanggaan.

Buat saya, identitas kita gak ada hubungannya dengan kebanggaan. Kebanggan itu jika kehadiran kamu di dunia ini dirasakan manfaat positifnya oleh sesamamu. Itu aja prinsip saya.

Salam damai.

  sinambela wrote @

kebanyakan suku batak menutup diri dengan hanya berkawan sesama batak ,baik bergaul dan mereka begitu protective bila bergaul dengan kawan non batak terkesan masih punya pola fikiran penuh curigaan

  lysa wrote @

sayang sekali ketika kita menilai sesuatu dengan pikiran sempit,. kenapa kita harus mengkotak2kan suku di negara kita sendiri? stigma2 yg ada hanya akan menambah perpecahan,. “torang samua basudara”… kenali lebih dekat maka kamu akan tahu apa hal2 baik yg bisa dipelajari dari semua suku.. contohnya batak,. apalagi kita yg notabene lahir dari keturunan batak, pelajarilah lebih dalam ttg budayamu,. baca sejarah,.pelajari filosofinya,.. ada hal baik yg pasti bs kamu ambil.. kalau bukan kita, siapa lg yg akan mempertahankan budaya kita,.

  Yanz wrote @

Hi Mbak Salam Kenal
Saya juga orang Batak asli dan Saya bangga jadi orang Batak saya lahir di Samosir (langsung dari sarangnya haha)..
Saya turut prihatin dengan yg mba rasakan dan alami dan ketika membaca tulisan mba ini awalnya saya agak “sedikit” emosi tapi stelah membaca bbrp komen di blog ini saya mnjdi adem.. tulisan mba dan bbrp komentar di blog ini benar2 memotivasi saya untuk instrospeksi diri krn sifat Batak yg keras kepala dan pemarah itu benar2 mlekat pd diri saya..
aplg ktika saya bru tamat sma trus pndh ke Medan watak Batak yg arrogan itu bnr2 mlekat pd diri saya tidak mau mnglah dan emosian.. namun brsyukur smnjak saya kuliah di USU ngambil Hukum (pamer bgt haha) saya mulai sdikit dmi sdikit mrubah watak dan pola pikir saya..

Awal ke Medan saya sgt fanatik KeBatak-annya namun stelh kuliah dan mkin dewasa lma2 sy agak krg suka krn sistem di Batak yg mnjual boru dan slalu mngagung2kn ank laki2 pdhl jelas2 di keluarga saya abang saya yg slalu bikin mama sedih dan bhkn nangis krn slalu bolos skolah dan mghmbur2kn uang pdhl ibu sya single parent tapi mskpn sprti itu ttp saja dia yg plg berharga di keluarga hal ini smpat mmbuat saya agak kurang respect sm suku Batak dan bhkn smpt benci sm Abang saya..

namun seiring brjlnnya waktu Pemikiran sya smakin matang dan terbuka dan sadar bahwa Batak itu tetap suku saya dan mau ga mau saya harus bangga akan hal itu krn mau dunia kiamat pun saya tetaplah org Batak kalo bukan kita yg mncintai suku kita sendiri siapa lagi…

Btw mgenai tulisan mba.. ada benarnya juga kaum pria pd main judi minum tuak nyanyi2 mabok di kedai hambur2in uang pdhl istrinya yg cape2 nyari duit.. dan anehnya justru pria2/suami2 yg ga brpndidikn dan ga punya kerja yg sprt itu msh mnding klo yg pny kerjaaa.. sprti di kampung saya.. rata2 yg di kedai dan suka main judi adlh suami2 dan pria2 yg ga punya kerjaan alias cuma ngabis2in duit istriii dan ortunya beda dgn suami2 atau pria2 yg punya kerja mis. PNS, Jualan dll.. ntah apa gunanya ke kedai cuma untuk minum kopi buang2 uang apa salahnya minum kopi di rumah smbl brrcengkrama sm isteri dan anak.. bukan kah akan jauh lbh nikmat? sifat sprt ini yg harus ditanamkn di masy. Hita yg ada di huta sana..

memang bnyk skali yg msti diperbaiki dr Halak Hita ini trmsuk sifat Bangga krn ditakuti orang.. harusnya Bangga lah kalo disegani org krn prestasi bukan krn omong besar yg nakut2in org.. trus sifat late ni roha juga msh mlekat di org2 Hita mgkn cuma dikampung saja sy krg tau.. sifat iri mlihat org lain sukses.. kalo saya sndiri plg bnci sifat itu..klo sy mlihat org lain sukses jujur saja sya “CEMBURU” dlm artian cemburu knp dia bisa saya ingga artinya sy bisa lbh baik dr org itu.. bukannya Iri trus ingin org itu gagal!
sifat ginjang ni roha dan late ni roha yg ini tuan namiii.. tolong itu di rubah!! saya bersyukur dikeluarga saya/ibu saya slalu mngajarkn kerendahan hati dan sifat jgn SOK.. krn secerdas apapun orang kalo sudah tinggi hati dan dengki pasti tidak akan diberkati!

Baiklah sekian curhatan saya.. saya hanya berharap orang Batak bisa lebih maju dan lebih baik ke depan dan saya juga yakin pasti jauh lebih bnyk sisi positif org Batak dibnding negatifnya… trgntung dr kita mau mlihat dr sisi yg mana..

dan mengenai abangku aku uda ga benci lg sm dia krn dia Itoku Hula2ku dan mskpn dia nakal dia tdk prnh kasar sm aku dia benar2 mghormati itonya cuman ya itu klo sm duit duh parahh.. dan begitu juga dgn Suku Batak, saya sudah benar2 cinta suku Batak dgn sgala kelebihan dan kekurangannya “krn klo kita hnya mncintai sesuatu YANG TIDAK ADA KEKURANGANNYA maka kita tidak akan pernah bisa mncintai apapun”
Sekian Dan Trims
Proud To Be Batak
Horas!

  bang sitanggang wrote @

salam ito,,

turut prihatin jg bwt pngalaman ito..
Pada dasarnya semua adat itu memiliki kekurangan dan kelebihan yg mungkin g bisa diterima saat ini..

sya bangga jadi orang batak, terlepas dari semua kekurangan yg mungkin udah diuraikan di atas,,satu hal yg bikin sya bangga adalah pada dasarnya orang batak sangat menghargai anak2 nya,,mereka mau habis2n buat anaknya (terutama pendidikan)supaya si anak jd orang yg berhasil, hal ini bisa dilihat dari byaknya judul lagu btak yg bertemakan perjuangan dan doa orang tua untuk masa depan anaknya..

orang btak pada dasarnya memiliki nilai2 luhur sama seperti adat2 lainnya, mereka mulai melupakan nilai2 tersebut dikarenakan sebagian besar org batak merantau dan hidup dengan lingkungan yg keras diperantauan, itulah sebabnya org batak merupakan seperti sosok yg di jabarkan di atas.

selama beberapa tahun ini sya mempelajari orang btak, orang batak sangat tersentuh jika menyangkut anaknya,,karena menurut org batak, anak itu hrta yg sangat berharga,,melebihi harta yg dipunya bahkan diri mereka sendiri,,org batak rela jd buruh ksar ato supir yg pulang ga menentu asalkan anakny dirumah bisa makan n sekolah,,

terlepas dri penilaian ito yg bersifat pribadi tersebut,,saya sangat bngga jd orang btak, ambil sisi positiv dr semua kepahitan yg ada,,

horas,,,,horas,,,

  areta wrote @

hai tante..
share pengalaman yah, taun ini aku rencana nikah (pastinya sama cowo batak, hehe..)
aku bergabung di grup yg berisi boru2 batak yang punya rencana yang sama taun ini, disitu kita share informasi berharga sampai ada yang rela ngambilin undangan ke percetakan naik angkot padahal ga kenal (hanya kenal via bbm doank dan ga kenal secara personal)
temenku semasa kuliah dulu juga mereka menampung orang2 batak yang merantau ke bali, malah sampe2 mamanya hampir tiap hari menjenguk penjara buat nolongin orang2 batak yang berperkara dengan hukum.
dan masih banyak cerita lainnya..

papa juga cerita kalau “boru” batak itu kesayangan Bapaknya, sebagai salah satu contoh adanya sinamot (walaupun beberapa pihak berpendapat ini harga “menjual” boru, yah tergantung sudut pandang orang aja) tapi menurut pandangan keluargaku itu supaya pihak calon suami tidak menganggap “asal2an” aja boru yang mau dimintanya.

pernah waktu opung boruku meninggal, parhata memang ‘terlihat’ menguasai jenazah sampai kami merasa tersingkir sampai akhirnya bapakuda marah dan teriak “heh, apanya maksudmu? masa’ kau larang2 cucunya ngeliat opungnya untuk terakhir kali” didepan smua orang yang ngelayat..(si parhata cuma bisa diam dan malu)

papa mamaku bukan orang yang sering ke acara adat, malah kami “diusir” dari STM setempat. (hahah..memang agak aneh sih kok yah judul tolong menolong perlu pendataan itam diatas putih, itukan tergantung kerelaan hati)

over all, pernikahanku akan dilakukan secara adat batak, walaupun banyak pihak yang tidak bisa dibanggakan dari orang2 batak yang melintas didepanku,tapi keluarga inti yang sangat berperan besar dihidupku adalah orang batak dan mengajarkanku hidup menjadi orang yang benar, am so proud and bless to be batak girl (walau tak bisa bahasa batak, heheh..)

sooo… orang batak diluar sana yang cuma bisa “mengomentari” hidup orang lain dan tidak punya pengaruh apa2 dihidupku, walaupun tertulis namanya sebagai “namboru, nantulang, tulang” atau apapun tidak akan pernah membuat kebanggaanku sirna sebagai orang batak..

GBU tante..

  andreas panjaitan wrote @

syalom,
isi artikelnya bener banget tuh, hehe..yang gua rasa terutama waktu acara bona taon ni punguan. cuma sih di tempat gw (Bali) sifat2 yang buruk seperti ngomong2 yang kasar atau tidak berpendidikan gitu tidak terlalu terlihat. Ya adalah tapi bisa diitung jari.

Gw dari lahir udah disini (Bali), sampai sekarang dapet kerjanya di Bali. Ya bisa dibilang lah udah jadi orang Bali. Bahasa dan kebudayaan di bali ini udah melekat banget sama aku. Ya tapi tetep, budaya batak gak bakal aku tinggalkan. ngomong batak bisalah ya, tarombo ya ngerti2 dikit lah. Jadi orang batak itu aku bangga, cuma dari sisi positifnya diambil.

Sisi negatif orang batak banyak, cuma sisi positifnya juga banyak at least itu balik ke orangnya sendiri. Kayanya sifat2 buruk itu lahir dari kebiasaan yang buruk dikehidupan sehari-hari mereka deh. Bukan dari nenek-nenek moyang kita dulu.

Salah satu yang menjadi beban menjadi orang batak adalah susah mencari jodoh , terlalu banyak aturannya. yah pengalamanku nanti kelak istriku harus orang batak :(. Sekarang dilema, pacarku orang bali dan pastinya tidak disetujui sama keluarga. nasib..nasib.. walaupun cewek batak juga, gak bisa langsung “deal” aja. mesti dilihat lagi dari marganya. capekk deh…

tapi ya itulah problematika kita orang batak, semoga ada solusi supaya halak hita on sukses di sude inganan di portibion. Horass!

  hotben pakpahan wrote @

trims buat yang koment…saya org batak, yg saya ambil dr adat batak adalah partuturon ( silsilah/tatakrama) yang lainnya adat batak semuanya sdh saya lepas…saya melihat adat itu pada umumnya itu tidak mendatangkan damai sejahtera,,hanya kesusahan. adat adalah applikasi kasih dalam pandangan orang batak adalah salah besar, bukankah adat itu perintah manusia yg diajarkan secara turun temurun???bukankah adat itu agamanya org batak sebelum kristen hadir ditengah2 org batak??saran saya bagi org batak kristen …junjung tinggilah firman kebenaran Tuhan, percuma kita memuji Tuhan tapi yang kita lakukan adalah perintah atau ajaran manusia.

  Mrs. Ezzat wrote @

Horass,

Saya keturunan asli batak, beragama Islam, lahir di Jakarta dan menikah dengan orang Mesir bulan January lalu.

Saya pernah merasakan pahitnya tidak diterima pada saat saya mengabarkan ke salah satu Bou saya bahwa saya berencana menikah di Masjid tanpa ada pesta adat.

Saat itu, tanpa perasaan salah satu bou saya bilang, “Murahan kali kau, sudah bukan kawin dengan orang batak, masak mau juga dikawinin tanpa ada pesta. Bah, jangan kau harapkan lah ya aku mau datang kalau tidak ada pesta!!”

Saat itu saya sangat merasa terkejut dengan perkataan yang tanpa memikirkan perasaan orang lain tersebut. Bou & keluarga lain memang tidak datang menghadiri pesta, dan bahkan tidak pula memberikan ucapan selamat kepada saya walaupun hanya melalui telepon. Bukan pesta yang membuat nilai pernikahan saya menjadi sah dan sakral. Dan bukan pesta pula yang menjadi dasar bagi mereka untuk merendahkan ataupun tidak menghargai saya seperti itu.

Setelah melalui semua ini, saya justru merasa kasihan terhadap orang yang pikirannya masih picik seperti ini. Kalau saja mereka melihat kalender, ini sudah tahun 2013, sudah saatnya mereka berpikiran lebih bijaksana dan melupakan kalender batu mereka.

Saya hanya mengingat Batak sebagai suku dan garis keturunan saya, tetapi bukan untuk melestarikan kebudayaannya…Apalagi untuk mati-matian diterima sama orang/keluarga Batak, buat saya itu sama sekali bukan hal yang penting :)

  Khusna Khairunnisa wrote @

semoga kakak dilimpahkan kesabaran dalam menjalani kehidupan. saya asli orang jawa, tapi sejak 2011 saya tinggal komplek perusahaan pulp and paper di riau. suami juga orang jawa asli. lingkungan tempat tinggal kami sangat plural, tetangga saya banyak yang batak. sebagai orang baru, saya merasa nyaman bertetangga dengan mereka. hubungan saya dengan tetangga2 juga baik. kawan2 ngaji di masjid, muslimah dari keluarga pakpahan, saragih, manurung, simanjuntak…mereka baik2. apabila kami kesulitan, tak segan mereka membantu. tapi ada juga beberapa teman yang saya kenal di komplek yang sikapnya kurang saya anggap pas. Dua minggu lalu ada acara pesta keluarga batak. saya heran sekali, acara diadakan dari pagi jam 9 sampai jam 23.30. di acara tersebut disetel musik2 dan lagu2 non stop yang volume-nya kenceng sekali, membahana hingga seisi komplek dengar. padahal komplek kami sangat luas, di area pabrik pulp and paper, berisi sekitar 2000 rumah. kebetulan rumah yang punya hajatan berjarak sekitar 50m dari rumah saya. dan rumah si empu hajatan bersebelahan dengan rumah mbak tatik, teman saya yang baru saja melahirkan. jelas2 ada bayi di situ, dan 30 m dari situ adalah klinik milik perusahaan, kemudian sebelahnya adalah masjid. yang membuat saya tercengang, kok ya nggak ada tepo seliro, tenggang rasa…paling enggak saat adzan berkumandang, suara musiknya dikecilkan atau dimatikan sebentar. padahal di klinik, ada pasien yang rawat inap, yang butuh ketenangan. saya cuma bisa ngelus dada dan mendengarkan keluh kesah mbak tatik yang bayinya nangis terus karena terganggu suara musik, yang katannya getaran dang dung dari musik serasa menggetarkan kaca rumah karena kerasnya. satu lagi yang membuat saya heran, beberapa mobil tamu diparkir di halaman saya, ada sekitar 4 atau 5 mobil. salah satu tamu manggil saya yang saat itu sedang nyapu teras rumah, katanya, ” heh..kau, minggirkan keretanya, aku mau parkir…” deg…kaget saya dibegitukan. jelas2 halaman rumah saya, sepeda motor milik saya, lha kok saya dibegitukan. apa ya nggak ada kata2 lain, misalnya permisi saya mau parkir di situ, sepeda motornya tolong dipindah atau gimana. saya nangis sejadi2nya, dipanggil kau kau yang seumur2 saya ga pernah dipanggil kau. sabar…sabar…menjadi pengalaman berharga saya.

  Eva Maharani Lumban Gaol wrote @

ada bangganya jd org batak
tpbanyak tdk bangganya….. :-)
krn gara2 adat batak ssayaa jd yatim piatu…
tthx

  Anonim wrote @

Saya orang batak, tetapi saya juga memiliki pemikiran yang sama seperti anda. Saya sangat malu mengakui bahwa saya adalah orang batak. Jikalau orang bertanya, anda orang apa ? dengan mantap pasti saya katakan bahwa saya adalah orang Indonesia. Jujur dengan sejujur-jujurnya saya menyesal menjadi orang batak. Satu hal yang paling saya sesali di dunia ini adalah terlahir sebagai orang batak.

Saya setuju dengan pernyataan anda “jangan kawin dengan orang batak”. Saya sendiri bertekad utk tidak menikah dgn orang batak. Kalau ditanya, mengapa ? Alasannya adalah orang BATAK adalah pribadi yang tidak menghargai wanita. Saya dilahirkan sebagai anak tunggal dan bergender perempuan. Opung saya (dari keluarga ayah saya) dan semua namboru, amangboru, ataupun amangtua, dll yg berasal dari keluarga ayah saya, sangat meremehkan saya hanya karena saya adalah anak perempuan tunggal yg tidak akan bisa melestarikan marga yang menurut mereka marga itu lebih berharga dibandingkan dengan manusia yang bergender perempuan.

Tidak hanya itu saja, Ibu saya terhitung sangat lama mendapatkan saya, sekitar 10 thn. Dan selama 10 thn penantian itu, perlakuan apa yang didapat ibu saya ? Pernyataan ” mandul” yang berasal dari mulut mertuanya, dan dengan tak segan2 ungkapan “ceraikan saja” sering diungkapkan dengan terang2an ! sangat tidak manusiawi bukan ? Dari kejadian diatas sangat jelas bahwa, orang batak sangat tidak menghargai perempuan.

Banyak orang batak yang mengaku bahwa dlm keluarga batak tidak diperbolehkan/sulit utk bercerai, sbnarnya bkn tidak mau cerai, tapi banyak perempuan batak yang memilih menyelamatkan anak2 mereka. Selain itu juga agama kristen mmg tidak mengijinkan utk adanya perceraian.

Sampai umur saya menginjak 20 thn, saya masih diremehkan, dianggap tidak ada, dan tidak memiliki hak atas apapun. Ketika saya ingin memilih kuliah dengan jurusan yg memiliki biaya tinggi lebih dari jurusan yg lain, dgn lantangnya opung saya (dari ayah saya) beserta keluarga besar ayah saya, tidak segan2 mengeluarkan pernyataan yg menurut saya sdh kelewatan batas, bahkan sdh melanggar HAM. “Buat apa sih kau sekolah tinggi2 dan mahal2, hanya anak perempuannya kau. Tak pantas itu, kalau anak lakinya kau boleh lah sekolah setinggi-tingginya. Tak kau teruskan pun marga bapakmu, bergaya mau sekolah tinggi kau. Menyusahkan bapakmu saja kau ini !” (opung, amangtua namboru saya berbicara dgn gaya khas bataknya). Pernyataan ini benar2 membuat persepsi saya akan orang batak bertambah buruk. segitu tidak berharganya kah wanita itu ?

Oleh karena itu, saya berdoa dengan sangat memohon kepada sang pencipta, saya tidak mau menikah dengan orang batak!!!! saya tidak mau ketika saya memiliki anak perempuan, anak perempuan saya merasakan rasa sakit yang saya rasakan selama ini.

Ada baiknya jikalau perempuan batak atau yang non batak mau menikah dgn pria batak, pikirkan masak2 dengan seksama, karena anda menikah bukan untuk dilecehkan, dihina, direndahkan derajat anda sebagai perempuan, tetapi sebaliknya, sebagai wanita anda harus dihargai dan dihormati.

Tuhan saja tidak merendahkan derajat wanita, buktinya Tuhan menciptakan wanita dengan spesial.

  Kang Syamin wrote @

saya bukan batak. sebenarnya saya mau membangun opini bahwa orang batak itu baik, santun, dan berbudi pekerti luhur. saya mau menolak wejangan orang tua untuk tidak kawin dengan orang batak . tapi ketika merantau semua yang saya idamkan luntur… setiap ada masalah pasti orang batak :
1. saya lagi naik motor, ditabrak, dari belakang, dimana-mana yang salah kan yang dibelakang.. eee saya yang dianggap bersalah UUD (ujung-ujungnya duit) ternyata yang nabrak saya orang batak..
2. teman saya mau masuk kerja, ada anak sd nyebrang gak liat-liat. keserempet teman saya. niat baik teman saya si anak dianter sampai rumahnya. sudah dibawa ke puskesmas juga sebelumnya, karena agak lecet tubuhnya. di puskesmas anak tersebut gak ada masalah, dokter cuma memberi BETADIN karena luka ringan. sampai rumahnya bukan berterima kasih, malah minta UUD (ujung-ujungnya duit) 1.5 juta. teman saya komentar “tau gitu gak aku tolong itu anak”.. ternyata lagi-lagi batak.
3. ada temen saya Dosen, mau ke kampus nyerempet anak. si anak sudah dibawa ke rumah sakit. semua biaya ditanggung. sehari anak itu sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, dan dinyatakan sembuh TOTAL. anak tersebut sampai rumah sudah bermain di depan rumah dengan kawan-kawannya. Tau ORTUNYA minta apa? UUD (ujung-ujungnya duit sebesar 5.5 juta busyeeeeeeettt. sampai sekarang saking dendamnya teman saya kalau ada mahasiswanya yang BATAK dikasih gak lulus nilainya. temen saya pada waktu itu kalaulah kaya, dia baru setengah bulan kerja, gaji pertama saja belum terima.
4. kebetulan saya baru pindah rumah. AIR PAM saya dan 3 komplek sekitar rumah mati selama 2 minggu. ada mungkin kalau 100 KK. saya kira mati dari pengelolanya. e ternyata yang matiin orang batak, karena jaringan rumah pipanya bocor. RT datang diajak perang, RW datang disumpah-sumpahin. “orang bodoh kok gak ketulungan, gak bisa dikasih solusi”, umpat saya dalam hati. secara kan mudah banget, kalau bocor instalasi rumah tinggal matiin jaringan depan, kalau di luar tinggal telpon call center. tapi dasar batak, selama 2 minggu saya ngalah mandi di sungai. POLISI datang baru selesai masalah.
5. orang batak sekitar komplek saya, gak ada satupun yang peduli lingkungan, tiap kerja bakti hanya mereka yang tidak mau datang.
6. orangnya sulit diajak diskusi
7. semua warung-warung bir sekitar komplek isinya ya orang BATAK semua, sampah masyarakat.
8. anak laki-laki batak umur 3 tahun jago ngumpat : babi, anjing, syetan, mati kau, pantek, keluar dari mulut mungil mereka. subhanallah! nak, nak…..
9. Memang benar kata mbak. beberapa temen istri saya, dan tetangga depan rumah saya yang kebetulan cewek batak juga sama persis berkata seperti mbak “saya alhamdulillah pak, bisa nikah sama orang non-batak, pokoknya jangan sampai nikah sama orang batak, meskipun saya sendiri orang batak.
10. saya orang baru di komplek, saya sudah bayar uang sampah. kebetulan sampah di depan rumah saya sudah 1 minggu gak diambil-ambil. saya berinisiatif untuk membuangnya ke Tempat pembuangan sampah sendiri. sampai sana saya dimarah-marahin dikira dia saya tidak bayar uang sampah, karena saya buang sendiri. saya coba menjelaskan, tapi omongan saya nggak didengar satupun. e malah saya dikira penipu, sampah yang mau saya buang disitu disuruh mengambilnya kembali. saya bilang ke istri saya “yang normal mengalah, orang gila gak usah diurusin”. Anda tau siapa pastinya dia? BATAK lagi.
dan masih banyak lagi kenangan-kenangan pahit saya yang kebetulan sekali hampir semuanya dengan orang batak, belum lagi cerita saya ngekos yang sebelahnya orang batak. waduh hancur dah tatanan kehidupan. kalau dibuat buku mungkin sudah 500 halaman kejadian-kejadian gila saya yang kebetulan terkait orang batak.
tanpa bermaksud menghina, sampai saat ini conclusion saya “SUKU BATAK ADALAH BANI ISRAEL-NYA INDONESIA”…

  Flex_Situmorang wrote @

Gw org batak, cowo, dan senasib… Setuju dgn statement anda dlm artikel ini. Wkwkwwkkwkkw!!! Gw stuju bgt pas bagian menghias peti mati, biasanya kita2 yg hub deket ama mendiang, malah dipinggirin. Udah gitu mending hias petinya bagus, malah hancur minah!!! Apalagi kalo yg meninggal wanita, sok sok makeup artist makeup-in yg meninggal. bukannya pake yayasan kedukaan, ini malah serasa makeup artist terkenal dunia. Hasilnya makeupnya mending bagus, malah kebalikannya: JELEK ABISSS!!! Gw bilang sejujurnya (bahwa makeupnya jelek) kepada mereka, ehhhhh… Malah gw dimarahin ama dipukul.
.

Habis itu dikawinan, mentang2 gw msh kecil (dulu), makanan dipiring gw malah diambil seenaknya ama inang2 BIG HEAD, dibilang “buat saya sini,” gitu, apa ngga kesel coba…. Udah gitu biasanya disuruh ambilin ini, itu, suruh ini, itu. Parahnya, ortu ‘n family gw dikata2in dan diomongin dari belakang sama segerombolan inang2. I feel like I’m the most awful person in the world. Ditantangin, ntar malah ortu gw dikatain ga bisa didik anak bener2

Emang dasar tuh org susah maju smua, Big Head, Pathetic, Mean, sok penting, big mouth.
Gw cape dah ama mereka!!! Hands up!!!

  Mr.Mr wrote @

Hi,

saya sudah baca tentang pengalaman anda, dan saya turut prihatin akan yang terjadi kepada anda dan pandangan anda terhadap suku Batak.

ya, saya setuju akan tulisan yang anda limpahkan semua diatas.
Persis sama dg yang saya analisa akan sifat2 suku batak seperti kasar, arogan, sok kool etc dan sifat lainya yang menunjuk-kan sifat selfcentered arrogancy.

sebagai seorang batak saya juga mengakui itulah citra yang saya lihat disuku saya sekarang ini.
Namun apa mau dikata? saya tidak bisa pungkinri kenyataan yang saya lihat akan sifat2x Batak yang arrogan tersebut.

Saya besar di Jakarta dan ketika SMA dan Kuliah saya di USA.
Ketika kuliah saya pernah bertemu seorang professor sastra dan budaya di universitas saya pada waktu itu dan lucunya ketika dia tau saya dari Indonesia maka dia menceritakan bahwa dia sangat tertarik akan budaya Batak serta sastra bahasa sungguh dia tau banyak tentang kebudayaan suku batak dibanding saya sendiri dan membuat saya terkagum akan begitu Kayanya akar peradaban suku batak kita ini, salah satu suku didunia yang mempunyai aksara sendiri seperti china dan Latin, Maya serta pola sosialitas budaya yang unik serta kitab – kitab obat obatan dan ramuan tumbuh2xan yang berkhasiat.(sayangnya telah banyak hilang ) ketika masa kolonial belanda dulu.

hmmnn … aneh. disinilah saya mulai merasakan ada sesuatu didalam suku batak ini… yang selama ini saya kenal sok kool ..sok pede dan yang jelek2x lainya.. mulai berangsur sirna.

Sekembalinya dari perantauan akhirnya saya ber-interaktive kembali dg orang-orang dari suku saya ini.
Yup!! tetap sama tak berubah… gossip tetep gossip…. sok pede tetep sok pede…. dan yang makin menyeramkan adalah degredasi culture (hilangnya simbol2 asli peradaban batak yang diceritakan prof saya di USA)yang makin kelihatan. sungguh sangat memprihatinkan sekali!

Namun disisi lain saya sungkan untuk mendiskriminasikan suku batak saya ini dikarnakan teringat akan kata2x professor dari USA tersebut. dan saya hanya mau melihat dari sisi baiknya sajalah.

Akhirnya saya bertemu dengan seorang Sastrawan batak dan bertanya kepada beliau tentang phenomena peradaban suku batak sekarang ini serta sifat2x egocentrix yang cukup kental dalam kehidupan sehari-hari dari mereka.
Beliau sangat open mendiskusikan hal ini kepada saya, dari kesimpulan yang saya dapatkan dari beliau bahwa sifat2x jelek tersebut telah di inherit (turun temurun) ditanamkan dari orang tua kepada anak-anaknya semenjak masih kecil tampa disadari akan impactnya ke masa depan anak2 mereka pada khususnya dan masa depan suku batak pada umumnya.

ada 2 masalah :

1. HOTEL!

Hosom, benci
Teal,sombong
Elat,iri,
Late,tega

yup… sifat2x inilah yang telah membenam kedalam kehidupan keluarga batak pada khususnya
… sebagai contoh :

Ayah/Ibu berkata kepada anaknya:
Nggak Kau liat anak si Namborumu itu…sudah jadi juara 1 umum dia sekarang… sementara Kau 10 besar dikelas pun tidak …bla bla

dari kata di atas… sang ayah/bermaksud baik supaya anaknya juara 1 dikelas. namun secara tidak sadar disini anak diajarkan untuk membenci saudaranya sendiri.

2.“hau na jonok do na boi marsiogoson”(dalihan natolu)
filsafat adat batak

berarti kayu yang dekatlah yang dapat bergesekan.
Ini menggambarkan bahwa begitu dekat dan seringnya hubungan terjadi, hingga dimungkinkan terjadi konflik…..
disini kita melihat bahwa akar permasalahanya adalah gesekan…..

hmm alangkah indahnya bukan bila di ganti dengan kalau kayu yang dekatlah makin saling erat mengikat dan menopang……

yah segitu dululah tulisan saya ini… saya harap Ito ini dapat pencerahan melalui komen saya yang panjang disini.

  juntak wrote @

Mohon maaf sebelumnya, saya orang batak kurang lebih 25 thn sudah ditinggal di Bogor, disatu sisi ada benarnya yang dimuat diposting ini, akan tetapi tidak semuanya untuk diterima dengan begitu saja, tidak bisa hanya dengan pengalaman pribadi lalu menyalahkan dan menganggap jelek orang batak, segalanya terlahir ke dunia atas kehendak yang maha kuasa bukan sesuai pesenan atau keinginan masing2 , saya sangat menghargai dan sangat bangga terlahir sebagai orang batak, anak2 saya semua pake marga, dan masih ada satu keinginan yang masih belum terwujud yaitu memberi boru kepada isteri saya yang aslinya bukan orang batak dan dia(isteri) saya sangat senang dengan semua ini.

  narei wrote @

Gw adalah orang batak (laki-laki tepatnya) dan gw akui kalau pendapat lo itu banyak sekali benarnya. Ada banyak sekali keburukan yang dimiliki oleh orang-orang batak. Dan tidak ada yang salah dengan mengeneralisasikan bahwa semua orang batak adalah orang-orang dengan perilaku negatif. Walau itu tidak sepenuhnya benar… dan itu hanya akan menyimpan kebencian saja didalam hati ito saja.

Tapi apa yang perlu lo ingat adalah bahwa perilaku-perilaku bodoh/konyol/egois disebabkan oleh rendahnya intelektual IQ & EQ orang tersebut. Lo harus bisa membedakan orang-orang dengan IQ & EQ yang rendah. Dan sayangnya keluarga lo memiliki banyak sekali hubungan dengan orang-orang batak yang tidak berpendidikan (ignorance).

Semuanya ini sebenarnya disebabkan oleh keadaan tanah lahir kita (tanah batak) yang kering dan sulitnya mencari makan. Inilah yang menyebabkan banyaknya perilaku orang batak yang kasar ,egois ,dan mau menang sendiri. Kalau tidak, bagaimana caranya nenek moyang kita bisa bertahan hidup. Bahkan dulu orang batak adalah orang kanibal yang memakan kriminal/penjahat yang tertangkap dan ini dikarenakan oleh sulitnya hidup di tanah batak. Tapi kebiasaan kanibal tersebut sudah hilang semenjak agama Kristen masuk ke suku batak (diperkenalkan oleh misionaris Jerman & Belanda).

Jujur ito.. gw sedih sekali mendengar cerita lo. Tapi lo harus bahagia dengan hidup yang lo miliki karena lo punya orangtua yang menyayangi lo. Berbeda dengan gw yang lahir dari orangtua yang tidak sayang dengan anaknya. Saudara-saudara gw kabur dari rumah dan pada bunuh diri. Dan penyebabnya banyak sekali disebabkan oleh keegoisan yang diturunkan dari suku batak.

Gw sendiri juga ga ada niat untuk menikah dengan perempuan batak karena gw tidak suka dengan perilaku-perilaku orang batak yang tidak berpendidikan.

Tapi ito tidak boleh lupa bahwa hidup yang ito jalani adalah hidup yang diberikan Tuhan. Jadi adalah hal yang benar untuk berterima kasih kepada Tuhan atas hidup yang diberikan dan terimalah hidup yang diberikan Tuhan, hidup bahwa ito berasal dari suku batak.

Yang ito butuhkan sekarang ini adalah kebahagiaan & itu adalah hak ito kalau ito yakin kebahagiaan tidak bisa didapatkan dengan menikahi orang batak.

Aku cuma bisa berdoa semoga ito bisa bahagia..

  Jawa besar dijakarta wrote @

Memang batak kasar2 tapi ada juga yang lembut pribadinya trutama yg muslim saya pernah punya teman batak biasanya mereka baik karna berbaur dengan suku lain dan yang tidak bergaul hanya bergaul dg klompok sukunya biasanya kasar dan sok dalam arti negatif

  me_mimimaria wrote @

kekasihku juga orang batak, dan aku orang Jawa, tapi kami fine-fine aja tuh hehehehe….

apa beda suku ya? kan ada Batak toba, Batak Karo, Batak Mandailing gitu….

cowok saya sih batak toba

  senpai wrote @

Hay kak…

Rencananya juni ini sy akan menikah dengan orang batak, dan bulan maret kmrn sy juga sudah diadati. Sy keturunan jepang n chinese. DULU saya berpikir orang batak itu baik, religius, kuat persaudaraannya tp SAYA SALAHH
Zada bbrp masalah yang saya hadapi..
1. Saya pusing liat keluarga dr alm bapaknya yang ribut masalah warisan kemudian pengeretan minta ini itu dlll emang pohon duit
2. Saya gak melihat ada indah2nya dr adat batak mama angkat sy aja boro2 welcome nanya aja engga. Gayanya tingginya kalah langit padahal gembell rumah aja kontrakan smpit n kotor. Pada saat acara di berikan marga mama saya aja gak diundang. Mereka gak menghargai mama saya. Udah gt mama angkat sy ini minta beliin ini itu.sy pun gak perduli. Krn menurut sy itu hanya basa basi aja supaya sy dapet marga.
3. Adik n kk perempuannya LANCANG. sy buat acara pemberkatan di jakarta tanpa adat batak, adikny bilang kl pernikahan batak itu harus ada berlian. Hahahahha dan masa dy bicara spt ini “kamu pake berlian aku aja” busyettttt lancang sekali. Sy masih mampu beli berlian. Jika sy tdk mampu pun sy tidak suka meminjam barang2 org untuk bergaya. Padahal berliannya juga secuil n berlian kalimantan lg…
4. Adat batak itu ribet rempong yang gak ada harus diada2in.gak perduli sampe ngutang yg penting pesta

Mengenai asap rokok judi dan minuman itu sy juga mengalaminya. Busyettt mau mati saya 1 ruangan asapp smua… Kalo mau mati jangan ngajak2.

5. Masalah org batak nganggap contoh marga x dengan marga y masih serumpun dan artinya sodara. Hahhaha menggelikan untuk masalah itu. Pada kenyataannya suka memanfaatkan judulnya gak jauh kayak Benalu…

Intinya jika saya punya anak nanti jangan sampai menikah dengan orang batak!!!!! yg saya anut adalah adat istiadat di alkitab.

Saya gak suka adat yang bikin kita bukan orang batak di jadikan org batak. Karena tuhan Yesus bukan orang batakkk..

  Edward Tan wrote @

Setujuuuu…………..
Dobrak adat istiadat batak (dan juga suku lainnya) yg menjadi batu sandungan dalam hidup org kristiani.

Pikiran “kolot”:
#sinamot dibesar2kan supaya anak perempuan terlihat “bernilai mahal/menaikkan gengsi di depan keluarga besar”,seolah2 terjadi transaksi “jual-beli”
#mangadati dgn pesta pora,potong kerbau/sapi/babi,sewa grup musik batak,supaya kesannya pesta org berduit/bergengsi.
»»» Hasilnya : meninggalkan utang,dan tidak ada jaminan keluarga akan harmonis!

Pikiran “modern”:
Biaya sinamot dan mangadati (yg mungkin bisa mencapai ratusan juta),lebh baik dipakai buat modal nanti setelah berkeluarga,entah itu utk usaha atau utk kebutuhan sekolah anak.
»»» Hasilnya : ada pemasukan (income) utk keluarga (usaha),cashflow keluarga aman, dan sekolah anak terjamin.

  mimi wrote @

Wah senasib kita..saya org jawa diadatin. Masa mama saya ngga dihargai, selama menikah mama angkat yg dihormatin, bah siapa yg bikin saya seperti ini klo bukan mama saya.bahkan saat upacara kematian suami saya mama saya ngga boleh ada di ruangan ITU.
Pesta adat itu membosankan..omongan yg disampaikan intinya sama kenpa harus diulang berkali kali.
Mertua saya tinggal cewe aja dan ikut campur dlm urusan rumah tangga kami. Sempet terpikir untuk bercerai aja, karena sumber masalah selalu mama mertua. Tapi Tuhan berkata lain. Suami saya dipanggil dg meninggalkan anak laki2 umur 3tahun dan anak perempuan umur 1thn.Setelah suami saya ga ada mertua saya ngancem “kamu boleh menikah Lagi tp anak2mu saya ambil”.. Omegot enak bgt ngomongnga..saya JD kepikiran pengen nikah Lagi biar lepas Dr belenggu kebatakan..

  Salmon Mandiri Girsang wrote @

Membaca cerita diatas sangat mengharukan, turut prihatin ya ito. Dan melihat komentar yang komplex jadi senyum sendiri. Maaf ya kalau dibilang tidak beradat, zaman sudah berubah kearah kemajuan apakah salah jika adat isdiadat juga direformasi tanpa mengurangi nilai luhurnya. Contoh ketika orang batak bikin acara apapun itu, pasti saja ada yg dipotong, harga sinamot yang tinggi, dll. Apakah semua orang itu kaya dan mampu, seolah-olah kita yang mengikuti adat itu harus bisa memenuhi apa yg ditentukan oleh adat. Seperti sejak awal saya katakan sudah seharusnya kaum muda yang menjadi agent perubahan agar dimasa tekhnologi saat ini tidak menjadi gamang tentang adat. Jika kondisinya seperti uraian cerita diatas..lambat laun adat akan ditinggalkan karena tidak sesuai dengan kemampuan seseorang atau tidak sesuai dengan kemanusiaan. Mohon maaf buat yg fanatik adat…sudah saatnya ada pencerahan, untuk menghapus dan memperbaiki imaj batak yang negatif. Kadang saya juga malu ketika dihadapkan dengan realita …. huft

  Batakbukanbatok wrote @

Ini adalah ungkapan seorang boru terhadap apa yg pernah dia rasakan, aku sangat senang kakak mau mengutara apa yg kakak alami, aku memang seorang batak tp klo bahasa batak aku ga ngerti sama sekali (maklum bokap/nyokap yg batak jg tidak mau ambil pusing dengan bahasa), aku sangat sdkit terawa dengan beberapa comment seperti “Menghina orang batak or etc lah” lucu juga aku orang batak ga merasa tersinggung kok dengan tulisan kakak ini, aku laki-laki seumur hidupku yg baru 26 tahun memang aku memandang orang batak itu 2 jenis, jenis yg pertama itu “bandit” yaitu orang batak yg negative dah jenisnya (judi,tukang tipu,ga mau kalah di argumen dan sdkit korupsi/ga nyinggung siapa2 ya, dan yg terakhir minum2an keras) nah tipe jenis bgini bnyak jg aku temui but terkadang aku ledek (maklum aku hidup dr kecil di lingkungan betawi jadi terbiasa sifat keceplosan hehehe) karna secara jujur aku kurang sifat yg ini, dan yg tipe yg kedua orang batak yg “kalem” nah yg jenis ini juga bnyak ku temui (mereka lebih suka bekerja, pemikir yg keras, terkadang mereka suka mengalah kalo dalam setiap pendapat, ga judi dan minum2an keras dan jujur tulus melakukan apapun/salah satunya abang saya hehehe) memang aku bergaul multi etnis dan yg tak bisa ku hindari dr sifat batak yaitu “jago ngelobby hehehe” dan memang aku lebih suka tersenyum dan membuat humor dalam sebuah pergaulan(bataknya ketara amat) bagiku artikel ini adalah sebuah motivasi buat kita orang batak, dan untuk intropeksi menghargai orang lain dan suku kita, memang batak sangat keras dalam adatnya terutama perempuan yg kurang mendapat tempat, but itulah batak klo ga ada adat seperti itu bukan batak dunk hehehehe… Nikmati aja kak bawa enjoy saja, jangan di pendam trus nnti jadi akar kepahitan loh, bagiku kakak sangat hebat dan smart mau mengatakan sebuah sisi yg pahit dalam sebuah kehidupan, tp jgn tulis “jangan menikah dengan orang batak” dunk kak, nnti aku klo dpt perempuan malah takut dia ma aku klo dia membaca ini dan berfikir negatif tntang orang batak (udh berat ni cari jodoh hehehe)… Lebih dari itu semua aku salut buat kakak dan respect. Thanks before kak ^^

  Harris Marpaung wrote @

Memang saat ini. Banyak orang batak naso maradat. Orang batak yg tidak berbudaya batak yg sesungguhnya. penolong. Pemikir. & pekerja keras & gotong royong. Tp ada pepatah batak. Molo dao tubis sian bonana di harat pinahan. Jadi kalau gelap katakan gelap terang katakan terang. Jangan jadi abu abu. Org batak dr budayanya sangat care. Jadi baik buruk harus tanggung jawab bersama. Jadilah jati diri sendiri.. seandainya ada sedikit cahaya aja di kegelapan akan jelas terlihat.

  princessmoolha wrote @

Syalom..
Selamat sore buat kakak dan abang pembaca blog ini.. Saya ingin mengucapkan terima kasih untuk setiap kritik, saran, unek-unek, protes, sanjungan, dan lain-lain untuk kami orang-orang Batak. Saya juga boru batak (walaupun tidak 100%) dan saya hanya ingin menghimbau. Janganlah kita pakai mulut kita atau kata-kata kita untuk sesutu yang sekiranya menjatuhkan, menjelek2kan, dll. Coba kalau kita yang dijelek2kan, apa tidak sakit hati rasanya? Harusnya kita pakai perkataan kita untuk sesuatu yang memberkati. Hukum tabur-tuai masih berlaku di dunia. Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.
Suku apapun kita, bagaimanapun jalan hidup yang Tuhan kasih ke kita, harusnya kita bersyukur aja. Masalah ga bisa dihindari, cuma bisa dihadapi. Hadapi, selesaikan dengan tuntas, Untuk hasilnya, serahkan sama Tuhan. Sering kita dengar “Tuhan tidak pernah memberikan cobaan yang melebihi batas kekuatan umatNya” bukan? Terima kasih. Tuhan memberkati.

  BAJA wrote @

Banyak Orang Batak sangat bangga dengan adat batak.
Sebagai orang batak yg lahir dan besar diperantauan saya melihat nggak ada yg istimewa dalam adat batak.
Biasa aja.Dimana sih hebatnya….???????
OK …kita bahas adat perkawinan batak…..
Marhusip,martupol,marhata sinamot,dan martonggo raja terdapat juga dalam adat suku lain,bahkan adat nasional
Hanya istilahnya saja yang berbeda.

Marhusip……… contohnya kita berpacaran so pasti jika ingin menikah baik pria atau wanita pasti memberi tahu kerabatnya ( Orang tua /paman/bude/pakde bahkan sahabat karib )
Atau bolehlah disebut prosesi LAMARAN dalam istilah jawa atau nasional.

Martupol…istilah kerenya TUNANGAN….banyak suku mengenal istilah ini.Martupol biasanya dilakukan di gereja tradisional batak .seperti HKBP.Beberapa gereja non HKBP tidak memasukkan acara Martupol/Tunangan ini dalam acara gereja.
Sementara dibanyak suku di Indonesia bahkan adat nasional…martupol atau tunangan biasanya dilakukan dirumah saja.Lebih praktis dan efisien dan sederhana saja.
Jika yang menikah orang batak dan anggota jemaat HKBP umumnya Martupol ini sudah melibatkan banyak orang serta pihak gereja, otomatis mulai terasa pengeluaran biaya…

Marhata sinamot……Istilah indonesinya adalah membicarakan MAS KAWIN.Dalam adat nasional mas kawin dapat berupa benda seperti seperangkat alat sholat,mas,dll.
Tapi dalam adat batak mas kawin cenderung mengarah pada TUHOR NI BORU
( Biaya pembelian mempelai perempuan )Disinilah mulai Ribetnya dan mahalnya adat batak.
Dalam adat nasional….yang punya ulaon/hajatan adalah tuan rumah ( Orang Tua Mempelai ),tapi dalam adat batak tuan rumah dalam penentuan mas kawin/tuhor ni boru banyak sekali.Bisa Dongan Tubu/teman semarga bisa juga Tulang/Paman.Mereka datang dengan egonya masing2 serta membawa gensi sendiri2.Bahkan yang punya hajatan/ulaon terkadang pendapatnya tidak d dengar.
Dongan tubu/teman semarga serta tulang/paman umumnya bukanlah orang yg akan terlibat membantu dalam pesta/ulaon nanti.Mereka umumnya duduk manis saja serta membrikan ulos serta mandok hata/memberikan kata sambutan.
Beda dengan adat jawa atau nasional umumnya…Keluarga dari bapak dan ibu kita terlibat langsung membantu baik dari segi biaya maupun tenaga pada saat resepsi.
Penggunaan Mas Kawin/Tuhor Ni Boru batak sangat berbeda dengan adat jawa dan juga nasional.Uang Pembelian Mempelai Perempuan /Tuhor ni boru akan diatur lagi secara bersama penggunaanya oleh mereka yg terlibat dalam perundingan Sinamot tadi.
Dalam pernikahan dengan boru jawa yg penulis alami….pihak mertua tidak meminta uang tuhor ni boru tapi yang diminta adalah kita pihak pria menanggung sebagian besar biaya pesta.KALAU YG INI MAH …SEBAGAI LELAKI WAJIB DONG……wkkkkkkkk.
Pesta gua sederhana secara jawa sumatera ,maklum wong ndeso …wkwkwkkwwk…10 tahun yg lalu biaya lamaran,tunangan ,pembelian cincin kawin 1 suku dan pemberkatan nikah serta resepsi untuk 500 orang habis untuk ukuran sekarang antara 22-25 juta.Dan inipun sebenarnya masih bisa dihemat lg kalau mau.

Kembali ke Sinamot/Tuhor ni Boru…..Biaya Tuhor Ni Boru/pembelian mempelai perempuan….dari pihak pria….dibagi-bagi sebagiannya untuk komisi….biasanya yg cukup besar adalah KOMISI Paman/Upah tulang.Selebihnya tupak/komisi untuk yang memberi ulos/mengulosi.
Tuhor ni boru juga digunakan untuk pembelian Sipanganon dan ulos yang akan dibawa oleh pihak perempuan serta rombongannya,baik berupa babi maupun deke ( Ikan )
Jadi pihak paranak dan parboru sama2 memotong babi.serta membawa sipanganon/makanan.Disinilah sering terlihat mubazir dan sering dagingnya terbuang.Kalau pesta mengundang 500 orang bisa jadi kebutuhan daging babi diatas 4 kwintal bruto….silahkan kali sendiri harganya.Baru daging babi doang ….
Kalau dibandingkan porsi makanan nasional…makanan nasional jauh lebih murah.
Berbeda dengan adat nasional,kalau resepsi nasional cukup satu pihak saja yang menyiapkan makanan.

Ditempat saya tanah perantauan acara Martupol dan Marhata Sinamot dijadikan satu hari.
Martupol terlebih dahulu setelah itu marhata sinamot di rumah mempelai wanita ( Umumnya ).
Acara ini sudah masuk kategori setengah pesta.Bila ditambah penetua gereja bisa tembus 100 orang yg hadir.
Dan Wajib Motong Babi ..biasanya..Karena sudah berjalan adat serta NAMARGOAR.
Paling TIDAK babi ukuran minimal 60 kg bruto.Anda kalikan sendiri harga masaknya berapa serta 3 ekor ayam,sebab biasanya ada juga PARSUBANG/tidak makan babi…boleh jadi ditambah lappet…karena orang batak suka bertele-tele bicaranya…maka perlu disiapkan kopi dan lappet…wkakakakakakak

Sebenarnya urutan Martupol dan Marhata Sinamot menurut saya kurang pas.
Seharusnya Marhata sinamot dahulu baru martupol/tunangan.
Setelah pihak pria menyanggupi harga mempelai perempuan baru tunangan betul nggak BRO….???
Kalau Tunangan Dulu baru menentukan tuhor ni boru itu sama artinya menyandera pihak pria…atau sama artinya memaksa pihak pria harus memenuhi harga tuhor ni boru …wkakakakakakakakak

Dari Uraian saya diatas….Gue Mo Nanya nih kepada orang batak yang sok pede pd adat batak…..
Apa sih hebatnya adat batak…..Biasa aja tuh……..malah cenderung merendahkan perempuan dan bagi bagi duit,boros lagi.
Atau segala sesuatunya dibayar pake duit.Tulang dibayar pake duit.Yang mangulosi dikasih duit.
Pokoknya bagi2 amplob deh….wkakkakakakakkaka
Sementara si memepelai lelaki nyari duit setengah mampus untuk manuhor boru….wkakakakakak SIAPA PEDULI,EMANG GUE PIKIRIN….wkakakakakakak
Ini baru adat bataknya saja…gimana kalau kita banyak teman yg non batak serta non Kristen.
Maka kitapun harus menyiapkan tempat dan makanan khusus mereka.Hitung aja jumlah undangan dan biaya kateringnya.Tapi yg perlu kita waspadai…..banyak juga orang batak yang makan disana.Wkaakkkakakakak
Kalau parsubang sih nggak masalah……ini yang bukan parsubangpun makan disana…wkakakakkakkakaka
Ampun dah……..

Terakhir adalah PAULAK UNE /MANIKIR TANGGA…..
Istilah jawanya ditempat saya mungkin SEPASARAN……umumnya 1 minggu baru boleh meninggalkan tempat mertua.
Gua sih cm 3 hari dah kabuuuurrrrrrrr dengan istri gue dr tempat mertua…..
Kayak nggak ngerti pengantin baru aja….wkakakakakakakka

Satu Lagi Konsep Batak Yang dianggap Hebat oleh Orang Batak yaitu Dalihan Na Tolu ( DNT )
Bagi saya biasa aja tuh konsep…..malahan justru banyak sisi negatifnya.
Terjadinya pemisahan dalam kekerabatan ,yaitu

- Hula hula/Mertua/Besan yang cenderung di posisikan sebagai RAJA
- Dongan Tubu/teman semarga
- Boru/perempuan semarga kita yang diambil marga lain yang posisinya sebagai PELAYAN

Sifat GOTONG ROYONG hilang karena DNT
Mereka DNT sibuk dengan dunianya sendiri.Yang Raja merasa sebagai Raja minta dilayani dengan baik oleh Boru,Dongan tubu cenderung duduk manis sementara Boru harus melayani.
Makanya Ocehan Setelah pelaksanaan ulaon/pesta batak sangat luar biasa sekali dibandingkan pesta non batak dikarenakan posisi DNT.

Dalam Pesta/Ulaon batak kurang terlihat semangat gotong royongnya.
Sering pesta/ulaon adat batak kacau karena sedikitnya jumlah boru/pelayan atau borunya lari dari tanggung jawab karena usia lanjut.Sementara Hula2 dan dongan tubu mempunyai dunia sendiri.
Gua sendiri terkadang kasihan melihat posisi boru/pelayan,apalagi yang jumlah borunya sedikit ditambah lagi pesta batak yang bisa menelan waktu sampai 18 jam.wkakkakakkak…akhirnya ada boru yang kabbbbuuuuuuuuur…..nggak tahan.Emangya anak gue dirumah nggak diurusin….wkkkakakakaka
Padahal kalau diperantauan semunya sewa termasuk gedung ,dll.

Dalam adat nasional serta adat jawa sumatera yg saya tahu….kalau kita punya pesta / ulaon semua datang membantu.Nggak ada Raja dan Pelayan disana.YANG MENJADI RAJA ADALAH UNDANGAN/TAMU

Saya sependapat dengan orang batak sendiri yg mengatakan orang batak cenderung NATO
( No Action Talk Only ).Bisanya Cuma MANDOK HATA….Tapi urusan kerja 00000000
Gue menulis ini berdasarkan pengalaman saya mengikuti beberapa kali Ulaon/Pesta batak,bahkan saya pernah mendampingi mempelai pria ngangkat piring dan tikar untuk pestanya besok….wkakkakakkakakakaak
Sebab si mempelai tahu orang batak NATO….wkkakakakakaakakak

BANGGA JADI ORANG BATAK ???????? BIASA AJA tuh……
Saya menggunakan pembanding adat jawa,bukan berarti adat istri saya dimana dia berasal lebih baik.
Adat jawa juga banyak yg perlu dikritisi.Adat jawa yang saya maksudkan adalah adat jawa di sumatera tempat istri saya dilahirkan.

Sian Hami
Halak batak na mar boru jawa.

  Ribka wrote @

Tulisannya menarik banget. Semua yg diceritakan adalah fakta, tapi saya tetap tidak akan pernah memukul rata semua batak itu “jelek”.
Saya punya kakak perempuan yg menikah dengan org batak. Waktu masih pacaran, ibu mertuanya sungguh sangat baik, tapi ketika sudah menikah si ibu mertua selalu mengatakan “tidak suka memiliki menantu non batak”. Entah apa alasan persisnya. Padahal saya mengenal kakak saya sebagai orang yg penuh kasih, sabar & rajin; rasanya mustahil dia melakukan kesalahan yg sampai membuat ibu mertua membencinya. Sampai suatu hari si ibu mertua meminta anaknya untuk menceraikan kakak saya & meminta anaknya menikah dengan perempuan batak. Dengan alasan “janji pernikahan di gereja”, kakak saya tidak mau dicerai. Alhasil saat ini, suaminya menikah lagi dengan perempuan batak. Jujur hal ini membuat saya kecewa dengan orang batak. Bangga menjadi orang batak itu suatu keharusan, tapi jangan jadi merendahkan suku lain. Padahal kakak saya sudah berusaha keras untuk masuk dalam lingkungan adat batak, seperti ikut arisan atau perkumpulan batak. Saya pun dulu pernah berpacaran dengan orang batak, tapi puji Tuhan saya ditolak keluarganya karena saya bukan batak. Buat saya lebih baik ditolak dari awal daripada bernasip sama seperti kakak saya. Maaf curcol kak. Just wanna share my scars, but still I never hate batak people :D

  tondy wrote @

Setuju, cerita ini sangat menarik. Saya sendiri anak laki2 paling besar di keluarga saya (batak) dan saya paham sudut pandang cerita anda. Saya sndiri sebagai orang batak juga sering membuat tradisi orang batak sebagai bahan candaan sy sendiri, karena ya itu pesta dan orang2nya lebih banyak yang gak jelas dari pada yg jelas nya. Tapi menurut perasaan pribadi saya, perasaan anda boleh jadi berlebihan, karena hal itu terjadi di semua agama, suku dan ras. Saat ini, kita hidup dimasa transisi, dimana nilai2 traditional kita berdampingan dengan budaya modern, boleh jadi nilai pendidikan kita juga belum seimbang dengan nilai kultur yang kita bawa secara komunitas. Jadi saya menyederhanakan situasi anda tersebut, seperti komunitas yang masih sangat konvensional ( kolot) dan modern. Ketika berada dilingkungan yang kolot tentu nilai2 yang kita lihat disekitar kita juga kolot, nilai itu yang tidak sama dengan diri anda karena nilai anda memiliki persamaan dengan komunitas yang lain. Segudang faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi, latar belakang, lingkungan, pendidikan dll. And that’s why you don’t feel belong there. Lebih lagi, saya sarankan utk jgn terlalu serius menanggapi orang yg juga tidak serius, ini menanggapi cerita anda ttg bagaimana anda menilai diri anda terhadap sikap beberapa Amang2 peminum bir di meja panjang itu. They don’t know and give a shit about you, they act based on their value which is lower than yours. So, why so serious ?
Instead of looking of the negative, look at the positive side is much better..about bataknese. Culture is one of the treasure of every nation for now and in the future. However, i found my self still proud as a bataknese. Good luck :)

  Adhe setiya wrote @

Saya memang bkn orang batak tapi saya orang Sumatera selatan dan menemukan jodoh asli Jawa tengah…kami domisili di riau hampir setengah pddk adalah suku Batak suami punya pengalaman buruk dengan orang batak pada bulan juni yang lalu suatu hari dia membw mobil sudah diposisi ditengah badan jalan tiba tiba dari belakang ada sebuah mobil langsung menyerempet suami saya tanpa babibu si bapak yang berumur kurang lebih 70tahuan keluar dan marah marah tahu sendirilah dengan memaksa minta ganti rugi ke suami padahal sama sekali tidak tergores mobilnya suami tidak bersedia memberikan uang dan suami saya pada saat itu membawa anak kami berumur 6tahun dan keponakan saya berumur sama karena di luar suara bapak tua Batak itu keras sekali suaranya anak saya sampai berpelukan ketakutan karena di rumah anak anak memang tidak pernah mendengar bicara keras maka diputuskan suami untuk menghubungi bapak itu esok hari sambil masuk mobilnya dan mengancam bercampur sumpah serapah oh iya sebelum masuk mobil disebutkannya semua pejabat teras di kepolisian yang marga ini dan itu sambil bapak itu kembali masuk mobilnya. Memang benar esoknya dia memaksa suami ketemu di kedai kopi saya sudah marah untuk tidak meladeni bapak itu sudah jelas dia yang salah tapi suami juga tidak mau ribut eh ujung ujungnya minta uang kaget katanya saya ini pensiunan disuatu instansi katanya langsung diberikan lah lima ratus ribu kepada si bapak itu oleh suami saya memang benar kata suami lebih baik kita mengalah bukan berati kita salah apalagi suami saya bukan yang tidak mengerti berkendaraan maaf saja suami saya dinas dan berpangkat perwira menengah dan tahu persis kronologis kecelakaan hampir lima tahun pengalamannya di lalu lintas tapi suami memilih mengalah untuk menang sifatnya kebanyakan orang Batak memang begitu sudah salah memaksa benar (mau jadi apalah orang seperti itu) sejak saat itu suami saya tidak begitu respek kepada orang Batak

  Pieter Purba wrote @

maaf juga sebelumnya kaks.kalo menurut saya pribadi ea!kebudayaan suku itu berbeda-beda tergantung kita menilai nya dari sudut pandang apa saja.saya akuin selaku orang batak itu sendiri bahwa terkandang terlampau kelewatan itu tidak luput dari keseharian seseorang itu dan kekerabatan seseorang itu pula.kalo masalah menikah lain suku itu juga sah-sah aja ke berbeda suku maupun agama lain.tergantung perjuangan nya.positive thinking ja.kita orang batak terkenal orang keras.jadi harus bermental baja juga.kalo saya boleh memilih adat,saya juga memilih tidak tapi memang bawaan dari opung2 dulu.tergantung penilaian masing-masing.dan tidak semua orang batak itu buruk
piter purba sian malang

  damian wrote @

saya suku madura,saya sudah bergaul dengan beberapa suku indonesia,namun suku yg paling berkesan bagi saya yaitu suku batak karena suku yg satu ini ngomong nya blak-blak an,kasar namun jiwa nya mantap sob ga ada rasa dendam,ada suku yg ngomong nya alus bgt namun di blkng nusuk..orang batak juga petarung dan brilian buktinya di kantor apa2 di percayain si boss ke bataknya..emang sih miris juga namun stlh di pikir2 org batak emang jempolan.

  Farida Mamafakhriauliaihsan Siregar wrote @

Saya setuju dengan kamu…

  Sunardi Pardede wrote @

Pertama, salam kenal ya ito. Kedua, saya merasa sedih atas pengalaman yg perna dialami ito, dimana ito banyak mengalami tekanan, penghinaan dari suku saya yaitu batak toba. Saya berterima kasih buat masukannya sehingga saya dapat mengoreksi diri saya secara pribadi. . Harapan saya melalui penglaman tersebut, ito makin kuat. Dan kerinduan saya ito bisa mengampuni kami sebagai suku batak yg dimana terlalu sering melukai ito. Saya berdoa buat ito, muda-mudahan menjadi org yg sukses, memiliki damai sejahterah dan maju dalam Tuhan amin.

  bie2 wrote @

sy 3 thn menjalin hub dg cow batak, uniknya yg sy dapati di keluarga dia justru ank perempuan yg diagung2kan, ank laki2 terasing. ktk sy menulis coment ini sy br sj memutuskan pembatalan pernikahan sy dg cow batak yg sdh kmi persiapkan berdua, persiapan sdh 90 %. sy kecewa dg arogannya klrga mrk yg sll berbicara ttg adat mrk yg hrs dipatuhi. kami berdua hrs terpisah hny krn adat yg melarang orang tua yg blm mangadati utk menikah. sementara utk mangadati ortu cow sy ga pny biaya. lalu kesimpulannya cow batak yg ga pny duit ga usah kawin lah yah…

  dedy wrote @

sabar… Sebenarnya begitu indah jadi orang batak, itulah culture kita,,, ambil yang positifnya saja, bangga saja jadi suku batak..

  Edward Tan wrote @

BANGGA LAE?

ADAT BATAK MEMBUAT WIBAWA ORANGTUA KANDUNG JEBLOK DI MATA ANAK!

KARENA ADAT BATAK SANGAT MENGHORMATI (KALAU TIDAK MAU DIBILANG MENDEWAKAN) PARA TULANG!

ANAK ADA ACARA APA BUKANNYA MINTA SARAN SAMA ORTU,TAPI MALAH HARUS LARI KE TULANG!
DIKIT2 : “TANYALAH KE TULANGNYA!!”
ORTU JADI DISFUNGSI BAGI ANAK!
MAAF.

  goldie wrote @

kak…. saya (27) sekarang berhubungan dengan seorang pria batak. dia berbeda agama dan berbeda suku dengan saya. hubungan kami selama ini tanpa sepengetahuan keluarganya. Dia dan saya memiliki rencana untuk menikah, namun ada persyaratan mengenai keyakinan yang dia syaratkan kepada saya untuk merubah agama yang saya yakini. setelah membaca artikel kakak, saya jadi meragu, beberapa wanita yang memiliki darah batak dan menikah dengan pria yang bersuku batak saja diperlakukan seperti itu oleh mertua atau keluarga lain, bagaimana dengan saya seseorang yang tidak memiliki darah batak.. beberapa bulan lagi saya akan dikenalkan dengan keluarganya. mungkin ada saran dari kakak atas hubungan saya selama ini sebelum terlalu jauh saya melangkah… mohon saran atau pendapat kakak atas hubungan saya. beberapa teman memang sudah meminta saya untuk mengakhiri karena beberapa tahun yang lalu sikap dia begitu kasar seperti apa yang kakak ungkapkan.

  valen wrote @

hmm..berbatak-batak ria nih..cowo sy batak..sy jawa..jangankan ngomongin beda adatnya..kami juga beda gereja..bingung juga sih..tp ga tau kenapa sy ikhlas aja kalo diatur ma dia..krn selama sy pacaran ama orang selain batak selalu sy yg ngatur..haha

  indieseastdutch wrote @

Tole ma,ai hita do disi.
Ungkapan yang paling gue benci.
Halak hita itu : melangkah,tapi ngga maju.Semua anak laki laki halak hita : anak ni raja.Semua anak perempuan halak hita : boru ni raja.Repot do da bah…Adong di hita : adong dongan,dang adong di hita : dang adong dongan.Gue ngga minta jadi halak hita.Yang Maha Kuasa yang nentuin gue jadi : halak hita.Cape jari gue : manortor diatas kibod.Love one another !!! Merdeka !!!

  Edward Tan wrote @

FAKTA :
ADAT BATAK = UJUNG-UJUNGNYA DUIT.
MAU RUJUK/BERDAMAI LAGI DGN ISTRI YG KEMBALI KE MERTUA,HARUS PAKAI DUIT!!!
PADAHAL YG BERTENGKAR (SUAMI-ISTRI) SDH SALING MNGAMPUNI,TP PIHAK KELUARGA “MENDUITKAN”….!!!
MENGHALANGI SUAMI ISTRI RUJUK SAMA JUGA MENGHALANGI KASIH DARI TUHAN!

  Odin Siringo ringo wrote @

Saya Telah Mereview Artikel ini,
Baca Disini http://berandabatak.blogspot.com/2013/10/saya-orang-indonesiajangan-kawin-sama.html

  oppung naposo wrote @

ito boru apa?? Tinggal dimana dulu?? Semua orang berhak buat komentar… Silahkan aja…
Nothing cultures is perfect.. Especialy, nobody is perfect…
Yang coment diatas… Org batak itu pinter2 makanya bisa pinter kutip uang, pengacara sukses juga batak… Yaudah biar gada budaya, silahkan menikah dengan bule, khususnya eroupe, america, and australia.. Biar perfect… nanti kamu biar lihat mertua kamu pake bikini di pantai… Simple right??
Intinya jangan terlalu gampang nge judge apapun.. Berdoa lah menurut agama dan kepercayaan masing-masing.. Agar anak atau keturunan mu tidak merasakan kejadian buruk… Yakinlah pada Tuhan mu, tak akan pernah menciptakan yang salah… Semua disini punya agama kan.. Hati-hati ngomong ny, Tuhan melihat dirimu…

  Ane ente wrote @

Saya sdh ketemu banyak suku, jawa,banjar,bugis,melayu,sunda,minang,nias,karo,mandailing,simalungun,plembang,lampung,kerinci,cina.
Pernah kerja sama dg mereka semua.
Batak toba rata2 rajin. tapi klu bohong tidak ada malunya. klu sdh banyak mulai arogan.klu sdh diatas nepotisme tinggi, saya pikir wajar krena mereka ibadahnya pun sama2 mereka saja di HKBP pke bahasa mereka batak toba..

  lili frayatni wrote @

Kasihan sih kl sbgi org batak asli merasa malu dg budaya sendiri..banyak budaya masing suku2 tdk mngenakkan utk mereka2 sendiri..sprti suku x(cthnya) sdh mulai ada generasi muda yg tdk suka dg mngumpulkan uang bnyak utk acra kmatian shgga yg shrusnya mreka cukup keuangan utk mbiayai anak2 tp kr adat akhrnya mereka hrs kerja keras, dan tambah lagi ketika suatu acara itu ingin mununjukkan strata sosial…tp mereka tetap mengaku sbgi budaya x..ndak prlu malu..smua suku punya karakteristik yg tdk smpurna..kl ada yg bilang bhwa bos nya batak,anak buahnya batak smua..mungkin anda2 hy melihat kehidupan di depan anda,mari ke daerah lain dan lihat bgmn di suatu wilaya propinsi timur yg mendominasi struktur pemerintahan hmpi byk suku x dg budaya bos nya x ,anak buahnya x..dan korupsinya juga sy acungkan jempor, tp tdk suku x sj yg korupsi..huhhh suku a,b,c,d juga banyak kasusnya..smua suku punya kekurangan..tp apa qt hrs malu sbg org batak?kasihan darahnya dr darah bapa dan mama batak?kl malu..brarti malu punya bapak n mama n adik2nya…mari qt generasi muda,adalah baik mngubah yg tdk baik dlm budaya qt mjdi baik..sprti arisan suami aku,stlh arisan komitmen kami tdk ada main2 kartu..tp arisannya aku msh ada main kartu..yukkkk eda2,ito2..mari qt kembangkan yg baik dr budaya qt..siapa lg yg mngubahnya jd baik atau jd tdk baik kl bukan qt sendiri yg hrs masuk kedalamnya dan mnyesuaikan smbil mngubahnya pelan2.. Dulu aku smpat berpikaran dan kecewa dg batak..tp stlah aku pelajari berbagai suku,malah kok yg suku ini begini,suka yg sna bgitu???anda belum prnh merasa berada di suatu t4 kerja yg mna,suku a mngutamakan suku a dlm hal pnerimaan pkrjaan, bhkan trkadang sgt sgt kelihat ketidak adilan itu..artinya tdk hy batak sprti itu..bahkan tolong di ingat batakpun tdk se ekstrim pengalaman sya…

  Rina wrote @

hi kak…turut bersimpati dg apa yang kakak alami
to be honest, saya pun awalnya tidak suka dengan identitas saya sebagai perempuan berdarah batak…i despise it…hate it…
papa saya batak, ibu saya chinese-jawa
karena bukan orang batak, mama saya tidak disukai oleh keluarga papa, ditambah lagi, papa memilih menikah dengan mama (non-batak) dibanding paribannya (ya iyalaahh…cantikan mama saya :) )

walaupun papa dan mama saya diadati, dan mama juga diberi marga, hal itu tidak merubah perlakuan keluarga papa ke mama saya, termasuk ompung boru, terutama namboru2 saya. mama dihina, di caci-maki, diomongi di belakang (krn mama tidak mengerti bahasa batak), dan diperlakukan semena-mena, padahal mama saya itu istri dari anak laki-laki pertama.
perlakuan yang tidak enak yang diterima oleh mama saya, mulai saya sadari sejak saya di SD. Mama selalu sabar menerima.
tetapi di benak saya, sudah tertanam pemikiran bahwa orang batak, tidak baik, kejam, munafik, suka merongrong aja bisanya…
sejak anak2, dimana saya mulai menyadari perlakuan yg tidak baik yang diterima oleh mama saya dari keluarga papa, just simply karena mama saya bukan batak.
padahal mama sudah diberi marga yg sama dg ompung s dicaci, dimaki, diabaikan, dan dianggap tidak berguna, itu hal2 yg mama saya alami yang akhirnya mebuat saya benci dg keluarga papa dan orang batak secara keseluruhan even sampe bersumpah tidak mau kawin dg orang batak lho

tapi pandangan saya berubah bertahap sejak saya mulai ikut tergabung dalam 1 unit kebudayaan batak semasa kuliah, saya mulai melihat batak dan suku batak mulai dari sisi lainnya terutama dari sisi kebersamaan dan kekeluargaannya sampai akhirnya saya berkesimpulan, batak itu indah, tetapi memang ada individu2 didalamnya yang membuat itu menjadi tidak indah.

at the end, diakhir hayatnya, ompung boru saya bersyukur punya menantu spt mama saya, dan mama menjadi kepercayaan ompung. namun kalau hubungan dngan namboru2, hmm…rasanya masih volatile, walaupun msh dijaga baik, mengingat permintaan mendiang ompung boru supaya mama melihat adik2nya juga.

saya pun saat ini mencoba memafkan dan melihat suku batak dr sisi positivenya saja

kalau menurut kita batak itu tidak baik, kenapa, kita tidak ambil bagian dalam mekanisme itu sendiri dan berusaha merubah persepsi internal dan external suku batak i agar menjadi lebih baik, dan dianggap baik dikalangan kita sendiri dan terlebih di kalangan non-batak. toh generasi akan berganti, kalau kita sedari muda ikut terlibat didalamnya, dimana kita yang lebih muua memiliki sudut pandang yg lebih modern dan rasional, rasanya mungkin beberapa tahun kedepan atau 1 atau 2 generasi mendatang keadaan menjadi lebih baik

saat ini saya 31th, telah menikah dengan orang batak, dan puji Tuhan memiliki 2 anak boru yg cantik2..and as never ending story, sedang disibukkan dg pertanyaan usil “ga mau nambah anak laki?”
but saya dan suami menanggapinya dg senyam senyum saja, tp tdk mengurangi keterlibatan kami di acara2 adat yg lumayan menyita waktu :)

my point is, merubah cara pandang seseorang, apalagi yg sudah mengalami berkali2 kejadian yg tidak mengenakan, akan suli, kata2 dan kalimat bujukan kadang tidak mampan. like me in the past, kl ada org yg ceramah ke saya, mungkin ga akan saya dengan,it’s like “hey, you dont know what i feel and you dont even know what happen to me”

kita harus mengalami sendiri such a turning point, then cara pandang itu akan berubah dengan sendirinya

so, hope you can find it kak sehingga ada kenyamanan akan identitas kakak sendiri sebagai orang batak, cause you cannot change it aniway…dan suatu hari nanti, semoga, there is time when you can say that “jadi orang batak ga jelek-jelek amat kok” :)

  aghamora wrote @

Kok.di.kumpulan gw ga gituh yahhh. Pas ompung.meninggal, namboru boleh.tuh.di.samping peti.ompung.doli…kami. smua satu.kelaruarga.besar. klo.rokok dll dsb dst yhh.itu.mang nyebelin. Tapi.kalo.gw sih sindir. Ajeee . Wong emang salah. Tentang. Kawin.dengan orng batak, tergantung orangnya masing2 kadang ga smua kayak.gituh. tapi.adat.batak memang jelas repot. Gw cuma.mikirnya.ginih. ketika kesusahan yg amat.sangat, jika.kita.aktip daam adat, yang.akan bntu tanpa itung2an.ya masyarakat adat.itu. well org.batak banyak yg ngaco tapi byak juga yang.baik. yang menntukan nilai hidup dan.karakter seseorang bukan hanya suku.saja. masih ada aspek lain.juga.

  Edward Tan wrote @

Turut berempati dgn ito cekeysh…….
Membaca tulisanmu seperti seolah2 mendikte pengalaman saya sendiri…..90% nyaris sama!

Saya keturunan chinese (chinese & batak faktanya dua suku yg paling tidak disukai di indonesia…heheheh),beristri org batak asli.
Untungnya,keluarga istri saya bukanlah batak yg “kolot”,yg semuanya harus berdasarkan adat istiadat. Sayapun tidak dipaksa utk “mangadati” karena keterbatasan biaya juga. Dan bagi keluarga istri,pernikahan kami “sah”,tidak seperti “cibiran” keluarga besar bahwa kami masih dianggap “kawin lari”! Padahal menurut saya,pernikahan yg syah itu jika diberkati di hadapan Tuhan (gereja/pendeta) bukan di mata manusia (pesta pora- habis itu pusing buat bayar utangan).
Alasan klasik kalau hrs dipestakan supaya jgn terjadi kawin cerai karena mahalnya biaya,itu sgt tidak logis!buktinya sekarang kita lihat,mmg jarang ada org batak yg kawin cerai,tp pelariannya ke perselingkuhan!!

Kasus terakhir,ketika mertua laki2 saya meninggal, (kejadian di bogor,kami anak2nya tinggal di jkt),kami bermaksud membawanya ke jkt utk segera dikuburkan mengingat kondisi jenazah yg tidak memungkinkan utk berlama.
Tapi ntah datang darimana,yg namanya inangtua,dan anak2 dari amangboru langsung mengambil alih “susunan” acara tanpa mau berunding dgn kami (sbg anak2 kandungnya).
Malah terjadi cekcok mulut hebat didepan jenazah mertua.
Padahal maksud kami membawa jenazah ke jkt karena pihak gereja kami (karismatik) akan mengurusnya sampai selesai,tanpa biaya.
Tp yg terjadi,kita masih shock karena mertua matinya tidak wajar,datang pula parsautaon mengingatkan biaya catering (harus babi 1 ekor) dgn harga yg mahal (mungkin dipikirnya kami dari jkt-banyak hepeng). Capeee dehh,sama sekali tidak peduli dgn perasaan anak2 alm yg sdg berduka.

Akibatnya makin minus saja pandangan adik2 iparku terhadap org batak.
Dan merekapun tidak mau menikah dgn pria batak!
Iparku yg pertama menikah sama org jawa.
Iparku yg kedua menikah sama org manado.

#Kembali ke topik.
Saya jujur,belum melihat satupun sisi yg benar2 positif dari “adat istiadat” ataupun “kebiasaan” org batak. (Maaf)
Memang,dgn adat,ikatan kekeluargaan serasa dekat,tp jika ada keluarga yg mulai menanjak ekonominya,mulailah mereka menjauh dari keluarga lain,dan sifat sombong mulai menguasai mereka.

Menurut saya (maaf kalau ada yg tidak berkenan),semua ini karena mayoritas org batak yg seperti itu masih bergereja di HKBP (sekali lagi maaf).
Bukan saya menyudutkan HKBP,tp mmg faktanya di HKBP kita tidak pernah ditekankan utk :
*memiliki kerendahan hati layaknya seorg hamba dihadapan Tuhan.
*melepaskan pengampunan baik kepada org lain ,sebesar apapun kesalahannya,maupun diri sendiri.
*melepaskan segala kepahitan masa lalu yg berujung dendam
*hidup kudus (tidak merokok,mabok,judi dll yg merusak jasmani/rohani)
* melepaskan keterikatan kepada adat istiadat BUATAN MANUSIA,seperti yg diajarkan Tuhan Yesus sendiri (Markus 7:1-9)
Sekali lagi maaf jika ada yg kurang berkenan!

  Farida Mamafakhriauliaihsan Siregar wrote @

Saya setuju dengan pernyataan yang mengatakan, semua tergantung pada orangnya masing-masing menurut sifat dan pandangannya. Tidak boleh mendeskreditkan satu suku. Saya sendiri asli boru batak. Tapi di keluarga saya tidak ada satu pun yang memperlakukan seperti yang diperlakukan keluarga kakak. Saya juga hanya memiliki satu saudara laki-laki, pada waktu orang tua kita meninggal, kita bertiga duduk di samping jenazah orang tua kita. Memang secara adat apalagi mengenai hak waris anak laki-lakilah yang lebih banyak mendapat peran dan bagian. Tapi itu juga karena ada alasannya, yaitu anak laki-laki merupakan kepala keluarga yang menggantikan ayah kita jika ayah telah tiada. Dan nantinya akan menjadi imam untuk istri dan anak-anaknya jika menikah dan memenuhi semua kebutuhan hidup keluarganya. Adat batak yang ini sejalan dengan ajaran agama saya Islam, karena saya kebetulan orang batak yang beragama Islam. Meskipun banyak kebiasaan orang batak dan adat batak yang bertentangan dengan Islam, namun secara hubungan berkeluarga dan kebersamaan, adat batak dan Islam banyak persesuaian. Di keluarga saya juga sebahagian beragama kristen dan sebahagian masih beragama pelbegu, tapi kita setiap ada pesta selalu bisa menyatu, karena setiap ada pesta selalu dibuat hidangan untuk parsubangan dan tidak parsubangan.

Saya juga sekarang tinggal di Jakarta, dari sisi baik yang paling saya banggakan menjadi orang batak adalah, orang batak merupakan orang yang tangguh dan dapat bertahan hidup dalam keadaan apapun. Tidak mudah menyerah dan tegas, selalu terus terang dan tidak munafik itu yang saya suka. Baik laki-laki atau perempuan. Kita lihat di Jakarta, coba survey apakah ada pengemis-pengemis itu orang batak, kalau pun ada mereka hanya segelintir saja yg memang dirinya sudah dipatri malas bekerja. Tapi sebahagian besar orang batak daripada mengemis di hina-hina orang lebih baik jadi tukang tempel ban , kernet dan supir angkot. Kalau orang Batak sudah merantau, pantang pulang kampung kalau belum berhasil. Menurut hasil survey yang pernah saya lakukan dulu pada waktu kuliah, tingkat pendidikan orang batak juga rata-rata lulusan perguruan tinggi. Karena bagi orang Batak, jika aku lulusan SMA anakku harus bisa jadi sarjana. Terbukti di setiap universitas di Indonesia saja mahasiswanya dapat dikatakan 30 sampai 40 persen adalah orang batak, baik yang berasal asli dari tanah batak ataupun yang sudah lahir dan besar di perantauan termasuk di Jakarta ini.

Dan saya sangat setuju dengan riview ito si ringo-ringo jelas ada 3 klasifikasi orang batak saat ini, orang batak kampung asli, setengah kampung dan orang batak Jakarta. Apapun itu kita sebagai orang batak seharusnya bercermin dan intropeksi diri. Darimana pun asalmu da dimana pun kau tinggal sekarang, jangan pernah pungkiri darah batak mengalir di tubuhmu. Dan banggalah menjadi orang Batak.

Jangan Ragu Kawin dengan Orang Batak, karena Orang Batak juga banyak yang cantik-cantik dan Ganteng-ganteng contohnya lihat artis-artis kita yang orang Batak asli. Tidak kalah dengan mereka yang bukan orang Batak

Terima kasih….Horas

  Kharisma 76ban wrote @

Syalom & Horas
Kakak ku yg cantix, perkenalkan sy Risma dan skrg merantau di Jakarta. Saya memiliki keluarga asli batak..maaf y kk saya kurang setuju dgn pendapat kk..dulu saya jg pernh mengalami hal yg sma seperti kk, sampai di dlm diri saya pernh berprinsip saya benci sma org batak dan saya tdk akn mau menikah sma org batak..saya memiliki bapak (almarhum) yg suka judi, ke lapo dan main kasar ke mama dan anak2nya..sy sgt trauma dgn kejadian ini..ditambah lg dgn keluarga batak..katanya kalau org batak, keluarga yg sdg berduka di bantu dan di hibur tp yg saya alami tdk seperti it yg ad mempersulit bwt pusing 7 keliling. ketika bapak sy meninggal tradisi batak kan harus menyediakan makanan dan minuman ( seperti pesta nikahan deh kalau dipikir) padahal keuangan keluarga lg habis (krn biaya pengobatan bpk di RS opname sdh 2 tahun) mama sy sedih dan keluarga tdk mau memberikan pinjaman uang sementara makanan dan minuman itu wajib disediakan( menyedihkan bgt)..saya sgt kesal knp ya hrs begini tradisinya..Puji Tuhan pd saat it ad bantuan tp bkn dr keluarga kita yg org batak melainkan dari arisan kantor Bapak yg anggotanya 90%bkn org batak..yg anehnya lg ketika adat tutup tudung (kalau ƍäªќ salah namanya) utk si istri keluarga jg beprpesan kpd mama lebih bagus menikalah lagi biar ad yg membantu perekonomian (sgt menusuk jantung)
Sy berpikir ngapain ad acar tutup tudung kalau yg ad kata2 seperti it yg keluar…tp Puji Tuhan mama ttp memperjuangkan kami anak2 nya dan membuktikan ke keluarga kami bisa dibesarkan dan disekolahkan (luar biasa).
Nah itu baru sedikit kisah ak kakak cantix
Tp percayalah kk ƍäªќ semua adat batak dan orang batak negatif semuanya..
Knp sy bilg seperti itu??
Krn pada saat itu hati saya dipenuhi rasa kebencian, takut dan trauma..sementara hati sy belum saya buka..
saya punya teman dr suku lain, saya menceritakan masa lalu saya dan anehnya teman saya it bkn ikut benci…yg ad teman saya bilg..Risma Pola pikiranmulah yg salah..knp?? itu tergantung individunya baik pria ataupun wanita..maksudnya? Teman saya tertawa…
Mama kmu salah satu contohnya bkn individu seperti itu..mama kmu org yg taft, mempertahankan perkawinanya walaupun pernah di pukuli..setia mendampingi bapak kmu walaupun sdh sakit..walaupun sdh janda mama kmu masih memegang prinsip org batak Anak ku adalah harta kekayaanku..ak benar2 diam membisu dan malu…teman ak bilg individu lah yg membuat tradisi/adat batak itu jelek di nilai org..oleh krn itu jgn mau tradisi / adat mu di nilai negatif sma org lain pertahankanlah yg baik2 nya dan buanglah yg negatif nya…
Saya benar2 malu dan ƍäªќ bisa berkata apa2 kpd teman saya itu..dia yg bkn suku batak aja bangga dgn org batak..knp saya tidak ??
Dari situ saya mulai membuka hati dgn mulai bergaul dgn org batak dgn mengikuti naposobulung di gereja (tetap di bawa di ke dlm doa jg sih) dan kalau ketemu org sy bilang saya org batak dan bkn orang Medan..
“̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮

Semoga kisah saya ini menjadi inspirasi jg bwt kk ya…
Bangga ya jadi Orang Batak

Mauliate and Thank You

  Rini Herawaty wrote @

Halo eds,nama saya Rini,nama lengkap saya jawa,Dan wajah saya lebih ke arah manado,walau saya batak asli.Dulu saya juga seperti Eda.Malu sekali jadi org batak Dan marah sekali dengan perlakuan org2 batak. Kurang lebih pengalaman saya spt teman2 semua tentang perilaku negatif kebanyakan org batak.bahkan alm ibu saya pernah dihina di arisan keluarga dibilang tdk bisa ajarin anaknya Dan saya dibilang tdk kenal Tuhan hanya Karena saat saya Mau dijodoh2kan,ibu saya bilang anak saya tdk Mau sama org batak.ibu saya tangis Dan saat cerita ke saya tangis.hati anak mana Yg tdk terluka melihat Hal itu. Namun seiring dgn waktu,saya tahun lalu bertemu saudara saya Yg batak jawa,mreka totally beda dgn org batak Yg saya temui. Kemudian akhirnya saya mengexcuse,okelah saya dgn org batatapi batak campur. Ketika tahun lalu dapat mantan batak jawa,harapan saya spt saudara saya.Tapi ternyata tidak. Tapi Hal Yg membuat saya Akhekarang tdk malu lagi jadi org batak adalah ktika kluarganya sangat baik sekali Dan baik kluarga sayadn kluarganya dia Begitu bahaelihat Kami menjalin relasi.

Jadi Akhirnya saya berpikir,pasti masih ADA batak2 halus alergi spt saudara saya diluar sana,Krn didikan ortunya Yg halus.
Dan saya ingin merasakan lagi bukan cuma saya Yg berbahagia bersama pasangan,tapi ka kluarga juga.Ya intinya tergantung pribadi masin
Saya paling membatasi diri be org batak Yg saya tau tabiatnya tdk bagus.Masih banyak kok batak Yg punya tabiat bagus.Dan beberapa teman saya batak cowok,Akhirnya milihnya bukan cewek batak Krn mungkin juga mindset negatif sama ttg org batak.Tapi jauh di dalam hati mereka,klu ADA Yg bisa bikin hati ortu juga senang,mengapa tidak.

Yg penting,kita sbg orang batak Yg tidak Mau pola Dan tingkah laku Yg umumnya terjadi Yg bikin nama batak Helen,ya jelek,ya jangan lakukan.

Btw kenapa tdk bikin komunitas batak pembaharuan? Dimulai dari org2 Yg koment di sini.biar punya komunitas batak Yg bikin nyaman.

  antoni simamora wrote @

saya turut sedih atas kejadian yg kakak alami. Tulisan kakak bagus, bisa jadi pelajaran buat kita smua. Tetapi ketahuilah kak, tidak semua org batak begitu. Kalau saya bgaimanapun tetap cinta jadi org batak. Kalau bisa merantaulah dan temukan dongan tubu mu. Yg terpenting dlm adat batak adalah Dalihan na tolu. Kalau masalah rokok dan minuman beralkohol sebenar nya tidak ada dalam adat, bisa dibilang itu hanya embe-embel nya saja. Kalau ada yg minum dan merokok, main kartu sehingga menggangu kenyamanan org lain bisa ditegur kok. Saya berharap kakak punya sudut pandang yg lebih luas thp org batak, tidak hanya disekitar kakak. Skrg bagaimana kita harus mlestarikan adat dan budaya itu, krna warisan tersebut dari Tuhan.

  Fenfen wrote @

Gw Orang Indonesia dari Suku Peranakan dan GW RESPEK AMA ORANG BATAK baik dari Toba, Karo, Simalungun, Pakpak-Dairi, Mandailing-Angkola, semuanya. TUHAN YESUS MEMBERKATI. Salam.

  nirmala wrote @

Memang kalau diperhatikan, semakin rendah tingkat penghasilannya, semakin arogan di adat. .. Semakin rendah tingkat pendidikannya, semakin pongah di adat. Krn dikehidupan sehari2 tidak ada lagi yg bisa mereka banggakan kecuali adat itu sendiri. Kalau eda ingin menikah dgn suku batak, coba carilah batak modern (yg sudah merantau minimal ke jakarta) dan yg tidak terlalu mengikuti adat. Tp kalau ingin menikah dgn suku lain, silakan saja, kita bangsa indonesia bukan bangsa batak.

  mian wrote @

nice posting..
sya turut prihatin dgn pengalaman yg anda alami.. sepertinya mmg tidak ada yg perlu di banggakan.. tpi yg perlu saya koreksi, dengan membuat pernyataan “jgn menikah dngn orng batak” itu sangat salah,,. lbh baik membuat pernyataan, ” jgn menikahi orang batak dari lingkungan kami” karna permasalahnnya ada pada lingkungan/horong nya dan tentunya orng/person nya. mungkin anda juga harus menghadiri pesta orng batak yang diluar horong/marga anda dan membandingkan dgn yg di lingkungan anda shingga lbh objektif dalam membuat tulisan… membaca tulisan ” ternyata mereka lbh bnyak berpropesi sebgai supir angkot, tambal ban, etc. seharusnya anda melihat latar belakang personal mereka yg sma pun tidak lulus dan hidup jauh dari bona pasogit. bagaimana mungkin mereka bisa dengan bijak menjalankan adat batak yg begitu rumit hnya lulusan smp dan jauh dari sumber adat yg mungkin hanya menjalankan yg pernah didengar dari mulut ke mulut…
salam dari bona pasogit..

  niko sitohang wrote @

Saya juga orng batak, tp tidk merasa diperlakukan seperti yg anda alami di acara adat pemakaman bapak saya, malah kami anak² merasa terhibur dengan adanya dongan sahuta dongan dan hula² , semua itu mungkin karna kita merasa asing dlm tata cara adt batak karna mungkin kita tidk pernah tau adt batak itu,
Dan masalah arisan di kalangan batak juga tdk semuanyasperti yg and a rasakan, contohnya kami
Tdk pernah menyuguhkan minuman dan judi sehabis arisan tetapi kami lebih lebih mengeratkan kepada ngobrol dan hanya mnum segelas kopi jd kami bisa lebih dekat ,
Jadi jangn malu jadi orng batak apalagi tdk mengakuinya, adat batak itu unik dah indah dan satu² nya di dunia ,

  widia wrote @

Ya semenjak gue kerja di jakarta, di kantor yang yang banyak bataknya.., saya setuju dengan opini anda. Salut anda sebagai orang batak mau mengakui kekurangan., apa jangan2 anda batak palsu? hahahahaha

Ini beneran gak ada niat rasis karena dulu sih biasa aja ama orang batak, tapi kok ya makin lama di kantor malah makin gimana gitu pandangan Saya kepada orang batak. Kesimpulannya, kalo sekedar buat casual friend aja sih asik kok, tapi kalo lebih dari itu aku nyerah deh.

Tapi saya selalu mikir mudah2an ini cuma kelakuan orang batak di kantor Saya aja :)

  Josani wrote @

Sy sangat bangga sekali jadi orang BATAK….HORAS Bah

  raisyha03 wrote @

Saya juga dari daratan sumatra walau bukan dari batak.menurut saya…..Apapun sukunya,Kalaupun pikiran suatu masyarakat masih tertutup dan mendewakan adat….Emang nyebelin banget.Gak punya toleransi lagi dengan perasaan dan keadaan kita.

Saya juga sangat membenci Adat daerah asal saya,,,Lantaran bisanya cuma nyusahin kita dan gak lihat sikon.Kalau kita dalam kondisi yang memungkinkan,mungkin aturan2 tersebut tak terasa membebani.Tapi….Kalau sudah bertentangan dengan hati nurani dan mempersempit kondisi kita yang sudah sempit,,,hanya ngelus2 dada.
Saya lebih suka hidup dengan budaya universal,logis dan yang terpenting…sesuai dengan syariat agama.Persetan kalau saya dibilang manusia tak tahu Adat.

  Ricky Sihombing wrote @

Karena ulah sebagian orang,Batak di cap jelek di semua tempatr :-(

  Joe Ronald Hutagalung wrote @

Saya laki-laki batak, tetapi saya dapat merasakan yang kamu rasakan, karena saya juga merasakan hal yang sama

  Hutagaol wrote @

kisah yan ito ceritakan memilukan sekaligus inspiratif. Memilukan karena seharusnya hal seperti itu tidak boleh terjadi di tengah2 kebatakan kita, dan inspiratif karena sebagai orang batak, kebatakan itu justru mengalir dalam darah ito, yang tidak mau terima dengan ketidakadilan meskipun ito ‘hanya’ seorang perempuan batak.

Meskipun filosofi ‘dalihan natolu’ bgitu indahnya secara konsep namun aplikasinya sesungguhnya dari dulu masih jauh. Namun, banyak sekali perempuan-perempuan batak yang memberikan komentar dukungan dalam blog ini, menunjukkan bahwa perempuan batak tak lagi seperti dulu yang tidak boleh bicara dan berpendapat (umumnya). Orang batak harus siap bahwa boru harus sejajar kedudukannya dengan anak.

Alangkah senangnya apabila di saatnya, dalihan natolu yang elek marboru benar2 dapat diaplikasikan.

Senang dan bangga membaca semua tulisan boru batak di dalam blog ini. Horasss

  andy wrote @

maaf ya…entah kenapa saya juga beropini sama denga pemilik blog ini…jujur saya suka keindahan budaya suku apapun termasuk batak…akan tetapi saya jijik dan males liat pesrsonal nya…ga perlu saya paparin lg apa saja yg tidak disukai…smua sudah ada di komen anda semua….mungkin ini bisa jd bahan renungan buat anak muda batak dalam meluruskan streotip yg melekat selama ini…mungkin ini saat nya generasi muda batak merubah cara2 pergaulan dan norma2 sosial dalam masyarakat…jujur dlu sewaktu kuliah saya paling malas bergaul dengan orng batak dan saya yakin mayoritas orng diluaran sana jg berpendapat demikian…sehingga jikalau pun ada orng batak yg baik,menyenangkan akan terkena dampak dari kebnykana perilaku sos kesukuan nya…semoga tulisan jujur ini tidak dianggap sebagai cacian atau pun hinaan…akan lebih bagus jika dijadikan bahan pertimbangan dan saran…trim’s

  mateus hutabarat wrote @

Postingan nya bagus bgt, tapi gak semua orang batak bersifat demikian, walaupun nota bene nya orang batak lebis focus terhadap satu ras, agama, dan adat.. Dan kebanyakan mereka lebih sering mengatakan “halak ion” menggambarkan orang dr suku yg berbeda..
Sekan mereka lebih sempurna dari semua orang..
Mungkin juga kebanyakan orang batak tidak mau menyesuaikan diri terhadap lingkungan menjadi satu alasan dimana orang batak lebih welcom kepada sesama orang batak…
So, mungkin saran saya lebih mendekatkan diri sama orang batak yg berfikiran UNYVERSAL atau lebih welcome sama sesama antar suku dan umat beragama yg lain.. Hehehe

  ramli wrote @

horasss smua nya
memang adat harus selalu dilestarikan, tapi ada penah orang batak mencetuskan omongan : orang batak lebih takut keadat dari pada ke TUHAN . saya tanya kenapa . dia menjawab dengan ringkas beribadah hanya memakan waktu sebantar tapi banyak yg mengabaikannya, gak ngeluarkan biaya banyak, gak harus bawa ini bawa itu pakai perhiasan ini itu, tp kalau acara adat pasti mengeluarkan banyak biaya dan harus di hadiri apalagi pesta pernikahan yang sekaligus bayar adat ke par boru apa pun kendalanya pasti di upayakan datang. trus kalau udah punya titel angkuhnya minta ampun, apalagi ada dalam keluarganya pejabat.. maaf kalau agak nyeleneh bukan menyinggung atau segala macam nya itulah salah satu ciri khas orang batak

  keluargasimbolon123 wrote @

Setiap Orang memiliki pendapat sendiri. Tetapi, percaya tidak percaya Anda adalah korban dari beberapa orang yang kebetulan berkepribadian tidak baik, dan Anda mencakup setiap pengalaman anda, tetapi saya rasa jangan pernah menghasut orang untuk tidak berkeluarga dengan orang batak. Kemudian, orang batak selalu bersikap keras terhadap pekerjaan mereka itu karena tuntutan dari pada saingan. Jika mereka tetap tidak bersikap keras, maka mereka (katakan saja orang batak) akan di pandang sebelah mata oleh orang lain. Maka dari itu, tetaplah membuka hati, ikuti segala sesuatunya dengan perlahan maka pasti akan terbiasa dengan lingkungan itu. HORAS!!!

  eje wrote @

hai kak, saya juga orang batak, juga gak tau apa2 ttg batak, dan berusaha mencari tau. and google brought me to ur blog.

kalo boleh sedikit sharing, saya bersyukur di keluarga saya mereka udh gak terlalu mementingkan adat. mama saya bukan batak, dan dia bisa tetep ada di tengah2 keluarga besar saya. sepupu saya pacaran sama org ambon, dan mereka mau terima, bahkan merestui. adat gak pernah dihilangkan, tp saya bersyukur mereka punya pemikiran yg terbuka hehe.

saya akui emg banyak org batak yg kasar, suka minum, dsb2. itu tercermin dari banyak temen2 saya, kadang mereka jg sembarangan memperlakukan org lain. saya kecewa sm mereka, dan berjanji sy gak mau menikahi batak, nantinya, dan memang msh sy pegang smp skrg krn saya belum nikah haha. ya karena simply saya gak menemukan batak lain sperti keluarga saya.

anw kak, u should come to city where i live now, somewhere in java. tentunya bukan jakarta. kota dimana chauvinisnya terasa sangat kental. kota di mana org2 sini sangat bangga akan dirinya sampe2 setiap pendatang harus ‘tunduk’ sm mereka. apalagi dulu sy dr jkt, dan mereka sepertinya agak sensi dgn jkt. anak jkt berdarah batak, bad combination krn di kota ini kami banyak dicela. jkt dengan segala kemewahannya dan batak dgn segala stereotype nya.

dan sbg minoritas di kota ini, sy sgt sedih. kita disini selalu dicela sm org2 sini. pdhl kota ini sebagian besar dihuni oleh pendatang, oleh mahasiswa. i want to let u know kak, kalo temen2 mahasiswa batak disini adl org2 luar biasa. i never saw them get drunk or smoke. mereka pelajar yg baik, yg punya cita2 sederhana utk kembali pulang kampung sbg dokter, arsitek, pengusaha, sbg org2 sukses. disini baru saya kembali bangga sbg org batak, saya mungkin msh gak nyaman wkt mereka ngomong dgn bhs batak, tp saya senang mereka berkumpul dan berbagi. mereka gak menghajar org2 sini meski mereka dikasih stereotype tukang copet dan tambal ban. gak hanya batak sebenernya, beberapa minoritas di sini jg ngalamin hal yg sama. kmaren sempet ada kasus kecil di kota ini, jd sorotan masal, dan penduduk di sini menanggapi dgn sgt berlebihan. kadang penduduk yg terkenal lembut bisa jd brengsek dan menusuk dr blkg kak. hati2.

pd intinya kak, rasa bangga dan perasaan yg paling bener menurutku pasti selalu ada di suku manapun (aku pacaran dgn org timur, dan gini jg) selama mereka dikumpulin jd satu. dimanapun. itu makanya aku lbh memilih utk gak mau nyaman dgn sekelompok org, aku gak mau punya identitas kesukuan yg terlalu kentel. aku udh cukup bangga jd indonesia. bukan batak atau manapun. emg susah sih, secara kita hidup di indonesia, yg berbeda2 dan dari kecil selalu lbh dulu ditanamin identitas kesukuan.

pokoknya, my prayer goes to u kak, di manapun kakak semoga selalu bahagia. God bless :)

  GirsanG wrote @

apa yg salah dgn org batak ??
kecewa, apakah smua batak itu sprti yg anda katakan ??
batak simalungun tdk sperti itu ??

TERIMA KASIH ATAS POSTINGAN ANDA

saya lebih suka dibilang bangsa batak (batak simalungun) dripd bangsa indonesia !

  SRZ wrote @

Saya ingin berkomentar tentang orang Batak ini. Saya bisa merasakan sebagian dari yang cekeysh rasakan.

Saya sendiri juga orang Batak, saya asli dari Tapanuli Selatan. Dulu saya tidak pernah merasa malu atau terganggu dengan sifat atau pun adat istiadat Batak. Mungkin karena di kota asal saya orang-orangnya masih bisa dibilang tidak kasar, tidak egois, masih bisa toleransi terhadap orang lain. Hubungan dengan keluarga besar memang tidak terlalu baik karena mereka cenderung suka ikut campur urusan rumah tangga orang tua saya, mengata-ngatai mama saya, dan merasa berhak untuk “menggantungkan hidup” pada orang tua saya. Kalau masalah acara adat emang ribet dari dulu, tapi saya bisa maklumi. Kesimpulannya, I could live with that.

Tapi setelah saya pindah ke Medan 10 tahun yang lalu, pendapat saya tentang orang Batak mulai berubah. Orang Batak disini kasar, suka berteriak-teriak, egois (menurut saya mereka adalah orang-orang paling egois di Indonesia. Saya sudah pernah tinggal di beberapa daerah lain sebelum akhirnya kembali ke Medan untuk melanjutkan studi saya), sudah salah malah marah, sombong, arogan. Mereka sangat self-centered dan have zero tolerance. Melanggar peraturan seolah menjadi kewajiban dan merupakan hal yang ‘keren’. Di tempat-tempat umum mereka bisa bertindak sesukanya hanya karena mereka punya hak, tanpa memperdulikan hak-hak orang lain yang mereka tindas. Berinteraksi dengan mereka setiap hari, saya merasa cukup tertekan. Saya sudah pernah dilempar, dicaci maki, diludahin juga sama mereka. Entah lah, mungkin karena di tempat kerja saya, orang-orang Batak yang saya hadapi berasal dari ekonomi menengah ke bawah.

Saya pernah mencoba bersahabat dekat dengan mereka, bahkan saya pernah pacaran dengan salah satu dari mereka, tapi saya tidak bisa menghadapi kearoganan mereka. Selama masa pacaran saya selalu dikata-katain dengan kasar, bahkan keluarga saya juga. Saya dianggap rendah dan sangat beruntung bisa mendapatkan dia, padahal jujur saja, latar belakang keluarga saya lebih baik dari orang itu, baik dari segi ekonomi, pendidikan, maupun sosial.

Satu lagi yang saya amati, sebagian besar mereka seperti katak dalam tempurung, merasa paling hebat, paling berkuasa, dll. Padahal masih ada langit di atas langit. Memang ada juga yang baik, tapi sangat sedikit, dan begitu saya bertemu orang-orang baik dan lembut itu, saya merasa seperti menemukan barang berharga, and I can say I feel like I love them already, hahaha..

Saat ini saya sudah menikah dengan suami saya, orang Batak yang lahir dan besar di perantauan. Tidak ada sedikit pun sifat buruk orang Batak pada dirinya. Tutur bicara halus, tidak urakan, tidak arogan, sopan, sangat menghargai orang lain, dan open-minded. Soal adat istiadat pun tidak ribet. Mungkin juga karena selama ini dia dan keluarganya berdomisili di Bandung. Saya merasa sangat beruntung. Masalahnya hanya satu, saat ini saya masih tinggal di Medan, masih juga menghadapi orang-orang Batak yang sangat kasar, dan saya sebenarnya sudah sangat capek.

Saya harap saya bisa selesaikan pendidikan saya 2-3 tahun lagi, dan segera pindah dari daerah ini. Dan saya tidak yakin saya akan merindukan lingkungan yang begitu kasar dan dipenuhi orang-orang egois.

Saya tidak malu menjadi orang Batak, tapi saya tidak suka dengan sifat-sifat jelek orang Batak yang seharusnya diubah tapi malah dipertahankan.

  Maria Timmen Surbakti wrote @

appresiate buat penulisnya sudah berani menulis seperti ini. karena terkadang orang batak sebenarnya tahu mana yg keliru dan dibenahi, tetapi tidak ada yg berani mengutarakan, apalagi kepada pihak tua tua. pantang kali katanya, dibilang tidak beradat, padahal adat ada filosofi dan tujuannya bukan sekedar cara dan upacara turun menurun saja, ada mksudnya,nah mksudnya itu yg kadang luput dari pemahaman si pelaku adat, kan tdk semua lagi bisa diterapkan juga, maka itu disebut inkulturasi di era teknologi modern begini, tdk semuanya perlu dilaksanakan apalgi budaya pesta pora, budaya matrealistis, membanggakan titel dan jabatan, dan kemudian efeknya jadi merendahkan orang lain dan terkesan gila hormat. lalu bagian yg tidak seperti harapannya atau dianggap tdk hormat, dikatakan tdk beradat, semoga para muda2 mulai berani menunjukkan segala kekeliruan itu dan memperbaiki adat budaya secara tepat dan efektif.

  Glori Sembiring wrote @

Hahahahaha.. Batak mmg seperti itu..
Kasar2…
Jangan di ambil hati ya kk…

  indrigs wrote @

Horas Tante.
Tante orang batak ya?
Kok malu dan marah sama orang Batak?
Harusnya bangga lah.

Saya seorang mahasiswi yg tinggal di lingkungan batak yg masih sangat kental. 90% di kampus saya adalah orang batak. Punya marganya masing2.
Kami punya panggilan masing2 yg unik.
Dan saya senang sama keadaan ini.

Overall orang batak itu gak semuanya baik walaupun ada jg yg buruk. Tapi kita harus bangga sama orang batak. Mereka bicara terus terang. Apa adanya. Sikapnya ya apa adanya mereka. Yang paling penting itu, orang batak itu kekeluargaannya erat kali.

Saya selalu sekolah di lingkungan orang batak. Dan saat saya memutuskan utk kuliah di ‘kampung’ saya gak pernah pikir 2x. Karna saya sudah nyaman sama orang batak. Karna apa? Ya karna yg saya bilang diatas tadi.

Jadi buat tante kami yg merasa di ‘babu’ kan di pesta, membenci batak dan kebiasaanya, ayolah tan. Mulailah membuka hati sama Batak dan orang2nya. Di pesta kita memang akan disuruh2 sama pihak laki2. Tau gak tujuannya itu apa?
Kalau menurut saya, ya itu karna kita diajari utk jadi ‘pelayan’.
Saya sengaja kasi tanda petik. Karna pelayan bukan seperti yg saya tangkap dari postingan tante ini. Tuhan aja mau jadi ‘pelayan’. Masa kita manusia biasa gak mau?
Cobalah menerima kebiasaan ini tan.
Sekali2nya berpesta. Apalah salahnya melayani keluarga sendiri?

Trus tante bilang ketua adat disana itu dari kalangan *maaf* kurang terpelajar. Ya itu harus kita terima. Karna memang merekalah yg lebih banyak makan garam dalam adat. Mereka udah tau gimana kerasnya hidup jadi orang batak. Mereka lebih punya banyak waktu gak kayak pengusaha yg lebih banyak mengurus pekerjaan mereka.
Mungkin mereka gak punya byk uang kayak pengusaha. Tp mereka punya lebih banyak pengalaman di hidup ini. Jadi gak bisa kita salahkan mereka harus jadi pembicara dalam adat. *tangkap sendiri lah maksudnya ya tante.

Okelah. Mungkin sekianlah dulu dari aku ya tan. Kalo ada salah2 kata dan pendapatku yg kurang berkenan maaf ya tante.
Aku harap tante bisa merubah cara pandang tante sama batak, orang2nya, adatnya, dan semuanya lah.

Horas.
Tuhan memberkati.
Syalom :)

  rizkyfranciska wrote @

Jd orang batak mah emang rempong..ribetttt….Setujuuu…gw jg lebih suka menyatakan diri gw sebagai orang indonesia…thanks God ada jg yg sepemikiran ma gw..gw pikir gw yg ngerasa aneh sendiri…

  rizkyfranciska wrote @

Gw batak..jd cewe batak emg ribettt..gw jg lebih suka menyatakan diri gw sebagai orang Indonesia…thanks God ada yg sepemikiran ma gw….

  lili frayatni wrote @

Dan mgkin yg sy ingin tmbhkan lg soal judi…mari coba lihat budaya lain..yg minta ampunnnnnnn judi sj kerjanya,mau pesta nikah sdh buat tenda seminggu dan disitu pasti judi tiap malam….smpai sesdah nikah kl tenda msh berdiri berarti msh ada judi….batak pun terkenal judi,tp mari qt generasi2 muda mghilangkan budaya itu..dan qt mulai dr lingk kluarga qt sndiri,qt berikan budaya2 yg baik utk mlengkapi kekurangan budaya qt…kl soal gosiiiiippp..ya ampun sprti sy bilang anda2 belum prnh brada pd suku x, atau a…qt org batak kalah kl soal gosip n iri d bndg suku2 tadi.. Nah skrg sy mau tnya apakah anda akan tetap merasa batak paling jelek n terjelek?kl pun iya sprti pngalaman masing2,mari jangan jauh dr kumpulanmu..masuk dan pelan2 mnguba,qt qt lah yg akan mngubahnya,anak2 qt yg akan mngubahnya..puji Tuhan abang2 aku smuanya baik2 tdk judi,mabuk, bahkan diajar sma mama dan bapak utk tdk main tangan ke istri masing2..halooooo ito2ku eda2ku mari,masuk kembali pada budayamu,dan ubahlah menjadi baik lewat perilakumu,kluargamu yg akan mjdi penerus budayamu..budaya penting dilestarikan…sdgkan suku x sja sgt melestarikan budayanya masakan qt tidak?sdgkan pemerintah sj melestarikan budaya indo,masakan qt suku batak sndiri tidak?sdgkan Tuhan Yesus sja,menceritakan turunan yusuf…kl budaya hilang, dr mana qt berasal pun g jelas? Carilah kl ada suku yg tahu dia generasi kbrpa dlm kluarganya?.bukankah anda tahu anda marga apa dan no brpa?.mari qt kembangkan yg baik2 utk mjd perilaku budaya qt..horassss

  Kitty wrote @

Aku orang batak,ka. Ayah ibu toktok banget bataknya. Aku tau perasaan kakak karena pernah mengalami kepatihan juga. Kalau aku punya anak justru aku saranin jangan menikah dengan orang batak :D Aku ngerasa banyak traumanya dibanding happynya. Hihihi.. Kalau yang batak toktok itu nyebelin tapi kalau batak modern orangnya bisa milah mana yang baik mana yang ga baik jd enak. :) kayaknya yang salah mungkin bukan adatnya tapi orangnya. Cuma udah kelanjur kepahitan.

  Irma Yulia SH wrote @

Pengalaman saya kawin sama orang batak, memang sifat orang batak itu kasar & keras. suami saya pun bilang emosi lihat tingkah orang batak dijalan khususnya yang berprofesi sebagai supir angkot, tukang becak, dll. kalau orang batak bawa mobil angkutan sudah tau dari caranya berhenti di tengah jalan turunkan penumpang atau kebut-kebutan rebutan sewa angkot. suami saya juga tidak suka dengan prilaku laki-laki batak yang minum tuak & budaya merokok. apalagi ditambah main judi. tapi kita jangan sama ratakan semua orang batak seperti itu, mungkin itu sebahagian saja, tapi orang batak yang punya pendidikan, taat beragama, dari kalangan kelas menengah atas, sedikit yang bertingkah seperti itu. saya dan suami saya memang hidup di luar lingkungan batak, soalnya kata suami saya hidup hanya sekali jadi hidup harus tenang, nyaman dan bahagia. sekali-sekali saja kita lihat saudara-saudara kita itu & berbaur dengan sesama orang batak. maklumlah bicara yang menjurus kasar & memakai kata-kata makian, saya & suami saya kurang sedap mendengarnya. itulah pengalaman saya menikah dengan laki-laki bersuku batak walaupun saya berasal dari suku non batak (tetangga suku batak dari utara sumut), tapi saya merasa lain orang lain sifat. buktinya suami saya tidak merokok, minum di kedai tuak, main judi, juga bahasanya baik & tidak kasar. taat beribadah (walaupun sering pindah-pindah gereja mencari lokasi yang nyaman & tenang memuji Tuhan, maklumlah banyak gereja yang memikirkan keuntungan daripada pelayanan, ada anggapan mau kaya buat gereja baru aja, mental orang kristen di Indonesia sudah lari dari tujuan iman) sampai dikaruniai 5 orang anak kehidupan rumah tangga kami baik & bahagia. buat gadis-gadis dari suku non batak, jangan takut menikah sama pria batak, tidak semua orang batak digambarkan sesuai dengan tulisan diatas, mungkin banyak tapi tidak terlalu. ingatlah beda manusia beda sifatnya, semoga kita bersatu dari suku aceh, suku batak, suku minang, suku jawa, suku sunda, suku dayak, suku ambon, suku papua, dll. bersatu dalam satu kesatuan orang Indonesia. Merdeka^^

  septie wrote @

:) dulunya ketika saya membaca tulisan ini saya belajar menganggap tidak benar karena saya memiliki pacar org batak yang baik dan saya sendiri org jawa, meski dulunya dia org yang suka minum ke lapo dll, namun setelah waktu berlalu akhirnya saya diputuskan sama pacar saya hanya karena acara pernikahan yang harus dilakukan di siantar sana dan ortu saya menolak untuk dilakukan disana, ortu saya meminta dijawa, karena itulah akhirnya dia memutuskan saya karena dianggap saya tidak mau mengikuti suku batak, dan saya diharuskan memilih antara ortu saya atau dia, saya berpikir seharusnya sebagai laki2 seharusnya dialah yang memperjuangkan saya, bukan saya yg menentang ortu saya, dan akhirnya saya diputus, :( sedih sekali rasanya,
Hingga akhirnya saya tau, ya memang begitu batak itu, dan setelah membaca tulisan dari beberapa teman diatas, saya bersyukur tidak jadi menikah dgn org batak :) dan akan menikah dengan orang jawa :) terimakasih turut menasehati saya dgn blog ini :) dan semoga hal2 yang tidak baik dari suku batak dapat luntur, dan kebudayaan yang baik tetap dipertahankan :) Horas :)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: